NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bangkit dari Abu

Tiga hari setelah kematian Hojun, aku kembali ke lokasi rumah yang terbakar.

Abu masih berserakan di mana-mana. Bau hangus masih tercium tajam. Di tengah puing-puing, beberapa struktur kayu masih berdiri—penyangga tungku, fondasi batu, dan sisa-sisa peralatanku.

Aku berlutut, memungut segenggam abu.

"Ini semua yang tersisa," gumamku.

Gong Hyerin berdiri di belakangku, diam. Sejak peristiwa itu, dia jarang bicara. Mungkin masih syok. Mungkin memikirkan sesuatu.

Tapi aku tahu satu hal: ini bukan akhir.

---

Siang itu, kami mulai membersihkan puing.

Bekerja di bawah terik matahari, memilah mana yang masih bisa dipakai, mana yang harus dibuang. Gong Hyerin membantu meskipun lukanya belum sembuh total. Aku sudah melarang, tapi dia bersikeras.

"Aku tidak mau jadi beban," katanya.

"Kau bukan beban."

"Kalau aku diam saja, aku jadi beban."

Tidak ada yang bisa membantah logika anehnya.

Kami menemukan beberapa peralatan yang selamat—palu, penjepit, dan landasan kecil. Terselamatkan karena terbuat dari besi dan tertimbun tanah. Juga beberapa karung arang yang belum terbakar.

Tapi tungku... tungkunya hancur total.

"Kita harus bangun ulang," kataku.

"Mulai dari nol?"

"Bukan dari nol. Kita punya pengalaman. Kita bisa buat yang lebih baik."

---

Malam harinya, Kwon Tak dan Seol Ran kembali ke Klan Gong.

Sebelum pergi, Kwon Tak berkata, "Kami akan laporkan semuanya pada Patriark. Kau sudah menuntaskan urusan internalmu. Selamat."

"Terima kasih atas bantuannya."

Dia mengangguk. Lalu menatap Gong Hyerin. "Nona Muda, harap jaga diri. Patriark pasti akan marah kalau tahu Nona terluka."

"Aku bisa jaga diri sendiri."

Kwon Tak tersenyum tipis, lalu pergi bersama Seol Ran.

Sekarang tinggal aku dan Hyerin.

---

Minggu pertama setelah kebakaran adalah minggu tersulit.

Kami tinggal di gua sementara, dekat sumber air. Setiap pagi, kami pergi ke lokasi rumah, membersihkan puing, membangun tungku baru. Setiap malam, kami kembali ke gua, makan seadanya, lalu tidur.

Gong Hyerin tidak pernah mengeluh. Padahal, sebagai putri bungsu Patriark Gong, dia pasti terbiasa dengan kehidupan mewah. Tapi di sini, dia tidur di atas jerami, makan bubur tanpa lauk, dan bekerja seperti kuli.

Suatu malam, aku bertanya.

"Kau tidak rindu istana?"

Dia diam sejenak. Lalu menjawab, "Rindu. Tapi di sini lebih... nyata."

"Nyata?"

"Di istana, semua orang berpura-pura. Tersenyum padaku tapi bergosip di belakang. Bersaing untuk mendapatkan perhatian ayahku. Di sini..." dia menatapku, "kau tidak berpura-pura. Kalau marah, kau marah. Kalau sedih, kau sedih. Kalau capek, kau capek. Itu... menyegarkan."

Aku tidak tahu harus merespons apa.

"Aku tidak terbiasa dipuji," kataku jujur.

Dia tertawa kecil. Tawa pertama sejak pertempuran.

"Berarti kau harus terbiasa. Karena aku akan terus memujimu."

---

Dua minggu kemudian, tungku baru selesai.

Lebih besar dari yang pertama. Lebih kokoh. Aku mendesainnya dengan sistem aliran udara ganda, sehingga suhunya bisa mencapai titik leleh besi lebih cepat.

Gong Hyerin menatapnya dengan takjub.

"Ini... ini lebih besar dari sebelumnya."

"Kita harus bisa produksi lebih banyak. Hojun sudah mati, tapi klan lain mungkin akan datang. Kita harus siap."

Dia mengangguk. "Apa yang bisa kubantu?"

