NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DNA

Rumah Mercer menyambut mereka dengan sunyi yang berbeda.

Bukan sunyi ladang yang damai, melainkan sunyi yang menahan rahasia. Fred menutup pintu agak keras—bukan karena marah pada rumah, tapi karena semua pertanyaan yang ia tekan sejak London kini mendesak keluar seperti air mendidih dari panci.

Begitu kunci berputar dan kait tambahan terpasang, Fred berbalik menghadap Maëlle.

“Apa itu semua?!” suaranya pecah, campuran marah, takut, dan frustrasi. “Kafe itu, wanita gemuk itu, ‘kurir’, CCTV di mana-mana—apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang kamu lakukan padaku?!”

Maëlle melepas coat-nya pelan. Ia tidak terkejut oleh ledakan Fred. Seolah ia sudah menunggu momen ini dari tadi. Ia menaruh coat di kursi tanpa rapi, lalu menatap Fred dengan mata yang dingin namun stabil.

“Aku sengaja membawamu ke sana,” kata Maëlle.

Fred membeku sesaat. “Sengaja? Untuk apa?”

“Supaya kamu tahu,” jawabnya datar.

“Tahu apa?!”

Maëlle menatapnya lebih tajam, lalu mengucapkan kalimat yang membuat dada Fred terasa seperti tertusuk.

“Aku dapat pesanan dari kafe itu… untuk membunuhmu.”

Fred tidak bergerak. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara keluar.

Maëlle melanjutkan tanpa dramatis, seolah ia membicarakan jadwal kereta.

“Tapi aku tidak tahu siapa pemesannya.”

Fred menelan ludah keras. “Kafe itu… tempat kontrak?”

Maëlle mengangguk. “Lebih tepatnya, Broker. Tempat beberapa agen mencari pembunuh. Tempat orang-orang datang untuk ‘kopi’… dan pulang membawa target.”

Fred mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menahan pusing. “Jadi… maksudmu kafe itu menerima pesanan dari lebih dari satu agen?”

Ia butuh kepastian. Ia butuh sesuatu yang bisa dipahami otaknya.

Maëlle menatapnya, lalu menjawab singkat, “Benar.”

Fred memandangnya, hampir putus asa. “Kenapa mereka bisa begitu? Kenapa pemesannya tidak jelas?”

“Karena pesanan diterima lewat telepon satelit,” kata Maëlle. “Suara bisa diubah. Nomor tidak bisa dilacak seperti biasa. Mereka sengaja membuat itu jadi kabut. Namun setiap agen nada code sandy nya. Meski Café tidak tahu siapa orangnya namun seharusnya tahu siapa agennya. Tapi Café itu tidak mau mengatakan.”

Fred menatap lantai. “Agen kasih kontrak dulu… Lalu… kafe itu menghubungi kamu?”

“Ya.” Maëlle berjalan ke dapur, membuka lemari, mengambil gelas, menuang air. Tangannya stabil, seolah tubuhnya tidak kenal guncangan.

“Kafe itu punya banyak pembunuh,” kata Maëlle sambil meneguk sedikit. “Ketika aku ditelepon lewat satelit, aku datang ke sana. Mereka memberi foto, alamat, rutinitas calon korban. Semua detail yang membuat pekerjaan jadi mudah.”

Fred merasa mual. Ia teringat kalimat wanita gemuk itu: kode etik kurir. Jadi benar—ada aturan internal bahkan dalam dunia kotor.

“Jadi… kamu…,” Fred menatap Maëlle, suaranya mengecil, “kamu datang ke sana berkali-kali?”

Maëlle menatapnya datar. “Ini pekerjaanku.”

Kalimat itu dingin. Tapi jujur. Dan kejujuran itu justru membuat Fred merasa lebih rapuh.

Ia menghela napas panjang, mencoba menata potongan-potongan:

Kafe adalah Broker sebagai titik perantara.Telepon satelit memutus jejak.Maëlle salah satu “kurir.”Dan kontraknya dibagi ke lebih dari satu pembunuh.Bukan karena kompetisi biasa.

Karena mereka ingin hasil cepat.

Mereka ingin Fred mati tanpa peduli siapa yang melakukannya.

Fred menatap Maëlle, mulutnya kering. “Berarti… orang yang mengontrak bisa siapa saja.”

Maëlle tidak menjawab. Ia tidak perlu.

Di luar rumah, suara mesin mobil mendekat. Ban menggeser kerikil. Lampu menyapu jendela sebentar.

