Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12- Di Balik Rak Hobi
Matahari sore menyelinap masuk melalui celah-celah jendela besar di bagian depan toko, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang penuh dengan debu halus yang menari-nari. Suasana toko hari ini tidak terlalu ramai, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan sandal pelanggan yang sesekali lewat di lorong sastra.
Alea sedang berdiri di atas tangga kecil, mencoba menjangkau rak paling atas di bagian buku hobi dan kerajinan tangan. Sudah satu tahun ia bekerja di sini, dan setiap sudut toko ini sudah ia hafal di luar kepala, setiap retakan di lantai kayu, hingga aroma kertas lama yang berbeda di tiap lorong. Baginya, toko ini adalah tempatnya bersembunyi saat perasaannya sedang berantakan, tempat di mana ia bisa mematikan emosinya dan menjadi robot yang hanya tahu cara memindai kode batang.
“Kamu akan jatuh kalau terus bertumpu pada ujung kaki seperti itu,” suara bariton itu muncul tanpa salam pembuka, memecah konsentrasi Alea.
Alea hampir saja kehilangan keseimbangan karena terkejut. Ujung sepatunya selip di anak tangga kayu, namun ia berhasil mencengkeram pinggiran rak dengan buku-buku tebal sebagai penahannya. Ia menarik napas tajam, lalu menoleh ke bawah.
Aksa berdiri di sana, menatapnya dengan tangan terselip di saku celana. Kali ini ia tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung asal hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang tegas. Penampilannya sedikit lebih santai, tapi matanya tetap memiliki daya rusak yang sama terhadap ketenangan Alea.
“Aku sudah melakukan ini ratusan kali selama setahun terakhir, Aksa. Aku tahu di mana titik gravitasi tubuhku sendiri,” balas Alea sembari turun dari tangga dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
Aksa tidak bergeser satu inci pun dari posisinya, memaksa Alea untuk berdiri sangat dekat dengannya saat kaki wanita itu menyentuh lantai. Jarak mereka begitu intim hingga Alea bisa mencium aroma musk yang bercampur dengan bau hujan yang tertinggal di kemeja Aksa.
“Titik gravitasi itu fisik, Alea. Tapi mentalmu sedang miring,” ucap Aksa rendah, matanya seolah sedang menguliti lapisan pertahanan di wajah Alea. “Sedikit gangguan saja, kamu bisa limbung. Bukan karena tangganya, tapi karena kakimu sendiri tidak mau menapak di realita.”
Alea mendengus pelan, menolak untuk kalah dalam adu tatap itu. Ia mengangkat tangga kecil tersebut, memanggulnya dengan gerakan kasar menuju sudut rak.
“Kamu bicara seolah-olah hidup ini adalah simulasi fisika yang bisa kamu hitung hasilnya. Apa kamu selalu seserius ini setiap hari? Menghakimi orang lain sambil berdiri dengan kemeja mahal?”
Aksa mengikuti langkah Alea menuju meja kasir yang menjadi batas wilayah mereka.
“Pekerjaanku menuntut ketelitian. Kalau aku meleset satu persen saja dalam menilai risiko, banyak orang kehilangan masa depan mereka. Jadi, ya, aku selalu serius dalam menilai apa pun. Termasuk kamu.”
Alea berhenti, dan mulai merapikan tumpukan pembatas buku dengan gerakan mekanis.
“Terdengar sangat melelahkan. Hidup tanpa celah untuk melakukan kesalahan.”
“Lebih melelahkan hidup sebagai korban yang menunggu diselamatkan,” sahut Aksa telak. Ia menyandarkan sikunya di atas permukaan konter kayu, menatap Alea yang kini tertunduk. “Jam berapa biasanya kamu selesai bekerja? Kamu selalu muncul di sini saat matahari masih terang, seolah dunia di luar sana terlalu menakutkan untuk kamu hadapi tanpa rak buku sebagai pelindung.”
