NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

1 bulan berlalu….

Hari itu toko Florista tidak seramai biasanya.

Bukan karena tidak ada pelanggan.

Tapi karena ada dua pria berseragam rapi berdiri di depan meja kasir sambil memegang map cokelat.

Zara berdiri kaku di samping bibinya.

“Jadi sesuai perjanjian, jika dalam waktu satu bulan tidak ada pelunasan, properti ini akan kami sita.”

Kata-kata itu terdengar seperti palu hakim.

Tokonya.

Rumahnya.

Satu-satunya sumber penghasilan mereka.

Setelah dua pria itu pergi, suasana menjadi sunyi.

Bibi Ratna duduk perlahan di kursi kayu.

“Bibi nggak bilang karena kamu pasti kepikiran,” ucapnya pelan.

Zara menahan napas.

“Sejak kapan?”

“Enam bulan lalu. Bibi agunkan sertifikat rumah buat tambahan modal. Supplier naik,  semuanya naik.”

“Kenapa nggak bilang ke aku, Bi?”

“Kamu sudah cukup kerja keras.”

Kalimat itu justru membuat dada Zara makin sesak.

 Sore itu, untuk pertama kalinya, ia berjalan menuju taman tanpa semangat.

Langkahnya lebih pelan.

Tidak ada gumaman.

Tidak ada senyum.

Kakek Jo sudah duduk di bangku, memegang dua botol air mineral.

Begitu melihat Zara, alisnya sedikit berkerut.

“Hari ini tidak membawa es teh?”

Zara duduk tanpa menjawab.

Ia menerima air mineral itu tanpa protes.

Jonathan memperhatikannya diam-diam.

Biasanya gadis ini akan bercerita bahkan sebelum ia sempat bertanya. Hari ini, ia hanya menatap lurus ke depan.

“Kamu ada masalah?” tanyanya akhirnya.

Zara langsung refleks. “Nggak kok.”

“Bohong.”

Zara menoleh cepat. “Kok Kakek tahu?”

“Kamu tidak menyebut saya ‘Kakek ganteng’ hari ini.”

Zara hampir tersedak airnya.

“Hah?”

“Biasanya kamu selalu punya komentar.”

Zara menunduk.

Hening beberapa detik.

Jonathan menghela napas pelan.

“Coba ceritakan. Mungkin kakek yang ganteng ini bisa bantu.”

Zara mengangkat wajah perlahan.

“Bantu dengar maksudnyaaa,” tambah Jonathan cepat, pura-pura santai.

Zara menatapnya lama.

“Kita sahabat bukan?”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa membuat hati Zara terasa sedikit lebih ringan.

Ia menatap taman yang mulai sepi.

Awalnya ia ingin tetap kuat. Tidak mau merepotkan siapa pun.

Tapi lelaki tua di sampingnya ini… sudah menjadi rutinitasnya.

Dan sahabat tidak pura-pura tidak peduli.

“Toko dan rumah mau disita kek,” ucapnya akhirnya pelan.

Jonathan tidak langsung merespons.

“Karena hutang, Bibi agunkan sertifikat rumah buat tambahan modal, dan satu bulan lagi kalau nggak lunas, selesai.”

Ia tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan.

“Lucu ya. Toko bunga kok nasibnya layu.”

Jonathan menatap lurus ke depan, tapi rahangnya sedikit mengeras.

“Berapa?”

Zara langsung menoleh. “Hah?”

“Berapa jumlahnya?”

Zara menggeleng cepat. “Eh jangan, Kakek. Jangan mikir mau bantu uang. Saya cerita bukan untuk itu.”

“Saya hanya bertanya zara.”

“Lumayan banyak,” jawabnya akhirnya pelan.

“Dan itu tanggung jawab saya juga, itu toko satu satunya penghasilan kami.”

“Kamu masih muda.”

“Justru itu. Masih muda, masih kuat.”

Jonathan meliriknya.

“Apa rencanamu?”

Zara menarik napas dalam.

“Saya harus cari kerja tambahan. Atau kerja tetap yang gajinya lebih besar. Biar toko bisa diselamatkan.”

“Toko itu penting sekali untukmu?”

Zara tersenyum tipis.

“Itu satu-satunya peninggalan ibu saya. Nama Florista itu dari beliau.”

Jonathan terdiam.

Ia melihat sesuatu yang berbeda hari ini.

Biasanya gadis ini penuh cahaya. Hari ini, cahayanya redup… tapi tidak padam.

“Kalau kamu harus memilih antara meninggalkan toko atau meninggalkan mimpimu?” tanyanya pelan.

Zara tertawa kecil.

“Mimpi saya ya cuma itu, Kek. Toko itu.”

Angin sore berembus pelan.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Jonathan merasa tidak berdaya bukan karena bisnis, bukan karena rapat, tapi karena seorang gadis kecil dengan hati terlalu besar.

“Kamu tidak sendirian,” ucapnya pelan.

Zara tersenyum.

“Tau. Kan ada Kakek ganteng.”

Jonathan mendengus pelan.

“Besok saya mulai cari lowongan,” lanjut Zara.”

 “Yang penting bisa bantu cicil. Malu sih kalau harus ninggalin toko, tapi ya hidup nggak selalu sesuai rencana.”

Jonathan menatapnya.

Hidupnya sendiri penuh rencana. Terstruktur. Terhitung.

Gadis ini berbeda.

Ia menerima badai sambil tetap bercanda.

“Kamu kuat sekali,” gumamnya tanpa sadar.

Zara menoleh.

“Enggak kok. Cuma nggak punya pilihan saja kek.”

Jawaban itu menancap dalam.

Matahari mulai tenggelam.

Zara berdiri.

“Makasih ya udah dengerin. Lumayan, beban saya pindah sedikit ke Kakek.”ucap zara sambil tertawa bercanda.

“Saya tidak keberatan.”

“Zara pamit pulang duluan yak kek..Kakek hati-hati pulangnya.”

Zara berjalan pergi dengan langkah sedikit lebih tegak dan melambaikan tangan.

Jonathan tetap duduk di bangku itu lebih lama dari biasanya, melihat zara pergi sampai tak terlihat pandangan lagi.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku.

Menatap layar beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

“Florista,” gumamnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya, seorang pengusaha besar mulai memikirkan sesuatu bukan sebagai Direktur Utama.

Tapi sebagai…

Kakek ganteng.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!