Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
belum ada judul
Di jalan secara tak di sengaja Sugeng bertemu dengan Jojo.. Sugeng memutuskan tak jadi kerumah Fatur dan memilih bertanya kepada Jojo.
"Bang Jo.. tadi ada polisi kerumah?" Tanya Sugeng seraya berhenti di depan Jojo yang sedang berjalan menenteng plastik kresek.
"Eh.. iya geng.." jawab Jojo.
"Mereka tanya apa, pak?"
"Emm.... mereka cari bukti semalem kamu ada di mana. Saya jawab aja kamu ada di gardu nongkrong sama yang lainnya. Udah di cek di CCTV di rumah Bu Wati juga.. malu itu pasti polisinya udah nuduh kamu yang nggak nggak geng, dia pasti curiga sama kamu dan berusaha cari bukti untuk menyudutkan kamu.. eh tau taunya pas di lihat cctv kamu lagi nongkrong di pohon mangga pinggir Gardu."
Deg! Sejenak jantung Sugeng berhenti mendengar itu.
Sugeng hanya tersenyum kaku.
"Masalah kamu sekarang udah selesai geng? Wajah kamu udah ngga kosong lagi, ngga kayak semalem.."
"Hehe iya Bang.." Sugeng hanya tersenyum kaku.
"Ya udah geng, kalau ngga ada yang mau tanya lagi aku permisi dulu.."
"Iya bang silahkan.."
Setelah Jojo pergi, Sugeng merenung di pinggir jalan. Ia mengeluarkan rokok dan menyalakannya.
Hembusan asap tipis dari rokok terlihat mengepul di depan wajah Sugeng, tak di pungkiri ia teramat heran dengan penjelasan Jojo.
"Semalam aku jelas jelas berada di rumah Linda sampai Jam 4 dini hari mungkin.. namun kenapa, Bang Jojo bilang aku ada di Gardu? Apa ada medi yang nyamar jadi aku... atau semua ini ada hubungannya dengan batu jingga itu?" Tanya Sugeng dalam hatinya.
"Pe.. permisi mas.. mau lewat." Ucap Seorang gadis di belakang Sugeng.
Sugeng tersentak kaget, ia baru sadar bahwa memarkirkan kendaraanya di depan gang pinggir jalan.
"Eh iya.. silahkan.." jawab Sugeng sembari mendorong maju motornya.
***
Sugeng tak jadi kerumah Fatur dan mengecek CCTV takut itu akan menjadi kecurigaan. Sudah cukup Sugeng mendengar penjelasana dari Jojo. Jojo tak mungkin bohong tidak ada gunanya ia berbohong, dan Sugeng yakin ada sosok tak kasat mata yang membantu aksinya di malam hari itu.
Malam setelah isya..
Sugeng terlihat berdiri tegap di depan warungnya yang belum jadi itu. Ia mengamati sembari merokok.
Di samping kanan bawahnya tampak rak rak kecil yang terbuat dari kayu dan papan. Ya sehabis maghrib Sugeng membuat rak rak tersebut dan kini sedang berpikir hendak taruh di mana rak rak itu.
"Kok belum dateng pintunya, Geng?" Tanya nenek Ratmi yang baru datang dan nimbrung menemani Sugeng di warung.
"Besok nek, emm anu nek besok aku mau belanja. Mamak ladenin orang orang yang mau pasang pintu ya, buatin kopi sama beli gorengan di warung Mbak Lasmi aja."
"Iya, oh iya geng. Rak raknya cuma kayak begitu?"
"Iya nek, biar hemat. Uangnya juga mau buat beli barang belanjaan. Sementara kayak gitu aja, namanya juga masih merintis. Untuk awal sembako kebutuhan pokok aja yang mau aku beli."
"Oh iyalah... pelan pelan aja. Di kasih makan ngga geng yang masang pintu itu?"
"Gak usah nek. Emangnya tukang apa. Di kasih kopi sama gorengan aja."
