Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Tasya langsung menoleh ke arah Dion ketika Alex mengatakan itu, wajahnya berubah tegas.
“Tidak!” Suaranya terdengar jelas di depan semua orang.
“Dia bukan suamiku!”
Semua yang ada di sana langsung terdiam. Tasya menarik napas sebentar lalu berkata lagi dengan suara lebih tegas.
“Aku belum menikah.”
Dion sedikit terkejut mendengar itu.
Namun, Tasya melanjutkan sebelum siapa pun berbicara.
“Tapi … anak-anak ini memang anakku.” Kalimat itu membuat beberapa guru yang berdiri di dekat gerbang saling pandang.
Di negara seperti Indonesia, pernyataan seperti itu tentu saja memunculkan banyak prasangka.
Beberapa orang bahkan mulai berbisik pelan. Tasya menyadari tatapan-tatapan itu, namun ia tidak peduli. Ia lalu menoleh kepada Dion.
“Ceritanya panjang.” Nada suaranya melembut sedikit.
“Aku pasti akan menceritakannya padamu.” Ia lalu menggenggam tangan Kenzo dan Kenzi.
“Ayo kita pulang dulu.”
Kenzo langsung mengangguk. Namun, Kenzi masih menatap Alex dengan ekspresi sedih. Tasya mulai berjalan menuju mobil.
“Tunggu!” Suara Alex menghentikan langkah mereka. Pria itu melangkah maju, tatapannya tertuju pada Tasya.
Wajahnya terlihat tidak senang. Bukan karena Tasya menolak berbicara dengannya. Melainkan karena ia melihat Tasya seolah menjaga perasaan Dion di depannya. Perasaan aneh muncul di dalam dada Alex.
Ia sendiri tidak suka merasakannya.
“Nona Tasya,”
Namun sebelum Alex mendekat lebih jauh sebuah tangan tiba-tiba menghalangi jalannya.
Dion berdiri di depan Tasya, tatapannya dingin.
“Tuan Alex.” Nada suaranya tenang, tetapi jelas penuh peringatan.
“Saya rasa Tasya tidak ingin terlibat dengan Anda.”
Alex menyipitkan matanya.
Dion melanjutkan dengan tegas.
“Dia juga tidak ingin berbicara dengan Anda sekarang.”
Ia berdiri sedikit lebih maju, benar-benar menjadi penghalang.
“Jadi…”
Dion menatap Alex lurus-lurus.
“Biarkan mereka pergi.” Udara di sekitar mereka terasa menegang. Mario bahkan menahan napas. Karena sangat jarang ada orang yang berani menghalangi Alex Roman Vasillo secara langsung. Alex menatap Dion beberapa detik tanpa bicara. Lalu perlahan tatapannya beralih pada Tasya yang sekarang berdiri di belakang Dion bersama kedua anaknya. Namun, tepat saat suasana itu semakin menegang sebuah suara kecil tiba-tiba terdengar.
“Mommy…” Semua orang menoleh, Kenzi menatap Tasya dengan wajah serius. Lalu ia berkata dengan tenang,
“Bukankah kita masih punya kesepakatan dengan Daddy?”
“Tidak ada kesepakatan!" Suara Kenzo terdengar tegas. Ia langsung membantah ucapan adiknya.
Kenzi mengerutkan kening, jelas masih ingin berbicara dengan Alex.
“Tapi aku mau—”
“Tidak!” Kenzo memotong dengan cepat.
Ia menatap adiknya dengan wajah serius, jauh lebih dewasa dari anak seusianya.
“Kalau kamu ingin sekali punya Daddy…”
Kenzo berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada dingin.
“Kita akan mencarikan Daddy untuk Mommy.”
Kenzi berkedip namun kalimat berikutnya membuat suasana mendadak sunyi.
“Tapi bukan dia,” Kenzo menunjuk ke arah Alex tanpa ragu.
“Dia tidak lulus menjadi Daddy kita.”
Beberapa guru yang masih berdiri di dekat gerbang langsung terdiam. Mario bahkan hampir menahan napas.
Sementara tatapan Alex langsung berubah tajam. Mata pria itu memerah karena emosi yang ia tahan. Tidak ada seorang pun yang pernah berbicara seperti itu kepadanya. Namun, yang mengatakannya sekarang adalah anaknya sendiri.
Kenzo tidak peduli dengan ekspresi Alex. Ia langsung menarik tangan Kenzi.
“Ayo!”
Kenzi masih terlihat sedikit ragu, tetapi akhirnya ikut ditarik kakaknya menuju mobil. Tasya berdiri terpaku beberapa detik. Ia jelas tidak menyangka anaknya akan mengatakan hal seperti itu.
“Kenzo…” Namun bocah itu sudah membuka pintu mobil. Kenzi masuk lebih dulu, Kenzo segera mengikuti setelahnya. Tasya akhirnya berjalan menuju mobil juga.
Sementara Dion berjalan di sampingnya. Alex masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya mengikuti setiap langkah mereka. Udara di sekitar pria itu terasa dingin. Mario bahkan tidak berani berkata apa pun.
Tasya masuk ke mobil, Dion juga masuk ke kursi pengemudi. Beberapa detik kemudian mesin mobil menyala. Mobil tua itu perlahan meninggalkan halaman sekolah.
Namun, Alex masih berdiri menatap ke arah mobil itu pergi. Rahangnya mengeras di dalam hatinya, sebuah kalimat muncul dengan jelas. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tatapannya menjadi semakin gelap.
'Anakku … tidak akan pernah memanggil pria lain dengan sebutan Daddy.'
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal