Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KEHIDUPAN MURID BARU
Pengumuman resmi kelulusan diumumkan keesokan harinya.
Nama Kang Yun-seo dan Hwang Yehwa tercantum dalam daftar 100 murid baru Akademi Pedang Iblis Langit. Yun-seo membaca namanya berulang kali, tidak percaya. Dari pemuda pengangguran di Seoul, kini ia menjadi murid akademi persilatan terbaik di dunia Murim.
Jo Cheol-soo juga lulus—namanya ada di urutan 89. Ia menangis haru saat melihat pengumuman itu, memeluk Yun-seo erat-erat.
"Hyung! Kita lulus! Kita lulus!" teriaknya.
Yun-seo tertawa, membalas pelukannya. "Iya, iya. Lepas, nanti sesak napas."
Cheol-soo melepas pelukannya, lalu menoleh pada Yehwa. "Nyonya Hwang juga lulus! Selamat!"
Yehwa mengangguk sopan. "Terima kasih."
Dari kejauhan, Yun-seo melihat Seo Jung-won berdiri di teras akademi, menatap mereka. Tatapannya sulit diartikan—mungkin penasaran, mungkin menilai. Yun-seo mengangguk kecil padanya, sebagai ucapan terima kasih. Seo Jung-won membalas dengan anggukan sekilas, lalu berbalik pergi.
"Dia aneh," gumam Yun-seo.
"Tapi dia menyelamatkanmu," kata Yehwa. "Hutang budi padanya."
"Aku tahu. Suatu hari akan kubayar."
---
Sore harinya, mereka dipanggil untuk orientasi murid baru.
Aula utama akademi dipenuhi 100 murid baru. Di panggung, Kepala Sekolah Baek Sang-ho duduk di kursi utama, dikelilingi para guru. Di belakang mereka, spanduk besar bertuliskan moto akademi: "Pedang adalah Jiwa, Kebenaran adalah Hidup."
Baek Sang-ho angkat bicara, suaranya berat menggema.
"Selamat datang di Akademi Pedang Iblis Langit. Kalian adalah 100 terbaik dari 500 pendaftar. Kalian telah membuktikan bahwa kalian layak berada di sini." Matanya yang tajam memindai ruangan. "Tapi ingat, ini baru awal. Di sini, kalian akan ditempa menjadi pendekar sejati. Latihan keras, disiplin tinggi, dan pengabdian mutlak pada kebenaran."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
"Kalian akan tinggal di asrama selama tiga tahun. Setiap hari, kalian akan menjalani latihan fisik, teori persilatan, dan praktik jurus. Setiap bulan, akan ada ujian kenaikan tingkat. Setiap tahun, turnamen antarangkatan." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Yang bertahan akan menjadi kuat. Yang menyerah... silakan pulang."
Yun-seo menelan ludah. Ini bukan sekolah biasa. Ini kamp pelatihan militer versi persilatan.
"Pembagian asrama berdasarkan gender. Asrama putra di barat, asrama putri di timur. Kalian akan dikelompokkan per kamar, masing-masing empat orang." Baek Sang-ho memberi isyarat pada petugas. "Pengumuman selanjutnya akan disampaikan oleh wali kelas kalian. Selamat berjuang."
Para guru maju satu per satu, memanggil nama-nama murid untuk dikelompokkan.
Yun-seo dan Cheol-soo masuk kelompok yang sama—Kelas 1-A, wali kelas Guru Song, ahli pedang cepat. Yehwa masuk Kelas 1-B, wali kelas Guru Baek, ahli strategi perang—putri Kepala Sekolah.
"Kita beda kelas," gumam Yun-seo kecewa.
"Tapi masih satu akademi." Yehwa menatapnya. "Kita bisa bertemu setiap malam di perpustakaan atau lapangan. Jangan khawatir."
Yun-seo mengangguk, meski hatinya berat. Selama ini mereka selalu bersama. Sekarang harus berpisah meski hanya beberapa jam.
