“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang, Cinta dan Permainan
Kania mengusap foto usang itu dengan mata berkaca. Foto dirinya bertiga dengan dua orang pria. Dua pria yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya … dan salah satunya yang akhirnya mengubah hidupnya menjadi seperti sekarang.
“Papa kamu masih hidup, Zayn,” bisiknya lirih. “Tapi buat Bunda … dia sudah lama mati.”
Ia menelan napas berat.
“Maafkan Bunda, Sayang. Bunda juga nggak tahu apa suatu hari nanti masih sanggup menghadapi Papa kamu.”
Kania memejamkan mata, berharap kenangan itu menghilang. Namun yang datang justru sebaliknya. Potongan masa lalu itu kembali muncul dengan jelas di benaknya.
“Aku hamil.”
Saat itu ia mengatakannya dengan tangan gemetar kepada pria yang menjadi ayah dari janin di rahimnya.
Namun reaksi pria itu justru di luar dugaan. “Kamu yakin itu bayiku?”
Kania tertegun. “Maksud kamu apa? Ini anak kita. Anak kamu.”
Pria itu mendengus kasar.
“Aku belum siap menikah. Aku masih mau mengejar mimpi-mimpiku.” Ia menatap Kania dingin. “Gugurkan saja kandungannya. Aku yang akan bayar semuanya.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya. Kania bahkan tidak punya kekuatan untuk membalas.
Tangannya kembali menggenggam foto itu erat.
“Maafkan Bunda, Sayang,” bisiknya lirih. “Apa yang harus Bunda katakan … kalau papa kandungmu saja tidak pernah mau mengakui kamu sebagai anaknya?”
Setetes air mata jatuh di atas foto yang ia pegang. Dengan napas berat, ia menyelipkan foto itu di sela buku lalu kembali meletakkannya ke dalam laci.
***
Malam semakin larut, tetapi mata Sekar tak juga terpejam. Ia berbalik menatap suaminya yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Dengkur halus Raka memecah keheningan kamar.
Sekar menatap langit-langit beberapa detik.
Sekarang apa? Dia sudah mengkhianati janjinya. Bahkan janji dengan Tuhan saja dia bisa ingkari? Lalu apa yang kamu harapkan dengan pria sepertinya? pikirnya.
Apa yang harus ia lakukan setelah mengetahui suaminya berselingkuh? Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Tangannya meraih ponsel Raka di atas nakas dengan hati-hati.
Layarnya terbuka dengan mudah. Sekar mulai memeriksa semuanya. Pesan. Riwayat panggilan. Galeri foto. Tidak ada apa-apa. Tidak ada chat mesra. Tidak ada foto mencurigakan. Tidak ada jejak apa pun. Raka benar-benar rapi menutupi semuanya.
Sekar mengembuskan napas panjang. Namun tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya.
Mobile banking.
Tangannya sempat membeku ketika Raka mengigau pelan, tetapi pria itu kembali terlelap beberapa detik kemudian. Sekar membuka aplikasi itu. Jemarinya bergerak cepat hingga sampai pada mutasi rekening.
Dan seketika napasnya tertahan. Beberapa kali transfer tercatat ke nomor yang sama.
Sepuluh juta. Lima juta. Delapan juta. Belum lagi beberapa pembayaran hotel, restoran, dan kafe. Semuanya tercatat rapi.
Sekar menatap satu nama yang muncul berulang kali di layar.
“Anita Wibisono …. Jadi itu nama gundik yang kamu pelihara, Mas?” Bisikannya nyaris tak terdengar.
“Ini rekening pribadi Mas Raka,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin ini urusan pekerjaan.”
Dadanya terasa sesak.
“Kamu kasih dia fasilitas. Kamu kasih dia nafkah lahir dan batin. Kamu kasih dia semuanya ….” Suaranya bergetar. “Dan kamu lakukan itu tanpa pernah memikirkan perasaanku.”
Sekar mengembuskan napas kasar. Ponsel itu ia letakkan kembali di atas nakas. Perempuan itu berjalan pelan menuju balkon. Langit malam tampak cerah, namun sebaliknya hatinya justru berselimut mendung.
Tiba-tiba ia teringat perkataan Maisya beberapa hari lalu.
