NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 102: Petak Umpet Sang Pembunuh

Satu tahun telah berlalu sejak insiden penangkapan kelinci putih di taman.

Zhao Xuan kini berusia empat tahun. Tubuh balitanya tumbuh dengan sehat dan sedikit lebih tinggi, meski pipinya masih sama montoknya berkat suapan paksa kue-kue manis dari ibundanya dan Kakak Keduanya, Zhao Ling.

Siang itu, di dalam Aula Belajar Istana Kerajaan Zhao, suasana terasa sangat mengantuk.

Tuan Guru Sun, seorang pria tua bijaksana dengan janggut putih panjang, sedang memegang sebuah gulungan bambu tebal. Ia adalah penasihat militer tertinggi kerajaan yang ditugaskan untuk mengajari Pangeran Mahkota Zhao Tian (kini 13 tahun) tentang Strategi Perang Fana. Zhao Ling (8 tahun) juga diwajibkan ikut agar "sikap liarnya" sedikit lebih terpelajar.

Dan tentu saja, Zhao Xuan ada di sana. Karena Sang Ratu tidak ingin si bungsu merasa ditinggalkan, Xuan'er kecil duduk di sudut ruangan di atas karpet tebal, ditemani oleh setumpuk balok kayu mainan berukir hewan.

"Pangeran Mahkota," suara Tuan Guru Sun berdehem, memecah kesunyian. "Jika sebuah benteng musuh berada di atas tebing, dan mereka memiliki persediaan gandum untuk enam bulan, sementara pasukan Anda hanya memiliki persediaan untuk dua bulan... Apa yang akan Anda lakukan untuk menaklukkan mereka tanpa mengorbankan terlalu banyak nyawa prajurit?"

Zhao Tian mengerutkan keningnya, berpikir keras. "Hmm... Aku akan... mengirim utusan untuk bernegosiasi? Atau mungkin membangun ketapel raksasa untuk menghancurkan gerbang utama mereka dari bawah?"

Di sebelahnya, Zhao Ling sedang menopang dagu dengan mata yang sudah setengah tertutup, nyaris mendengkur pelan.

Di sudut ruangan, Zhao Xuan sedang menumpuk balok kayunya membentuk sebuah menara yang sangat simetris dan presisi. Telinga kecilnya mendengar pertanyaan Tuan Guru Sun.

Pertanyaan strategi yang sangat primitif, batin mantan sang Asura. Jika ini adalah Benua Tengah, aku hanya perlu meninju tebing itu hingga runtuh. Tapi ini dunia fana. Mari kita lihat... ketapel tidak akurat dan memakan waktu. Negosiasi adalah kelemahan.

Tanpa sadar, saat menyusun balok terakhir di puncak menaranya, mulut kecil Zhao Xuan bergumam pelan, namun suaranya cukup jernih terdengar di Aula Belajar yang hening.

"Racuni sumber air tanah mereka, dan bakar lumbung gandumnya di malam hari menggunakan panah api yang diikatkan pada kelelawar. Mengapa harus repot-repot menunggu dua bulan jika benteng itu bisa diisi oleh mayat dalam tiga hari?"

Hening.

Zhao Ling yang setengah tertidur langsung terbangun. Zhao Tian membelalakkan matanya lebar-lebar menatap adiknya. Tuan Guru Sun menjatuhkan gulungan bambunya ke lantai dengan mulut terbuka lebar.

Zhao Xuan yang baru menyadari bahwa ia telah menyuarakan taktik pembantaian absolutnya, perlahan menoleh. Ia menatap ketiga wajah yang terkejut itu dengan ekspresi datar tanpa dosa, lalu dengan polosnya memiringkan kepalanya.

"Kelelawar... lucu," ucap Zhao Xuan datar, mencoba menyelamatkan situasinya dengan akting balita.

Tuan Guru Sun menelan ludah. Keringat dingin menetes di dahinya. "Pangeran... Pangeran Ketiga... dari mana Anda mendengar taktik... yang sangat... efisien namun mengerikan itu?"

"Dari dongeng sebelum tidur Kak Ling," jawab Zhao Xuan cepat, melemparkan kesalahan tanpa ragu sedetik pun.

Zhao Ling tersentak, "Eh?! Kapan aku pernah cerita soal meracuni air?!"

"Sudahlah, mari kita lanjutkan pelajaran membaca puisi saja!" potong Tuan Guru Sun dengan panik, memungut gulungannya dengan tangan gemetar. Ia memutuskan untuk tidak pernah lagi menanyakan taktik militer di dekat Pangeran Bungsu yang tampaknya memiliki bakat alami sebagai seorang tiran penakluk.

Sore harinya, matahari mulai condong ke barat. Pelajaran telah usai, dan saatnya untuk mimpi buruk harian Zhao Xuan: Waktu Bermain.

"Xuan'er! Kali ini giliranku yang berjaga! Kalian berdua bersembunyi!" seru Zhao Ling dengan penuh semangat di halaman belakang istana. "Aku akan berhitung sampai dua puluh! Jika aku menemukan kalian, kalian harus memakan sayur peria pahit saat makan malam!"

Zhao Tian mengeluh panjang. "Ling'er, aku ini Pangeran Mahkota! Masa aku harus main petak umpet... baiklah, baiklah, aku bersembunyi!" Zhao Tian segera berlari menuju area bebatuan hias ketika melihat adiknya mulai merengut.

Zhao Ling menutup matanya dan bersandar ke pohon persik. "Satu... dua..."

Zhao Xuan berdiri di tengah jalan setapak batu. Ia menghela napas panjang. Tubuh balitanya memang mudah lelah, dan sejujurnya, ia hanya ingin tidur siang di paviliun.

