NovelToon NovelToon
Slaughtering The Heavens

Slaughtering The Heavens

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:127.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.

Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.

Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.

"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Berdarah Di Tepi Sungai

Pagi hari telah tiba di Kota Changze. Sinar matahari menyinari atap-atap bangunan, membangunkan kota dari tidur malamnya. Pedagang kaki lima mulai membuka dagangan. Pembeli mulai berdatangan. Hiruk pikuk kehidupan memenuhi setiap sudut jalan.

Dari Penginapan Istirahat Abadi, Xu Hao keluar dengan langkah santai. Di belakangnya, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji mengikuti. Mereka berjalan melewati keramaian pasar, menuju gerbang timur kota.

Satu jam kemudian, setelah sarapan di restoran dekat gerbang, mereka melangkah keluar dari Kota Changze. Jalanan mulai sepi, hanya sesekali berpapasan dengan pedagang yang membawa barang dagangan ke kota.

Mereka berjalan santai, tidak terburu-buru. Satu kilometer dari gerbang kota, Mei Mei memecah keheningan.

"Senior." Suaranya lembut tapi tegas. "Jika sesuatu terjadi, misalnya kita diserang, biarkan aku, Jin Bao, dan Jin Yuji yang menangani. Senior cukup menunggu dengan tenang."

Xu Hao menoleh, menatap wajah ketiganya. Tidak ada keraguan di mata mereka. Tidak ada rasa takut. Hanya keyakinan yang pasti.

Ia mengangguk pelan. "Baiklah."

Ketiganya langsung berbinar. Senyum lebar menghiasi wajah mereka. Jin Bao bahkan mengepalkan tangannya penuh semangat.

Mereka terus berjalan, menikmati pemandangan alam. Di kiri kanan, padang rumput hijau terbentang luas. Bunga-bunga liar bermekaran di sana sini. Sesekali angin berembus, membawa aroma segar rerumputan.

Mereka berjalan sambil mencoba memahami setiap detail alam dengan kesadaran ilahi mereka. Xu Hao memimpin di depan, langkahnya mantap meski matanya terpejam. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji mengikuti, melakukan hal yang sama.

Hingga perlahan matahari mulai naik, mereka sampai di sebuah sungai besar. Sungai itu lebar, mencapai beberapa kilometer, dengan air mengalir tenang. Pinggirannya berpasir putih, layaknya pantai. Ombak kecil menyapu pasir, menciptakan suara gemericik menenangkan.

Xu Hao membuka matanya. Ia menikmati pemandangan sejenak. Tempat ini indah. Cocok untuk...

WUSSHHH!

Dari segala arah, serangan melesat. Belati spiritual beracun, naga energi putih, telapak tangan hitam legam. Semuanya datang bersamaan, menutupi langit di atas mereka.

Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji bergerak cepat.

Mei Mei mengibaskan lengannya. Aura biru muda menyembur dari tubuhnya, membentuk dinding pelindung di sekeliling mereka. Belati-belati spiritual yang melesat menabrak dinding itu dan hancur berkeping-keping.

Jin Bao melangkah maju. Tinjunya menghantam udara di depannya.

KRAKK!

Udara retak, gelombang kejut menyebar. Naga putih yang hampir mencapai mereka hancur menjadi partikel cahaya, berhamburan tertiup angin.

Jin Yuji paling aneh. Ia mengeluarkan patung wanita yang sering ia amati. Patung giok itu ia letakkan di atas telapak tangannya, menghadap ke arah serangan. Dan dari tempat belakang patung itu, dari area yang selalu ia amati, cahaya ilahi yang mengerikan menyembur. Cahaya itu menghantam telapak hitam legam yang sangat besar, meledakkannya sebelum sempat mendekat.

Xu Hao, yang berdiri di belakang mereka, menyaksikan semua ini. Di sudut bibirnya, terlihat darah mengalir. Bukan karena terluka, tapi karena terpukul dengan kekuatan Jin Yuji.

Artefaknya tidak senonoh. Tapi kekuatannya di luar akal sehat.

Sebelum Xu Hao sempat bereaksi lebih lanjut, delapan sosok turun dari langit. Mereka mendarat di pasir putih, membentuk setengah lingkaran di hadapan rombongan Xu Hao.

Tujuh dari mereka adalah Dewa Langit bintang sembilan. Satu orang, yang berdiri paling depan, adalah seorang pria paruh baya dengan jubah hitam bermotif awan. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam. Aura di sekelilingnya dalam dan berbahaya. Raja Dewa.