“Tipe laki-laki seperti Raka itu provider. Dia merasa sudah memberi segalanya buat kamu—uang, kenyamanan, kebutuhan. Jadi dunia luar itu miliknya.”
Sekar tersenyum tipis. “Kalau begitu kita lihat saja, Mas,” bisiknya dingin.
Tangannya mengepal. “Kamu berani menguras uangmu untuk perempuan itu …”
Ia menatap langit malam dengan mata tajam. “Sekarang giliranku.”
***
Suasana pagi itu tenang. Beruntung Sekar tidak mengalami mual dan muntah yang parah. Hanya sedikit rasa mual di pagi hari, itupun tidak lama. Ia selalu bersyukur untuk itu.
“Kamu pengertian sekali sama Mama. Terima kasih sudah jadi tim yang solid, Sayang,” bisiknya lembut sambil mengusap perutnya.
Raka yang duduk di seberangnya ikut menatap perut Sekar dengan senyum hangat.
“Kamu nggak ada ngidam apa gitu, Sayang? Biasanya ibu hamil, kan, suka ngidam yang aneh-aneh,” katanya sambil menyuapkan nasi ke mulut.
Sekar menyesap jusnya pelan. “Ngidam sih ada, Mas ... tapi nggak enak ngomongnya.”
Raka langsung tertarik. “Loh, kenapa? Sayang mau apa? Mas beliin.”
Sekar menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Tapi agak mahal, gimana Mas?
“Kemarin aku lihat katalog Black Swan, Mas. Ada cincin berlian keluaran terbaru. Bagus banget.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Boleh minta itu?”
Raka hanya melirik sekilas. “Cuma itu? Berapa harganya? Mas transfer saja uangnya ke kamu.”
Sekar menatapnya seolah memastikan. “Beneran boleh, Mas? Tapi … aku sebenarnya nggak butuh-butuh banget, sih. Cuma suka saja sama modelnya.”
Raka tersenyum santai.
“Boleh, dong, Sayang. Mas kerja juga buat kamu. Buat anak kita.” Ia mengambil ponselnya dengan cepat. “Lagian kata orang, kalau ibu hamil nggak diturutin ngidamnya nanti anaknya ileran.”
Beberapa detik kemudian ia sudah menurunkan ponselnya.
“Sudah. Mas transfer 30 juta. Cukup? Kalau kurang bilang saja, nanti Mas tambah.”
Sekar tersenyum manis. “Makasih, ya, Mas ...”
Namun di dalam hatinya ia justru dingin.
Ternyata benar kata Maisya … Selama uang bisa menyelesaikan semuanya, Mas Raka tidak akan pernah mempermasalahkan apa pun. Pantas saja dia begitu mudah membeli perempuan lain. Selama ada uang, semua bisa ia selesaikan.
***
Sekar mengembuskan napas panjang sebelum memasang senyum manis. Ia melangkah masuk ke rumah mertuanya.
“Mama, Sekar datang …,” serunya pelan dari ruang depan.
Ayunda muncul dari dalam rumah sambil tersenyum hangat.
“Loh, kok, nggak bilang dulu kalau mau datang? Kan, Mama bisa masakin sesuatu buat kamu.”
Sekar menggeleng cepat.
“Nggak usah repot, Ma. Sekar ke sini cuma mau jemput Mama, kok.” Ia meraih tangan Ayunda dengan akrab. “Jalan-jalan, yuk, Ma. Sudah lama kita nggak keluar bareng. Sebentar saja, yang dekat-dekat sini.”
Ayunda menatapnya heran.
“Mau ke mana? Beli perlengkapan bayi?”
“Bukan.” Sekar kembali menggeleng. “Cuma jalan-jalan saja. Mumpung habis dikasih uang jajan sama Mas Raka. Kita habiskan, yuk, Ma.”
Ia menyeringai kecil sambil mengangkat kartu ATM di tangannya.
Ayunda terkekeh pelan, menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya.
“Memangnya dikasih berapa sama suami kamu?”
Sekar mengedikkan bahu.
“Ada, deh. Pokoknya cukup buat kita senang-senang hari ini.” Ia merangkul lengan Ayunda dengan manja. “Yuk, kita habiskan uang anak Mama.”
Ayunda kembali tertawa, akhirnya menuruti ajakan itu.
