NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir diperk*sa

Lampu-lampu temaram menari di langit-langit klub, berwarna merah, ungu dan biru, berganti-ganti seiring dentuman musik yang memekakkan telinga. Bau asap rokok bercampur alkohol memenuhi udara. Bagi orang luar, tempat ini mungkin seperti neraka dunia. Namun bagi Aluna, ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Setelah sebulan penuh beradaptasi, kini ia bisa bergerak luwes di tengah hiruk-pikuk malam. Ia sudah tahu kapan harus tersenyum, bagaimana menuangkan minuman dengan elegan, kapan bercanda tipis dengan tamu dan kapan harus diam mendengarkan keluhan mereka. Aneh memang, dunia yang dulu tak pernah ia bayangkan kini menjadi rutinitas.

Beberapa tamu mulai terbiasa mencari Aluna setiap datang ke klub. Mereka menyukainya bukan hanya karena wajah cantiknya, tapi karena sikapnya yang lembut. Aluna selalu sabar mendengar cerita mereka, entah tentang bisnis, rumah tangga atau sekadar keluh kesah sepele. Baginya, itu bagian dari pekerjaan. Namun bagi para tamu, itu menjadi alasan mereka kembali.

Friska, sahabat sekaligus “kakak pelindung”nya, kerap tersenyum puas melihat perkembangan Aluna. “Kamu cepat belajar, Lun. Aku bangga.” ujarnya suatu malam di ruang ganti, sambil menyulut rokok.

Aluna hanya tersenyum kecil. “Aku belajar dari kamu, Fris.”

Friska menepuk bahunya, lalu dengan nada bercanda menambahkan, “Cuma jangan kebablasan ya. Ingat, kalau ada tamu yang mulai aneh, kamu langsung kasih kode. Aku pasti datang.”

Kehangatan kecil seperti itu menjadi selimut tipis yang menutupi dinginnya dunia malam. Di balik musik keras dan tawa palsu, ada ruang di mana mereka bisa saling curhat, saling berbagi luka. Friska tahu kisah hidup Aluna, ayahnya yang meninggal, ibunya yang sakit-sakitan, adiknya yang kuliah dengan beasiswa. Beban Aluna jauh lebih berat dari dirinya. Karena itu, Friska sesekali menyelipkan uang tambahan untuk Aluna, meski gadis itu selalu menolak. Ada saja cara Friska agar uang itu tetap sampai ke tangannya, entah dengan alasan tip dari tamu atau bonus kecil.

Bahkan Ibu Aluna sudah mengenal Friska. Beberapa kali Friska menginap di rumah mereka, membawa kue atau buah tangan kecil. Kehadiran Friska membuat rumah itu sedikit lebih ramai, lebih hangat meski sesungguhnya mereka sama-sama hidup dalam luka.

**

Namun di balik semua itu, bahaya diam-diam mengintai.

Alif. Nama itu mulai sering terdengar di antara para pekerja klub. Ia seorang manajer muda di perusahaan ternama, wajah tampan, pakaian selalu rapi, aroma parfum mahal selalu menyelimuti tubuhnya. Di mata orang luar, ia tampak sempurna. Namun setiap kali ia menatap Aluna, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Tatapan itu berbeda, bukan sekadar kagum, melainkan obsesi.

Friska menyadarinya lebih dulu. “Lun, hati-hati sama yang namanya Alif. Orang itu matanya kayak serigala. Aku nggak suka cara dia ngeliatin kamu.” bisiknya suatu malam.

Aluna hanya mengangguk. Ia pun merasa tak nyaman, tapi tak bisa menolak tamu yang datang. Bagaimanapun, ini pekerjaannya.

**

Malam itu, Alif memesan ruangan VIP. Manager menyuruh Aluna menemaninya. “Dia minta kamu khusus. Anggap saja kesempatan bagus, tamu sekelas dia biasanya royal.” ucapnya.

Dengan hati waswas, Aluna masuk ke ruangan berlampu redup itu. Sofa kulit hitam, meja penuh botol minuman, dan musik bass yang bergetar hingga ke dinding. Alif duduk santai, dasinya sudah longgar, senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Aluna."  sapanya dengan nada terlalu akrab. “Akhirnya aku bisa berduaan sama kamu.”

Aluna menelan ludah, mencoba tetap ramah. “Mau saya tuangkan minuman, Pak?”

