NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIANTARA DERU MESIN DAN DOA

Siang itu, matahari bersinar sangat terik, namun suasana di dalam rumah mendadak terasa dingin mencekam saat Kanaya melangkah masuk dengan map plastik di pelukannya. Sesuai instruksi guru di sekolah untuk pendataan rapor dan bantuan siswa, Kanaya diminta membawa fotokopi Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran. Karena Mbah Akung sedang tidak ada di ruang tamu, Kanaya yang kini sudah sangat lancar membaca berkat bimbingan sang kakek, secara tidak sengaja membuka map tersebut dan mengeja nama-nama yang tertera di sana.

Matanya yang bulat menatap baris demi baris tulisan di kertas kuning itu. Ia terdiam cukup lama, mengeja nama ibunya yang biasanya ia panggil 'Ibu Maya', namun di sana tertera sebagai 'Bude' atau kakak dari ayahnya, dan kolom nama ibu di akte kelahirannya menunjukkan nama lain yang asing baginya. Di saat yang sama, Maya dan Mbah Akung keluar dari arah dapur. Mereka membeku di tempat saat melihat Kanaya sedang memperhatikan dokumen-dokumen rahasia keluarga itu dengan dahi berkerut.

"Naya... itu," suara Maya tercekat di kerongkongan. Ia melirik Mbah Akung dengan wajah pucat pasi, merasa bahwa rahasia yang mereka jaga rapat-rapat selama bertahun-tahun akhirnya meledak sebelum waktunya. Jantung Maya berdegup kencang, ia takut melihat kekecewaan atau kemarahan di mata putri kecilnya itu.

Mbah Akung mendekat dengan perlahan, tangannya yang mulai keriput bergetar. "Naya, Mbah bisa jelaskan... itu tulisannya maksudnya..."

Namun, sebelum Mbah Akung sempat menyelesaikan kalimatnya, Kanaya mendongak. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan, hanya ketulusan murni yang terpancar dari wajah polosnya. Ia menutup map itu perlahan, lalu berjalan menghampiri Maya dan menggenggam tangan ibunya erat-erat.

"Ibu... Naya sudah baca. Di kertas ini namanya beda ya? Tapi Naya nggak peduli sama kertas ini," ucap Kanaya dengan nada suara yang sangat tenang namun dewasa untuk anak seumurannya. Ia menatap lekat-lekat mata Maya yang sudah mulai berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Ibu. Bagi Naya, Ibu ya tetap Ibu. Ibu yang mandiin Naya, yang antar Naya sekolah, yang beliin boneka lumba-lumba banyak. Ibu itu Ibu Naya, bukan yang lain."

Maya langsung luruh ke lantai, ia berlutut dan memeluk Kanaya dengan isak tangis yang pecah seketika. Ia tidak menyangka bahwa anak sekecil itu memiliki kelapangan hati yang begitu luas untuk menerima kenyataan yang bahkan orang dewasa pun sulit menerimanya. Mbah Akung yang berdiri di samping mereka hanya bisa menyeka air matanya, merasa sangat bangga sekaligus haru melihat betapa cerdas dan bijaknya cucu yang ia ajari setiap sore itu.

"Naya beneran nggak marah sama Ibu?" bisik Maya di sela tangisnya.

Kanaya menggeleng pelan sambil mengusap air mata di pipi Maya dengan jari mungilnya. "Kenapa marah? Kan Ibu sayang Naya. Ayah Bagas juga sayang Naya. Mbah Akung juga. Naya tetap anak Ibu Maya, kan?"

Malam itu, rahasia besar yang selama ini menjadi beban di pundak keluarga itu seolah menguap begitu saja. Kepolosan dan kecerdasan Kanaya telah melampaui batasan status hukum di atas kertas. Di rumah itu, mereka kembali sadar bahwa keluarga bukan hanya soal apa yang tertulis di akte kelahiran, melainkan soal siapa yang tetap mendekapmu erat saat badai datang, dan bagi Kanaya, sosok itu adalah Maya.

Waktu terus bergulir, dan kini Kanaya sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Ia bukan lagi gadis kecil yang cadel; ia telah tumbuh menjadi anak yang semakin cerdas, kritis, dan tetap penuh kasih. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam beberapa bulan terakhir. Bagas, yang biasanya hanya mengajak Kanaya jalan-jalan ke taman atau outlet laundry, kini jadi sering mengajaknya ke mall atau kafe di akhir pekan. Anehnya, Bagas selalu berpesan satu hal sebelum mereka berangkat: "Naya, ini rahasia kita berdua dulu ya. Jangan bilang Ibu Maya atau Mbah Akung kalau kita pergi ke tempat-tempat ini."

Sebenarnya, di balik rencana jalan-jalan itu, Bagas memiliki niat yang besar. Ia mulai membuka hatinya kembali dan ingin mengenalkan seorang wanita yang kelak akan menjadi ibu baru bagi Kanaya. Bagas ingin memastikan bahwa calon pendampingnya benar-benar bisa mencintai Kanaya sebelum ia membawanya secara resmi ke rumah di depan Maya dan Mbah Akung.