Tak lama kemudian mereka sudah berjalan di dalam mal, sekadar melihat-lihat etalase toko. Sekar sesekali membeli camilan sehat untuk Ayunda, lalu tanpa sadar mereka mulai berbelanja.
Dalam hitungan menit, tangan mereka sudah dipenuhi beberapa kantong belanja. Baju, sepatu, juga beberapa aksesori.
Sekar bahkan sengaja memilih beberapa lingerie, hanya untuk memanasi Raka—meskipun ia sama sekali tidak berniat memakainya.
“Ma, yang ini gimana?”
Sekar menunjukkan dua potong lingerie berbahan satin, satu hitam dan satu berwarna pink fanta.
Ayunda tersenyum simpul.
“Dua-duanya bagus. Ambil saja. Toh buat menyenangkan suami. Dapat pahala.”
Sekar nyengir, bahkan sempat terkekeh kecil. Namun di dalam hatinya justru terasa perih.
Suamiku sudah mencari kesenangannya sendiri di luar sana, Ma.
“Mama ini bisa saja,” gumam Sekar sambil memasukkan dua pakaian itu ke keranjang.
Ayunda menatapnya dengan wajah penuh kasih.
“Mama senang dan bersyukur punya menantu seperti kamu, Sekar. Pengertian, baik, dan sayang sama suami.”
Sekar memeluk wanita itu lembut.
“Sekar juga senang bisa jadi menantu Mama.” Ia tersenyum hangat. “Mertua paling baik sedunia.”
Ayunda tertawa kecil, sementara Sekar menunduk sejenak. Senyumnya masih terpasang rapi. Tapi jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa semakin dingin.
Setelah membayar, mereka kembali berjalan. Sekar sengaja membawa Ayunda ke toko perhiasan, tempat cincin yang sempat ia bicarakan dengan Raka. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mertuanya.
“Nggak usah, Nak. Buat kamu aja,” kata Ayunda sambil tersenyum hangat.
“Ish, Mama … kan biar kita kembaran.” Sekar membujuk, matanya berbinar. “Tenang, ini uang anak Mama, halalan toyiban,” bisiknya penuh akal.
Mereka memilih-milih cincin berlian yang paling mereka sukai. Sekar menyeringai puas saat menerima struk pembelian. Ia segera mengeluarkan ponselnya, memotret struk itu, lalu mengirimkannya kepada Raka.
“Sayang, kurang dua puluh juta. Tadi belanja sama Mama, aku belikan Mama cincin juga. Nggak apa-apa, kan? Kamu transfer, ya … makasih, Mas Sayang…,” tulisnya dengan manja, disertai foto selfie dirinya dengan Ayunda tersenyum di sisinya.
“Ma, makan dulu, yuk. Cucu Mama kelaperan,” bisiknya lembut sambil menggandeng Ayunda, menatap mata mertuanya penuh kasih.
Di tempat yang berbeda, seorang wanita membaca pesan itu sambil menggeram penuh amarah.
“Mas, Sekar belanja perhiasan baru? Mas kasih uang sama dia?” Anita—yang berada di ruangan Raka— tak bisa menahan emosinya saat menatap layar ponsel.
Raka hanya melirik sebentar. “Ya sudah, biarin aja. Toh itu memang haknya dia, kan? Nggak usah rewel.”
“Mas, ini struknya sampai lima puluh juta, loh! Sekar belanja sama Mama kamu juga!” Anita masih memprotes dengan wajah merah.
Raka menghela napas panjang, merebut ponsel dari tangan Anita. Setelah menatapnya sebentar, ia mengetik pesan singkat dan mengirimkannya, lalu meletakkan ponsel kembali di meja.
“Kamu nggak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku, Anita. Aku mencukupi semua kebutuhanmu, semua keinginanmu. Kamu juga dapat jatah nafkah dari aku. Jadi, adil, kan? Sudah, lebih baik kamu kembali ke kantor sekarang. Aku ada rapat setelah ini, nanti sore kita ketemu di apartemen.”
Anita mendengus kesal sebelum berlalu, sementara Raka kembali menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.
Sekar, di sisi lain, tersenyum manis di dekat Ayunda, tidak menyadari efek pesan itu. Namun, setiap langkahnya—dari belanja hingga selfie bersama mertuanya—adalah bagian dari strategi halusnya.
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