NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJALANAN KE BARAT — HARI KEDUA DAN KETIGA

Matahari baru saja muncul saat Wei Chen bangun.

Dia tidur nyenyak semalaman — sesuatu yang jarang terjadi. Mungkin karena kelelahan, mungkin karena suasana desa yang tenang. Atau mungkin karena doa Mbah Darmi benar-benar manjur.

Dia meregangkan tubuh. Otot-ototnya sedikit pegal, tapi tidak terlalu. Level kultivasinya yang baru — Pengumpul Qi Tahap Awal — membuat tubuhnya lebih kuat, lebih cepat pulih.

Wei Chen keluar dari gubuk. Udara pagi masih segar, bercampur aroma tanah dan daun basah. Mbah Darmi sudah duduk di beranda rumah utama, menenun seperti kemarin.

"Selamat pagi, Nak." Dia tersenyum. "Mau sarapan?"

"Kalau tidak merepotkan, Bu."

"Tidak, tidak." Dia berdiri, berjalan ke dapur. "Sebentar, ya."

Wei Chen duduk di bangku kayu dekat pagar. Mengamati desa yang mulai hidup. Beberapa pria berangkat ke sawah dengan cangkul di bahu. Ibu-ibu sibuk di dapur, asap mengepul dari cerobong. Anak-anak berlarian dengan gembira, mengejar ayam atau bermain kejar-kejaran.

Pemandangan yang sama seperti di Desa Qinghe. Kehidupan sederhana yang berputar pada ritme alam.

Mei Ling pasti suka di sini, pikirnya. Gadis itu selalu senang melihat hal-hal baru.

Mbah Darmi keluar dengan sepiring nasi, lauk telur dadar dan sambal. "Makan, Nak. Biar kuat jalannya."

Wei Chen makan dengan lahap. Masakan sederhana, tapi hangat dan lezat.

"Nak, tadi malam aku dengar kabar." Mbah Darmi duduk di sampingnya. "Katanya, di hutan sebelah barat sana, ada gerombolan perampok. Bukan perampok biasa, tapi kultivator."

Wei Chen berhenti mengunyah. "Kultivator?"

"Iya. Mereka jahat. Merampok siapa saja yang lewat. Yang melawan dibunuh." Mbah Darmi menghela napas. "Hati-hati, Nak. Mungkin lebih baik kau lewat jalan lain."

Wei Chen diam. Peta Guru Anta hanya menunjukkan satu jalur aman ke barat. Kalau ada perampok di jalur itu...

"Ada jalan lain, Bu?"

"Ada. Tapi jauh. Memutar lewat pegunungan." Mbah Darmi menunjuk ke utara. "Tiga hari lebih lama."

Wei Chen berpikir. Tiga hari lebih lama berarti Mei Ling harus menunggu lebih lama. Tapi kalau lewat jalur berbahaya, dia bisa mati dan tidak pernah kembali.

Mei Ling pasti lebih suka aku lambat tapi selamat, daripada cepat tapi mati.

"Jalur pegunungan, Bu. Bisa tunjukkan?"

Mbah Darmi tersenyum. "Bisa. Nanti aku gambar."

---

Satu jam kemudian, Wei Chen sudah siap berangkat.

Mbah Darmi memberinya gambar sederhana — jalur memutar ke utara, melewati tiga desa kecil, lalu turun ke barat melewati pegunungan. Lebih lama, tapi lebih aman.

"Ini, Nak. Bekal tambahan." Mbah Darmi memberinya bungkusan daun pisang. "Nasi dan labu. Cukup untuk dua hari."

Wei Chen menerimanya. "Terima kasih, Bu. Berapa saya harus bayar?"

"Tidak usah." Mbah Darmi tersenyum. "Kau ingat aku saja. Dan kalau kembali, mampir lagi."

Wei Chen mengangguk. "Saya janji."

Dia pergi. Berjalan ke utara, meninggalkan Desa Sidomulyo.

---

Dua jam kemudian, jalanan mulai menanjak.

Pepohonan semakin rapat. Udara semakin sejuk. Wei Chen sekarang berada di kaki pegunungan. Jalurnya tidak terlalu curam, tapi cukup membuatnya berkeringat.

Dia berjalan perlahan, menghemat tenaga. Matanya tetap awas. Hutan pegunungan lebih tenang dari hutan biasa — mungkin karena lebih sedikit orang yang lewat.

