Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Godaan Membeli Minuman
## Bab 32: Godaan Membeli Minuman
Tenggorokan Rafi terasa seperti padang pasir yang retak-retak. Setelah adrenalin yang memuncak di dalam studio 5D (Bab 29) dan sesi jalan kaki menyusuri labirin pakaian bermerek di lantai bawah (Bab 31), rasa haus kini datang menyerang tanpa ampun. Udara AC mall yang kering ternyata memiliki cara licik untuk menyerap cairan tubuh manusia tanpa mereka sadari.
Rafi menelan ludah, namun yang ia rasakan hanya gesekan kasar di kerongkongannya. Ia melirik Nisa. Gadis itu berkali-kali membasahi bibirnya sendiri, sebuah gestur mikro yang secara sosiologis menandakan bahwa ia pun sedang bertarung dengan rasa haus yang sama.
Tepat di sisi kanan eskalator, sebuah gerai minuman kekinian berdiri dengan megah. Lampu neonnya berwarna *pink* pastel, dan di atas mejanya terpampang poster besar berisi gambar segelas boba dengan es batu yang tampak berkilat, dikelilingi oleh lelehan gula aren yang menggoda.
"Fi, haus ya?" tanya Nisa lirih. Matanya sempat mencuri pandang ke arah deretan menu di gerai itu.
Rafi berhenti sejenak. Secara insting, ia ingin langsung berkata, *"Iya, ayo beli,"* demi menjaga citra sebagai pria yang sigap. Namun, otak analitisnya segera bekerja seperti prosesor komputer yang sedang melakukan *rendering* berat.
Ia melirik daftar harga di papan menu.
* *Brown Sugar Boba Milk:* Rp28.000
* *Cheese Tea Special:* Rp32.000
* *Thai Tea Reguler:* Rp25.000
Mata Rafi membelalak secara internal, meski wajahnya tetap ia pasang sedatar mungkin. Dua puluh lima ribu untuk segelas teh susu? Secara skeptis, Rafi tahu modal untuk membuat segelas teh seperti itu paling-paling tidak sampai lima ribu rupiah. Sisa dua puluh ribunya adalah biaya sewa lapak di Irian Kisaran, biaya listrik kulkas, dan biaya gaya hidup.
Ia melakukan kalkulasi cepat di kepalanya:
* **Sisa uang saat ini:** Rp215.000 (setelah dikurangi bus dan tiket 5D).
* **Target makan di McD:** Rp120.000 (Bab 5).
* **Cadangan darurat & Pulang:** Rp75.000 + Rp20.000.
* **Total anggaran yang sudah terkunci:** Rp215.000.
Artinya, saldo operasionalnya saat ini adalah **nol rupiah**. Jika ia nekat membeli dua gelas minuman boba seharga lima puluh ribu rupiah, maka anggaran makannya di McD akan terpotong secara tragis. Ia mungkin hanya bisa membelikan Nisa kentang goreng tanpa burger, atau lebih buruk lagi, mereka tidak punya ongkos untuk bus pulang ke Tanjungbalai.
Rafi merasakan keringat dingin mulai merembes di balik kemeja flanelnya. Ini adalah ujian logika yang berat. Di satu sisi, ia ingin memanjakan Nisa. Di sisi lain, ia tidak boleh membuat kesalahan finansial yang akan merusak seluruh sisa hari ini.
"Emm... mau beli minum di sini, Nis?" tanya Rafi, mencoba memancing reaksi Nisa sambil berharap jawabannya adalah 'tidak'.
Nisa mendekat ke gerai, melihat harga yang tertera, lalu terdiam sejenak. Rafi memperhatikan gerakan mata Nisa yang memindai angka-angka itu. Ada jeda tiga detik yang terasa seperti tiga jam bagi Rafi.
"Duh, harganya mahal kali ya, Fi. Masak air teh pakai susu aja tiga puluh ribu," bisik Nisa sambil menarik lengan baju Rafi, mengajaknya menjauh dari gerai itu. "Mending kita cari air mineral biasa aja nanti. Atau tunggu pas makan di McD aja, kan biasanya sudah termasuk minum."
