🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 | Kelahiran Penguasa Baru
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Fajar di Shanghai tidak pernah tampak semerah ini. Dari balkon lantai teratas Samantha Holdings, sebuah menara baja dan kaca yang kini berdiri sejajar dengan raksasa-raksasa lama, aku memperhatikan matahari yang merangkak naik. Namun, di mata ku, itu bukan sekadar bola gas yang berpijar. Itu adalah representasi dari era baru yang sedang aku bentuk.
"Dunia mengira mereka tahu apa itu kekuasaan," gumam ku, suara ku nyaris tak terdengar, tertelan oleh desau angin di ketinggian. "Mereka pikir kekuasaan adalah tumpukan emas, tentara di perbatasan, atau pengaruh politik. Mereka salah. Kekuasaan yang sejati adalah kemampuan untuk menarik benang-benang kausalitas. Untuk menentukan siapa yang akan bangun dengan kekayaan dan siapa yang akan tertidur dalam kehinaan."
Aku merasakan denyut di balik kedua mata ku. Bukan lagi sekadar panas, melainkan getaran frekuensi tinggi yang seolah ingin membelah realitas. Kekuatan ku telah mencapai batas nya, dan pagi ini, ia berevolusi. Pupil mata ku tidak lagi hanya membelah; lingkaran emas di dalam nya kini membentuk pola fraktal yang rumit, menyerupai mahkota duri yang bersinar.
Ini adalah evolusi dari kekuatan cenayang ku.
Aku menoleh ke dalam ruangan aula besar yang terletak tepat di belakang balkon. Di sana, duduk dua belas pria dan wanita paling berpengaruh dari klan-klan bisnis menengah di Tiongkok Timur. Mereka adalah orang-orang yang selama puluhan tahun ditekan oleh The Iron Triangle. Wajah-wajah mereka dipenuhi kecemasan, keringat dingin, dan harapan yang nyaris putus asa.
Aku melangkah masuk. Kehadiran ku seketika membekukan udara di ruangan itu. Aura kehadiran yang ku pancarkan bukan lagi intimidasi fisik, melainkan tekanan eksistensial. Beberapa dari mereka tanpa sadar menahan napas; yang lain menundukkan kepala seolah-olah berat atmosfer di ruangan itu bertambah sepuluh kali lipat.
"Tuan-tuan, Nyonya-nyonya," kata ku sambil berjalan menuju kursi utama di ujung meja panjang dari kayu jati hitam. "Kalian datang ke sini karena kalian lelah menjadi pion. Kalian lelah melihat jerih payah kalian ditelan oleh keserakahan tiga keluarga lama."
"Tuan Satya," salah satu pria tua, pemimpin klan tekstil dari Suzhou, bicara dengan suara gemetar. "Kami tahu Anda hebat. Kami melihat apa yang Anda lakukan di bursa saham. Tapi menantang The Iron Triangle adalah bunuh diri. Mereka mengontrol pelabuhan, mereka mengontrol pasokan besi, mereka mengontrol hukum."
Aku duduk, menyilangkan kaki dengan santai. Di mata ku, aku melihat Garis Nasib pria itu. Sebuah benang hitam melilit leher nya, simbol kebangkrutan yang akan menghantam nya dalam dua hari ke depan karena sabotase.
"Kau benar, Tuan Zhang," kata ku. Aku memfokuskan kekuatan cenayang ku pada benang hitam itu. "Putus," perintah ku dalam batin.
Sekejap, benang itu terbakar oleh api emas yang tak terlihat oleh orang lain. Garis nasib Zhang bergeser, bercabang, dan membentuk jalur baru yang cerah.
"Namun," lanjut ku, "apa yang mereka kontrol adalah masa lalu. Apa yang saya kontrol adalah... kemungkinan."
Tiba-tiba, ponsel Tuan Zhang bergetar. Dia meminta izin untuk mengangkat nya. Wajah nya yang pucat mendadak berubah. Matanya membelalak. "Apa? Kapal kargo yang disita di Qingdao baru saja dilepaskan? Dan kontrak eksklusif dengan Eropa ditandatangani pagi ini? Bagaimana bisa?"
Zhang menatap ku dengan kengerian yang bercampur pemujaan. Dia jatuh dari kursi nya, bukan karena lemas, tapi karena ia secara sadar menjatuhkan diri nya untuk berlutut di atas karpet beludru.
