"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.
## **Bab 2: Hukum Aspal**
Hujan belum benar-benar reda saat Arka sampai di kontrakan sempitnya di pinggiran distrik logistik. Jaket oranyenya sudah tidak lagi mampu menahan air; kainnya yang berat menempel dingin di kulit, seolah ikut membebani pundaknya yang kaku. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, aroma apek dan debu menyambutnya. Tidak ada yang berubah, kecuali tumpukan brosur rumah sakit di atas meja yang kini tampak seperti tumpukan kertas sampah tak berguna.
Arka terduduk di pinggir tempat tidur yang berderit. Ia menatap telapak tangannya. Luka sayat akibat bros perak tadi sudah berhenti berdarah, meninggalkan bekas merah yang berdenyut pedih. Namun, di balik rasa sakit fisik itu, pikirannya sedang meronta.
Dunia di matanya tidak lagi sama.
Tembok kamar yang mengelupas kini terlihat memiliki label data transparan: *[Kondisi Bangunan: Buruk. Tingkat Kelembapan: 85%. Risiko Keruntuhan Plafon: 12% dalam 6 bulan.]*
"Diam," bisik Arka, memijat pelipisnya.
Suara dingin di kepalanya tidak berhenti. **[Analisis Lingkungan Selesai. Pengguna berada dalam kondisi ekonomi: Prasejahtera. Menyarankan tindakan darurat: Likuidasi aset tidak produktif.]**
Arka tertawa getir. Aset? Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah motor Supra butut yang parkir di luar dan nyalinya yang baru saja diinjak-injak di depan auditorium. Namun, saat ia melirik ke arah tumpukan paket yang belum sempat ia antar—barang-barang retur yang harusnya ia kembalikan ke gudang besok pagi—matanya menangkap sesuatu.
Di sana, di antara tumpukan kardus, ada sebuah radio tua dan beberapa komponen elektronik bekas yang ia pungut dari tempat sampah minggu lalu, niatnya untuk diperbaiki dan dijual kembali.
**[Objek Terdeteksi: Radio Transistor rusak, Suku Cadang Tembaga, Komponen Sirkuit 1990-an.]**
**[Estimasi Nilai Jual Kembali setelah Optimasi: Rp 450.000.]**
**[Biaya Perbaikan: Rp 0 (Memanfaatkan keahlian teknis Pengguna).]**
Mata Arka menyipit. Selama ini ia memperbaiki barang hanya berdasarkan otodidak. Tapi sekarang, ia seolah bisa melihat jalur arus listrik di balik kabel-kabel tembaga itu bahkan sebelum ia menyentuhnya.
"Kecerdasanku mati di jalanan, ya?" Arka mengulang kalimat Sarah dengan suara rendah. "Mari kita lihat apakah jalanan ini bisa menghidupkannya kembali."
Tanpa mengganti pakaiannya yang basah, Arka menyambar obeng. Jarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di bawah panduan 'garis cahaya' yang muncul di penglihatannya, ia menyolder, menyambung, dan membersihkan komponen itu. Hanya dalam tiga puluh menit, radio yang tadinya hanya tumpukan besi tua itu menyala dengan suara jernih—lebih jernih dari saat ia baru diproduksi.
---
Keesokan paginya, matahari Tanjungbalai naik dengan angkuh, memanaskan aspal yang masih lembap. Arka berdiri di sudut pasar barang bekas, tempat para tengkulak dan pedagang kecil beradu nasib. Di tangannya, radio tua itu kini terbungkus rapi.
Namun, target Arka bukan sekadar menjual radio.
Matanya menyapu pasar. Data mengalir deras.
*[Pedagang A: Stok berlebih pada kipas angin. Masalah: Motor penggerak aus.]*
*[Pedagang B: Mencari suku cadang langka untuk mesin cuci lama. Kesediaan membayar: Tinggi.]*
Arka tidak langsung berteriak menjajakan dagangan. Ia berjalan menghampiri seorang pria tambun berkaus dalam yang sedang memaki-maki sebuah mesin parut kelapa yang mogok. Namanya Bang Jago, penguasa pasar blok C yang dikenal pelit namun punya koneksi luas.
"Mesinnya mati di bagian kapasitor, Bang," ucap Arka tenang.
Bang Jago menoleh, matanya menyipit melihat jaket kurir Arka. "Tahu apa kau, budak paket? Pergi sana, jangan cari masalah."
"Kasih saya waktu dua menit. Kalau tidak menyala, saya bayar Abang sepuluh ribu rupiah. Kalau menyala... Abang beli radio ini seharga tiga ratus ribu," tantang Arka.
Bang Jago tertawa mengejek. "Sepuluh ribu? Uang parkir saja lebih dari itu. Tapi oke, coba saja. Aku ingin lihat kurir sok tahu ini merugi."
Arka berlutut. Ia tidak butuh alat tes mahal. Sistem di kepalanya memberikan *highlight* merah pada kabel yang terbakar. Dengan gerakan tangan yang cekatan, ia memotong kabel, menyambung pintas, dan membersihkan kerak karbon hanya dengan ujung kuku dan potongan kain.
*Cklek.*
Mesin parut itu menderu kuat. Getarannya stabil. Bang Jago melongo. Penonton di sekitar mulai berbisik.
"Bagaimana, Bang?"
Bang Jago berdehem, harga dirinya terusik namun ia tidak bisa membantah kenyataan. "Boleh juga tanganmu. Mana radio itu? Tiga ratus ribu, kan? Ambil ini."
Arka menerima uang itu. Tiga lembar seratus ribu yang terasa lebih berharga daripada semua gaji lemburnya bulan lalu. Tapi ia tidak berhenti di situ.