Percakapan awal berjalan normal, meski tatapan Alif membuatnya tak tenang. Namun lama-kelamaan, tangan Alif mulai bergerak. Dari sekadar menyentuh lengan, merayap ke pinggang, lalu berusaha menariknya lebih dekat.

“Pak, tolong jangan begitu.” bisik Aluna, berusaha menyingkir.

Tiba-tiba Alif berdiri, mengunci pintu ruangan VIP, lalu mendorong Aluna ke sofa. “Malam ini kamu buat aku bahagia, ya. Aku sudah lama menginginkanmu.”

Jantung Aluna berdegup kencang. Ia menjerit, memanggil nama Friska, namun suara musik dari luar menelan semuanya. Air matanya jatuh deras. “Tolong jangan, Pak. Saya mohon.”

Namun mata Alif sudah kalap. “ Sudahlah, kamu jangan sok suci. Kita bersenang-senang malam ini sayang.” Ia merobek gaun bagian atasnya, memperlihatkan sebagian dadanya. Aluna berusaha menutupi tubuh dengan tangan, menangis tersedu. Rasa jijik, takut, dan putus asa bercampur jadi satu.

“ TOLONG….TOLONG…FRISKA TOLONGIN AKU…HIKS....” Teriak Aluna.

“ Tidak usah teriak begitu sayang. Tapi mendes*ahlah karena sebentar lagi aku akan membuatmu melayang.”

“ Tolong jangan….aku mohon pak.”

Namun, Alif seolah tuli dan tetap melancarkan aksinya…Aluna terus saja melawan dan berteriak berharap seseorang diluar sana mendengar suara teriakannya.

Brak!!!

Pintu VIP tiba-tiba didobrak keras. Seorang pria tinggi dengan jas hitam masuk bersama asistennya, Renaldi. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, sorot matanya tajam bagai pisau.

“Lepaskan dia." suaranya menggelegar.

Alif tersentak, namun belum sempat bereaksi, tinju pria itu mendarat di wajahnya. Sekali, dua kali hingga Alif terhuyung-huyung dan jatuh ke lantai.

Aluna menjerit histeris, tubuhnya gemetar hebat. Ia merapatkan gaunnya yang robek, menangis tak terkendali.

Pertarungan singkat itu membuat kegaduhan. Meski musik masih berdentum, beberapa orang di luar mulai heboh. Manager klub dan Friska segera datang. Begitu melihat Aluna dalam kondisi berantakan, Friska berlari memeluknya erat.

“Lun.... Ya ampun, kamu kenapa???” Friska panik, menutup tubuh Aluna dengan jaketnya sendiri.

Aluna hanya bisa menangis di pelukan sahabatnya.

Manager memanggil bodyguard. “Cepat seret orang brengsek ini keluar!!!” teriaknya, menunjuk Alif yang kini babak belur.

Sementara itu, pria misterius yang menolong Aluna berdiri tegak, suaranya penuh wibawa. “Blacklist dia. Jangan pernah biarkan orang seperti ini masuk lagi ke klubku. Paham?.”

Semua terdiam. Manager hanya bisa mengangguk patuh. Karisma pria itu membuat semua segan.

Ia menoleh sekilas pada Aluna yang masih menangis dalam pelukan Friska. Tatapannya tajam namun ada sedikit kelembutan, seperti seseorang yang menyimpan alasan khusus.

Tanpa berkata banyak lagi, ia keluar bersama Renaldi. Pintu ruangan VIP kembali tertutup setengah, meninggalkan suasana penuh kepanikan dan rasa lega sekaligus trauma.

**

Malam itu menjadi malam terburuk sekaligus titik balik bagi Aluna. Dunia klub yang semula terasa aman dalam rutinitas, ternyata menyimpan bahaya besar yang bisa merenggut kehormatannya kapan saja.

Dalam pelukan Friska, ia masih terisak. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat. Friska membelai rambutnya, berbisik “Tenang, kamu aman sekarang. Aku ada di sini. Beruntung Pak Marko datang di club tadi. Hufftt aku benar-benar khawatir kamu diperk*sa sama Alif brengsek itu.”

Aluna masih saja menangis, namun jauh di dalam hati Aluna, ia tahu sesuatu telah berubah. Ia tak lagi sekadar perempuan yang belajar bertahan hidup. Malam itu, seorang lelaki misterius mulai menorehkan jejak dalam hidupnya.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!