Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Satu bulan telah berlalu sejak gema tawa dan janji suci di pernikahan Sky dan Evelyn memudar, namun kedamaian yang seharusnya menyelimuti atmosfer pengantin baru itu kini justru tercekik oleh ketegangan yang merayap di balik bayang-bayang.
Di dalam sebuah ruangan kedap suara yang hanya diterangi oleh cahaya kebiruan yang statis, tiga pasang mata—Arthur, Vans, dan Elvira—menatap lekat pada layar televisi yang menampilkan rentetan siaran berita darurat mengenai fenomena hilangnya beberapa orang secara misterius dalam waktu singkat.
Layar itu memproyeksikan kepanikan massa dan wajah-wajah putus asa keluarga korban di depan kantor kepolisian yang kini dibanjiri tuntutan serta caci maki karena kegagalan mereka mengungkap dalang di balik teror tersebut.
Vans mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih, matanya tak lepas dari berita hilangnya warga sipil atau beberapa anak berpengaruh. "Satu bulan. Baru satu bulan Daddy dan Mommy menikah, dan sekarang bajingan ini mulai merayap keluar dari lubang persembunyiannya lagi."
Arthur menyesap kopi pahitnya perlahan, suaranya rendah dan penuh penekanan. " Dia tidak mungkin diam begitu saja setelah kekacauan yang kita buat di pesta itu, rencananya gagal karena kita. Dia sedang kembali membuat rencana, namun kali ini ada yang berbeda. Perhatikan polanya... orang-orang yang hilang bukan orang sembarangan. Mereka memiliki keahlian spesifik yang jika digabungkan, bisa menciptakan kekacauan masal."
Elvira melipat tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah berita itu. "Kau benar, Arthur. Pasukannya kali ini bukan orang-orang yang kita ketahui di masa depan. Mereka tidak terdaftar, tidak punya identitas, seolah-olah mereka baru saja 'diciptakan' atau ditarik dari dimensi yang tidak kita jangkau sebelumnya. Dia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya lagi. Setelah Viona gagal mendapatkan sekutu di pernikahan Daddy dan Mommy, Rodrigo tampaknya berhenti mengandalkan diplomasi licik. Dia beralih ke penghancuran total."
"Lalu apa langkah kita? Polisi hanya berputar-putar di tempat karena mereka mencari manusia biasa. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan hantu dari masa depan." sambung Vans, tangan nya terkepal di kedua sisi tubuhnya.
Arthur mematikan TV dengan remote, membuat ruangan jatuh ke dalam kegelapan yang lebih pekat. "Kita tidak bisa menunggu lagi. Jika Rodrigo ingin bermain dengan pasukan 'baru', maka kita harus mencari tahu siapa arsitek di balik teknologi mereka. Elvira, periksa kembali data yang kau dapat tentang Viona. Meskipun dia gagal, dia pasti meninggalkan jejak koordinat atau nama yang bisa kita gunakan."
"Sudah kulakukan. Dan satu nama terus muncul dalam enkripsi datanya 'The Harbinger'. Aku belum tahu itu nama orang atau nama proyek, tapi Rodrigo sangat terobsesi dengan itu."
Arthur berdiri dengan kata dingin. "Kalau begitu, perburuan dimulai dari sana. Kita tidak boleh membiarkan ketenangan Daddy dan Mommy hancur hanya karena kita terlalu lambat menyadari bahwa badai yang lebih besar sedang menuju ke sini."
Ketegangan itu pecah seketika saat alarm peringatan di markas mereka melengking tajam, memicu kontak mata kilat di antara ketiganya yang dipenuhi insting waspada. Dengan jemari yang menari cepat di atas keyboard laptop, Elvira segera mengakses rekaman kamera pengawasan yang menampilkan sebuah mobil asing merangsek masuk ke halaman rumah.
Ketegangan memuncak saat pintu mobil terbuka, namun bahu Arthur seketika meluruh lemas setelah melihat sosok pria tua berkarisma yang masih tampak tangguh, didampingi seorang pemuda di sisinya, melangkah masuk ke kediaman mereka. "Bukan ancaman," gumam mereka pelan sambil menghela napas panjang, menyadari bahwa tamu tersebut bukanlah musuh yang mereka cemaskan.
" Kalian sudah melihat berita itu?"
