NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan ketiga

"Hh...!" Kura mengernyit bersiap menyerang,

Melompat masuk dan menggelinding secepat kilat, melesat ke arah Sura. Namun berkat penglihatannya, gerakan itu tampak lambat,

Para penonton yang awalnya bersemangat seketika tercengang. Dalam detik terakhir sebelum cangkang itu menyundul tubuh, Sura mengambil satu langkah ke kiri,

"Kemana dia?" sontak Kura menyadari,

Tubuhnya juga berhasil beradaptasi dengan kekuatan itu, hingga mampu berhenti sebelum menabrak pembatas.

Tepat saat keluar dari cangkang, Sura tersenyum menyambut dengan pukulan keras.

DUK! Brak...

Tubuh Kura langsung jatuh tak sadarkan diri, menerima serangan di belakang tengkuknya. Seketika sihir penghalang ikut sirna,

"Huft, untung saja berhasil. Butuh waktu untuk menyiapkannya...aku memadatkan sihir ruang di sepanjang jariku agar sekeras baja."

"A-apa ini?" ucap tetua terbata-bata, kecewa akan hasil yang didapat.

"Dia berhasil menang hanya dengan satu serangan..."

"Smirk..." Sura menoleh, melempar senyuman pada Anubis.

Raut sang patih telah berubah masam. Tangan yang tadi saling berpangku seketika terjatuh dengan telapak mengepal rapat,

"Apa kalian lihat serangan tadi? Bukankah kulit reptil terkenal keras? Bagaimana bisa---"

"Jangan-jangan tangan manusia itu lebih keras dari siluman-"

"Cukup! Semua hanya kebetulan!" sontak Gola menyudahi kebisingan,

Tentu saja merasa terhina, secara tak langsung Sura berhasil mengukir ketakutan pada segelintir siluman.

"Manusia adalah bangsa lemah! Apa kalian tidak lihat, tadi dia sembunyi seperti pengecut di dalam penghalang sihirnya?"

"Bukankah bangsa siluman juga punya sihir? Kenapa tidak dihancurkan saja?" sanggah Sura dengan raut tengil,

"Itu karena kamu melawan siluman rendahan! Lihat saja gaya bertarungnya. Dia terluka karena serangannya sendiri..."

"Pft...kamu cuma tahu cara melempar kesalahan ke siluman lain," Sura terkekeh.

"Jujur saja, dari awal kamu takut kan untuk melawanku...mangkanya kamu sengaja menumbalkan anak buahmu ini,"

"Hei, apa dia gila?! Padahal sudah susah payah menang tapi malah memancing masalah lain!" batin Raja menggerutu dari belakang,

"Hh! Hampir saja aku kehabisan akal," Anubis tergelak tawa.

"Terimakasih atas idenya, dengan begini aku bisa menjalankan rencana lain."

Dia melangkah, menghampiri dan menepuk pelan punggung besar di depannya, "Bagaimana kalau kamu buktikan saja?"

"Bunuh manusia itu dengan tanganmu sendiri,"

Anubis berbisik pada bidak barunya yang terkenal tempramental dan sulit mematuhi siapapun.

"...!" Gola menggertakkan gigi,

Kaki besarnya berjalan memasuki arena. Membuat sihir pengahalang kembali bersinar,

"Aa!! Kenapa dia diam saja? Seharusnya pergi sebelum Gola masuk ke dalam," Raja berteriak dalam hati.

Dibuat panik oleh tingkah seseorang. Sedangkan dalangnya hanya diam dengan raut menantang,

Sura kembali memasuki pembatas, "Bukankah kamu sangat yakin dengan kekuatanmu? Kalau gitu coba hancurkan penghalang ini,"

"Ergh!!" Gola mengerang tanpa sepatah kata,

Langsung menghujani dengan ratusan hantaman yang mampu menggetarkan tanah.

DUK!

DUK!

DUK!

"Sihir apa itu? Bahkan Gola tak bisa menembusnya!"

"Hahaha...! Bukannya tadi kamu sangat sombong? Cepat hancurkan kalau bisa!"

Sura menjulurkan lidah, mengejek, memasang wajah terngil pada kera besar yang tampak kewalahan.

"Sial! Keluarlah dari sana. Dasar pengecut!" pekik Gola kesetanan,

Kedua tangannya terus memukul, menghentakkan tubuh bahkan melayangkan tendangan keras. Nafasnya terengah,

Dia melangkah mundur, melihat ke segala sisi ruang yang melindungi Sura. Mulai bersiap, membawa kaki kirinya kedepan, sedikit menekuk kaki yang lain sebagai tumpuan,

"HH...!" Gola berlari cepat dan melompat ke atas,

BRAK!