"Ayah, kenapa kita harus sembunyi-sembunyi? Naya kan sudah pintar simpan rahasia, tapi kalau Ibu Maya tanya kenapa baju Naya wangi parfum mall, Naya harus jawab apa?" tanya Kanaya suatu hari saat mereka sedang duduk di sebuah kedai es krim, menunggu seseorang yang dijanjikan Bagas.

Bagas tersenyum canggung sambil merapikan rambut putrinya. "Bukannya mau bohong, Sayang. Ayah cuma ingin memastikan semuanya pas dulu. Ayah ingin Naya kenal pelan-pelan sama Tante ini. Kalau Naya sudah merasa cocok dan nyaman, baru kita kasih tahu Ibu Maya dan Mbah Akung sama-sama. Naya mau kan bantu Ayah?"

Kanaya menyeruput es krimnya, matanya yang cerdas menatap sang ayah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tante itu baik nggak, Yah? Dia suka lumba-lumba nggak? Terus... dia bakal sayang sama Ibu Maya juga nggak? Karena kalau dia nggak sayang Ibu, Naya nggak mau."

Bagas tertegun mendengar syarat dari anaknya. Ia baru menyadari bahwa bagi Kanaya, kebahagiaannya bukan hanya tentang memiliki ibu baru, tapi juga tentang bagaimana posisi Maya tetap terjaga di hati mereka. Bagas pun berjanji dalam hati bahwa siapa pun wanita yang akan masuk ke hidup mereka, ia harus menghormati Maya sebagai orang yang telah membesarkan Kanaya dengan penuh pengorbanan.

Sepanjang sore itu, mereka menghabiskan waktu bertiga dengan wanita tersebut. Kanaya bersikap sopan dan banyak mengobrol, menunjukkan kecerdasannya dalam berhitung dan bercerita tentang sekolahnya. Namun, setiap kali pulang ke rumah dan melihat Maya yang sudah menyiapkan makan malam dengan hangat, Kanaya merasa ada beban kecil di pundaknya. Ia setia memegang rahasia ayahnya, tapi di saat yang sama, ia mulai belajar tentang betapa rumitnya perasaan orang dewasa.

"Ayah," bisik Kanaya saat mereka sedang memarkir motor di depan rumah malam itu. "Naya akan simpan rahasianya. Tapi kalau nanti Tante itu bikin Ibu Maya sedih, Naya akan kasih tahu Mbah Akung ya?"

Bagas hanya bisa mengangguk pelan, menyadari bahwa putrinya bukan sekadar anak kecil yang bisa diajak bersekongkol, melainkan pelindung hati bagi seluruh anggota keluarganya. Kehidupan baru ini mulai membawa dinamika yang menantang, di mana kejujuran dan kesetiaan mulai diuji di tengah rencana masa depan yang sedang disusun Bagas.

Satu bulan telah berlalu sejak pertemuan rahasia itu, dan selama itu pula Kanaya menyimpan beban yang terlalu berat untuk pundak kecilnya. Gadis itu menjadi lebih pendiam; ia sering kali hanya menatap buku matematikanya tanpa menulis satu angka pun, pikirannya berkecamuk antara janji pada ayahnya dan rasa sayangnya pada Maya. Puncaknya terjadi pada suatu siang yang panas, ketika Bagas akhirnya memberanikan diri untuk duduk bersama Maya di ruang tengah. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang saat Bagas mengutarakan niatnya untuk segera menikah dengan wanita yang selama ini ia temui secara sembunyi-sembunyi bersama Kanaya.

Maya terdiam sejenak, dadanya terasa sesak bukan karena cemburu, melainkan karena rasa khawatir yang mendalam terhadap kondisi psikologis Kanaya. "Gas, bukannya Mbak melarangmu untuk bahagia atau mencari pendamping. Tapi tolong pikirkan Naya. Dia baru saja kehilangan Mbah Uti, dia baru saja tahu soal status di akte kelahirannya. Tidakkah ini terlalu cepat? Tunggulah sampai dia sedikit lebih besar, sampai dia benar-benar siap menerima orang baru di rumah ini," ucap Maya dengan nada yang bergetar, mencoba memberi pengertian.

Namun, Bagas yang merasa sudah terlalu lama memendam keinginannya justru tersulut emosi. "Maksud Mbak apa? Menunggu sampai kapan? Sampai aku tua? Aku juga butuh pendamping, Mbak! Naya itu anakku, aku yang paling tahu apa yang dia butuhkan. Dia butuh sosok ibu yang lengkap, bukan cuma Bude yang dianggap ibu!" bentak Bagas dengan suara yang menggelegar hingga terdengar ke kamar belakang.

"Jaga bicaramu, Bagas!" suara Maya meninggi, air mata mulai mengalir. "Aku yang membesarkannya saat kamu sibuk kerja shift malam! Aku yang terjaga saat dia sakit! Ini bukan soal ego kita, ini soal mental anak itu!"