Petak umpet, batin Zhao Xuan. Seni menghilangkan hawa keberadaan. Di kehidupanku sebelumnya, aku pernah bersembunyi di bayangan kaisar selama tiga hari tanpa ketahuan.

"Tujuh... delapan..."

Zhao Xuan mulai berjalan perlahan. Ia tidak berlari seperti anak-anak pada umumnya. Ia mengatur ritme napasnya menjadi sangat panjang dan lambat, meniru Seni Napas Kura-Kura yang pernah ia gunakan untuk menghindari deteksi ahli tingkat Soul Transformation. Meski ia tidak memiliki Qi, teknik mengendalikan detak jantung dan pergerakan otot adalah murni kendali fisik.

Ia berjalan menuju paviliun utama. Ia melihat sebuah vas porselen raksasa dan tiang kayu penyangga atap yang diukir dengan relief awan.

Dengan kelincahan tubuh balita yang luar biasa lentur, Zhao Xuan memanjat celah antara vas dan tiang itu tanpa menimbulkan suara decit kayu sedikit pun. Ia menemukan sebuah ceruk kecil di bagian atas balok penyangga atap yang benar-benar tertutup oleh bayangan genteng. Ia melipat tubuh kecilnya di sana, memejamkan mata, dan tertidur.

"Dua puluh! Aku datang!"

Tiga puluh menit kemudian, kekacauan meledak di Istana Zhao.

"Kak Tian! Berhenti bersembunyi, kau sudah kutemukan di balik semak-semak!" teriak Zhao Ling yang mulai panik. "Tapi di mana Xuan'er?!"

"Aku tidak tahu! Bukankah dia lari ke arah kolam teratai?!" Zhao Tian ikut panik. Rambutnya dipenuhi dedaunan kering.

Gagal menemukan adik bungsu mereka setelah mencari ke setiap sudut taman, berita hilangnya Pangeran Ketiga akhirnya sampai ke telinga Raja dan Ratu.

"Apa maksud kalian Xuan'er hilang?!" Raja Zhao bergegas keluar dari ruang tahta bersama Sang Ratu yang wajahnya pucat pasi. "Kunci semua gerbang istana! Kerahkan seluruh Pengawal Kerajaan! Geledah setiap ruangan!"

Ratusan pengawal lapis baja segera berlarian menyisir taman, paviliun, dan kolam. Pelayan-pelayan menangis ketakutan. Zhao Ling sudah terisak-isak di pelukan ibunya, merasa bersalah karena memaksa adiknya bermain.

"Xuan'er! Xuan'er sayang, di mana kau?!" Sang Ratu memanggil dengan suara bergetar.

Dua jam berlalu. Matahari telah terbenam dan puluhan lentera mulai dinyalakan. Istana dalam keadaan darurat militer. Jenderal Pengawal Kerajaan bahkan sudah bersiap melapor bahwa Pangeran mungkin telah diculik oleh pembunuh bayaran dari kerajaan musuh.

Tepat saat Raja Zhao memerintahkan pencarian ke luar tembok istana...

Nguap.

Sebuah suara uapan kecil, yang sangat kontras dengan kepanikan ratusan orang di bawah, terdengar dari atas balok paviliun tempat Raja dan Ratu sedang berdiri.

Semua orang langsung terdiam dan mendongak ke atas secara perlahan.

Di sana, dari balik bayangan atap yang sempit dan mustahil dijangkau oleh balita tanpa tangga, wajah montok Zhao Xuan menyembul keluar. Ia mengucek matanya yang mengantuk, lalu menatap kerumunan ratusan prajurit, tombak, dan wajah-wajah panik dengan ekspresi datar khasnya.

"Apakah Kak Ling sudah selesai berhitung?" tanya Zhao Xuan dengan polosnya.

Raja Zhao, Sang Ratu, Zhao Tian, Zhao Ling, dan ratusan Pengawal Elit hanya bisa melongo. Jenderal Pengawal bahkan sampai menjatuhkan helmnya ke tanah.

"X-Xuan'er..." Raja Zhao bergumam tak percaya. "B-Bagaimana kau bisa naik ke sana tanpa ada yang melihat?!"

Alih-alih menjawab, Zhao Xuan merasa posisinya sudah ketahuan. Ia menggeser tubuh balitanya, lalu dengan santai merosot meluncur turun menyusuri tiang kayu berukir itu. Gerakannya begitu mulus dan tanpa gesekan, layaknya seekor kucing luwak yang sedang turun dari pohon. Ia mendarat dengan aman di atas lantai paviliun.

Tanpa mempedulikan wajah syok keluarganya, Zhao Xuan menepuk-nepuk jubah sutranya yang sedikit berdebu, menatap lurus ke arah Zhao Ling, dan berkata:

"Aku menang. Aku tidak akan makan sayur peria malam ini."

Keluarga kerajaan itu tidak marah. Sang Ratu langsung menerjang maju, memeluk si bungsu dengan derai air mata kelegaan. Zhao Ling dan Zhao Tian ikut bergabung, menangis sambil tertawa. Sementara itu, Raja Zhao dan Jenderal Pengawal saling berpandangan dengan tatapan ngeri sekaligus takjub.

Pangeran bungsu mereka bukan hanya anak yang diam, tapi entah bagaimana, ia adalah hantu kecil yang bisa mengecoh seluruh sistem keamanan istana hanya karena tidak ingin makan sayur pahit.

Di pelukan keluarganya yang hangat, Zhao Xuan menghela napas pasrah. Meskipun kehilangan kekuatan menghancurkan benua, menjadi pangeran bungsu di dunia fana ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi sekte kuno.

1
MF
fghuihffxdfgghju
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!