Raja Dewa itu menatap tajam ke arah Xu Hao, mengabaikan tiga orang di depannya. Bibirnya bergerak.

"Akhirnya kita bertemu."

Mei Mei melangkah maju, melindungi Xu Hao. Suaranya tegas, tidak gentar meski menghadapi Raja Dewa.

"Siapa kalian?"

Seorang wanita dari kelompok itu tertawa. Ia Dewa Langit bintang sembilan, dengan jubah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Matanya menyipit sinis menatap Mei Mei.

"Haiyoooo..."

Ia menghela nafas panjang, pura-pura terkejut.

"Kupikir tadi ada dua gunung kembar yang menghalangi jalanku. Ternyata itu cuma dadamu, Nona. Apa tidak keberatan membawa beban seberat itu? Atau... kamu sengaja membawa bekal untuk seisi sekte?"

Yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Seorang pria di sampingnya menambahkan, "Mungkin dia sedang program berbagi makanan bergizi gratis! Kasihan sekali, harus berbagi dengan seluruh sekte!"

Tawa semakin keras. Beberapa dari mereka sampai menepuk paha.

Jin Bao dan Jin Yuji merasa muram. Wajah mereka merah padam. Mereka tidak terima teman mereka dihina seperti itu.

Aura keduanya langsung meledak. Pasir di sekitar mereka berhamburan. Udara bergetar.

"KU BUNUH KALIAN SEMUA!" teriak mereka serentak. Mereka bersiap menerjang dengan kekuatan penuh.

Namun sebelum mereka bergerak, Xu Hao mengangkat tangannya. Satu gerakan sederhana, tapi cukup membuat Jin Bao dan Jin Yuji berhenti. Mereka menoleh, melihat Xu Hao yang tersenyum.

Xu Hao melangkah maju, melewati Mei Mei. Ia menatap wanita yang menghina Mei Mei tadi. Matanya bergerak turun, menatap dada wanita itu, lalu menggeleng pelan.

"Nona ini sangat baik. Kebetulan kita ingin menyeberangi sungai tanpa terbang, nona ini datang mempersiapkan jembatan yang rata di dadanya. Ini sungguh kemuliaan. Lain kali jika kami ke sini lagi, kami akan memintamu membuat jembatan lagi untuk kami."

Mei Mei terkejut, lalu tersenyum senang. Ia merasa dibela.

Jin Bao dan Jin Yuji terdiam sesaat, lalu tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka keras, penuh ejekan.

"JEMBATAN RATA! HAHAHA!"

"BENAR, BENAR! JEMBATAN UNTUK MENYEBERANGI SUNGAI!"

Wanita itu wajahnya berubah merah padam. Bukan karena malu, tapi karena marah. Matanya menyala, giginya bergemeretak.

"Lancang sekali dirimu, junior!"

Yang lainnya ikut marah. Mereka mulai mengumpulkan energi, siap menyerang.

Namun Raja Dewa mengangkat tangannya. Satu gerakan, dan semua anak buahnya langsung diam. Ketaatan mereka luar biasa.

Raja Dewa itu tersenyum tipis. "Tenang. Jangan terbawa emosi."

Semua anggotanya terdiam, dan patuh perintah. Kondisi menjadi sedikit tenang. Namun ketenangan hanya berlangsung beberapa detik.

Xu Hao tersenyum. Ia sudah merasakan kehadiran mereka jauh sebelum mereka sampai. Dan benar saja, dari balik bukit di kejauhan, sekitar dua puluh sosok muncul. Mereka terbang rendah, lalu mendarat di sekitar area, membentuk lingkaran pengepungan yang rapat.

Semuanya Dewa Langit. Bintang sembilan dan sepuluh. Jumlah mereka tepat dua puluh orang.

Salah satu dari mereka, seorang pria dengan jubah putih, melangkah maju. Suaranya lantang.

"Perintah dari Alam Surgawi. Bunuh orang-orang sesat!"

Raja Dewa dari kelompok pertama mengerutkan kening. "Ini bagian kami. Kalian mundur."

Pria berjubah putih itu tersenyum. "Siapa cepat dia dapat. Kita tidak bermusuhan, senior. Aku tahu kau juga orang suruhan Alam Surgawi. Jadi mari kita bersaing dengan sehat. Hadiahnya sebanding dengan usaha kita."

