Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. HUKUMAN DAN TEMAN
Langit di atas Akademi Sihir Oberyn perlahan berubah warna.
Matahari yang sejak siang bersinar terang kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyelimuti bangunan-bangunan batu putih akademi.
Di tengah lapangan latihan yang luas ... seorang gadis masih berlari..Langkahnya stabil. Napasnya teratur. Gerakannya ringan seperti angin yang melintas di padang rumput.
Elara Ravens sudah berlari selama dua jam tanpa henti. Putaran demi putaran ia selesaikan dengan ritme yang sama.
Awalnya hanya beberapa murid yang memperhatikan. Namun semakin lama, semakin banyak mata yang tertuju pada lapangan itu.
Dari jendela kelas.
Dari balkon koridor.
Dari tangga menara.
Para murid berkerumun untuk melihat.
"Dia masih berlari?"
"Bukankah sudah dua jam?"
"Bukannya Profesor Garrick menghukumnya lima puluh putaran?"
Beberapa murid terlihat tercengang.
Namun tidak semua reaksi mereka penuh kekaguman.
Seorang murid laki-laki di balkon mendengus. "Dia hanya kuat secara fisik."
Temannya mengangguk.
"Ya. Dia dari Aurelius, bukan?"
"Kerajaan yang hanya tahu bertarung dengan pedang."
Mereka tertawa kecil.
"Kekuatan fisik seperti itu tidak ada artinya di dunia sihir."
"Sihir membutuhkan kecerdasan."
Namun tidak semua orang berpikir seperti itu.
Beberapa murid justru menatap lapangan dengan mata berbinar.
"Staminanya luar biasa."
"Aku bahkan tidak bisa berlari lima putaran."
"Bagaimana dia bisa terlihat masih segar?"
Beberapa bahkan mulai merasa iri.
Sementara itu ....
Elara sendiri tidak terlalu memikirkan semua tatapan itu.
Fokusnya hanya satu.
Langkah.
Napas.
Ritme tubuhnya.
Angin sore menyentuh wajah sang gadis saat ia berlari. Anehnya, Elara merasa tubuhnya jauh lebih ringan dari pada sebelumnya.
Seolah-olah setiap langkahnya mengalir dengan mudah. Ia bahkan berpikir dalam hati.
Mungkin memang karena segelnya sudah dilepas kurasa, pikir Elara.
Dulu, ketika ia masih berlatih sebagai kesatria di Aurelius, berlari sejauh ini pasti sudah membuat ototnya terasa berat.
Namun sekarang tubuh Elara terasa ringan. Seolah-olah energi dalam dirinya terus mengalir. Ia bahkan merasa jika harus berlari seratus putaran pun mungkin ia masih mampu.
Namun saat ia melewati tikungan lapangan berikutnya, seseorang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Langkah yang sama stabil.
Gerakan yang santai.
Elara menoleh. Dan langsung terkejut. "Senior Edgar?"
Pria itu berlari di sampingnya dengan ekspresi santai.
Edgar Maverick.
Salah satu anggota Student Council.
Dan juga murid peringkat tiga di akademi.
Sementara itu, para murid yang menonton dari jauh langsung heboh.
"Tunggu!"
"Itu Edgar Maverick?!"
"Kenapa dia berlari juga?!"
"Dia bahkan berlari bersama murid baru itu!"
Bisikan kebingungan menyebar.
Elara sendiri masih menatap Edgar dengan bingung. "Senior, kenapa Anda di sini?"
Edgar hanya tersenyum kecil. "Aku ingin olahraga."
Elara menatap pria itu dengan ekspresi aneh. "Senior Student Council berlari di lapangan selama sore hanya untuk olahraga?"
Edgar tertawa kecil. "Baiklah. Aku dengar kau dihukum oleh Profesor Garrick. Lari lima puluh putaran. Dan kudengar kau sudah berlari dua jam tanpa henti. Bukankah itu luar biasa?"
Elara mendengus kecil. Jika kau seorang kesatria maka berlari berjam-jam bukan hal aneh."
Edgar tersenyum. "Benar. Hal seperti ini sudah makanan sehari-hari. Tapi tetap saja. Kau berlari dua jam tanpa berhenti. Minimal kau harus berhenti sebentar untuk bernapas atau merilekskan otot," katanya.
Elara berpikir sejenak. Namun kemudian ia berkata jujur. "Kurasa aku tidak masalah. Bahkan sekarang tubuhku terasa jauh lebih ringan dibanding dulu. Rasanya sekarang berlari seratus putaran pun tidak masalah."
Edgar tertawa lepas. "Kau benar-benar gadis yang menarik."