Tiba-tiba, dia mendengar suara aneh.

"Tolong... tolong..."

Wei Chen berhenti. Telinganya menajam.

Suara itu datang dari balik semak-semak. Suara perempuan, lemah.

Wei Chen ragu. Bisa jadi jebakan. Tapi bisa jadi orang benar-benar butuh bantuan.

Dia mendekat perlahan. Pedang di pinggangnya siap ditarik.

Di balik semak, seorang wanita muda terbaring di tanah. Pakaiannya robek, wajahnya pucat. Ada luka di kakinya — mungkin digigit binatang, atau jatuh.

"Tolong..." Wanita itu memandangnya dengan mata sayu. "Aku... jatuh dari tebing..."

Wei Chen mengamatinya. Tidak ada senjata di sekitarnya. Tidak ada gerakan mencurigakan.

Dia mendekat. Memeriksa lukanya. Cukup dalam, tapi tidak terlalu parah. Sudah dibersihkan, mungkin dengan air sungai.

"Siapa namamu?" tanya Wei Chen.

"Wulan." Suaranya lemah. "Aku dari desa sebelah. Cari kayu bakar, jatuh..."

Wei Chen mengeluarkan ramuan dari tasnya — pemberian Guru Anta untuk luka-luka ringan. Dia mengoleskannya ke luka Wulan.

Wulan mengerang pelan, tapi tidak melawan.

"Kau bisa berdiri?"

"Coba."

Wei Chen membantu Wulan berdiri. Wanita itu sedikit lebih pendek darinya, tubuhnya ringan. Mungkin karena kelaparan.

"Desamu di mana?"

"Di utara. Sejam jalan."

Wei Chen menghela napas. Mengantar wanita ini berarti membuang waktu. Tapi meninggalkannya di hutan juga bukan pilihan.

"Ayo. Ku antar."

---

Satu jam kemudian, mereka sampai di desa kecil.

Desa Cemara. Lebih kecil dari Sidomulyo. Hanya 10 rumah.

Warga desa heboh melihat Wulan pulang dengan orang asing. Mereka berterima kasih pada Wei Chen, memberinya makan dan minum.

Wulan, yang sudah agak pulih, duduk di samping Wei Chen.

"Terima kasih." Matanya tulus. "Kalau tidak ada kau, aku mungkin mati di sana."

"We sama."

"Kau mau ke mana?"

"Barat. Cari sesuatu."

Wulan mengangguk. "Hati-hati. Di barat ada Klan Api. Mereka tidak suka orang asing."

Wei Chen mengerutkan kening. "Klan Api?"

"Iya. Penguasa gunung berapi di barat. Mereka kejam. Siapa pun yang masuk wilayah mereka tanpa izin, dianggap musuh." Wulan menggigit bibir. "Aku dengar mereka suka menyiksa orang asing."

Wei Chen diam. Informasi baru. Guru Anta tidak bilang Klan Api sekejam ini.

"Tapi kau mungkin selamat kalau lewat jalur lain." Wulan menunjuk ke barat daya. "Lewat lembah. Lebih jauh, tapi tidak masuk wilayah mereka."

Wei Chen mengangguk. "Aku lihat nanti."

---

Malam harinya, Wei Chen tidur di desa itu.

Di gubuk kecil yang disediakan warga, dia memikirkan perjalanannya. Sudah dua hari. Masih jauh. Masih banyak rintangan.

Tapi dia ingat jepit rambut di sakunya. Ingat wajah Mei Ling. Ingat janjinya.

Tidak boleh menyerah.

---

Esok harinya, Wei Chen bangun pagi-pagi.

Warga desa sudah menyiapkan bekal untuknya. Wulan juga ada, membawa anyaman bambu kecil.

"Ini." Dia menyerahkan anyaman itu. "Tempat air. Lebih kuat dari kantong kain."

Wei Chen menerimanya. "Terima kasih."

"Semoga selamat sampai tujuan." Wulan tersenyum. "Dan semoga kau kembali ke orang yang kau sayangi."

Wei Chen terkejut. "Kau tahu?"

"Mata kau." Wulan tertawa kecil. "Matamu seperti kekasihku dulu. Penuh kerinduan."

Wei Chen tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, dia tahu Wulan benar.

Dia merindukan Mei Ling. Sangat.

Dia berangkat. Kini berjalan ke barat daya, mengikuti petunjuk Wulan.

