Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Abah Iip masih berdiri di halaman rumah itu, menatap Azalea dan Enzo bergantian. Raut wajahnya belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan. Baginya, kabar itu bukan perkara kecil—Azalea, gadis yang ia lihat tumbuh sejak kecil, kini menjadi istri mantan kakak iparnya sendiri.
Namun, tatapan Abah Iip perlahan melembut saat melihat Erza dan Elora berlari kecil di halaman. Tawa mereka pecah ketika ayunan ban itu bergerak maju mundur. Tidak ada lagi sorot mata liar dan keras seperti yang dulu pernah ia dengar dari cerita warga tentang kenakalan mereka setelah ditinggal ibunya. Kini yang ia lihat hanya dua anak kecil yang rindu disayang.
Abah Iip menarik napas panjang, lalu menatap Enzo dengan sorot mata yang dalam.
“Nak Enzo,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Walau Lea bukan anak kandungku, tapi sejak orang tuanya meninggal, aku sudah anggap dia anak sendiri.”
Azalea yang berdiri tak jauh dari sana langsung menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dia sudah banyak menderita,” lanjut Abah Iip. “Kehilangan orang tua sejak kecil. Kehilangan kakaknya yang jadi satu-satunya sandaran hidupnya.” Suaranya bergetar tipis. “Dan waktu dia bercerai dulu dengan Reza, aku yang lihat sendiri bagaimana dia bangkit pelan-pelan.”
Enzo terdiam. Ia tak pernah tahu sedalam itu luka yang pernah dipikul istrinya sekarang. Bahkan dia tidak bertanya kenapa Azalea sampai bercerai dengan mantan suaminya itu.
“Jadi,” Abah Iip menatap lurus ke mata Enzo, “aku harap kamu menjaga dan membimbingnya dengan baik. Jangan sakiti hatinya.”
Nada itu bukan ancaman. Itu doa yang dibungkus ketegasan seorang ayah.
Enzo mengangguk perlahan. “Insya Allah, Bah. Aku tidak akan menyakitinya. Aku justru berutang banyak pada Azalea.” Ia melirik ke arah anak-anaknya. “Karena dia, anak-anak kembali punya hati yang lembut.”
Azalea tak mampu lagi menahan air mata. Ia menoleh cepat, pura-pura mengatur barang di mobil agar tak ada yang melihat betapa hatinya sedang penuh.
Siang itu mereka mulai menurunkan koper dan tas dari bagasi. Rencananya dua hari mereka akan tinggal di desa.
Rumah tua itu terasa hidup kembali ketika pintunya dibuka. Aroma kayu dan tanah bercampur menjadi satu. Cahaya matahari masuk lewat jendela-jendela besar yang sudah dibersihkan warga.
“Mas, kalau mau istirahat di kamar saja,” kata Azalea lembut. “Mau di kamar depan—kamar aku dulu—atau kamar samping, kamar yang dulu dipakai Kak Jasmine, sudah aku bersihkan.”
Enzo terdiam sejenak. Nama itu selalu membuat dadanya mengencang. “Aku tidur di kamar samping saja,” jawabnya akhirnya.
Enzo tahu kamar depan adalah kamar Azalea. Dan kemungkinan besar malam nanti Azalea akan tidur bersama Elora di sana. Ia tak ingin membuat Azalea canggung.
Enzo melangkah masuk ke kamar bekas istrinya yang pertama. Pintu itu terbuka pelan. Ruangan sederhana. Lemari kayu tua, jendela yang menghadap ke pohon mangga. Tidak ada lagi barang-barang pribadi Jasmine, tapi kenangan seperti masih menempel di dinding.
Enzo berdiri lama di ambang pintu. “Maafkan aku,” gumamnya lirih, entah untuk siapa—untuk masa lalu, atau untuk hatinya sendiri.
Di luar, Erza dan Elora masih asyik bermain ayunan. Azalea memastikan talinya kuat sebelum mengizinkan mereka naik.
“Mommy mau masak dulu, ya,” katanya. “Kalau ada apa-apa, cari Mommy di dapur.”
“Oke, Mommy!” jawab keduanya kompak.
Dapur itu sederhana. Tungku lama sudah diganti kompor gas, tapi susunannya masih sama. Azalea mengeluarkan bahan-bahan yang dibawanya dari kota. Ia ingin anak-anak merasakan masakan rumahan di rumah yang dulu menjadi saksi perjuangan Jasmine.
Jam dua siang, mereka makan bersama di ruang depan. Hanya beralas tikar mendong, seperti kebiasaan lama.
Erza makan dengan lahap. Elora bahkan sudah menambah nasi untuk kedua kalinya.
Enzo memperhatikan dengan heran. Biasanya, mereka sulit sekali disuruh makan.