Mereka terus berlari bersama. Langkah mereka selaras. Setelah beberapa saat Edgar berkata, "Bagaimana kalau kau datang ke arena latihan Divisi Vanguard?"
Elara sedikit terkejut. "Di sana semua murid berlatih menggunakan senjata dan sihir mereka."
Elara terdiam sejenak.
Lalu melanjutkan dengan pelan, "Tapi ... aku belum bisa menggunakan sihir apa pun, Senior. Kurasa akan sulit jika aku muncul di sana."
Edgar menoleh padanya. "Menurutmu Divisi Vanguard fokus pada apa?"
Elara menjawab refleks. "Senjata dan sihir?"
Edgar menggeleng lalu mengkoreksi, "Stamina."
Elara menatapnya.
Edgar melanjutkan, "Vanguard selalu dianggap remeh di akademi ini. Hanya karena kita hybrid. Hanya kita memegang pedang atau tombak. Tidak sepenuhnya penyihir. Padahal di medan tempur yang sebenarnya. Siapa yang bertahan paling lama, dialah yang menang."
Kata-kata itu membuat Elara mengangguk pelan. "Profesor Garrick juga pernah mengatakan hal yang sama."
Edgar tersenyum puas. "Kalau begitu kau harus datang ke arena latihan kita."
Elara tersenyum lebar. Ada semangat baru di matanya. "Baik, Senior. Terima kasih atas undangannya."
Mereka akhirnya menyelesaikan putaran terakhir.
Elara berhenti. Namun napasnya masih stabil.
Edgar memandang gadis itu dengan kagum. "Lima puluh putaran selesai. Dan kau bahkan tidak terlihat kelelahan."
Elara hanya mengangkat bahu. "Aku sudah terbiasa saat masih di akademi lamaku."
Setelah itu Edgar melambaikan tangan. "Aku harus kembali ke ruang Student Council. Sampai jumpa di arena latihan nanti."
"Baik, Senior."
Edgar pergi meninggalkan lapangan.
Namun para murid yang melihat kejadian itu masih berbisik-bisik.
"Kenapa Edgar Maverick begitu akrab dengan murid baru itu?"
"Bukankah dia jarang berinteraksi dengan orang lain?"
"Siapa sebenarnya gadis itu."
Namun Elara tidak memerhatikan semua itu. Ia berjalan menuju tempat ia menaruh buku-bukunya tadi. Buku-buku itu ia jemur di bangku taman agar kering.
Namun ketika ia sampai di sana ...
Elara berhenti.
Seorang siswi sedang duduk di bangku. Buku-buku Elara berada di pangkuannya.
Siswi itu memiliki rambut cokelat panjang yang lembut, wajahnya manis dan tenang. Ketika melihat Elara datang siswi tersenyum hangat.
Elara langsung mengenalinya.
Siswi yang membela dirinya saat keributan dengan Sabrina tadi.
Elara berjalan mendekat. "Terima kasih sudah membantu waktu tadi."
Siswi itu menggeleng pelan. "Tidak masalah. Lagi pula memang Sabrina yang memulai merundungmu."
Siswi itu mengangkat buku-buku itu. "Aku sudah mengeringkan dan memperbaikinya."
Elara terkejut. Ia mengambil salah satu buku.
Halaman-halamannya kembali rapi. Seolah tidak pernah terkena air.
Elara menatapnya dengan kagum. "Kau memperbaikinya dengan sihir?"
Siswi itu mengangguk. "Sihir pemulihan kecil." Ia tersenyum malu-malu. "Maaf kalau tidak sempurna."
Elara duduk di sampingnya. Ia melihat buku-buku itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak. Ini sangat membantu sekali," ujar jawab Elara.
Siswi itu menatap Elara dengan mata berbinar. "Aku justru yang terkejut. Kau berlari dua jam tanpa berhenti."
Elara tertawa kecil. "Karena di akademi lamaku lari adalah hal dasar untuk menjadi seorang kesatria."
Siswi itu tersenyum. Senyumnya sangat lembut. Lalu ia berkata, "Namaku Evangeline. Evangeline Whitmore."
Elara tersenyum ramah. "Aku Elara Ravens."
Evangeline mengangguk. "Aku tahu. Aku sudah mendengar soalmu.".Ia menatap Elara dengan hangat. "Senang bertemu denganmu."
Angin sore bertiup lembut di taman akademi. Daun-daun berdesir pelan.
Dan tanpa disangka hari itu menjadi awal dari sesuatu yang penting.
Karena pada hari itu Elara Ravens akhirnya mendapatkan seseorang yang tidak menjauhinya.
Seseorang yang akan menjadi sahabatnya.
Seseorang yang kelak akan berdiri di sisinya dalam pertarungan di masa depan.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