Cheol-soo, yang tidak tahu hubungan mereka, menepuk pundak Yun-seo. "Tenang, hyung. Malam minggu bisa kencan kok."
Yehwa memicing. "Apa itu kencan?"
Cheol-soo terkekeh. "Wah, Nyonya Hwang polos juga."
Yun-seo buru-buru mengalihkan topik. "Sudah, sudah. Kita cari asrama."
---
Asrama putra terletak di barat akademi, bangunan kayu dua lantai dengan puluhan kamar.
Yun-seo mendapat kamar nomor 7, lantai dua. Begitu masuk, ia melihat tiga orang sudah di dalam.
Yang pertama, pemuda kurus dengan kacamata—Kim Jung-soo, dari sekte kecil di selatan. Ia langsung menyapa dengan ramah.
Yang kedua, pria besar berotot—Park Mu-jin, anak petani dari desa terpencil. Ia sedang membereskan barang-barangnya dengan gerakan kaku.
Yang ketiga... Yun-seo terkejut. Jo Cheol-soo!
"Hyung! Kita sekamar!" teriak Cheol-soo gembira.
Yun-seo tersenyum lega. Setidaknya ada wajah familiar.
Mereka berempat saling memperkenalkan diri. Kim Jung-soo ternyata jenius teori—ia hafal ribuan jurus dari buku, meski praktiknya biasa saja. Park Mu-jin kuat fisik, tapi lambat belajar. Cheol-soo... ya Cheol-soo, polos dan ceria.
Yun-seo merasa beruntung. Kamarnya diisi orang-orang baik.
Sementara itu, di asrama putri, Yehwa mendapatkan kamar nomor 3 lantai satu.
Tiga teman sekamarnya: Song Ha-na—gadis dingin dari Sekte Gunung Es yang jadi sorotan di tes kemarin, Lee Soo-jin—gadis periang dari keluarga pedagang kaya, dan Yoon Mi-ryung—gadis pendiam yang hampir tidak pernah bicara.
Yehwa mengamati mereka dengan waspada. Di istana, ia terbiasa membaca orang. Song Ha-na berbahaya—terlalu diam, terlalu fokus. Lee Soo-jin tidak berbahaya—terlalu terbuka. Yoon Mi-ryung misterius—perlu diamati.
"Hwang Yehwa," sapa Song Ha-na dingin. "Kau hebat di tes. Aku perhatikan."
Yehwa mengangguk hati-hati. "Kau juga."
"Kita mungkin akan bersaing di turnamen nanti." Song Ha-na tersenyum tipis—tidak ramah, lebih seperti tantangan. "Aku tunggu."
Yehwa tidak menjawab. Dalam hati, ia berpikir, "Gadis ini kuat. Mungkin bisa jadi sekutu—atau musuh."
---
Malam harinya, setelah makan malam, Yun-seo menyelinap ke perpustakaan.
Yehwa sudah menunggu di sudut tersembunyi, di antara rak-rak buku tinggi. Mereka duduk bersebelahan, berpura-pura membaca.
"Bagaimana teman sekamarmu?" bisik Yun-seo.
Yehwa menceritakan tiga gadis itu. Yun-seo mengangguk paham.
"Song Ha-na... namanya familiar. Katanya dia murid kiriman dari sekte besar."
"Hati-hati padanya. Dia terlalu ambisius."
Yun-seo mengangguk. Lalu bercerita tentang teman sekamarnya. Mendengar Cheol-soo satu kamar, Yehwa tersenyum.
"Anak itu baik. Jaga dia."
"Aku tahu."
Mereka diam beberapa saat, menikmati kebersamaan. Di perpustakaan yang sunyi, hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar.
"Aku rindu," bisik Yun-seo tiba-tiba.
Yehwa menoleh. "Rindu? Kita baru pisah beberapa jam."
"Bukan rindu fisik. Rindu... kebersamaan kita. Tidur bareng, bangun bareng." Yun-seo tersenyum getir. "Kedengarannya cengeng, ya?"
Yehwa menunduk. "Aku juga rindu."
