Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 - 20 Tahun yang Lalu
20 tahun lalu…
Di sebuah gang kecil yang selalu berbau tanah basah setelah hujan, dua anak laki-laki tumbuh dengan mimpi yang sama besar meski rumah mereka sederhana: menjadi polisi.
Satya Wardhana dan Antono Wijaya.
Mereka bertemu pertama kali saat kelas tiga SD, ketika guru meminta murid duduk berpasangan. Sejak hari itu, seolah ada garis tak terlihat yang mengikat keduanya. Pulang sekolah bersama. Mengerjakan PR bersama. Bahkan saat uang jajan hanya cukup untuk satu porsi nasi uduk, mereka makan sepiring berdua tanpa merasa kurang.
“Kalau nanti kita jadi polisi, kita satu tim, ya,” kata Satya suatu sore.
Antono mengangguk mantap. “Kita berdua lawan dunia.”
Persahabatan mereka terkenal di sekolah. Jika Satya dihukum, Antono ikut berdiri di sampingnya. Jika Antono sakit, Satya yang mengantar buku ke rumahnya. Tidak ada iri ketika salah satu mendapat nilai lebih tinggi. Mereka seperti dua sisi mata uang—berbeda, tapi tak terpisahkan.
Memasuki SMA, dunia menjadi lebih keras.
Antono tumbuh menjadi remaja yang cerdas namun pendiam. Ia lebih sering memegang buku daripada bola. Itulah yang membuatnya menjadi sasaran perundungan. Suatu sore, di lorong belakang gedung olahraga, sekelompok siswa senior mendorongnya hingga terjatuh. Buku-bukunya berserakan.
Satya muncul.
Tanpa ragu, ia berdiri di depan Antono. Tatapannya tajam, tubuhnya menegang. Perkelahian tak terhindarkan. Hasilnya bukan kemenangan mutlak, tapi cukup untuk membuat para senior berpikir dua kali sebelum menyentuh Antono lagi.
Sejak saat itu, nama mereka dikenal. Bukan hanya karena prestasi akademik, tetapi karena loyalitas yang nyaris berlebihan.
Persahabatan itu berlanjut hingga mereka lulus SMA dan diterima di akademi kepolisian—sebuah pencapaian yang mereka rayakan dengan duduk di atap rumah Satya, memandang lampu kota yang berkelip.
Di akademi, mereka semakin menonjol. Fisik mereka kuat, nilai teori mereka tinggi, dan analisis mereka tajam. Mereka sering menjadi contoh instruktur.
Saat kelulusan tiba, nama Antono disebut sebagai lulusan dengan prestasi tertinggi. Tepuk tangan menggema. Satya berdiri paling depan, tersenyum lebar, bertepuk tangan paling keras.
“Gue bilang juga apa,” katanya sambil memeluk Antono. “Lo memang pantas.”
Tak ada iri. Tak ada bayangan persaingan.
Mereka ditempatkan di unit yang sama: penyelidik.
Dua tahun pertama terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Mereka menangani kasus pencurian besar, sindikat narkoba kecil, hingga kasus korupsi tingkat daerah. Nama mereka mulai diperhitungkan.
Lalu datang satu kasus yang mengubah arah hidup keduanya.
Seorang hakim ditemukan tewas di rumahnya. Hakim itu sedang menangani perkara anak mantan presiden—kasus yang sensitif, sarat kepentingan politik, dan menjadi sorotan nasional.
Tekanan datang dari berbagai arah. Media memburu setiap informasi. Pimpinan menginginkan hasil cepat. Siapa pun yang berhasil mengungkap kasus ini akan dikenal seluruh negeri.
Satya dan Antono ditunjuk sebagai bagian inti tim penyelidik.
Mereka bekerja tanpa henti. Malam dihabiskan di ruang analisis, pagi di TKP. Mereka memetakan ulang pergerakan korban, mengurai daftar saksi, memeriksa setiap alibi dengan presisi.
Suatu malam, Antono menemukan pola yang mencurigakan. Sebuah benang merah yang mengarah pada satu nama besar—nama yang jika muncul ke publik, bisa mengguncang stabilitas.
Ia menunjukkan temuannya pada Satya.
Ruangan hening saat Satya membaca dokumen itu.
“Kalau ini naik ke atas,” bisik Satya, “akan banyak yang goyang.”
Antono mengangguk. “Tapi ini faktanya.”
Satya terdiam lama. Lalu berkata pelan, “Kalau harus ada yang berdiri di depan untuk ini… biar gue.”
Antono tidak membantah. Ia percaya pada sahabatnya. Percaya bahwa mereka tetap satu tim, apa pun yang terjadi.
Ketika kasus itu akhirnya terpecahkan, konferensi pers digelar besar-besaran. Media memuji keberanian tim penyelidik. Namun satu nama disebut paling dominan.
Satya Wardhana.
Ia menjadi wajah dari keberhasilan itu. Dipromosikan lebih cepat dari seharusnya. Dalam dua tahun setelah kelulusan, kariernya melesat.
Antono berdiri di belakang ruangan saat konferensi pers itu berlangsung. Tepuk tangannya tulus. Ia tidak merasa tersisih. Ia merasa bagian dari kemenangan itu.
Namun perlahan, ritme berubah.
