NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah lima tahun mengasingkan diri di kesunyian Alpen yang dingin, nama Rangga Dirgantara kembali mengguncang Jakarta. Sebuah pengkhianatan besar di jajaran direksi Dirgantara Group memaksa sang "psikopat" untuk turun gunung. Rangga tidak bisa lagi hanya diam memantau dari jauh; ia harus kembali untuk menghancurkan parasit yang mencoba menggerogoti warisan yang akan ia berikan pada putra-putrinya.

​Kepulangan mereka ke Indonesia tidak dilakukan dengan cara biasa. Rangga menyewa satu pesawat jet pribadi yang diubah menjadi kamar perawatan berjalan. Alasannya? Alya sedang mengandung anak kedua mereka, dan kali ini, hasil USG menunjukkan kejutan ganda: Bayi kembar.

​Bandara Soekarno-Hatta dijaga ketat oleh tim keamanan berseragam hitam saat jet pribadi itu mendarat. Begitu pintu pesawat terbuka, sosok kecil berusia lima tahun melangkah keluar terlebih dahulu. Arkan Dirgantara. Anak itu adalah fotokopi sempurna dari ayahnya—wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tatapan matanya tajam, dan ia mengenakan setelan jas kecil yang membuatnya tampak seperti CEO cilik.

​"Ayah, apakah ini kota yang kau ceritakan? Panas sekali," ucap Arkan dengan nada bicara yang sangat dewasa untuk anak seusianya.

​Rangga melangkah keluar di belakangnya, satu tangannya menggandeng Arkan, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Alya dengan sangat protektif. Alya tampak anggun dengan gaun hamil longgar yang menutupi perutnya yang kini sudah sangat besar karena mengandung anak kembar di usia kehamilan tujuh bulan.

​"Jangan jauh-jauh dari Ibu, Arkan," perintah Rangga dingin. Matanya menyapu sekeliling bandara seolah sedang mendeteksi ancaman.

​Begitu mereka masuk ke dalam iring-iringan mobil antipeluru, Rangga langsung memasangkan headphone peredam suara pada Arkan dan memberikan tablet berisi pelajaran strategi bisnis. Keposesifan Rangga pada Arkan tidak main-main; ia mendidik Arkan menjadi pemenang sejak dini, namun tetap melarang Arkan menyentuh benda apa pun yang tidak disterilkan oleh pelayannya.

​Mansion Dirgantara di Jakarta yang dulunya penuh kenangan pahit, kini telah direnovasi total. Rangga memasang sistem sensor suhu di setiap ruangan untuk memastikan Alya dan bayi kembarnya tidak kepanasan.

​"Mas, aku merindukan suasana Jakarta, tapi kenapa semua jendela harus ditutup rapat?" tanya Alya sambil duduk di sofa yang empuknya sudah disesuaikan dengan tulang belakang ibu hamil.

​Rangga datang membawa sepiring buah potong organik. "Polusi Jakarta sedang buruk, Alya. Dan aku tidak percaya pada udara di luar sana. Di dalam sini, udara sudah disaring lewat sistem HEPA tingkat rumah sakit. Kau sedang membawa dua nyawa sekaligus, aku tidak akan membiarkan partikel debu sekecil apa pun masuk ke paru-parumu."

​Rangga berlutut di depan Alya, mengusap perut istrinya yang besar. Ia mencium perut itu bergantian. "Halo, kalian berdua. Jangan merepotkan Ibu hari ini. Ayah sedang membereskan beberapa tikus di kantor, setelah itu Ayah akan kembali untuk menjagamu."

​Alya menghela napas, ia merasa kepalanya pening namun hatinya hangat. "Mas, kau juga harus memperhatikan Arkan. Dia terus bertanya kapan bisa pergi ke taman bermain."

​Rangga mendongak, matanya berkilat. "Taman bermain publik? Tidak akan. Aku sudah memerintahkan tim kontraktor untuk membangun taman bermain pribadi di halaman belakang besok pagi. Arkan tidak boleh bercampur dengan anak-anak yang tidak kita ketahui riwayat kesehatannya."

​Keesokan harinya, Rangga tiba di kantor pusat Dirgantara Group. Kehadirannya membuat seluruh karyawan gemetar ketakutan. Ia masuk ke ruang rapat di mana para direktur yang berkhianat sedang berkumpul.

​"Kalian pikir karena aku berada di Swiss, aku menjadi lemah?" suara Rangga sangat rendah, namun sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

​Ia melemparkan tumpukan berkas bukti korupsi ke meja. "Kalian mencuri dari perusahaan yang aku bangun untuk masa depan anak-anakku. Itu adalah kesalahan terakhir yang kalian buat di dunia ini."

​Rangga tidak butuh waktu lama untuk memecat dan menjebloskan mereka ke penjara. Namun, di tengah rapat, ponsel satelitnya bergetar. Sebuah notifikasi dari sensor di rumah menunjukkan bahwa detak jantung Alya sedikit meningkat.

​Tanpa sepatah kata pun, Rangga meninggalkan rapat yang belum selesai. "Rapat selesai. Sisanya urus dengan pengacaraku. Istriku membutuhkanku."

​Sesampainya di rumah, Rangga menemukan Arkan sedang duduk di samping ibunya, memegang tangan Alya sambil membacakan buku cerita. Arkan meniru gaya ayahnya—ia duduk tegak dan bicara dengan nada tenang.

​"Ayah, Ibu tadi sedikit pusing, jadi aku menyuruh pelayan membawakan teh jahe seperti yang Ayah lakukan di Alpen," lapor Arkan dengan bangga.

​Rangga mendekat, mengusap kepala putranya. "Bagus, Arkan. Kau adalah penjaga kedua di rumah ini saat Ayah tidak ada. Tapi ingat, kau dilarang membiarkan Ibu berdiri tanpa bantuanmu."

​"Siap, Ayah!" jawab Arkan dengan tatapan serius yang sangat mirip dengan Rangga.

​Alya tertawa kecil melihat dua pria dalam hidupnya itu. "Mas, Arkan jadi sangat posesif padaku gara-gara melihat tingkahmu setiap hari. Dia bahkan melarangku mengambil remot TV tadi."

​Rangga justru tersenyum puas. "Itu artinya dia belajar dengan baik. Dirgantara harus menjaga apa yang menjadi miliknya."

​Malam harinya, Rangga membimbing Alya berjalan pelan di sekitar kolam renang dalam ruangan. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan air. Rangga memeluk Alya dari belakang, tangannya mendekap perut besar yang berisi bayi kembar itu.

​"Mas, apakah kau takut kembali ke sini?" tanya Alya.

​Rangga mengecup bahu Alya. "Dulu aku takut karena aku tidak punya apa-apa untuk dipertahankan. Sekarang, aku punya kau, Arkan, dan dua anak lagi yang sebentar lagi akan lahir. Aku tidak takut pada siapa pun, Alya. Aku justru kasihan pada siapa pun yang mencoba mengganggu kita."

​"Dua bayi perempuan, Mas. Kau akan punya tiga anak. Mansion ini akan sangat ramai," ucap Alya membayangkan masa depan.

​"1 laki-laki yang akan kujadikan pelindungmu," bisik Rangga. "Aku sudah menyiapkan tiga kamar bayi yang terhubung langsung dengan kamarku. Tidak akan ada yang bisa masuk tanpa melewati aku dulu."

Bersambung......

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!