"Aku butuh kau mencari orang."

"Orang?"

"Pendekar-pendekar kecil yang dulu setia pada Hojun. Mereka sekarang kehilangan pemimpin. Mungkin ada yang mau bergabung dengan kita."

Gong Hyerin mengerutkan kening. "Kau mau merekrut musuh?"

"Mereka bukan musuh. Mereka hanya... tersesat. Ikut orang yang salah. Kalau mereka mau berubah, kenapa tidak?"

"Apa kau tidak takut mereka mengkhianatimu?"

Aku tersenyum tipis. "Aku lebih takut pada kelaparan dan kedinginan. Pendekar butuh makan. Kalau kita bisa memberi mereka hidup yang lebih baik, mereka akan setia."

---

Tiga hari kemudian, Gong Hyerin kembali dengan kabar.

Lima orang. Mantan pendekar Hojun yang tertinggal. Mereka setuju untuk bertemu.

Aku menemui mereka di halaman depan—bekas halaman yang sekarang sudah dibersihkan dari puing. Lima pria dengan wajah tegang dan penuh curiga.

Pemimpin mereka, seorang pria berusia empat puluhan dengan bekas luka di pipi, maju selangkah.

"Kau Jin Tae-kyung?"

"Aku."

"Kau yang membunuh Hojun?"

"Aku."

Diam sejenak. Lalu dia berlutut. Empat lainnya mengikuti.

"Kami... kami minta maaf. Kami ikut dia karena tidak punya pilihan. Sekarang dia mati, kami tidak punya tempat tujuan."

Aku menatap mereka. "Kau punya keluarga?"

"Iya. Istri dan dua anak. Mereka di desa sebelah."

"Kau?"

"Aku orang tua. Istri sudah meninggal. Anak satu-satunya ikut klan lain."

"Kau?"

Dan seterusnya. Semua punya alasan untuk bertahan hidup.

"Bangun," kataku.

Mereka bangun, masih dengan wajah cemas.

"Aku bukan Hojun. Aku tidak akan memaksamu berperang untukku. Tapi aku butuh pekerja. Bukan pendekar—pekerja. Membangun. Membuat arang. Menjaga tungku. Kalau kau mau, kau bisa tinggal. Keluargamu juga boleh pindah ke sini. Kita akan bangun desa baru."

Mereka terkejut.

"Maksud Tuan... kita boleh bawa keluarga?"

"Iya. Aku butuh orang. Banyak orang. Untuk membangun klan ini kembali."

Pria dengan bekas luka itu—namanya kemudian kuketahui Baek Dongsu—menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Tuan... kami sudah mengkhianati Tuan. Mendukung Hojun. Dan Tuan masih mau menerima kami?"

"Kau punya pilihan waktu itu?" tanyaku balik.

Dia diam.

"Tidak, kan? Hojun mengancammu. Atau menyuapmu. Atau memanfaatkan keadaanmu. Itu bukan kesalahanmu. Itu kesalahan sistem." Aku menjeda. "Tapi mulai sekarang, kau punya pilihan. Kau bisa pilih jadi bagian dari masa depan, atau kau bisa pergi dan kuharap beruntung."

Baek Dongsu menangis.

Pria tua itu, pendekar tangguh yang sudah puluhan tahun bertarung, menangis di hadapanku.

"Tuan... aku... aku akan ikut Tuan. Sampai mati."

---

Dalam sebulan, desa kecil mulai terbentuk.

Lima keluarga pindah ke area sekitar rumah. Mereka membangun rumah-rumah sederhana dari kayu dan bambu. Anak-anak mulai bermain di halaman. Perempuan-perempuan memasak untuk semua orang.

Aku membagi tugas: pria-pria bekerja di tungku, membuat arang, mencari belerang dan sendawa. Perempuan mengurus rumah tangga dan anak-anak. Gong Hyerin menjadi semacam "kepala keamanan", melatih para pria cara bertahan dan menggunakan senjata sederhana.

Suatu sore, Baek Dongsu mendekat.

"Tuan, ada yang ingin kubicarakan."

"Apa?"

"Anak buah Hojun yang dulu... beberapa masih di luar sana. Mereka mendengar kabar tentang desa ini. Mereka... mereka ingin bergabung juga. Tapi takut ditolak."

