Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH RENCANA
Iqbal melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rani. Rahangnya mengeras.
Ia tidak menyangka Rani yang dulu hanya bisa menangis saat ia maki, kini berani membalas dengan ancaman yang lebih sistematis.
"Bukti?" Iqbal terkekeh sinis, menyembunyikan rasa gugupnya.
"Kamu pikir Farhan akan lebih percaya pada 'bukti' masa lalu dari seorang istri yang membohongi status pernikahannya? Sekali aku tunjukkan buku nikah kita yang masih berlaku, semua kata-katamu akan dianggap sampah olehnya."
"Cobalah," tantang Rani, suaranya kini lebih stabil walau jantungnya masih berdegup liar.
"Farhan mencintaiku. Dia akan melakukan apa saja untuk melindungiku, termasuk memenjarakan bajingan sepertimu!"
Iqbal mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke mata Rani.
"Dia mencintaimu, atau mencintai citra 'ibu sempurna' yang kamu buat-buat? Ingat Ran, rahimmu mungkin melahirkan anak-anak itu, tapi hatimu bahkan tidak ada untuk mereka. Kamu hanya mencintai kartu kredit suamimu."
Rani berdiri, ia tak sanggup lagi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan pria itu.
"Pertemuan ini selesai. Jangan pernah hubungi aku lagi. Jika kamu mendekat ke rumah atau sekolah Claudia, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi!"
Rani melangkah pergi dengan langkah cepat, wedges-nya berdentum keras di lantai kafe. Iqbal hanya menatap punggungnya sambil tersenyum miring. Ia tahu, Rani hanya sedang menggertak sambal.
"Bukti?" Iqbal meraba tas pinggang yang berada di pangkuannya.
"Mana buktimu Ran. Dua buku ini jelas-jelas akan membuatmu di penjara!" kekehnya pelan.
Sementara itu Rani sudah masuk mobilnya, ia menekan pedal gas dan berlalu dari sana. Tiba-tiba, perutnya mual, asam lambungnya kumat.
Ia menghentikan kendaraanya di bahu jalan. Menyandarkan punggungnya di jok mobil sambil memejamkan matanya kuat-kuat.
"Tidak ... Ini tidak boleh terjadi! Masa depan Claudia jadi taruhannya!" geleng Rani tak terima.
Sedangkan Farhan baru saja tiba di bandara. Ia akan pergi bersama para koleganya ke Australia untuk mengadakan meet and greet di sana.
"Pak Farhan!" seorang pria dengan setelan jas mewah mendekat.
"Ya?" Farhan menoleh.
"Maaf Pak, apa benar ini istri Bapak?" tanya pria itu hati-hati sambil memperlihatkan sebuah foto hasil candid.
Farhan menyipitkan matanya, foto itu diambil dari jarak yang cukup jauh, jadi sedikit buram.
"Saya rasa bukan. Ini nggak jelas. Kenapa Bapak yakin ini istri saya?" tanya Farhan bingung.
Pria di depannya langsung mengambil lagi ponselnya.
"Ini istri saya yang ambil. Tentu ia sangat kenal dengan istri anda Rani. Tak mungkin istri saya berbohong!" ujarnya sedikit tersinggung.
"Ah ... Maaf Pak Broto, bukan maksud saya menyinggung anda. Tapi, jika iya istri anda tau itu istri saya. Kenapa tidak dihampiri saja?" tanya Farhan.
Farhan memang tipikal orang yang tak gampang dipengaruhi.
"Istri saya segan karena istri anda tampak berbincang akrab dengan seorang pria!" seru Broto kesal.
"Hei ... Ada apa ini!" lerai salah seorang kolega.
Farhan menarik napas panjang, berusaha menjaga wibawanya di depan para kolega. Ia menatap tajam ke arah Pak Broto.
"Pak Broto, saya menghargai perhatian Anda. Tapi menuduh istri seseorang tanpa bukti yang jelas di depan umum adalah tindakan yang kurang bijaksana," ujar Farhan dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Kurang bijaksana?" Pak Broto mendengus. "Istri saya melihat mereka di Kafe Klasik. Pria itu tampak sangat akrab, bahkan sempat memegang tangan Rani. Jika Anda ingin menutup mata, silakan. Tapi jangan salahkan saya jika nanti reputasi Anda ikut hancur karena skandal keluarga.!"
"Sudah, sudah! Kita punya jadwal penerbangan. Jangan bahas urusan pribadi di sini!" lerai rekan yang lain, Pak Gunawan, sambil menepuk bahu Farhan.
Farhan mengangguk kaku, namun di dalam dadanya, badai mulai berkecamuk. Ia teringat ucapan Rani pagi tadi tentang "perasaan tidak enak badan".
Kafe Klasik? Itu bukan tempat arisan ibu-ibu sosialita, batin Farhan.
Di dalam mobil Mercedes merahnya, Rani masih meringkuk menahan mual. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Kata-kata Iqbal tentang "buku nikah" dan "penjara" terus terngiang seperti kaset rusak.
