Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Siang itu gedung Lin Group berdiri megah di pusat Kota Golden Core, kaca-kaca tingginya memantulkan matahari yang terik. Xiao Han sedang menunggu di mobil Mercedes hitam di parkir eksekutif, AC menyala dingin, matanya setengah terpejam karena lelah setelah malam panjang di rumah Rina dan pagi yang penuh drama. Lin Qing baru saja selesai meeting internal dan seharusnya turun dalam 10 menit lagi.
Tiba-tiba pintu lobby terbuka. Seorang wanita keluar dengan langkah percaya diri, mengenakan blazer krem ketat dan rok pensil hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Rambut cokelatnya diikat ponytail tinggi, tas desainer di bahu, dan senyum tipis di bibir. Vina.
Xiao Han langsung duduk tegak, matanya melebar kaget. Vina berjalan langsung ke arah mobil, seolah sudah tahu Xiao Han ada di sana. Dia mengetuk kaca jendela penumpang dengan kuku terawat rapi.
Xiao Han menurunkan kaca, suaranya pelan tapi terkejut.
“Mbak Vina? Kamu… kenapa di sini?”
Vina tersenyum manis, tapi ada kilau nakal di matanya.
“Kak Xiao Han. Lama nggak ketemu. Aku ada urusan sama sepupuku. Lin Qing. Dia lagi di atas kan?”
Xiao Han menelan ludah. “Iya… lagi meeting selesai sebentar lagi.”
Vina membuka pintu belakang dan masuk tanpa diminta, duduk dengan anggun di jok belakang seperti pemilik mobil itu.
“Bagus. Aku tunggu di sini aja. Nggak apa-apa kan, Kak? Aku kan cuma adik sepupu dia.”
Xiao Han mengangguk kaku, pikirannya berputar cepat. Vina adalah adik sepupu Lin Qing? Kenapa dia tidak pernah cerita? Dan lebih penting lagi—pengalaman mereka di rumah Vina, pijatan sensual, hubungan intim yang liar itu… semuanya harus dirahasiakan sekarang.
Tak lama kemudian, Lin Qing keluar dari lobby. Blazer putihnya rapi, tas kerja di tangan, langkahnya tegas seperti biasa. Begitu melihat mobil dan Vina di jok belakang, alisnya naik sedikit, tapi wajahnya tetap dingin.
“Vina? Kamu datang tanpa bilang.”
Vina tersenyum lebar, bangkit sedikit dari jok untuk memeluk Lin Qing melalui kaca yang terbuka.
“Kak Qing! Surprise dong. Aku lagi di daerah, mampir ke kantor Kakak. Eh, mobilnya Kakak kan? Sopirnya juga ganteng ya.”
Lin Qing melirik Xiao Han sekilas melalui spion, ekspresinya datar.
“Xiao Han cuma sopir pribadiku. Masuklah, kita bicara di mobil. Ada apa?”
Vina kembali duduk, kakinya menyilang elegan.
“Nggak ada apa-apa sih. Cuma kangen. Dan… pengen minta tolong Kakak soal proyek desain interior rumah baru aku. Kakak kan punya koneksi bagus.”
Lin Qing masuk ke jok belakang, duduk di sebelah Vina. Xiao Han langsung menstarter mobil, tapi matanya sesekali melirik spion—dua wanita yang pernah “bersamanya” dalam cara berbeda sekarang duduk berdampingan, berbicara santai seolah tidak ada apa-apa.
Di depan Lin Qing, Vina bersikap biasa saja. Saat Lin Qing bertanya, “Kamu kenal Xiao Han?” Vina hanya menggeleng sambil tersenyum ringan.
“Pernah lihat dia waktu antar surat ke rumahku dulu. Orangnya sopan. Sopir Kakak ya sekarang? Cocok deh, kelihatan kuat dan bisa diandalkan.”
Lin Qing mengangguk pelan, tatapannya ke spion bertemu mata Xiao Han sesaat.
“Iya. Dia sopir pribadiku. Profesional.”
Xiao Han tetap diam, fokus mengemudi. Di depan Vina, Lin Qing tidak menunjukkan apa pun selain sikap bos yang dingin dan profesional. Tidak ada sentuhan kecil, tidak ada senyum hangat seperti biasanya saat berdua. Hanya pembicaraan bisnis dan keluarga ringan.
Sepanjang perjalanan ke kafe terdekat untuk makan siang bersama, keduanya berbicara seperti sepupu biasa—tentang proyek desain, tentang keluarga, tentang rencana liburan. Xiao Han hanya mendengar dari depan, tidak ikut bicara kecuali ditanya “Kiri atau kanan, Bu?” atau “Mau mampir ke mana dulu?”
Di kafe, saat mereka turun, Vina sempat melirik Xiao Han dengan mata nakal saat Lin Qing tidak melihat—senyum kecil yang hanya mereka berdua pahami, mengingatkan pada malam di rumahnya dulu. Tapi dia tidak bilang apa-apa.
Lin Qing juga tidak menunjukkan apa pun. Saat Vina pamit setelah makan siang, dia hanya memeluk sepupunya sekilas.
“Jangan lupa kirim proposal desainnya ya, Vin. Aku tunggu.”
Vina melambai ke Xiao Han sebelum pergi.
“Makasih ya, Kak Sopir. Hati-hati di jalan.”
Xiao Han mengangguk hormat.
“Selamat siang, Mbak Vina.”
Begitu Vina pergi, Lin Qing masuk kembali ke mobil. Dia duduk di jok belakang, diam sejenak sebelum bicara pelan.
“Kamu kenal Vina dari mana?”
Xiao Han menstarter mobil, suaranya tenang.
“Dulu pernah antar surat ke rumahnya. Itu saja.”
Lin Qing mengangguk pelan, tapi matanya di spion menatap Xiao Han lebih lama dari biasanya.
“Baiklah. Ayo pulang.”
Mobil melaju meninggalkan kafe. Di dalam kabin, hening. Tapi Xiao Han tahu—rahasia mereka bertiga (dia, Lin Qing, Vina) masih aman, setidaknya untuk hari ini. Tapi berapa lama lagi sebelum salah satu dari mereka tergelincir?