"Anda... Anda baru saja melakukan nya, bukan?" bisik Zhang. "Anda mengubah apa yang seharusnya terjadi."
Seluruh ruangan gempar. Mereka tidak mengerti teknis nya, tapi mereka merasakan pergeseran nya. Inilah kekuatan ku sekarang. Aku tidak lagi sekadar memprediksi masa depan; aku mulai bisa membelokkan realitas dalam skala mikro yang berdampak makro.
"Samantha Holdings bukan sekadar perusahaan," kata ku, suara ku menggelegar meski aku tidak berteriak. "Ini adalah payung pelindung. Di bawah nama ku, nasib kalian tidak lagi ditentukan oleh pasar atau musuh. Nasib kalian ditentukan oleh kesetiaan kalian."
Satu per satu, para pemimpin klan itu berdiri, lalu menunduk dalam-dalam. "Kami bersumpah setia pada Samantha Holdings! Pimpin kami, Tuan Satya!"
Di sudut ruangan, Wang Meiling berdiri dengan gaun malam hitam yang elegan, memegang segelas sampanye. Dia menatap ku dengan mata yang berbinar, bukan lagi sekadar gairah, tapi obsesi seorang ratu yang baru saja menemukan pemilik nya. Di samping nya, Zhao Wei sang artis tampak terpesona hingga lupa untuk berakting, sementara Detektif Chen, yang berdiri di dekat pintu dengan tangan terlipat, menatap ku dengan keraguan yang mulai terkikis oleh kekaguman.
"Tiga bunga di satu taman," gumam ku. "Dan mereka semua menyadari bahwa pria yang pernah dibuang sebagai sampah ini sekarang adalah matahari yang mereka butuhkan untuk tetap hangat."
Meiling mendekat, langkah kaki nya yang anggun bergema. Dia meletakkan tangan nya di bahu ku di depan semua orang, sebuah klaim kepemilikan yang berani. "Selamat, Satya. Hari ini, Shanghai tidak akan pernah sama lagi. Kau baru saja menyatukan oposisi dalam waktu kurang dari satu jam."
"Ini baru permulaan, Meiling," jawab ku. Aku menarik pinggang nya, membawa nya ke dekat ku. "Kirimkan undangan ke semua media internasional. Sore ini, kita akan mengadakan konferensi pers. Dunia harus tahu bahwa era klan lama telah berakhir."
"Satya," bisik Meiling di telinga ku, napas nya terasa hangat. "Kau tampak berbeda. Mata mu... mereka membuat ku ingin menyerahkan segalanya pada mu tanpa sisa."
"Memang itu tujuan nya," balas ku pendek.
Sore hari, aula Samantha Holdings dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari seluruh penjuru dunia. Lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti badai petir. Aku berdiri di podium, didampingi oleh Meiling di sisi kanan dan Zhao Wei di sisi kiri sebagai duta merek global kami. Chen berdiri di barisan depan penonton, memastikan keamanan secara diam-diam.
Saat aku melangkah ke mikrofon, seluruh dunia seolah menahan napas. Aku tidak membawa teks. Aku tidak butuh itu.
"Nama saya Satya Samantha," kata ku, suara ku di pancarkan ke jutaan televisi di seluruh Asia. "Banyak dari kalian mengenal saya sebagai investor yang beruntung. Musuh-musuh saya menyebut saya sebagai anomali. Namun hari ini, saya berdiri di sini untuk memberikan satu kepastian."
Aku mengaktifkan kekuatan ku secara penuh. Tekanan mental yang ku pancarkan membuat beberapa jurnalis di baris depan menjatuhkan kamera mereka.
"Krisis ekonomi yang menghancurkan rumah-rumah kalian, yang membuat kalian kehilangan pekerjaan dan harga diri... krisis itu berakhir di sini, di bawah kaki Samantha Holdings. Mulai hari ini, setiap perusahaan yang bergabung dengan kami akan mendapatkan perlindungan mutlak. Dan bagi mereka yang mencoba menghalangi jalan kami..."
Aku menatap langsung ke arah kamera utama, membayangkan wajah tiga kepala keluarga The Iron Triangle yang pasti sedang menonton dari bunker mereka.
"...persiapkan peti mati kalian. Karena saya tidak lagi hanya mengamati. Saya sekarang sedang memerintah."
