Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Resonansi di Pulau Pengasingan
Pesawat pribadi Jerome membelah kabut pagi, mendarat dengan mulus di sebuah landasan pacu tersembunyi di tengah pulau pribadi yang tidak tercatat di peta mana pun. Di sinilah Jerome membangun benteng terakhir untuk melindungi satu-satunya saksi kunci masa lalu yang ia selamatkan dari maut: Arthur Blackwood.
Begitu pintu rumah kayu yang mewah namun tersembunyi itu terbuka, aroma kayu cendana menyambut mereka. Di ruang tengah, seorang pria paruh baya dengan rambut memutih namun memiliki aura wibawa yang tak terpatahkan sedang duduk menghadap jendela besar. Ia ditemani oleh Hugo, ajudan setianya yang selama dua tahun ini membantu proses pemulihan fisiknya secara rahasia.
Arthur Blackwood perlahan memutar kursi rodanya. Matanya yang tajam seketika melembut dan berkaca-kaca saat menatap sosok wanita yang berdiri di samping Jerome. "Sofia..." bisiknya lirih, suaranya serak menahan rindu yang teramat dalam. "Kau... kau begitu mirip dengan ibumu saat ia masih muda."
Valerie merasakan dadanya sesak. Ia melangkah maju, melepaskan diri dari dekapan Jerome sejenak untuk memeluk pria yang selama ini ia kira sudah tiada. "Ayah..."
Setelah momen mengharukan itu, suasana berubah menjadi lebih serius. Arthur meminta Hugo untuk menyiapkan ruang kerja. Ia menatap Jerome dengan tatapan seorang predator yang sedang menilai predator lainnya.
"Jerome, kita perlu bicara empat mata," ucap Arthur dengan nada berat. "Valerie, Sayang, bisakah kau membiarkan Ayah mengobrol dengan suamimu sebentar?"
Valerie mengangguk patuh. "Tentu, Ayah. Aku akan ke dapur, aku ingin membuatkan teh untuk kalian."
Begitu Valerie keluar, Arthur menutup pintu ruang kerja dan menatap Jerome dengan intensitas yang mencekam. "Aku tahu rencana Silas Renfred, Jerome. Mata-mataku memberi tahu bahwa ayahmu telah secara resmi menjodohkanmu dengan Elena, putri dari konglomerat Paris. Silas ingin menggunakan Elena untuk menekan posisimu. Dia tidak akan membiarkan Valerie hidup tenang jika dia tahu putri Blackwood adalah penghalang aliansi itu."
Jerome menyeringai dingin, ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati. "Ayahku bisa merencanakan apa pun yang dia mau, Arthur. Tapi dia lupa bahwa aku bukan lagi pion di papannya. Jika dia mencoba menyentuh Valerie demi Elena, aku akan memastikan seluruh asetnya di Eropa hangus dalam semalam."
Arthur menghela napas. "Aku tidak meragukan kekuasaanmu. Tapi ada sesuatu yang lebih menggangguku. Hugo pernah mengatakan padaku bahwa kau memiliki keanehan fisik... semacam penyakit yang membuatmu tidak stabil setiap kali Valerie terancam."
...****************...
Di dapur, Valerie sedang membantu menuangkan air mendidih ke dalam teko porselen. Namun, karena pikirannya masih kalut memikirkan konfrontasi antara Jerome dan ayahnya, tangannya sedikit gemetar.
"Akh!" Valerie memekik pelan saat air mendidih itu tepercik dan mengenai punggung tangannya. Kulitnya seketika memerah karena panas yang menyengat.
...****************...
Di dalam ruang kerja, Jerome yang sedang mendengarkan penjelasan Arthur tiba-tiba tersentak hebat. Ia memegangi punggung tangannya sendiri, wajahnya mengernyit menahan perih yang luar biasa, seolah-olah kulitnya baru saja disiram air panas. "Sshh... Argh!"
Arthur Blackwood terbelalak melihat reaksi Jerome yang mendadak itu. "Jerome? Ada apa?"
Tanpa menjawab, Jerome langsung bangkit dan berlari menuju dapur. Arthur segera menggerakkan kursi rodanya menyusul dengan bantuan Hugo. Begitu sampai di dapur, Jerome langsung menyambar tangan Valerie dan membawanya ke bawah kucuran air dingin.
"Kau ceroboh, Val!" desis Jerome, suaranya terdengar cemas sekaligus menahan rasa sakit yang masih berdenyut di tangannya sendiri. "Kenapa tidak hati-hati?"
Valerie menatap Jerome dengan heran. "Maaf, Jerome... aku tidak sengaja terkena air panas tadi."
Arthur Blackwood yang melihat pemandangan itu dari ambang pintu dapur terdiam seribu bahasa. Ia menatap punggung tangan Jerome yang tidak terkena air apa pun, namun tampak memerah di posisi yang sama persis dengan luka Valerie.
"Rumor itu ternyata benar..." bisik Arthur lirih, suaranya penuh kengerian. "Kau benar-benar menderita penyakit atau kutukan itu, Jerome? Lara Manunggal? Kau merasakan semua rasa sakitnya?"
Jerome menoleh, matanya berkilat tajam memperingatkan Arthur agar tidak bicara lebih jauh di depan Valerie. Namun, Arthur melangkah lebih dekat, menatap tangan keduanya yang saling bertautan di bawah air mengalir.
"Hugo pernah mengatakan bahwa kau mengalami gejala aneh saat Valerie dalam bahaya," lanjut Arthur dengan nada menyelidik. "Jerome Renfred... kau tidak hanya mencintai putriku. Kau terikat secara biologis dengannya. Jika dia terluka, kau menderita. Jika dia mati... apa kau juga akan mati?"
Valerie menatap Jerome dengan tatapan tak percaya, air mata mulai menggenang. "Jerome... apa yang dikatakan Ayah benar? Selama ini... kau menanggung semua sakitku?"
Jerome menarik napas panjang, ia memeluk Valerie erat-erat di depan Arthur—sebuah deklarasi kepemilikan yang mutlak. "Aku tidak peduli apa sebutannya, Arthur. Mau itu penyakit atau kutukan... biarlah. Aku lebih suka merasakan sakitnya daripada tidak tahu apa yang sedang dia alami."
Arthur tertegun. Ia menyadari bahwa Jerome Renfred bukan hanya sekutu yang kuat bagi Blackwood, tapi pria ini adalah perisai hidup bagi putrinya yang tak akan bisa dihancurkan oleh siapa pun.
...****************...