Pertengkaran itu pecah dengan hebat. Suara bantingan pintu dan teriakan saling menyalahkan mengisi seluruh sudut rumah. Mbah Akung yang baru saja bangun dari tidurnya segera berlari keluar, berusaha berdiri di tengah-tengah kedua anaknya yang sedang terbakar amarah. "Sudah! Berhenti! Apa kalian tidak malu sama tetangga? Apa kalian tidak sadar ada anak kecil yang melihat ini semua?" teriak Mbah Akung dengan suara yang serak dan gemetar.

Di balik tirai pintu kamar, Kanaya berdiri membeku. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan. Ia memeluk erat boneka lumba-lumbanya, tubuhnya gemetar setiap kali mendengar bentakan ayahnya. Baginya, pertengkaran itu adalah akhir dari dunia indahnya yang tenang. Ia merasa bersalah karena telah menyimpan rahasia itu, merasa seolah dialah penyebab retaknya hubungan Ayah dan Ibu Mayanya.

"Ayah... Ibu... jangan berantem," bisik Kanaya lirih di tengah isaknya, namun suaranya tenggelam oleh argumen Bagas yang masih bersikeras. Kanaya akhirnya terduduk di lantai, menutupi telinganya dengan kedua tangan. Kecerdasan yang ia miliki tidak mampu membantunya menghitung bagaimana cara meredam amarah orang dewasa. Di matanya, rumah yang dulu menjadi benteng perlindungan, kini terasa seperti tempat yang asing dan menakutkan karena ego orang-orang yang paling ia cintai.

Melihat cucunya menangis histeris di pojokan, Mbah Akung langsung merangkul Kanaya dan menatap tajam ke arah Bagas dan Maya. "Lihat anak ini! Kalian bilang ini demi dia, tapi lihat apa yang kalian lakukan padanya! Kalau kalian masih mau ribut, silakan pergi dari rumah ini, biar Naya sama Mbah saja!" Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara sesenggukan Kanaya yang memilukan di pelukan kakeknya, sementara Bagas dan Maya hanya bisa terdiam dengan rasa sesal yang mulai merayap di hati masing-masing.

Suasana di ruang tengah benar-benar pecah menjadi kekacauan yang tak terkendali. Amarah yang selama ini terpendam seperti bisul yang pecah, mengeluarkan seluruh nanah kebencian dan keegoisan. Bagas, yang merasa haknya sebagai ayah dikebiri, kehilangan akal sehatnya. Dalam satu gerakan cepat karena tersulut kata-kata Maya, ia menyambar vas bunga keramik di atas meja dan membantingnya ke arah lantai dekat kaki Maya. Prang! Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, memantul di ubin yang biasanya bersih.

Maya, yang merasa martabat dan pengorbanannya selama bertahun-tahun tidak dihargai, membalas dengan kemarahan yang sama hebatnya. Ia meraih vas bunga plastik berisi hiasan mawar di pojok ruangan dan melemparnya ke arah Bagas. Meskipun tidak pecah, benda itu menghantam dada Bagas dengan keras sebelum jatuh berserakan. "Kamu tidak tahu diri, Bagas! Kamu pikir uang bisa membayar semua air mataku mengurus anakmu?!" teriak Maya dengan suara melengking yang penuh kepedihan.

Di tengah hujan benda dan teriakan itu, Mbah Akung jatuh terduduk di kursi kayu, kedua tangannya menutupi wajahnya yang renta. Tubuhnya gemetar hebat, sisa-sisa trauma kehilangan istrinya masih membekas, dan kini ia harus melihat anak-anak kandungnya saling serang seperti musuh bebuyutan. "Cukup... Bapak mohon cukup! Demi Allah, berhentilah!" rintih Mbah Akung dengan suara yang nyaris hilang, air matanya menetes melewati celah jemarinya. "Kalian mau membunuh Bapak pelan-pelan dengan cara begini? Lihat Naya! Lihat anak itu!"

Namun, seruan Mbah Akung seolah membalas angin. Bagas dan Maya masih terus bersahut-sahutan, saling melempar kalimat paling menyakitkan yang bisa mereka pikirkan. Sementara itu, di sudut ruangan, Kanaya meringkuk seperti bola kecil. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun telinganya tidak bisa menutup suara pecahan keramik yang memekakkan. Setiap suara benturan terasa seperti hantaman di dadanya. Dunianya yang biasanya penuh dengan hitungan angka yang pasti, kini menjadi sangat tidak teratur.

"Naya benci ini... Naya benci semua ini!" teriak Kanaya tiba-tiba dengan sisa tenaganya, meskipun suaranya pecah oleh tangisan yang sangat kencang. Ia berlari keluar dari sudut itu, melewati serpihan vas bunga tanpa peduli jika kakinya terluka, dan menghambur ke pelukan Mbah Akung yang sedang merana. Melihat cucu kesayangannya menangis hingga sesak napas di depan mata, Bagas dan Maya mendadak mematung. Keheningan yang mengerikan tiba-tiba menyergap ruangan itu, hanya menyisakan suara napas memburu dan isak tangis pilu seorang anak kelas 3 SD yang menyaksikan benteng perlindungannya hancur berkeping-keping karena ego orang dewasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!