Konferensi pers itu berakhir dengan kericuhan sorak-sorai dan kepanikan. Di luar gedung, ribuan orang mulai meneriakkan nama ku. Mereka tidak lagi melihat ku sebagai pengusaha; mereka melihat ku sebagai penyelamat, sebagai dewa baru yang turun di tengah kiamat finansial.
Malam hari nya, di dalam kantor pribadi ku yang kedap suara, aku duduk sendirian. Keheningan ini terasa berat. Aku menatap telapak tangan ku. Ada garis-garis emas halus yang merambat di bawah kulit ku, efek samping dari penggunaan kekuatan secara berlebihan.
"Garis-garis ini," pikir ku, "adalah harga dari merusak takdir. Setiap kali aku mengubah nasib orang lain, sebagian dari kemanusiaan ku terbakar."
Pintu terbuka. Lin Xia masuk membawa nampan berisi teh herbal. Dia melihat ku yang sedang termenung. Dia meletakkan teh itu, lalu tanpa diminta, dia berlutut di lantai dan mulai memijat kaki ku dengan lembut.
"Tuan Satya, Anda sudah bekerja terlalu keras," bisik Lin Xia. "Dunia sudah bertekuk lutut. Mengapa Anda masih tampak begitu gelisah?"
Aku mengusap kepala Lin Xia. "Karena semakin tinggi aku berdiri, Xia, semakin jelas aku melihat betapa banyak yang ingin menjatuhkan ku. Dan... aku mulai kehilangan rasa saat menyentuh sesuatu. Semua ini terasa seperti simulasi."
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi. Meiling, Zhao Wei, dan Chen masuk secara bersamaan. Mereka membawa sebotol anggur terbaik untuk merayakan kemenangan ini. Mereka berhenti sejenak melihat Lin Xia di bawah kaki ku, namun kali ini, tidak ada kecemburuan yang meledak. Hanya ada pengakuan akan posisi masing-masing.
"Satya, kau sudah melakukan nya," Zhao Wei berkata, mendekat dan duduk di lengan kursi ku. "Seluruh dunia membicarakan mu. Mantan istri mu... kudengar dia pingsan saat melihat konferensi pers mu di televisi kapal kargo."
"Jangan bicarakan sampah di malam yang suci ini," sela Meiling sambil menuangkan anggur. Dia berdiri di belakang ku, memeluk leher ku. "Malam ini adalah milik kita. Milik penguasa baru Shanghai."
Chen berdiri di depan meja, meletakkan lencana polisi nya di atas meja. "Aku sudah mengundurkan diri, Satya. Aku tidak bisa lagi menegakkan hukum di dunia yang kau ubah sesuka mu. Mulai sekarang, aku akan menjadi pedang pribadi mu di dalam bayangan."
Aku menatap mereka berempat. Empat wanita luar biasa, masing-masing mewakili aspek dunia yang berbeda: Kekuasaan, Ketenaran, Hukum, dan Kesetiaan. Mereka semua adalah bagian dari koleksi ku, bagian dari singgasana yang aku bangun.
"Inilah harem ku," kata ku dalam hati, sebuah rasa puas yang gelap menyelimuti jiwa ku. "Mereka bukan sekadar pasangan; mereka adalah pilar-pilar kekaisaran ku."
Aku mengangkat gelas anggur ku. "Untuk Samantha Holdings. Dan untuk dunia yang baru saja lahir dari abu nya."
Kami minum bersama dalam keheningan yang intim. Di luar, kembang api meletus di langit Shanghai, merayakan kelahiranku. Namun di mata ku, kembang api itu hanyalah pola garis nasib yang pecah.
Volume kedua dari hidup ku telah berakhir. Aku bukan lagi menantu yang terbuang. Aku bukan lagi spekulan yang bersembunyi. Aku adalah Satya Samantha, penguasa baru yang memegang benang takdir Asia di tangan nya.
Dan bagi siapa pun yang berani menentang ku di kesempatan lain nya nanti... mereka akan belajar bahwa satu tatapan dari mata ku sudah cukup untuk menghapus eksistensi mereka dari lembaran sejarah.
"Mari kita lihat," pikir ku saat Meiling membimbing ku menuju balkon untuk melihat orang-orang yang bersorak di bawah. "Seberapa jauh aku bisa menarik benang dunia ini sebelum ia putus."
Di kegelapan malam, kedua mata ku berkilat untuk terakhir kali nya sebelum aku menutup kelopak mata ku, siap untuk menaklukkan fajar berikutnya.
...----------------🍁----------------🍁----------------...