Kini tubuh besarnya bertengger. Sura mendongak melihat aksi siluman hitam yang berada tepat di atasnya,

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Gola menghentak kuat, melompat-lompat dengan kaki dan tangan, secara bertubi-tubi hingga menciptakan gempa kecil di sekitar arena.

Namun penghalang itu tetap kokoh tanpa retak sedikitpun.

"Cepat keluar dari sana!"

"Mau sampai kapan kamu bersembunyi? Pertandingannya tidak akan berakhir kalau kamu terus di dalam sana!" ujar Gola berteriak,

"Lho...?" Sura terbelalak, "Benar juga! Berarti aku masih harus melawannya?!"

Seketika panik menyadari bahaya yang mengancam nyawa. Karena terlalu bersemangat mengejek kera besar di depannya, dia sampai lupa keluar dari arena,

"Padahal aku hanya ingin membuatnya malu! Bukan mau bertarung,"

"Bagaimana ini...?" Sura kelabakan menoleh kesana kemari,

Mencari keberadaan seseorang yang berpindah ke belakangnya.

Dengan raut memelas menatap Raja, menekuk bibir ke bawah, matanya membulat, memohon pertolongan.

"Si bodoh itu..." Raja menggeleng singkat,

Para siluman tampak ricuh melihat Gola tak mampu menembus pembatas Sura.

Meski begitu, hasil akhirnya tetap menyudut pada kekalahan manusia. Dia tak mungkin menang melawan panglima yang biasa bertarung dengan ribuan pasukan,

"Cukup!" sontak Raja bergerak maju.

Tak ada cara lain, selain menghentikan pertandingan itu.

"Tidak yang mulia. Pertandingan belum berakhir," sanggah Anubis bersikeras melanjutkan.

"Itu benar! Biarkan mereka menyelesaikan pertandingan ini," imbuh para tetua.

Anubis menyeringai, yakin bahwa kekhawatiran Raja menandakan hal baik untuknya.

"Bukankah anda sudah setuju? Biarkan kami menilai seberapa layak manusia itu menjadi pengawal pribadi anda."

"Grrrr...!" geram Raja mengeluarkan taring, tangannya terentang melayangkan hantaman pelan.

CETAKS!

Hempasan anginnya mampu mematahkan 4 tongkat sihir disana. Bahkan membuat Gola terpental jatuh, seketika sinar merah pembatas itu sirna,

Ditemani raut terpukau di wajah mereka, kekuatan Raja memang tak lagi diragukan, namun yang membuat mereka terkejut adalah pembatas milik Sura.

"Manusia itu baik-baik saja! Apa sihir itu juga bisa menghalang serangan Raja?"

"Padahal tubuh Gola tidak kuat menahannya..."

"Anubis, kamu sudah semakin lancang!" Raja naik pitam, "Hanya akulah yang berhak menilai. INGAT ITU!"

"B-baik, Raja." Anubis menunduk patuh,

Begitu juga yang lain, tak berani mengangkat kepala.

"Kalian semua lihat sendiri, kan? Kalau manusia bisa mengalahkan siluman,"

"Lalu kalian dengan seenaknya menyalahkan teman kalian karena terlalu lemah?" ucap Raja meninggikan suara,

"Sudah berapa lama perang berakhir? Sejak saat itu lah kalian berlagak sombong dan merasa paling kuat!"

"Sedangkan bangsa manusia? Mereka tahu bangsanya lemah, karena itulah mereka terus berkembang---tidak seperti kalian!"

"Coba jawab, kapan terakhir kali para tetua masuk ke perpustakaan?" cecar Raja tak mendapat sahutan,

"Kalian bahkan tak pernah membantu atau sekedar bertanya soal masalah yang kerajaan kita hadapi selama ini?"

"BENAR KAN?! Setiap hari kalian sibuk menghambur-hamburkan uang untuk bermain wanita!"

Para tetua menunduk malu, menerima semua amukan.

"Aku tahu kalian semua hanya bermalas-malasan setiap hari. Mengandalkan status tinggi, tanpa tahu nasib siluman yang statusnya ada di bawah kalian."

Raja menoleh, menatap lekat patih yang tak berani mengeluarkan sepatah kata.

"Anubis, apakah kamu bisa menumbuhkan tanaman di negara kita?"

"..." para siluman melirik, kebingungan mendengar ucapan tadi.

Mereka yakin hal tersebut sangat mustahil dilakukan, jadi untuk apa bertanya?

Selama ini mereka mengandalkan hasil bumi daerah pinggiran atau membeli panen kerajaan lain yang memiliki miasma jauh lebih rendah.

Itulah yang membuat beberapa makanan menjadi mahal,

"JAWAB!"

"Tidak, Raja. Saya tidak bisa," Anubis menggeleng lirih.

Tak menyangka Raja akan mengungkap masalah itu di depan petinggi siluman.

"Antar mereka semua ke halaman belakang!"

1
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Anonymous
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!