Fred menegang refleks. Maëlle bergerak setengah langkah—posisi tubuhnya berubah otomatis ke arah pintu, seperti senjata yang terkunci.

Pintu depan terbuka.

Mercer masuk.

Pickup putihnya terparkir di depan, dan wajah Mercer kali ini tidak membawa sedikit pun humor. Rahangnya kaku. Matanya tajam. Seolah ia baru selesai melihat sesuatu yang membuatnya muak.

Di tangannya ada selembar kertas.

Mercer tidak banyak bicara. Ia hanya melangkah masuk, mengunci pintu kembali, lalu berjalan langsung ke Maëlle dan menyerahkan kertas itu.

Maëlle menerima, membukanya.

Fred menatap wajah Maëlle saat membaca.

Alis Maëlle naik.

Bukan kaget yang meledak—lebih seperti pengakuan dingin bahwa sesuatu yang ia curigai ternyata benar… dan lebih buruk.

Maëlle mengangkat mata, menatap Fred.

Lalu ia melangkah mendekat dan menyerahkan kertas itu ke Fred.

“Baca,” katanya.

Fred menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Di atasnya ada tabel, angka, istilah medis yang ia kenal—dan satu bagian yang membuat jantungnya berhenti.

DNA: TIDAK COCOK.

Subjek A: Tidak sesuai dengan profil keluarga Tucker.

Subjek B: Tidak sesuai dengan profil keluarga Tucker.

Fred menatapnya, berkedip, berharap hurufnya berubah.

Tidak berubah.

“Apa…,” suara Fred nyaris hilang, “apa maksudnya ini?”

Maëlle menjawab sebelum Mercer sempat bicara. Suaranya datar, tapi tajam seperti pisau yang baru diasah.

“Yang mati itu bukan kedua orang tuamu asli.”

Fred tersentak. Kertas di tangannya bergetar.

Maëlle melanjutkan, menatap Fred tanpa menghindar.

“Ini hasil DNA orang tuamu.” Ia menunjuk bagian laporan. “Botol kecil yang kubawa kemarin—yang aku serahkan ke Mercer—itu DNA kedua orang tuamu.”

Seperti petir menyambar tepat di tengah dada, Fred kehilangan napas.

Ia memegang tepi meja agar tidak jatuh. Dunia berputar sebentar.

“Tidak…,” Fred berbisik. “Aku… aku melihat mereka… Mereka menyayangiku seperti anaknya sendiri.”

Mercer akhirnya bicara, suaranya berat.

Fred menatap Mercer dengan mata membesar. “Jadi… siapa orangtuaku yang sebenarnya?”

Mercer tidak langsung menjawab “ya” dengan keyakinan penuh. Ia memilih kalimat yang lebih jujur—dan lebih menakutkan.

“Siapapun itu, yang pasti bukan keluarga Tucker.” kata Mercer.

Maëlle mengangguk kecil. “Kamu bukan cuma target untuk dibunuh,” katanya. “Kamu target untuk dikendalikan. Ini pasti mengenai orang tua aslimu yang sebenarnya”

Fred memejamkan mata. Air mata panas akhirnya jatuh, bukan hanya karena sedih—tapi karena pikirannya hancur.

Selama ini ia berpikir ia tidak spesial.

Sekarang ia tahu: ia cukup “spesial” untuk membuat orang tuanya diculik dibunuh.

Cukup “spesial” untuk membuat kontrak dibagi ke beberapa pembunuh.

Cukup “spesial” untuk memaksa Maëlle—pembunuh bayaran—melanggar jaringan dan menjadi pelindung.

Fred membuka mata lagi. Tatapannya berubah.

Ada sesuatu yang baru.

Bukan keberanian.

Lebih seperti… kemarahan yang terarah.

“Aku akan cari mereka,” Fred berbisik. “Aku akan…”

Maëlle memotong, suaranya dingin. “Dengan apa?”

Fred terdiam.

Ia ingin berkata: dengan kemauan. Dengan cinta. Dengan dendam. Tapi semua itu tidak menghentikan peluru.

Fred mengepalkan tangan sampai kuku menekan kulit. Ada rasa dendam membara disana. Sekalipun Tucker bukan orang tuanya tapi mereka tewas karena dirinya. Ibu dan Ayahnya begitu mengasihi dirinya, menyekolahkan, memberi makan dan memelihara dengan kasih saying.

“Aku ingin balas dendam,” katanya, suara bergetar. “Mereka menyentuh orang tuaku.”