Satya semakin sibuk. Rapat-rapat tingkat tinggi. Undangan televisi. Lingkaran pergaulan baru. Pertemuan mereka yang dulu hampir setiap hari kini menjadi sebulan sekali, lalu hanya kebetulan di lorong kantor.
Suatu hari, Antono memutuskan menemui Satya di ruangannya yang baru—lebih luas, dengan jendela besar dan lambang institusi terpasang megah di dinding.
Ia mengetuk.
“Masuk,” suara Satya terdengar datar.
Saat mata mereka bertemu, ada jeda sepersekian detik. Satya seperti mencoba mengingat.
“Oh… Ton. Duduk.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada candaan lama. Hanya formalitas yang tipis dan dingin.
Antono menepis rasa aneh di dadanya. Ia berpikir mungkin jabatan memang mengubah cara seseorang bersikap.
Ia masih berpikir positif.
Beberapa tahun berlalu. Karier Antono tidak naik, tapi juga tidak turun. Ia tetap bekerja dengan baik, menangani kasus dengan dedikasi tinggi. Hingga suatu hari, sebuah skandal internal menyeret namanya.
Laporan penyelidikan yang ia tangani dituduh mengalami manipulasi data. Ada saksi yang mengubah keterangan dan menyebut namanya. Media internal mulai berbisik.
Antono tahu ia tidak bersalah. Tapi arus opini bergerak cepat.
Ia tidak dipecat. Tidak ada bukti kuat untuk menghancurkannya sepenuhnya. Namun dampaknya cukup untuk membuat kariernya mandek. Ia dicoret dari daftar promosi. Dipindahkan ke divisi administratif yang jauh dari pusat pengambilan keputusan.
Bagi seorang penyelidik, itu seperti dipotong sayapnya.
Ia mendatangi satu orang yang ia yakini bisa membersihkan namanya.
Satya.
Di ruangan yang sama, Antono berdiri dengan wajah lelah.
“Lo tahu gue nggak mungkin lakuin itu,” katanya pelan. “Cuma perlu satu pernyataan dari lo. Lo atasan gue dulu. Lo tahu cara kerja gue.”
Satya berdiri di belakang meja, ekspresinya kaku.
“Jangan seret nama gue ke urusan ini, Ton.”
“Gue cuma minta lo ngomong yang sebenarnya.”
Satya menarik napas. “Ini sensitif. Gue nggak bisa ambil risiko.”
Kata “risiko” terdengar seperti jarak yang tak terjembatani.
“Jadi lo percaya gue bersalah?”
Satya tidak menjawab langsung. Ia hanya berjalan ke pintu dan membukanya.
“Gue lagi sibuk.”
Itu bukan teriakan. Bukan amarah.
Hanya penolakan yang dingin.
Sejak hari itu, karier Antono benar-benar berhenti di tempat. Ia tidak dipecat, tapi tak lagi dipertimbangkan. Setiap kali ada peluang kenaikan jabatan, namanya dilewati. Setiap kali ada kasus besar, ia tidak dilibatkan.
Di rumah, tekanan terasa lebih berat.
Istrinya mulai lelah dengan bisikan tetangga. Anak mereka menjadi bahan omongan di sekolah. Malam-malam diisi dengan pertengkaran pelan yang berubah menjadi diam panjang.
Hingga suatu hari, istrinya berkata, “Aku nggak kuat lagi, Ton.”
Mereka pergi.
Rumah yang dulu hangat menjadi sunyi.
Antono duduk sendirian di ruang tamu, memandangi foto lama—ia dan Satya berdiri berdampingan di hari kelulusan akademi, wajah penuh harapan.
Ia memutar ulang semuanya dalam pikirannya.
Sepiring nasi berdua.
Lorong SMA.
Janji di atap rumah.
Kasus hakim.
Konferensi pers.
Pintu yang dibuka tanpa empati.
Ia tidak merasa marah yang meledak-ledak.
Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih sunyi.
Dingin.
Sebuah kesadaran bahwa ia telah ditinggalkan ketika ia paling membutuhkan.
Dan di situlah dendam mulai tumbuh.
Bukan dendam yang terburu-buru.
Bukan dendam yang emosional.
Tapi dendam yang sabar. Yang menunggu waktu.
...****************...
Karena terlalu dekat dengan Satya, Antono juga dekat dengan keluarganya. Ia sering datang makan malam. Istri Satya memanggilnya seperti keluarga sendiri.
Dan ada seorang anak kecil yang selalu berlari menyambutnya.
Karina Intan.
Rambutnya dikuncir dua. Tawanya nyaring. Ia pernah duduk di pangkuan Antono dan bertanya polos, “Om Ton, nanti kalau aku besar, boleh jadi polisi juga?”
Antono tertawa. “Boleh. Om jagain.”
Ia pernah membelikannya es krim saat Satya lembur. Pernah menggendongnya saat ia tertidur di sofa.
Dulu, ia merasa menjadi bagian dari keluarga itu.
Kini, setiap kenangan itu berubah makna.
Karena suatu hari nanti, anak kecil bernama Karina itu akan tumbuh menjadi penyelidik.
Dan tanpa ia sadari…
Akan berdiri tepat di tengah rencana balas dendam yang telah lama dipupuk Antono Wijaya.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y