Ia meraih ponselnya, hendak menghubungi Farhan untuk mencari perlindungan, namun ia urungkan.
Jika aku mengadu pada Mas Farhan sekarang, aku harus jujur soal Iqbal. Dan kalau aku jujur, Mas Farhan akan tahu aku membohonginya soal status cerai, pikir Rani kalut.
Tiba-tiba, sebuah ketukan di kaca jendela mobil membuatnya terlonjak.
Iqbal berdiri di sana dengan motor bututnya, tersenyum miring tanpa melepas helm.
Ia memberi isyarat agar Rani membuka kaca. Rani yang sedang lemah terpaksa menurunkan kaca mobilnya sedikit.
"Sakit, Ran? Itulah gunanya suami asli. Sini, aku antar pulang. Kamu nggak aman nyetir sendirian dalam kondisi begini," ujar Iqbal, suaranya terdengar pura-pura cemas.
"Pergi, Iqbal! Aku nggak butuh kamu!" sentak Rani, meski suaranya terdengar parau.
Iqbal menggendikkan bahunya acuh. Ia kembali memakai helm dan pergi dari sana. Rani mencengkram kuat stirl mobilnya.
Ingin ia berteriak, tapi otaknya masih waras dan belum mau dianggap gila.
Akhirnya Rani menekan pedal gas dan pulang ke rumahnya.
Sampai sana, ia melihat Claudia bermain bersama Rafna, ada Asih di sana. Ia tak berani berkata apa-apa.
Semenjak Asih memergoki dirinya yang menghasut Claudia. Rani tak berani lagi meracuni pikiran putrinya.
Claudia menoleh dan langsung tersenyum lebar.
"Eh ... Mama pulang! Adek lihat Mama pulang!" ujarnya ceria.
Seakan dipaksakan, Rani mengangkat dua sudut bibirnya kaku.
"Eh .. anak Mama. Udah mandi?" tanya Rani.
"Udah dong Ma. Iya kan Dek?" jawab Claudia lalu Rafhan berceloteh ala bayi.
"Ya sudah, kalian main ya. Mama mau ke kamar!" ujar Rani lalu ia naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Rani melangkah dengan terburu-buru, suara wedges-nya yang beradu dengan anak tangga terasa seperti detak bom waktu di telinganya sendiri.
Begitu sampai di kamar, ia langsung mengunci pintu. Tubuhnya merosot, bersandar pada kayu jati pintu yang kokoh.
"Kenapa jadi begini?" isaknya tertahan.
Ia segera menuju meja rias, meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia membuka galeri foto rahasia—foto-foto kebersamaannya dengan Farhan yang penuh kemewahan.
Ia sangat mencintai hidupnya yang sekarang, namun bayangan Iqbal dengan sepasang buku nikah itu terus menghantuinya.
"Apa aku harus jujur?" tanyanya pelan.
"Jika aku menuntut cerai dari Mas Iqbal. Pastinya nanti dia makin berani!" lanjutnya mengeluh.
Rani membuka laci, di sana map coklat berisi data diri palsu berada. Semua akan runyam jika terbongkar.
Sedangkan di rumah lain, Sinta baru saja pulang dari tokonya. Hari sudah sangat larut.
Semenjak kedua putranya tumbuh dewasa. Ia tak begitu mengurusi kedua anaknya.
Sinta menuju ruang makan, duduk dan menyiapkan makan malamnya sendiri.
Lalu ingatannya melintas. Tadi siang di toko sebuah kenyataan lain ia temukan dari pelanggannya yang baru saja kembali memesan.
"Aduh Mas Jaka, kok baru kelihatan?" tanyanya ramah.
"Ah, Bu Sinta ... Iya, baru disuruh lagi dari Boss!" jawab pria itu sopan.
"Pesan lagi Mas?" tanya Sinta.
"Saya nunggu Boss dulu ...," jawab Jaka dan tak lama atasannya datang. .
"Pesan snack untuk sore nanti ya, minta sekalian makan siang!" ujar pria itu.
Sinta telah melebarkan usahanya. Jadi bukan hanya kue, tapi juga restoran dengan menu ala Nusantara sederhana.
"Untuk berapa porsi Pak!" tanya Sinta sigap.
"Lima puluh porsi!" jawab pria itu.
"Wah ... Tumben. Biasanya lebih dari seratus?" ujar Sinta.
Pria itu menatap Sinta, ia berdehem.
"Jujur, saya sebenarnya hanya ingin membantu," ujarnya pelan.
"Membantu?" Sinta mengerutkan keningnya.
"Jika bukan karena rekomendasi Pak Farhan. Saya tidak memesan dari toko yang letaknya jauh dari perusahaan saya," jawaban pria itu membungkam kesombongan Sinta selama ini.
"Bunda, baru pulang?" sebuah suara mengagetkan Sinta.
Leo datang dengan wajah bantal.
"Kamu bangun?" Sinta tersenyum.
"Iya, haus!" jawab Leo lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin.
Bersambung.
Ang ..ang ... Ang
next?