Mercer melangkah mendekat, menaruh tangan di bahu Fred, bukan pelukan, lebih seperti menahan agar Fred tidak terjun tanpa alat.

“Dendam tanpa arah hanya akan membuatmu mudah dipakai,” kata Mercer pelan. “Mereka mungkin memang ingin kamu marah. Mereka mungkin ingin kamu bergerak seperti yang mereka mau.”

Fred menatap kertas itu lagi. Kata-kata “tidak cocok” seperti mengejeknya.

“Jadi aku harus apa?” tanya Fred, suaranya pecah. “Duduk diam? Menunggu?”

Maëlle menatap Fred lama.

Untuk pertama kalinya, nada suaranya sedikit berubah—bukan hangat, tapi ada sesuatu seperti keseriusan yang lebih dalam.

“Kamu harus belajar,” kata Maëlle. “Kamu harus jadi orang yang tidak bisa dipakai sebagai tombol.”

Fred mengernyit. “Tombol?”

“Tekan tombolnya, kamu bergerak,” jawab Maëlle. “Mereka tekan orang tuamu, kamu bergerak. Mereka tekan rasa takutmu, kamu kabur. Mereka tekan rasa bersalahmu, kamu menyerah. Aku tidak akan biarkan kamu jadi tombol.”

Fred menelan ludah.

Mercer menarik kursi, duduk, lalu menunjuk laporan itu. “Botol itu berisi sampel yang Maëlle ambil dari rumah—cepat, bersih—sebelum kamu melarikan diri. Dia tidak bilang padamu karena kamu tidak akan paham nilainya waktu itu.”

Fred menatap Maëlle, kaget. “Kamu… kamu sempat kembali ke rumahku?”

Maëlle tidak menjawab detail. Ia hanya berkata, “Aku selalu punya rencana cadangan.”

Kalimat itu membuat Fred sadar betapa jauh jarak dunia mereka.

Ia memegang laporan itu dengan tangan yang masih bergetar, tapi pikirannya mulai fokus pada hal yang bisa ia genggam: orang tuanya mungkin hidup.

Dan di balik rasa lega yang meledak, ada rasa takut baru yang lebih besar:

Kalau orang tuanya hidup, berarti mereka ada di tangan seseorang yang tahu cara membuat manusia hancur tanpa membunuhnya.

Fred menatap Maëlle dan Mercer bergantian. “Kalau mereka tidak ingin aku mati… kenapa mereka tetap menyewa pembunuh?”

Maëlle menjawab cepat, “Karena mereka ingin opsi.”

“Opsi?”

“Kalau kamu tidak patuh, kamu mati,” kata Maëlle. “Kalau kamu patuh, kamu tetap hidup—sementara orang tuamu jadi tali yang mereka pegang.  Dan kemungkinan opsi lainnya Adalah orang tua kandungmu.”

Mercer menambahkan, “Dan kontrak yang dibagi ke banyak ‘kurir’ berarti mereka tidak mau memberi kamu kesempatan untuk bertahan lama tanpa memilih.”

Fred menghela napas, air mata masih menempel di pipinya. Ia mengusap kasar.

“Jadi sekarang…” Fred berbisik, “aku bahkan tidak tahu apakah aku harus lari, atau mencari, atau…”

Maëlle menatapnya, tegas.

“Sekarang kita cari siapa yang memesan,” katanya. “Karena pemesan itu bukan orang random. Itu orang yang tahu kamu—atau tahu sesuatu tentangmu.”

Fred menggigit bibir sampai terasa sakit.

Dendamnya ada.

Tapi arah belum ada.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar: kalau ia ingin membalaskan orang tuanya, ia tidak bisa lagi jadi mahasiswa yang pura-pura dunia ini normal.

Ia harus jadi sesuatu yang lain.

Bukan pembunuh.

Belum.

Tapi seseorang yang bisa bertahan dalam dunia pembunuh.

Maëlle berdiri, menatap Fred seolah menilai: apakah ia akan runtuh, atau berdiri.

“Kamu mau tahu kebenarannya?” tanya Maëlle.

Fred mengangguk, napasnya berat.

“Kalau begitu,” kata Maëlle dingin, “kita berhenti bohong pada diri sendiri. Kamu bukan orang biasa lagi.”

Fred memandang laporan DNA itu sekali lagi, lalu mengepalkan kertasnya.

Dan di dalam kepalanya, satu kalimat terbentuk, tajam dan sederhana:

Mereka mengira aku tombol.

Kalau begitu aku akan jadi tangan yang mematahkan tombol itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!