---

Perjalanan hari ketiga lebih berat dari sebelumnya.

Jalurnya berbatu-batu. Kadang menanjak curam, kadang menurun tajam. Wei Chen harus berpegangan pada akar pohon agar tidak jatuh.

Tapi dia terus maju. Satu langkah demi satu langkah.

Menjelang sore, dia sampai di sebuah lembah. Hijau, asri, dengan sungai mengalir di tengahnya.

Di tepi sungai, dia melihat sesuatu yang membuatnya terkesiap.

Seorang pria tua duduk di atas batu, memancing. Pakaiannya lusuh, rambutnya putih panjang. Tapi di sekelilingnya, ada aura aneh — aura kultivator level tinggi.

Pria itu menoleh. Matanya — tajam, seperti bisa menembus jiwa — menatap Wei Chen.

"Lama tidak ada tamu," katanya. "Kemari, Nak. Bicara."

Wei Chen ragu. Tapi kakinya melangkah mendekat.

Pria itu tersenyum. "Jangan takut. Aku tidak makan orang."

Wei Chen duduk di batu lain. "Maaf mengganggu."

"Tidak ganggu." Pria itu menarik pancingnya — tidak ada ikan. "Aku sudah lama tidak bicara dengan orang. Aku Kakek Tua."

Wei Chen hampir tersenyum. Kakek Tua? Nama aneh.

"Namaku Wei Chen."

"Wei Chen..." Kakek Tua mengangguk. "Kau jauh dari rumah."

"Iya. Cari sesuatu."

"Apa?"

"Darah Naga."

Kakek Tua mengangkat alis. "Darah Naga? Untuk apa?"

"Untuk obat."

Kakek Tua diam. Lalu tertawa.

"Kau orang baik." Dia menatap Wei Chen. "Tapi Darah Naga tidak mudah didapat. Klan Api menjaganya ketat."

"Aku tahu."

"Tapi kau tetap mau?"

Wei Chen mengangguk.

Kakek Tua menghela napas. "Kalau begitu, aku bantu."

Wei Chen terkejut. "Bantu?"

"Aku tahu jalan masuk ke wilayah Klan Api. Jalan rahasia." Kakek Tua tersenyum misterius. "Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

Kakek Tua menunjuk sungai. "Ajak aku memancing. Sampai dapat ikan."

Wei Chen mengerutkan kening. Memancing? Di saat seperti ini?

Tapi dia mengangguk. "Baik."

---

Satu jam kemudian, mereka masih duduk di tepi sungai.

Kakek Tua mengajarinya cara memancing dengan benar — tidak terburu-buru, tidak frustrasi, hanya sabar menunggu.

"Di dunia ini, banyak orang terburu-buru," kata Kakek Tua. "Mereka lupa bahwa hal-hal baik butuh waktu."

Wei Chen diam. Memikirkan kata-kata itu.

Tiba-tiba, kailnya bergerak. Wei Chen menarik — seekor ikan cukup besar menggelepar di ujung pancing.

Kakek Tua tertawa. "Bagus! Akhirnya dapat!"

Wei Chen tersenyum — senyum langka.

Kakek Tua menepuk bahunya. "Sekarang, kau layak dapat bantuan."

Dia mengeluarkan peta kulit dari balik jubahnya. Membentangkannya.

"Ini." Dia menunjuk titik di barat. "Gunung Api. Di sini tempat Darah Naga tumbuh. Tapi kau harus masuk lewat sini..." Jarinya bergerak ke jalur sempit di sisi timur gunung. "Jalur ini tidak dijaga. Hanya aku yang tahu."

Wei Chen mengamati peta itu. Menghafal setiap detail.

"Terima kasih, Kek."

"Jangan dulu berterima kasih." Kakek Tua menatapnya serius. "Di gunung itu, ada banyak bahaya. Bukan hanya Klan Api, tapi juga binatang buas. Dan yang paling berbahaya..." Dia berhenti.

"Apa?"

"Racun gunung. Uap belerang. Kalau kau tidak hati-hati, kau bisa mati kehabisan napas."

Wei Chen mengangguk. "Aku akan hati-hati."

Kakek Tua tersenyum. "Bagus. Sekarang, makan ikan ini. Besok kau lanjut jalan."

Malam itu, Wei Chen makan ikan bakar bersama Kakek Tua. Sederhana, tapi hangat.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan, dia merasa tidak sendirian.

---

Chapter 31 END.

---

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!