Kakeh Zayn dan Kevin-- melangkah masuk.
"Sudah, Obu. Kami baru saja akan mematikan layarnya karena muak melihat kegagalan polisi," jawab Arthur sambil bersedekah dada, suaranya terdengar berat dan penuh tekanan. Ia melirik ke arah Vans yang masih mengepalkan tangan kuat-kuat."
Kakek Zayn melangkah mendekat ke arah meja bundar, meletakkan sebuah map hitam yang tampak tua namun terawat. "Ini bukan sekadar penculikan biasa. Rodrigo tidak lagi bermain dengan bidak catur yang lama. Polisi mencari manusia, sementara yang kita hadapi adalah sesuatu yang dia 'ciptakan' di laboratorium rahasianya."
Kevin menyela sembari membuka laptopnya sendiri, menghubungkan data ke layar besar di ruangan itu. "Kakek benar. Aku sempat mencegat sinyal frekuensi rendah di sekitar lokasi hilangnya korban terakhir. Polanya mirip dengan teknologi trans-human yang pernah dibicarakan dalam arsip rahasia masa depan kalian, tapi versi ini jauh lebih mentah... dan lebih haus darah."
Elvira yang sejak tadi terdiam, kini memutar laptopnya ke arah Zayn. "Artinya, kegagalan Viona di pernikahan Daddy dan Mommy kemarin bukan akhir, melainkan pengalihan isu. Selagi kita fokus pada rencana sendiri, Rodrigo justru sedang mengumpulkan subjek eksperimen dari jalanan. Lihat ini," Elvira menunjuk titik-titik merah di peta digitalnya. "Semua korban memiliki rhesus darah yang sama. Dia sedang membangun pasukan khusus, bukan?"
Vans akhirnya angkat bicara, suaranya dingin dan menusuk. "Dia pikir dengan membawa 'monster' baru ini, dia bisa menghapus sejarah kita? Dia lupa bahwa kita datang dari masa depan bukan untuk menonton kegagalannya lagi. Kalau dia ingin bermain dengan nyawa, maka kita akan berikan dia pemakaman yang layak."
Kakek Zayn menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam yang penuh wibawa. "Jangan gegabah, Vans. Kekuatan Rodrigo kali ini tidak terdeteksi oleh radar biasa. Itulah sebabnya aku dan Kevin datang. Kita perlu menggabungkan apa yang kita tahu dari masa lalu dengan teknologi masa depan yang kalian bawa. Satu bulan ketenangan setelah pernikahan Sky dan Evelyn hanyalah 'mata badai'. Sekarang, badai yang sesungguhnya telah tiba."
Arthur mengangguk perlahan, matanya kembali menatap layar yang masih menampilkan wajah para korban. "Kalau begitu, berhenti berharap pada kepolisian. Kita gunakan cara kita sendiri."
Tiba - tiba---- mata Kevin di penuhi aura mematikan.
Kevin maju selangkah. "Aku tidak peduli seberapa besar pasukan yang dia bangun kali ini. Biarkan dia membawa seluruh pasukannya dari masa depan atau dari neraka sekalipun."
Arthur menyentuh bahu Kevin. " Paman Kevin, kita harus bertindak dengan kepala dingin. Dendam tidak akan—"
Kevin memotong dengan nada tajam. "Jangan bicara soal kepala dingin padaku, Arthur! Akhirnya... setelah 6 bulan, aku punya kesempatan untuk membalaskan dendam kematian Kelvin. Rodrigo mengambil saudaraku, dan aku akan mengambil segalanya darinya. Aku di sini bukan hanya untuk menyelamatkan masa depan yang bahkan belum tentu aku miliki, tapi untuk memastikan pria itu membayar setiap tetes darah yang tumpah."
Vans menatap Kevin dengan penuh pengertian. "Kita semua punya alasan untuk mengakhiri ini, Paman Kev. Tapi ingat, Rodrigo sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pembunuhan. Jika kita gagal membaca gerakannya sekarang, bukan hanya kematian Paman Kelvin yang gagal kita balas, tapi masa depan kita semua akan musnah."
Elvira menutup laptopnya perlahan, suasana menjadi sunyi. "Kalau begitu, kita mulai. Obu, Paman Kevin... selamat datang di medan perang yang sebenarnya."
•
•
•
BERSAMBUNG