Mereka berdua diam. Lalu Yehwa meraih tangan Yun-seo, menggenggamnya erat.
"Nanti kita cari waktu. Setiap malam, di sini. Janji?"
Yun-seo mengangguk, balas menggenggam. "Janji."
---
Keesokan harinya, latihan resmi dimulai.
Pukul 4 pagi, bel berbunyi keras. Semua murid baru harus bangun, berkumpul di lapangan utama untuk lari pagi keliling akademi—lima kilometer.
Yun-seo merintih, tubuhnya masih sakit dari tes kemarin. Tapi ia memaksakan diri. Di sampingnya, Cheol-soo juga merintih, tapi tetap berlari.
Setelah lari, sarapan cepat, lalu lanjut latihan fisik—push up, sit up, squat, berbagai gerakan dasar sampai otot terasa terbakar. Guru Song, wali kelas mereka, berteriak-teriak tanpa henti.
"LEBIH CEPAT! LEBIH KUAT! KALIAN INI MURID AKADEMI ATAU CACING?!"
Yun-seo mengertakkan gigi. Di dunia modern, ia tidak pernah sesakit ini. Tapi ia ingat Yehwa—ratu iblis yang dulu latihan jam 3 pagi selama 200 tahun. Kalau dia bisa, kenapa ia tidak?
Siang harinya, latihan teori. Kim Jung-soo bersinar di sini—ia menjawab semua pertanyaan guru dengan sempurna. Murid lain termasuk Yun-seo hanya bisa melongo.
Sore, latihan jurus. Mereka belajar jurus dasar akademi—Pedang Naga Terbang, versi sederhana dari jurus yang diajarkan Yehwa. Yun-seo senang—ia sudah bisa setengahnya, jadi tidak terlalu ketinggalan.
Malam harinya, setelah makan, Yun-seo hampir pingsan kelelahan. Tapi ia masih punya janji.
Ia menyelinap ke perpustakaan. Yehwa sudah di sana, juga terlihat lelah.
Mereka duduk bersandar di rak buku, tidak bicara, hanya menikmati kehadiran satu sama lain. Di sela kelelahan, itu cukup.
---
Minggu pertama terasa seperti neraka.
Yun-seo tidak pernah membayangkan latihan bisa separah ini. Setiap pagi lari, setiap siang teori, setiap sore jurus. Tubuhnya terus sakit, tapi lama-lama ia terbiasa.
Yang membuatnya bertahan adalah pertemuan malam dengan Yehwa. Setiap hari, di perpustakaan, mereka berbagi cerita tentang hari itu. Yehwa bercerita tentang Song Ha-na yang semakin agresif, tentang Lee Soo-jin yang lucu, tentang Yoon Mi-ryung yang misterius. Yun-seo bercerita tentang Cheol-soo yang kocak, Kim Jung-soo yang jenius, Park Mu-jin yang kuat tapi bodoh.
Mereka juga mulai mencari informasi tentang Pedang Naga Iblis. Yehwa meminjam buku-buku sejarah akademi, mencari petunjuk tentang ruang bawah tanah. Yun-seo mengamati pola penjagaan guru-guru.
Perlahan, mereka mulai memahami.
Ruang bawah tanah dijaga ketat, tapi ada celah: setiap tengah malam, penjaga berganti shift. Ada jeda lima menit di mana tidak ada penjaga di pintu utama. Itu waktu yang paling mungkin untuk menyusup.
Tapi mereka harus tahu persis di mana pintu masuknya.
Suatu malam, saat membolak-balik buku kuno, Yehwa menemukan sesuatu. Peta lama akademi, dari 500 tahun lalu. Di sana, di belakang perpustakaan, tergambar lorong bawah tanah yang persis seperti dikatakan Hwang Cheol-soo.
"Ini dia," bisiknya.
Yun-seo mendekat, mengamati peta itu. "Di belakang perpustakaan... dekat rak sejarah?"
"Iya. Besok malam kita cek."
Mereka menyimpan peta itu, hati berdebar. Misi dimulai.
---