"Bang, saya tahu Abang punya banyak barang rongsokan di gudang belakang yang dianggap sampah oleh Wijaya Logistik karena biaya perbaikannya mahal," Arka merendahkan suaranya. "Berikan saya akses ke gudang itu selama dua jam. Saya akan ambil beberapa bagian, dan sebagai gantinya, saya akan memperbaiki tiga mesin utama Abang secara gratis."
Bang Jago terdiam. Di matanya, Arka bukan lagi sekadar kurir pengantar paket. Ada sesuatu yang dingin dan berbahaya di mata pemuda itu—sesuatu yang mengingatkannya pada para hiu bisnis di pusat kota, namun jauh lebih tajam.
"Dua jam. Jangan lebih," ucap Bang Jago akhirnya.
---
Dua jam kemudian, Arka keluar dari gudang dengan sebuah karung goni berisi komponen yang bagi orang lain adalah sampah: modul sirkuit timbangan digital yang rusak, layar LCD pecah, dan baterai lithium lama.
Di kepalanya, Sistem mulai mengalkulasi.
**[Target Produksi: Timbangan Digital Presisi Tinggi untuk Pedagang Emas/Bumbu.]**
**[Kebutuhan Pasar: Akurasi timbangan di pasar ini dimanipulasi oleh alat murah milik distributor Wijaya. Pedagang butuh alat yang bisa mereka percayai.]**
Arka kembali ke kontrakannya. Ia bekerja tanpa henti. Ia tidak butuh modal jutaan untuk mulai melawan. Ia menggunakan apa yang dibuang oleh sistem kapitalis Hendra Wijaya untuk membangun senjatanya sendiri.
Ia merakit kembali modul-modul itu menjadi lima unit timbangan saku yang memiliki tingkat akurasi hingga 0,01 gram. Sesuatu yang sangat dicari oleh para pengumpul sarang burung walet atau pedagang rempah mahal di pelabuhan Tanjungbalai.
Sore itu, ia kembali ke pasar. Ia tidak menjualnya ke Bang Jago. Ia langsung menuju ke dermaga, tempat para pengepul kecil sedang berdebat dengan penimbang dari pihak Wijaya Group.
"Timbangan ini curang! Masa sarang burung kualitas superku hanya dihargai setengah kilo?!" teriak seorang ibu tua.
"Ini timbangan standar Wijaya, Bu. Sudah tersertifikasi. Kalau tidak mau, ya sudah, bawa pulang saja," sahut petugas berseragam biru rapi dengan nada meremehkan.
Ibu itu menangis. Itulah hasil kerjanya berbulan-bulan. Arka melangkah maju.
"Coba gunakan ini, Bu," Arka menyerahkan timbangan kecil buatannya. "Gratis untuk tes."
Petugas Wijaya itu tertawa. "Apa itu? Mainan plastik? Jangan ikut campur, Kurir!"
Arka mengabaikannya. Ibu itu meletakkan sarang burungnya di atas timbangan Arka. Angka digital menyala terang: *0,85 kg.* Selisih 350 gram dari timbangan Wijaya.
"0,85 kilo!" teriak kerumunan.
Si petugas Wijaya mulai berkeringat. "Itu timbangan ilegal! Palsu!"
"Ini timbangan dengan sensor piezoelektrik yang dikalibrasi ulang secara manual," Arka menatap petugas itu dengan dingin. "Mau saya panggilkan pihak metrologi untuk mengecek timbangan siapa yang ilegal? Atau kalian mau membayar hak Ibu ini sekarang?"
Melihat massa yang mulai panas, petugas itu terpaksa membayar selisihnya dan pergi dengan terburu-buru. Ibu tua itu menggenggam tangan Arka, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nak... terima kasih. Berapa harga alat ini? Aku mau membelinya."
"Dua ratus ribu, Bu."
Dalam waktu kurang dari satu jam, kelima timbangan itu ludes. Kantong jaket Arka kini berat.
**[Saldo Tunai: Rp 1.300.000.]**
**[Pertumbuhan Modal: 26.000% dari biaya bahan baku awal.]**
**[Peringatan: Keberhasilan Anda telah menarik perhatian algoritma pengawasan distribusi Wijaya Group di sektor pasar.]**
Arka berdiri di pinggir dermaga, menatap air laut yang hitam. Uang di sakunya belum cukup untuk membeli satu roda mobil Rian Wijaya. Tapi ia merasakan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar uang.
Ia merasakan kendali.
"Ini baru awal, Sarah," gumam Arka. Ia mengambil uang seratus ribu yang diberikan Rian kemarin—uang yang ia pungut dari aspal sebagai pengingat luka. Dengan sengaja, ia melipat uang itu menjadi pesawat kecil dan menerbangkannya ke arah laut.
"Aku tidak butuh sedekahmu. Aku akan mengambil seluruh kerajaanmu, keping demi keping."
Malam itu, Arka tidak pulang untuk tidur. Ia pergi ke warnet tua di ujung jalan. Ia butuh akses internet. Ia butuh mencari celah yang lebih besar dari sekadar timbangan pasar. Ia butuh pintu masuk ke jantung bisnis yang telah menghancurkan hidupnya: Skyview Mall.
**[Sistem: Membuka Protokol Analisis Real Estate... Target: Skyview Mall Tanjungbalai.]**
**[Data Masuk: Tingkat Okupansi 60%, Hutang Tersembunyi Rp 40 Miliar.]**
Arka tersenyum. Senyum seorang arsitek yang baru saja menemukan retakan pada pondasi istana musuhnya.
---
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.