Raja Dewa itu terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum.

"Baiklah. Karena kita di perahu yang sama, sebagai senior, aku menyetujui persaingan ini."

Yang lainnya mengangguk setuju. Mereka mulai mengatur posisi, bersiap menyerang.

Xu Hao tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang mengerikan. Ia menoleh pada Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji.

"Mei Mei, Jin Bao, Jin Yuji. Lawan siapa pun yang mampu kalian lawan. Tolong jangan membebaniku."

Jin Bao terkekeh. Tangannya mengepal, otot-ototnya menegang. "Tenang saja, senior. Kami sudah sering dalam kondisi ini. Tidak akan mati."

Mei Mei mengangguk mantap. Di tangannya, sepasang pedang pendek muncul, berkilauan terkena sinar matahari.

Jin Yuji mengangguk sambil mengelus patung gioknya. Matanya fokus, siap bertarung.

Xu Hao menghela nafas lega. Mereka memang bisa diandalkan.

Kemudian ia menatap sekelilingnya. Dua puluh delapan musuh. Dua puluh tujuh Dewa Langit tingkat tinggi. Satu Raja Dewa. Semua mengincar nyawanya.

Xu Hao tersenyum tipis. Matanya bersinar ungu terang.

"Karena semuanya sudah berkumpul..."

Ia mengambil ancang-ancang. Energi ungu mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.

"Jadi mari kita mulai pestanya!"

1
yos helmi
go
upett
masaallah tabarokallah thor 👍👍💪💪
YAKARO: Aminn. Terimakasih kak🙏
total 1 replies
Adriel Benedict
kami betah baca sampai sekarang itu membuktikan karya ini luar biasaaaa Thor, kemampuan menulisnya ta kasih nilai 11 janganlah merendah masa nilai 2, itu mah nilai menulisnya bocilku yang masih kelas satu SD 🤭 di rak bukuku ini novel urutan pertama loh Thor 😁😁 semangka author the best, sehat selaluuu 💪💪💪
Adriel Benedict: amin 🙏
total 2 replies
Aiby Kushina Uzumaki
yang penting author semangat terus💪💪💪
YAKARO: Aminn. Terimakasih kak🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
semangat thor
YAKARO: Oke bro, author pasti semangat. Besok up lima bab. Tapi panjang panjang bab nya. Setara 10 bab.
total 1 replies
Nanik S
Makasih banget dan sehat selalu untuk Autor
YAKARO: Sama sama, dan terimakasih juga kak🙏🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Dragon🐉 gate🐉
Mak kau lah sesat, sembarangan!! salken.. Miou Yi sang putri Ruang & dimensi😎
YAKARO: Yoi... tuan putri dimensi/Determined/
total 1 replies
fiki cahyadi
/Good/
Dragon🐉 gate🐉
gw bayangin rambutnya Kushina kl lagi marah (cm beda warna doang)🤣🤣🤣
YAKARO: Hehe, iyaa sama😄
total 1 replies
fiki cahyadi
semangat author, karya anda luar biasa.👍💪.
YAKARO: Terimakasih bro🙏/Determined//Determined/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aaiihh... Trio BACOT kapan musnahnya sih , kalian pasti nenek moyangnya Kecoak 🙄
Dragon🐉 gate🐉: bersin ultra Sonic 🤣
total 2 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Wadi Pribadi
Hay Hay...kalo tulisan ini nilainya dua...tunjukin siapa yang menilai....nanti saya colek matanya pake cabe ....
YAKARO: Wkwkwk🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Utuh Misra
lanjut tuor update nya seru
YAKARO: Oke siappp. Besok author up lima bab.
total 1 replies
Bagas Jionju
sangat luar biasa thor karyamu, imajinasimu membuat minat baca saya semakin menjadi, sebagai pencinta cerita klasik saya memberi nilai 100👍 dan karyamu terpampang di rak buku saya sebagai kategori the legen, you are the best thor. saya akan selalu menunggu karya karyamu yg sangat luar biasa ini, semoga kamu di beri kesehatan dan tetap semangat, berkat bertambah👍👍 👍
YAKARO: Terimakasih banget bro/Pray/
Jadi panjang kuping author di puji🤣

Ya semoga kita semua, pembaca dan author selalu sehat. Terimakasih juga karena selalu ngikutin cerita ini/Cry//Pray/
total 1 replies
Utuh Misra
mantap lanjut terus tuor update nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!