“Makanan buatan Mommy itu enak, Daddy,” puji Erza sambil tersenyum lebar.
“Iya! Aku suka ayam goreng sama ayam kecap buatan Mommy,” Elora mengangkat paha ayamnya dengan bangga.
Azalea tersenyum lembut. Hatinya hangat melihat mereka makan tanpa dipaksa.
Enzo memandang istrinya dalam diam. Di kota, semua serba mahal dan mewah. Tapi di rumah tua ini, hanya dengan ayam goreng dan nasi hangat, anak-anaknya terlihat lebih bahagia.
Sore hari, Azalea membawa Erza dan Elora ke sumur belakang rumah. “Ini sumurnya, dulu Bunda dan Kak Jasmine sering ambil air di sini,” jelasnya.
Elora menatap pompa air jadul dengan mata berbinar. “Harus ditarik?”
“Iya, coba.”
Erza menarik tuas pompa dengan semangat. Beberapa kali kosong, lalu tiba-tiba—
“Airnya keluar banyaaak!” seru Elora kegirangan.
Erza langsung berdiri di bawah paralon tempat air mengucur. “Segeeeer!” teriaknya.
Azalea tertawa kecil. “Ayo, mandinya cepat! Jangan main-main. Katanya mau keliling kampung lihat sapi sama kerbau.”
Keduanya buru-buru membilas tubuh, lalu mengenakan handuk. Di saat yang sama, Enzo keluar dari kamar mandi dalam rumah.
“Kita jadi jalan-jalan?” tanyanya sambil mengeringkan rambut.
“Jadi, Mas.”
Mereka berjalan menyusuri jalan desa. Tanahnya sedikit berdebu, tapi udara sore terasa bersih. Warga menyapa ramah.
“Lea! Pulang?”
“Lea, sudah lama tak kelihatan!”
Azalea membalas mereka dengan senyum hangat.
Bu Haji Halimah, ketua PKK desa, mendekat dengan wajah penasaran. “Lea, siapa mereka?”
“Mereka suami dan anak-anakku, Bu Haji,” jawab Azalea sopan.
“Kamu menikah tidak bilang-bilang,” nada suaranya terdengar kecewa.
Azalea tersenyum canggung. “Waktu itu tidak memungkinkan menikah di sini, Bu. Insya Allah besok kami akan adakan syukuran kecil sebelum kembali ke kota.”
“Alhamdulillah,” Bu Haji mengangguk. “Yang penting bahagia.”
Erza dan Elora tiba-tiba berteriak kecil saat melihat kerbau-kerbau besar diarak menuju kandang sepulang dari sawah.
“Kerbaunya besar-besar, Kak!” pekik Elora.
Erza memandangi tubuh besar hewan itu dengan serius. “Kakak penasaran mereka makannya sebanyak apa sampai badannya segitu.”
“Pasti makan nasinya banyak dan piringnya juga besar!” celetuk Elora polos.
Enzo dan Azalea tertawa geli.
“Mereka tidak makan nasi, Sayang,” jelas Azalea sabar. “Mereka makan rumput.”
“Rumput?” Elora mengernyit. “Kan, enggak enak.”
Setelah itu mereka mampir ke kandang sapi milik Pak Dudi dan kandang kambing. Kedua anak itu akhirnya melihat sendiri bagaimana hewan-hewan itu lahap mengunyah rumput.
“Oh, ternyata beneran makan rumput,” gumam Erza takjub.
Sore berubah menjadi malam. Malam itu, di rumah tua yang kembali berpenghuni. Azalea tidur bersama Elora di kamar depannya. Elora memeluk pinggangnya erat.
“Mommy,” bisik Elora sebelum terlelap.
“Ya. Ada apa?” tanya Azalea sambil mengusap kepala anak kecil itu.
“Aku senang punya Mommy.” Elora lalu mencium pipi ibu sambungnya itu.
Azalea mengecup keningnya. “Mommy juga senang punya kamu.”
Di kamar samping, Enzo berbaring bersama Erza. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela.
“Daddy,” suara Erza pelan.
“Iya?”
“Mommy Jasmine dulu juga baik seperti Mommy Azalea, ya?”
Enzo menatap langit-langit. Dadanya terasa sesak, tapi hangat.
“Iya,” jawabnya jujur. “Keduanya sama-sama baik. Kalian beruntung dicintai dua perempuan hebat.”
Erza mengangguk kecil, lalu memeluk lengan ayahnya.
Di antara dinding rumah tua itu, masa lalu dan masa kini akhirnya bisa berdampingan, bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling menguatkan.
***
Terima kasih untuk doa kalian semua. Alhamdulillah, donor darah berjalan lancar.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi