Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua. Ajakan Pertemuan
Hari-hari berlalu tanpa henti, sejak pertemuan itu, Anisa dan Zaki, semakin dekat, meskipun hanya berhubungan melalui chat di Instagram, keduanya saling berbagi kabar, tentang pekerjaan Anisa dan juga tentang kuliah Zaki.
Semuanya mengalir tanpa dibuat-buat, dan tanpa di sadari bulir-bulir perasaan tumbuh diantara keduanya, siang ini Anisa istirahat sejenak, setelah selesai mengerjakan tugas mulai subuh tadi.
Rasa lelah dibayar tuntas saat pekerjaannya selesai tanpa teguran besar. "Nis, kamu gak makan dulu," kata Eni teman seangkatannya.
"Ya makan lah, masak iya sudah kerja seharian gak makan," sahut Anisa dengan senyuman.
"Iya... ya, kan kita dari tadi udah kerja keras, ngapain nyia-nyiain waktu untuk makan," timpal Eni.
"Nah, itu tahu," pungkas Anisa.
Setelah percakapan singkat dengan rekan sesama ARTnya kini Anisa mulai mengambil piring, ia makan dengan pelan menikmati hidangan yang ia masak bersama dengan rekan-rekan yang lain.
☘️☘️☘️☘️☘️
Selesai makan siang, semua ART masuk ke dalam kamarnya masing-masing, begitu juga dengan Anisa, ia duduk di tepi ranjang kecilnya, lalu tangannya mulai meraih handphone, karena sudah hafal jika jam seperti ini, biasanya Zaki selalu mengabarinya lewat pesan.
Dan ya, dugaan Anisa tidak pernah meleset, Zaki mengirim pesan, tidak romantis tapi cukup membuat hati Anisa menghangat.
Zaki: Selamat siang... setelah kerja seharian jangan lupa makan ya.
Anisa menatap layar cukup lama, ada perasaan asing yang muncul ketika ia membaca pesan sederhana dari Zaki, dan ia pun mulai membalas.
Anisa: Makasih untuk perhatiannya, dan kebetulan aku sudah selesai makan.
Pesan itu sudah terkirim, hanya centang satu, Anisa berpikir mungkin Zaki masih sibuk, ia pun tidak mau membuang waktu, handphone ia taruh lalu segera melaksanakan kewajiban empat rakaat yang belum ia kerjakan.
Dan tanpa ia sadari, disaat ia selesai mengerjakan shalat, beberapa pesan dari Zaki mulai bermunculan, Anisa terkejut saat membuka handphone, melihat rentetan pesan itu.
"Astaga Zaki, kenapa kamu seperhatian itu," gumam Anisa.
Entah kenapa hatinya mulai nyaman dengan kehadiran Zaki, pemuda yang selalu perhatian, sopan dan tidak pernah memaksa, saat Anisa sedang meresapi, perhatian dari lawan jenisnya tiba-tiba saja pintu diketuk, dan ternyata Eni.
Ia hanya sekedar mengingatkan Anisa jika siang ini waktunya mengangkat jemuran yang sudah kering.
Anisa segera menyudahi lamunannya terhadap Zaki, pemuda yang berhasil membuat hatinya sedikit luluh.
Siang ini cuaca cukup terik disaat Anisa naik ke loteng tempat penjemuran baju, satu persatu baju ia tarik dari jemurannya, setelah itu ia masukkan ke dalam keranjang penuh, dengan hati-hati ia membawa tumpukan baju itu menuruni anak tangga.
Capek, tentunya iya, di usianya yang menginjak 18 tahun ini, seharusnya ia bersenang-senang menikmati masa mudanya, namun bagi Anisa itu tidak penting. Ia sadar jika dirinya hanya berasal dari keluarga sederhana yang butuh perjuangan, untuk sekedar membiayai diri sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, Anisa baru saja selesai menyetrika pakaian majikan. Punggungnya pegal. Ia masuk ke kamar kecilnya dan merebahkan diri. Seperti biasa, ia membuka ponsel sebentar sebelum tidur.
Pesan dari Zaki sudah menunggu.
Zaki: Anisa, besok libur?
Anisa mengetik sambil berbaring.
Anisa: Setengah hari. Kenapa?
Balasan Zaki sedikit lama. Seolah ia sedang menyusun kalimat.
Zaki: Kalau saya ajak ketemu, boleh?
Jantung Anisa berdetak sedikit lebih cepat, entah kenapa ajakan itu membuatnya serasa berbeda, belum pernah ada laki-laki mengajaknya bertemu sejak ia merantau. Hidupnya hanya kerja dan pulang.
Anisa ragu, namun jemarinya dengan refleks mulai menuliskan sesuatu.
Anisa: Ketemu di mana?
Zaki: Di tempat ramai saja. Saya cuma mau traktir makan. Sekalian terima kasih sudah bantu Umi waktu di imigrasi.
Alasan itu terdengar sederhana, logis dan tidak memaksa, namun Anisa tetap berhati-hati, ia baru beberapa Minggu mengenal pemuda itu.
Anisa: Saya gak bisa lama. Takut dimarahi majikan.
Zaki: Gak apa-apa. Satu jam saja. Kalau tidak nyaman, bilang ya.