"Oh iya geng, jujur nenek kasihan sama Mbak kamu itu. Dia dari tadi siang coba lamar lamar kerjaan di warung warung makan deket pasar. Katanya udah keterima dan langsung kerja juga. Baru 3 jam kerja dia ketemu tetangga dia sewaktu masih di desanya dulu... ya gitulah akhirnya, dia di maki maki sama tetangga itu di sebutin pelakor, janda gatel lah. Sampe akhirnya pemilik warung itu putusin buat pecat mbakmu.... kamu kalau ada lowongon kerjaan kasih tau mbakmu geng.."
"Iya nek.. tapi emm kenapa Mbak Sekar ngga ngomong tadi sore."
"Mbakmu mau nyembunyiin ini dari kamu geng, dia ngga mau ngerepotin kamu apalagi setelah dia tahu kamu minjem uang sama Linda, dia merasa bersalah karena ngga bantu kamu waktu masih susah, dia cuma cerita ini sama nenek, Isna juga ngga di kasih tau."
Sugeng menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku tahu nek, pasti mbak bakal merasa bersalah, namun itu keputusan aku dan aku yang minjem uang bukan mbak sekar. Rencananya uang hasil jual 4 kambing itu mau aku buatin usaha, buat Mbak Sekar... nenek ngga usah ngomong ngomong, nanti pasti nolak mbak sekar. Cari kerjaan sekarang susah nek, apalagi umur mbak sekar udah hampir kepala 4 mentok mentok cuma jadi pegawai di warung, setahuku kerja kayak begitu berat temenku ada yang kerja jadi pegawai warung nek, berangkat subuh pulang sore. Apalagi mbak Sekar cantik, Sugeng khawatir kalau terjadi apa apa sama dia." Jawab Sugeng sembari membuang puntung rokoknya dan mulai menata rak.
Tampak mata nenek Ratmi berkaca kaca, "Kamu bener bener mirip sama bapak kamu, geng. Dia laki laki yang baik dan mengerti tentang kondisi keluarga. Persis seperti kamu. Kamu bahkan rela jual kambing kambing kamu demi bikinin usaha buat mbakmu... tapi kamu harus ingat geng, kamu masih muda banyak banyak nabung buat masa depan kamu, jangan terlalu pentingin yang lainnya dulu."
"Iya nek, ini juga Sugeng lagi coba buat usaha.." jawab Sugeng tanpa menoleh, "mbak Sekar jangan di kasih tau rencana Sugeng ya nek."
"Iya..." nenek Ratmi pun pergi dan kembali kerumah, meninggalkan Sugeng sendirian di dalam warung itu.
Setelah menatap Rak, Sugeng duduk termenung di kursi bawah pohon depan rumahnya, sembari menatap pemandangan jalanan pedesaan di depannya.
"Kalau di pikir pikir buat apa aku punya pikiran rampok rumah orang ya?" Batin Sugeng, "kalau aja aku ngga terlilit hutang sama Linda, aku udah pasti ngga akan jadi seperti ini. Gimana perasaan nenek kalau tahu bahwa aku sebenarnya penjahat... nenek pasti bakalan merasa gagal mendidikku, dia yang sudah mendidikku sedari kecil dan pasti akan sangat kecewa dengan tindakanku... tapi ini semua sudah terjadi, aku ngga punya jalan lain waktu itu aku terpaksa merampok..."
Sugeng meremas rambutnya sendiri penuh frustasi.
Sugeng memilih untuk beranjak menuju ke dalam rumah dan hendak tidur di kamar. Ketika melewati kamar mbaknya ia melihat Isna sedang menulis sesuatu di sebuah buku.
Sugeng cuek saja dan melanjutkan langkahnya, pikirnya saat itu Isna mungkin sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
Sugeng masuk ke kamarnya dan duduk di kasur, ia mencoba kembali fokus membuat kelanjutan novel yang sedang ia garap.
"Hmm... sepertinya aku harus merubah alur novel ini. Siapa tahu Isna membaca novel ini, bisa gawat kalau dia curiga bahwa novel ini terinspirasi dari cerita hidupku." batin Sugeng.