"Berapa banyak?"

"Mungkin sepuluh orang. Dengan keluarga."

Aku diam, menghitung.

Dengan tambahan sepuluh keluarga, total akan jadi sekitar lima puluh jiwa. Cukup untuk disebut desa. Tapi juga cukup untuk menarik perhatian.

"Boleh," kataku akhirnya. "Tapi dengan syarat."

"Syarat apa, Tuan?"

"Mereka harus bekerja. Bukan hanya pria, tapi semua anggota keluarga yang mampu. Kita bangun sekolah untuk anak-anak. Kita bangun aturan bersama. Tidak ada kekerasan antarwarga. Kalau ada masalah, dibawa ke musyawarah."

Baek Dongsu mengangguk-angguk.

"Dan satu lagi," tambahku. "Setiap pria dewasa yang mampu bertarung wajib ikut latihan Gong Hyerin minimal seminggu sekali. Bukan untuk jadi pendekar, tapi untuk bisa melindungi desa kalau diserang."

"Itu wajar, Tuan."

---

Malam itu, Gong Hyerin bertanya.

"Oppa, kau tahu apa yang sedang kau bangun?"

"Desa."

"Bukan. Kau membangun klan. Klan baru. Dengan aturan baru."

Aku diam.

"Dulu, klan-klan di Murim dibangun di atas darah dan kekuatan. Tapi kau... kau membangun di atas kerja sama dan kepercayaan." Dia menatapku. "Itu... belum pernah terjadi sebelumnya."

"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."

"Mungkin itu sebabnya kau berhasil."

---

Bulan kedua, produksi mesiu dimulai lagi.

Tungku baru bekerja siang malam. Baek Dongsu dan anak buahnya belajar cepat. Mereka sudah bisa membuat arang berkualitas, mencampur mesiu dengan perbandingan tepat, dan merakit bom sederhana.

Tapi aku tidak hanya membuat bom.

Aku membuat sesuatu yang baru.

Dari pipa besi yang kubeli dari pedagang keliling, aku merakit "meriam bambu" pertama. Sederhana—hanya tabung besi dengan satu ujung tertutup, lubang kecil untuk sumbu, dan pangkal kayu untuk pegangan.

Prinsipnya sama seperti meriam genggam, tapi lebih besar. Bisa menembakkan proyektil sebesar kepalan sejauh seratus meter.

Uji coba pertama membuat semua orang terkesiap.

"TUAN!" teriak Baek Dongsu. "Itu... itu..."

Aku tersenyum. "Ini baru permulaan."

---

Gong Hyerin datang berlari, wajah pucat.

"Oppa, ada masalah."

Aku menegang. "Apa?"

"Pendekar dari Klan Gong datang. Bukan pengawalku. Mereka utusan Patriark."

"Untuk apa?"

Dia ragu. "Untuk... memanggilku pulang."

---

Utusan itu—dua pendekar level menengah dengan seragam lengkap—berdiri di halaman desa. Wajah mereka tegang memandangi sekeliling.

"Nona Muda," yang lebih tua berkata. "Patriark memanggil Nona pulang. Sudah dua bulan Nona pergi. Beliau khawatir."

Gong Hyerin mengerutkan kening. "Aku baik-baik saja."

"Patriark bersikeras. Ada... urusan keluarga yang perlu Nona hadiri."

Dia melirikku. Aku mengangguk.

"Pergilah," kataku. "Kau sudah terlalu lama di sini. Keluargamu pasti rindu."

"Tapi..."

"Aku bisa mengurus ini sendiri. Kau sudah banyak membantu."

Dia diam. Lalu matanya berkaca-kaca.

"Aku akan kembali, Oppa. Janji."

---

Gong Hyerin pergi sore itu.

Aku berdiri di pinggir desa, menatap punggungnya yang menjauh hingga hilang di balik pepohonan. Di sampingku, Baek Dongsu berkata pelan.

"Nona itu... dia berbeda."

"Aku tahu."

"Tuan pasti sedih."

Aku tidak menjawab.

Tapi di dalam hati, ada kehampaan yang tiba-tiba terasa begitu nyata.

---

[Bersambung ke Bab 12]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!