Rafi mengembuskan napas panjang—sangat pelan agar tidak terlihat seperti helaan napas lega. Ia merasa baru saja lolos dari lubang jarum. Nisa, dengan kepraktisan khas anak SMK, ternyata memiliki kontrol diri yang kuat terhadap godaan konsumerisme mall.
"Iya, Nis. Benar juga. Lagian boba kayak gitu cuma bikin kenyang tapi nggak hilangin haus beneran. Terlalu manis," sahut Rafi, memperkuat alasan logis untuk menutupi rasa mindernya karena tidak sanggup membeli minuman itu dengan santai.
Namun, godaan belum berakhir. Saat mereka berjalan menuju atrium, mereka melewati sebuah mesin penjual otomatis (*vending machine*). Di dalamnya, botol-botol minuman dingin berjejer rapi. Harganya sepuluh ribu rupiah. Lebih murah dari boba, tapi tetap saja tiga kali lipat dari harga di toko kelontong depan rumah Rafi di Tanjungbalai.
Rafi kembali menelan ludah. Rasa hausnya sudah mencapai level kritis. Setiap kali ia melihat orang lewat membawa gelas plastik dengan es batu yang berdenting, hatinya perih. Ia teringat celengan ayamnya di Bab 1. Uang sepuluh ribu itu adalah hasil dari mengetik satu laporan tugas yang rumit. Apakah ia akan menghabiskannya hanya untuk tiga menit kesegaran?
"Nis, kamu beneran nggak apa-apa nunggu sampai McD?" tanya Rafi sekali lagi, memastikan.
"Nggak apa-apa kok, Fi. Aku masih tahan. Kita langsung ke McD aja yuk sekarang? Biar sekalian duduknya lama di sana," jawab Nisa sambil tersenyum manis.
Senyum itu adalah oase bagi Rafi. Ia menyadari bahwa kencan ini bukan tentang seberapa banyak barang yang bisa ia beli di dalam gedung mewah ini, melainkan tentang bagaimana mereka bertahan bersama di dalamnya dengan sumber daya yang terbatas.
Secara analitis, Rafi menyadari sesuatu yang menarik. Di mall ini, rasa haus adalah produk yang sengaja diciptakan. Udara yang kering, berjalan berkeliling, dan aroma makanan yang asin di mana-mana—semuanya dirancang agar pengunjung mengeluarkan uang untuk membeli cairan. Irian Kisaran adalah sebuah mesin ekonomi yang sempurna, dan Rafi merasa bangga karena sejauh ini, ia berhasil menjadi baut yang tidak mau ikut berputar dalam mesin itu.
"Oke, kalau gitu kita langsung meluncur ke McD. Di sana AC-nya juga dingin kok, dan minumannya lebih gede ukurannya," ujar Rafi dengan nada penuh percaya diri yang dibuat-buat.
Mereka mulai berjalan lebih cepat menuju pintu keluar utama mall untuk menyeberang ke arah gerai McDonald's yang berdiri sendiri di area luar namun masih dalam komplek yang sama. Rafi meraba saku belakang celananya. Dompetnya masih kaku. Uangnya masih utuh untuk pertempuran sesungguhnya di meja makan nanti.
Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan godaan minuman warna-warni itu di belakang. Rafi merasa seperti seorang prajurit yang berhasil melewati ladang ranjau tanpa lecet sedikit pun. Rasa haus di tenggorokannya masih ada, bahkan semakin menjadi, namun rasa bangga karena berhasil menjaga anggaran di kepalanya jauh lebih memuaskan.
Rafi dan Nisa yang melangkah keluar dari lobi utama Irian Kisaran, disambut kembali oleh udara luar yang hangat namun membawa mereka selangkah lebih dekat ke tujuan utama: sebuah meja di sudut McD, tempat di mana Rafi berencana mempertaruhkan sisa uang dan keberaniannya untuk mengobrol lebih dalam dengan Nisa.
---