Alea tertegun, tangannya yang memegang kartu stok berhenti bergerak. “Jam kerjaku selesai pukul sembilan malam kalau lembur, kalau nggak ya jam enam sore. Dan aku di sini bukan karena takut pada dunia luar, tapi karena aku menyukai pekerjaan ini.”
“Bohong,” ucap Aksa singkat. “Kamu di sini karena di sini kamu bisa jadi tidak terlihat. Tapi sayangnya, bagiku, kamu terlihat sangat jelas.”
Alea mengangkat wajahnya, jantungnya berdegup tidak beraturan. “Kenapa kamu terus mampir ke sini, Aksa? Jalanan Jakarta memang menyebalkan saat macet, tapi aku yakin ada banyak cafe mewah di luar sana yang lebih layak untuk orang sepertimu daripada toko buku kecil yang berdebu ini.”
Aksa diam sejenak. Ia membiarkan matanya mengembara ke arah rak sastra klasik sebelum kembali pada Alea.
“Karena di cafe mewah, orang-orang bicara terlalu banyak tentang hal-hal yang tidak mereka mengerti. Di sini, setidaknya tidak ada yang mengajakku bicara tentang kontrak atau margin keuntungan. Sampai kamu mulai melakukan wawancara kerja barusan.”
Alea sedikit tersentak, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyum tipis yang tulus, bukan senyum ramah-tamah toko yang dipelajari secara otomatis. “Maaf kalau begitu. Aku tidak bermaksud menginterogasi pelanggan tetap.”
Aksa terpaku sejenak melihat senyum itu. Senyum yang membuat wajah letih Alea mendadak punya warna. “Tidak masalah. Setidaknya suaramu lebih enak didengar daripada suara asistenku yang selalu panik di telepon.”
Keheningan yang mengikuti kalimat itu tidak lagi terasa seperti medan perang. Ada kenyamanan aneh yang mulai merambat di antara mereka. Selama satu tahun bekerja di sini, Alea telah melayani ribuan orang, tapi belum ada yang membuatnya merasa diperlihatkan sekaligus dimengerti di saat yang bersamaan seperti pria kaku ini.
“Aku tinggal cukup dekat dari sini. Hanya perlu jalan kaki lima belas menit,” lanjut Alea, entah mengapa ia merasa ingin menjawab pertanyaan Aksa yang sebelumnya.
“Setahun di sini membuatku sadar kalau aku lebih suka bicara dengan buku daripada dengan orang-orang yang hanya lewat.”
Aksa mengangguk pelan.
“Stabilitas. Sesuatu yang langka di kota ini.”
“Mungkin,” sahut Alea pendek. ”Tapi stabilitas kadang terasa seperti penjara kalau kamu tidak hati-hati,” imbuhnya kembali.
Aksa menatap Alea dengan pandangan yang lebih dalam, jenis tatapan yang membuat Alea merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan di balik kepala pria itu.
“Penjara paling aman adalah yang kuncinya kamu pegang sendiri, Alea. Masalahnya, apakah kamu berani membuka pintunya?”
Alea tidak membalas. Ia hanya menatap balik pria itu, menyadari bahwa di balik kata-katanya yang seringkali brutal, Aksa memiliki sisi yang sangat, sepi.
“Aku harus pergi. Ada janji makan malam,” ucap Aksa akhirnya memutuskan kontak mata secara tiba-tiba, seolah ia sendiri takut terjebak terlalu lama dalam percakapan itu.
Aksa berbalik menuju pintu, namun sebelum tangannya menyentuh gagang kuningan, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Jangan terlalu sering memanjat tangga itu sendirian. Aku tidak suka melihat hal yang belum selesai... hancur sebelum waktunya.”
Pintu berdenting, dan Aksa menghilang di balik kerumunan trotoar. Alea berdiri diam, menatap pintu kaca yang masih bergetar. Kalimat terakhir Aksa menggantung di udara seperti teka-teki.
Hal yang belum selesai?
Alea menyadari satu hal, ia baru saja mengobrol dengan Aksa tanpa merasa ingin menangis. Tapi sebagai gantinya, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, ia mulai menunggu pukul empat sore berikutnya.