Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam di kastil markas Serigala Hitam begitu sunyi. Tirai tebal di kamar Alecio yang talinya untuk sementara “dipinjam” Sandrina, bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Lampu tidur redup menerangi ruangan luas itu dengan cahaya keemasan yang hangat.
Sandrina terbaring di atas sofa panjang, bukan di tempat tidur besar milik Alecio. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar, sama sekali tidak mengantuk. Isi kepalanya, berputar-putar memikirkan sesuatu.
“Aku harus keluar dari sini. Aku harus pulang ke Indonesia. Ayah pasti sudah panik. Piahk KBRI mungkin sudah nyari aku atau malah mikir aku sudah jadi korban mafia.”
Sandrina menghela napas panjang, berguling ke kiri, lalu ke kanan. Tetap tidak nyaman. Lalu, dia bangun lagi. Gadis itu duduk sambil menatap pintu.
“Tidak bisa tidur. Aku mana bisa tidur di sarang mafia?” gumamnya kesal.
Jam dinding besar berdetak pelan. Sandrina meliriknya pada jam digital yang ada di atas nakas jam sudah 03.45 waktu Roma.
Mata Sandrina tiba-tiba berbinar. Sebuah ide nekat melintas.
“Ini saat yang tepat. Aku yakin semua orang pasti masih tidur. Aku harus kabur.”
Sandrina bangkit perlahan, memastikan tidak ada siapa pun di luar pintu. Sandrina membuka pintu sedikit, mengintip ke koridor panjang yang diterangi lampu dinding.
Suasana sangat sepi. Hanya bayangan pilar-pilar tinggi dan lukisan-lukisan mahal yang tampak menyeramkan.
Sandrina menarik napas dalam-dalam. Dengan langkah pelan, ia keluar kamar, masih mengenakan kemeja kebesaran Alecio dan celana kedodoran yang diikat tali gorden. Dia menggunakan kemeja lainnya untuk dijadikan penutup kepala dan bagian tangannya dijadikan penutup wajah. Penampilan dia sudah mirip kayak maling.
Sandrina berjalan mengendap-endap, jantung berdebar kencang seperti maling kelas amatir. Setiap beberapa langkah, ia berhenti, menoleh kiri-kanan.
“Bismillah, jangan ada yang bangun ... jangan ada yang bangun.”
Gadis itu berbelok ke sebuah lorong panjang. Lalu berbelok ke arah kanan. Lalu, belok lagi. Dan lagi.
Sepuluh menit kemudian ....
Sandrina berhenti. Matanya membelalak. Ia menatap sekeliling dengan wajah bingung total.
Koridor ini tidak sama dengan koridor tadi. Ada patung marmer besar di tengah, tangga spiral di kanan, dan tiga pintu identik di depannya. Sandrina menggaruk kepala.
“Loh, tadi aku lewat sini atau bukan, ya?”
Sandrina melangkah ke arah kiri. Dia merasa salah jalan. Lalu, berbalik ke kanan. Naik tangga spiral.
Lima menit kemudian ....
Sandrina berada di lantai yang sama sekali asing, dengan jendela besar menghadap taman gelap dan lorong berliku seperti labirin. Sandrina berhenti, napas mulai tidak teratur.
“Sekarang aku di mana?”
Keheningan menjawab. Tidak ada tanda-tanda pintu keluar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Yang ada hanya keheningan kastil tua yang lembab dan membuat bulu kuduknya berdiri.
Sandrina mengepalkan tangan. Lalu—
“YA ALLAH ... AKU TERSASAR LAGI?!”
Teriakan Sandrina menggema di koridor luas, memantul dari dinding batu kastil. Ia berdiri di tengah lorong, tangan terangkat ke udara, wajah frustrasi.
“KENAPA SEMUA JALAN DI SINI MIRIP SEMUA?! INI KASTIL ATAU LABIRIN MINOTAUR?!”
Air mata mulai menggenang di matanya. Sandrina terduduk di lantai, memeluk kedua lututnya, menundukkan kepala. Suara isaknya terdengar lirih, memecah keheningan malam.
Di sisi lain kastil, Alecio membuka pintu kamarnya dengan langkah tenang. Ia mengira Sandrina masih tidur di sofa. Namun, begitu menyalakan lampu, sofa kosong. Seprai berantakan dan bantal tergeletak di lantai.
Alecio membeku. Matanya menyapu ruangan dengan cepat. “Sandrina?” panggilnya datar, tapi nada suaranya tegang.
Tidak ada jawaban. Alecio melangkah masuk, memeriksa kamar mandi, di sana kosong.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Alecio menarik napas panjang, lalu menekan tombol komunikasi di dinding.
“Patrick. Max. Ke kamarku. Sekarang.”
Tidak sampai satu menit, Patrick dan Max sudah berdiri di ambang pintu.
Patrick mengerutkan kening. “Ada apa, Bos?”
Alecio menunjuk sofa kosong. “Wanita itu hilang.”