Kalimat itu lagi-lagi membuat Anisa merasa dihargai, Zaki bukan tipikal pemuda pemaksa, justru itu membuat Anisa merasa nyaman.
Anisa berpikir sejenak, dalam hatinya ada suara yang ingin menolak, tapi di sisi lain ada juga rasa penasaran, dan meskipun dalam keadaan dilema ia pun memberanikan diri untuk membalas.
Anisa: Ya sudah. Tapi siang saja.
Zaki membalas dengan cepat.
Zaki: Baik. Saya jemput di depan minimarket dekat rumah majikan? Supaya aman.
Anisa terkejut, pasalnya ia hanya pernah menyebut alamat majikannya, tapi pemuda itu seolah sudah hafal dengan lokasi setempat.
“Dia hafal lokasi tempat ini?” batinnya, berucap.
Anisa: Jam dua siang.
Zaki: Siap. Terima kasih sudah mau.
Anisa mematikan layar ponsel, namun matanya masih belum terpejam, ada perasaan aneh, antara bahagia dan takut, namun ada harapan di tengah-tengahnya.
Dan rasa haru yang tiba-tiba muncul, bahwasannya masih ada seseorang di bumi ini yang memperlakukannya dengan baik, tanpa memandang statusnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, mentari serasa bersinar lebih cepat dari yang dirasa oleh gadis itu, Anisa masih sibuk dengan perdapuran, meskipun saat ini ada jadwal libur ia dan rekan-rekan tetap melakukan aktivitas paginya sebentar.
Dan setelah menyelesaikan pekerjaan pagi, Anisa meminta izin keluar sebentar. Majikannya mengizinkan karena memang hari itu tidak banyak pekerjaan.
Ia mengenakan celana panjang dengan atasan kaos lengan pendek, sederhana tapi sopan, dengan rambut yang dikuncir kuda dan poni yang menutupi kening membuat wajah Anisa terlihat lebih cantik dan fresh.
Saat tiba di depan minimarket, Zaki sudah berdiri di sana, pemuda itu tersenyum dadanya makin tak karuan melihat penampilan Anisa yang sederhana tidak mencolok, namun kecantikan alami pada gadis itu benar-benar membuatnya terpukau.
Zaki mendekat, kemeja rapi, dan senyum sopan terukir.
“Assalamu’alaikum, Anisa,” sapanya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Anisa pelan.
Zaki menjaga jarak. Tidak mencoba bersentuhan, dan itu membuat Anisa sedikit lega.
“Mau makan di mana?” tanya Zaki.
“Terserah,” jawab Anisa singkat.
Zaki mengajak Anisa ke sebuah rumah makan yang cukup tenang. Bukan tempat mewah, tapi juga bukan warung biasa. Saat pelayan datang membawa daftar menu, Zaki menyerahkannya pada Anisa lebih dulu.
“Pilih saja,” katanya ringan.
Anisa menunduk, membaca daftar harga dengan saksama. Jemarinya berhenti di beberapa nama, lalu bergeser lagi. Bukan karena ragu pada rasa, melainkan angka.
Terlalu besar, untuk ukuran gajinya yang hanya satu juta saja, meskipun tahu jika untuk saat ini Zaki yang membayar, namun entah mengapa ia merasa buang-buang duit, dan itu membuatnya berpikir dua kali.
“Aku ini ditraktir,” batinnya, “masa milih yang mahal.”
Akhirnya Anisa menunjuk menu paling sederhana, dan paling murah diantara barisan menu lainnya.
"Aku pilih ini saja ya," tunjuk Anisa, pada kentang goreng dengan parutan keju diatasnya.
Zaki sempat menatapnya, sekilas heran, lalu tersenyum kecil.
“Yakin cuma itu?”
Anisa mengangguk. “Iya.”
Zaki tidak memaksa. Ia justru memesan makanan kesukaannya sendiri, nasi goreng kambing yang aroma rempahnya langsung memenuhi meja mereka.
Setelah memesan mereka duduk saling berhadapan, tidak ada kata ejekan, ataupun pertanyaan menyudutkan, mereka hanya bercakap sederhana, yang mengalir begitu saja.
Saat makanan datang, keduanya sibuk dengan hidangannya masing-masing, sesekali Zaki memperhatikan cara Anisa makan, pelan dan rapih tidak serakah. Seolah kentang sederhana itu adalah hidangan istimewa.
Saat waktu mereka hampir habis, Zaki mengantar Anisa pulang. Di perjalanan, ia berhenti sebentar di pinggir jalan.
“Tunggu ya,” katanya.
Anisa mengangguk, ia melihat Zaki berjalan ke akang-akang penjual martabak, dan setelah beberapa menit kemudian, Zaki kembali membawa satu kotak martabak.
“Katanya tadi suka ini.”
Anisa terkejut. “Kok tahu?”
Zaki tersenyum. “Kamu pernah bilang waktu chat.”
Anisa menerima martabak itu dengan dua tangan. Dadanya terasa hangat, bukan karena makanan, tapi karena perhatian seorang Zaki terhadapnya, bahkan lelaki itu selalu mengingat apa yang dibilang Anisa, meskipun kadang, Anisa sudah lupa dengan percakapan itu.
Bersambung ...
Semoga suka ya Kak ....