Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manifestasi Jiwa dan Mandat Api
Suasana di Arena Tujuh berubah drastis setelah debu dari gelombang pertama mereda. Langit yang tadinya cerah kini diselimuti oleh kabut sihir berwarna emas yang dilepaskan oleh Master Alaric dari panggung tinggi. Gelombang kedua ini bukanlah tentang kekuatan penghancur mentah, melainkan tentang kontrol, esensi jiwa, dan kemampuan seorang penyihir untuk menjinakkan ciptaannya sendiri.
Suara Master Alaric kembali menggema, namun kali ini nadanya jauh lebih serius dan informatif. Seluruh siswa di padang rumput Silver-Leaf terdiam untuk mendengarkan instruksi yang sangat krusial ini.
"Dengarkan baik-baik!" seru Master Alaric. "Gelombang kedua adalah ujian Manifestasi Makhluk. Bagi kalian para penyihir elemen, kalian diperintahkan untuk memadatkan mana kalian menjadi sosok makhluk hidup. Namun ingatlah, makhluk yang pertama kali lahir dari jiwamu akan memiliki insting liar. Mereka akan menyerang penciptanya sendiri. Tugas kalian adalah menjinakkan mereka tanpa membunuh mereka. Jika kalian membunuhnya, kalian gagal. Jika kalian terluka olehnya, kalian gagal."
Alaric menjeda kalimatnya, lalu menatap ke arah barisan ksatria pedang.
"Dan bagi kalian para Penyihir Pedang, cara kalian berbeda. Karena kalian menggunakan perantara alat atau pedang, kalian tidak bisa menciptakan makhluk secara organik dari udara. Sebagai gantinya, jiwa kalian akan diuji melalui duel langsung. Semua pengguna pedang di setiap tim harus keluar dari areanya dan berkumpul di zona tengah untuk berhadapan langsung dengan instruktur pedang masing-masing akademi! Kelompok kalian tidak berubah, namun posisi ksatria pedang di dalam tim akan digantikan sementara oleh tanggung jawab anggota yang tersisa."
Mendengar pengumuman itu, Seraphina, ketua tim Arena Tujuh, tampak terkejut. Ia menatap pedang rapier-nya, lalu menoleh ke arah rekan-rekan timnya yang aneh: Lyra yang buta, Vera yang sinis, dan Daefiel yang misterius.
"Aku harus pergi," ucap Seraphina dengan nada cemas. "Instruksi Master Alaric mutlak. Aku harus menghadapi instruktur Crimson Crest di zona tengah."
Seraphina kemudian menatap Daefiel dengan tatapan memohon. Meskipun ia adalah ketua tim, ia sadar bahwa satu-satunya orang yang memiliki stabilitas mental dan kekuatan luar biasa untuk menjaga tim ini selama ia pergi adalah pemuda dari Arcanova tersebut.
"Daefiel," Seraphina memegang bahu Daefiel dengan lembut. "Aku tahu aku ceroboh di gelombang pertama, tapi aku mohon padamu. Jadilah penggantiku. Pimpin Lyra dan Vera. Pastikan mereka tidak saling membunuh dan pastikan kalian semua berhasil menjinakkan monster masing-masing. Aku mempercayaimu sebagai ketua tim pengganti."
Daefiel tertegun sejenak. Menjadi ketua tim adalah hal terakhir yang ia inginkan, terutama dengan Vera yang bermulut tajam dan Lyra yang apatis. Namun, sebelum ia sempat menolak, Seraphina sudah berlari menuju zona tengah bersama para ksatria pedang lainnya, termasuk Lucien dari Arena Satu.
"Hmph, luar biasa," cibir Vera sembari melipat tangannya. "Sekarang kita dipimpin oleh si tukang pamer api ini. Apa rencana hebatmu, 'Ketua'?"
Daefiel mengembuskan napas panjang, mencoba menahan amarahnya. Ia merasakan Api Hitam di pergelangan tangannya kembali berdenyut, seolah bersemangat dengan tantangan baru ini.
"Rencananya sederhana, Vera. Jangan mati, jangan mengeluh, dan lakukan apa yang aku katakan jika kau ingin lulus dari latihan ini."
Ujian Manifestasi: Kelahiran Monster Jiwa
Arena Tujuh mulai bergetar. Master Alaric melepaskan sinyal, dan setiap penyihir di arena diperintahkan untuk mulai memadatkan mana mereka.
Vera adalah yang pertama bergerak. Ia merentangkan tangannya di atas pasir.
"Seni Pasir: Kelahiran Scorpio!"
Pasir di bawahnya mulai berputar, memadat, dan membentuk seekor kalajengking raksasa setinggi dua meter. Namun, begitu mata kalajengking itu terbuka, ia langsung mengarahkan ekor beracunnya ke arah Vera.
Vera memucat, mencoba menahan serangan ciptaannya sendiri dengan dinding pasir.
Di sudut lain, Lyra mulai memetik harpanya dengan ritme yang ganjil. Dari dawai-dawai harpanya, uap berwarna perak keluar dan memadat menjadi seekor burung hantu raksasa yang tidak memiliki mata, sama seperti dirinya.
Burung hantu itu mengeluarkan jeritan ultrasonik yang membuat telinga Daefiel berdenging, lalu mahluk itu menukik tajam untuk mencakar wajah Lyra.
Lyra hanya berdiri tenang, menggunakan frekuensi suaranya untuk menepis serangan itu, namun ia tampak kewalahan karena mahluk itu terus menyerang dari sudut butanya.
Daefiel melihat kekacauan ini. Ia tahu jika ia tidak segera bertindak, timnya akan hancur bahkan sebelum ia sempat membuat monsternya sendiri.
"Vera! Jangan lawan kekuatannya, tapi masuki alirannya! Kalajengking itu adalah amarahmu, buat dia tenang dengan ritme napasmu!" teriak Daefiel.
"Lyra! Burung hantu itu mencari suaramu! Berhenti memetik nada tinggi, gunakan nada rendah untuk menidurkannya!"
Meskipun kesal, Vera mengikuti instruksi Daefiel. Ia mulai mengatur napasnya, dan perlahan, gerakan kalajengking itu melambat.
Lyra pun mengubah temponya menjadi largo yang lambat, membuat burung hantu perak itu mulai hinggap di bahunya meski masih tampak waspada.
Kini giliran Daefiel.
Singa Api Hitam dan Fokus Mutlak
Daefiel berdiri di tengah arena. Ia tahu bahwa monster yang akan ia buat akan menjadi representasi dari jiwanya yang terbelah—antara api oranye yang hangat dan kutukan api hitam yang dingin.
"Ayo kita lihat apa yang tersembunyi di dalamku," bisik Daefiel.
Ia mengumpulkan mana di telapak tangannya. Alih-alih membuat monster kecil, Daefiel membiarkan energinya meluap.
Api oranye dan hitam bercampur, membentuk pusaran api setinggi tiga meter.
Dari dalam pusaran itu, muncul seekor Singa Raksasa dengan bulu yang terbuat dari api oranye yang membara, namun matanya berwarna ungu gelap dan cakarnya terbungkus oleh asap hitam yang mematikan.
Begitu lahir, Singa itu mengeluarkan raungan yang membuat Vera dan Lyra jatuh terduduk karena tekanan mananya.
Singa itu menatap Daefiel dengan kebencian murni, melihat Daefiel sebagai penjara yang selama ini mengurungnya.
ROAARRR!
Singa itu menerjang.
Daefiel tidak menghindar. Ia tidak boleh menggunakan sihir lain untuk melawannya. Ia harus menjinakkannya dengan kehendak jiwanya.
Daefiel menangkap rahang singa itu dengan kedua tangannya.
Panasnya luar biasa—rasanya seperti tangannya sedang dicelupkan ke dalam lava dan es secara bergantian.
Api hitam dari singa itu mulai merambat ke lengan Daefiel, mencoba memicu kutukannya agar meledak ke Tahap Kedua.
"Kau... adalah aku," geram Daefiel, menatap langsung ke mata ungu monster tersebut.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengendalikan kehendakku. Akulah yang memerintah!"
Daefiel memusatkan Fokus Mutlak.
Ia tidak membiarkan rasa sakit atau amarah mendominasi.
Ia mengirimkan gelombang ketenangan melalui sentuhan tangannya.
Ia mengakui keberadaan sisi gelapnya (api hitam) namun ia memberikan batasan yang tegas dengan kehangatan api oranyenya.
Perlahan, api hitam yang liar di tubuh singa itu mulai meredup dan menyatu dengan bulu oranyenya secara harmonis.
Singa itu berhenti meronta.
Ia menundukkan kepalanya yang besar ke dada Daefiel, mendengkur seperti kucing besar yang baru saja dijinakkan.
Mandat Sang Ketua Tim Pengganti
Vera dan Lyra menatap Daefiel dengan tidak percaya.
Mereka baru saja menyaksikan seseorang menjinakkan manifestasi energi yang begitu destruktif hanya dalam hitungan detik.
"Kau... kau gila, Daefiel," ucap Vera, suaranya bergetar.
"Monster itu... aku bisa merasakan niat membunuh yang sangat pekat darinya, tapi kau membuatnya tunduk."
Daefiel menyeka keringat di dahinya, napasnya memburu.
Singa api itu kini duduk diam di sampingnya, menjadi penjaga yang setia.
"Itu hanya soal kontrol, Vera. Sekarang, fokus pada monster kalian. Master Alaric sedang mengawasi, dan kita adalah tim pertama di zona elemen yang berhasil menstabilkan manifestasi kita."
Lyra, yang burung hantu peraknya kini telah tenang, mengarahkan wajahnya yang tertutup kain ke arah Daefiel.
"Daefiel... detak jantungmu sangat cepat, tapi jiwamu sangat sunyi. Kau memiliki beban yang jauh lebih berat dari Seraphina. Terima kasih telah memimpin kami."
Daefiel hanya mengangguk kecil.
Ia menyadari satu hal: di gelombang kedua ini, mereka semua dipaksa untuk berhadapan dengan jati diri mereka yang sebenarnya.
Sebagai ketua tim pengganti, Daefiel telah berhasil membawa timnya melewati fase kritis pertama.
Namun, ia tahu tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kendali ini hingga latihan berakhir, tanpa membiarkan siapa pun menyadari bahwa singa api di sampingnya sebenarnya adalah manifestasi dari iblis yang sedang menunggu waktu untuk bangkit.
"Tetap waspada," perintah Daefiel pada Vera dan Lyra.
"Ini belum berakhir. Jika ksatria pedang kita gagal di tengah sana, monster-monster ini bisa kembali liar. Kita harus bersiap untuk apa pun."