Max langsung tegang. “Mungkin dia kabur?”
Alecio mengatupkan rahang. “Cari dia. Periksa seluruh kastil.”
Patrick mengangguk cepat.
“Aktifkan tim pencarian. Periksa semua lantai.”
Beberapa detik kemudian, suasana kastil berubah. Lampu-lampu dinyalakan di berbagai lorong. Anak buah Alecio bergerak cepat, menyisir setiap sudut bangunan.
Di ruang kontrol, beberapa pria duduk di depan layar CCTV besar yang menampilkan puluhan kamera di seluruh kastil. Alecio berdiri di belakang mereka, tangan bertumpu di meja, tatapan tajam menelusuri setiap layar. Satu per satu rekaman diputar. Di koridor, tangga, ruang tamu, dapur, taman di sekitar kastil.
Beberapa kamera tampak gelap. Alecio mengerutkan kening. “Kenapa bagian itu mati?”
Petugas CCTV tergagap. “Beberapa kamera memang sengaja dinonaktifkan, Bos. Itu area lama di sayap barat.”
Alecio menggeram pelan. “Cari di sana.”
Waktu berjalan terasa lambat. Sudah sepuluh menit semua orang mencari keberadaan Sandrina.
Suasana semakin tegang. Alecio mulai gelisah, meski wajahnya tetap datar.
Patrick menatap layar dengan mata menyipit. “Dia pasti masih di dalam kastil. Tidak mungkin keluar tanpa alarm berbunyi.”
Max mengangguk.
Dan tiba-tiba—
“Di sana!” seru salah satu petugas CCTV.
Di layar, tampak sebuah sudut koridor gelap di lantai tiga sayap barat. Seorang wanita duduk di lantai, memeluk lututnya, kepala tertunduk. Itu Sandrina.
Alecio mencondongkan badan, menatap layar dengan tajam.
Patrick langsung berbalik. “Aku dan Max akan ke sana.”
“Ya.” Alecio mengangguk singkat.
Koridor sayap barat terasa lebih dingin dari bagian lain kastil. Patrick dan Max berjalan cepat, langkah mereka bergema di lantai batu.
Beberapa menit kemudian, mereka menemukan Sandrina. Ia duduk di sudut dinding, memeluk lutut, bahu bergetar pelan.
Max berhenti sejenak, tidak menyangka akan melihatnya seperti ini.
Patrick melangkah mendekat perlahan. “Sandrina?” panggilnya hati-hati.
Sandrina mengangkat wajah. Matanya merah, pipi basah, hidung sedikit memerah karena menangis.
Begitu melihat mereka, ia langsung bangkit setengah panik.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!” teriak Sandrina.
Sesaat Patrick dan Max diam terpana.
Lalu, Patrick mengangkat kedua tangan. “Tenang… kami tidak akan menyakitimu.”
Sandrina terisak, suaranya bergetar. “Aku cuma mau pulang.”
Max menatapnya dengan sedikit canggung. “Kau tersesat, ya?”
Sandrina terdiam sejenak, lalu mengangguk malu.
Patrick menahan senyum. “Kastil ini memang seperti labirin. Bahkan beberapa anak buah baru sering tersesat.”
Sandrina terisak lagi. “Aku kira, aku bisa kabur.”
Max hampir tertawa, tetapi buru-buru menahan diri. Dia menertawakan keadaan mereka karena bicara menggunakan bahasa masing-masing, tetapi seperti saling memahami, makanya bisa saling membalas.
Patrick menghela napas. “Ayo, kami antar kembali ke kamar.”
Sandrina menunduk, pasrah. Dia mengikuti langkah dua orang kepercayaan Alecio.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba kembali di kamar Alecio. Rupanya di dalam Alecio sudah menunggu di depan pintu, bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap.
Begitu melihat Sandrina, Alecio mengangkat alis. “Jadi, misi pelarianmu berhasil?” tanyanya sinis.
Sandrina menatapnya galak, meski matanya masih berkaca-kaca. “Berhasil, kalau aku tidak tersesat!”
Alecio hampir tertawa. Ia melangkah mendekat, suaranya lebih pelan.
“Kau tidak akan bisa keluar dari sini semudah itu, Nona.”
Sandrina mengangkat dagu, menantangnya. “Lihat saja. Suatu hari aku pasti bisa kabur.”
Alecio menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Patrick berdeham pelan. “Bos, kami sudah menemukannya. Dalam keadaan aman.”
Alecio mengangguk. “Kalian boleh pergi.”
Patrick dan Max pergi, meninggalkan Alecio dan Sandrina berdiri berhadapan di depan pintu kamar.
Hening sejenak.
Lalu Sandrina berbisik lirih, nyaris tak terdengar, “Aku cuma ingin pulang.”
Tanpa disadari ekspresi Alecio melunak, meski hanya sedikit. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatap Sandrina dalam diam, sementara malam Roma terus bergulir di balik jendela kastil.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu