Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Pulang
"Yah belum tentu masih sama. Karena sudah 10 tahun berlalu." Imbuh kakek seolah mengubur rasa rindu kampung halamannya.
"Apakah kampung halaman kakek dan nenek itu masih di dalam wilayah kerajaan Morva?" Tanya Theo.
"Ya. Namun karena akses menuju kampung halaman kami sangat sulit sehingga desa kami tak begitu diperhatikan. Kami juga jarang bersosialisasi dengan orang luar, sebab sulitnya akses untuk keluar masuk desa." Jawab kakek.
"Karena Maerin dan saya tetap penasaran, sepertinya kami akan melakukan perjalanan ke desa itu. Jika kakek dan nenek berkenan ikut. Kami bahkan lebih senang lagi. Seolah mendapatkan pemandu desa." Kata Theo dengan senyum yang tulus.
Kakek dan nenek saling menatap satu sama lain lalu tertunduk terdiam. Theo dan Maerin juga saling menatap dan Theo menghela napas panjang seolah sedang masuk ke area yang seharusnya tak dimasukinya.
***
Di sisi lain di kerajaan Cyrven. Enam bulan telah berlalu. Victor menyuruh ajudannya diam-diam mencari keberadaan Theo. Namun keberadaan Theo seolah terhapus semenjak memasuki wilayah kerajaan Morva. Victor mengira bahwa Theo akan kembali mengingat dia keluar dari istana hanya membawa 5000 koin emas. Tapi faktanya hingga saat ini tak ada kabarnya.
"Coba kau sewa mata-mata yang paling ahli untuk mencari informasi tentang keberadaan Theo. Tak perlu bertindak macam-macam, cukup memantau dan membantunya saat kesusahan." Kata Victor pada ajudannya.
"Jejak Pangeran Kedua menghilang sejak masuk wilayah kerajaan Morva, lebih tepatnya setelah masuk ibukota Merovain." Jawab ajudan Victor.
"Theo jelas merahasiakan identitasnya. Jadi kemungkinan dia di tahan kecil sekali." Kata Victor.
"Mungkinkah Pangeran Kedua menyewa guild paling terkenal? Ajudan Victor memberikan sudut pandang baru.
"Theo tak memiliki alasan melakukan itu. Tapi untuk berjaga-jaga, tetap lakukan penyelidikan. Dan ingat rahasiakan dari siapapun." Ucap Victor dengan menegaskan.
"Baik. Segera saya laksanakan, Yang Mulia Putra Mahkota." Jawab Ajudannya.
"Kau boleh pergi." Victor mengisyaratkan ajudannya untuk segara bertindak.
Victor melanjutkan pekerjaannya, bertumpuk-tumpuk dokumen tak ada habis padahal setiap hari dikerjakan. Apalagi mendekati akhir tahun makin banyak laporan yang harus dia periksa dan makin menambah pekerjaannya. Serta ada banyak undangan yang harus dihadirinya, terasa seperti tak ada waktu untuk istirahat sama sekali. Bahkan akhir-akhir ini, dia tidur di ruang kerjanya.
Sementara Putri Mahkota juga terlihat terampil menangani pekerjaan-pekerjaannya. Dan itu cukup membantu Victor. Meskipun Putri Mahkota makin terlihat arogan.
***
Beberapa hari berlalu, Theo dan Maerin masih tinggal di gubuk kakek dan nenek. Theo sering membantu kakek di hutan, mencari kayu bakar serta bahan makanan. Dan Maerin membantu nenek di gubuk, dia belajar memasak dan perkerjaan rumah lainnya. Kakek dan nenek merasa lebih bahagia karena memiliki teman bicara dan bergurau, namun mereka juga dilema antara ikut perjalanan Theo dan Maerin ke kampung halamannya atau tetap bertahan di gubuk itu menunggu putranya datang. Semakin hari semakin dilema.
Dua hari, tiga hari berlalu. Tak terasa seminggu pun berlalu, Theo merasa sudah waktunya dia pergi. Malam itu saat mereka makan bersama, Theo mengatakan pada kakek dan nenek, "Kakek dan nenek, sebaiknya ikut kami pergi menuju kampung halaman kalian. Di sini sudah tak aman lagi, beberapa kali saya sering melihat bandit. Cepat atau lambat mungkin akan mengetahui gubuk ini. Jadi lebih baik kita bergerak. Kita pergi." Theo terlihat sangat serius. Kakek dan nenek hanya saling menatap satu sama lain dalam diam.
"Saya benar-benar menginginkan kakek dan nenek pergi bersama kami." Ucap Maerin penuh harap.
"Tapi, bagaimana dengan putra kami?" Jawab nenek ragu.
"Jika saya memposisikan diri jadi putra kalian. Tentu saja saya akan ke sini, namun jika tak bertemu kalian. Saya pasti akan menuju kampung halaman, sudah pasti itu tujuan kakek dan nenek untuk kembali kan?" Theo menjelaskan pelan.
"Kau yakin itu yang akan dipikirkan putra kami?" Tanya nenek.
"Tentu saja. Itu pikiran paling logis yang ada." Tegas Theo.
"Bagaimana menurutmu, kek?" Tanya nenek sambil melihat ke arah kakek.
"Terserah nenek saja. Jika nenek menginginkan pergi bersama Theo dan Maerin, mari pergi. Jika tidak, kakek akan selalu bersama nenek." Jawab kakek sambil menyentuh punggung tangan kiri nenek yang duduk di sebelahnya.
"Aku ingin bisa melihat kampung halaman kita terakhir kalinya." Nenek menjawab sambil meremas pelan punggung tangan kakek yang memegang tangan kirinya itu dengan tangan kanan nenek. Keduanya saling bertatapan dan tersenyum haru, Theo dan Maerin saling bertatapan dan tersenyum lega mendengar keputusan kakek dan nenek.
"Jadi, mari segera istirahat. Karena besok kita akan memulai perjalanan." Kata Theo.
"Wahh.. saya sangat menantikannya." Maerin terlihat antusias. "Bolehkah hari ini saya tidur dengan nenek?" Tanya Maerin pada nenek.
"Maerin... kau tega menyuruh kakek tidur di tikar bersamaku?" Tanya Theo.
"Ah benar, maafkan saya. Saya terlalu senang hingga lupa diri." Maerin tertunduk malu dan merasa bersalah.
"Sudahlah, Theo. Biarkan Maerin dan nenek tidur bersama. Apa kau yang enggan tidur bersamaku di tikar?" Kata kakek sedikit meledek Theo.
"Bukan seperti itu, kek. Hanya saja kakek dan nenek harus tidur dengan nyaman." Jawab Theo.
"Tidur dimanapun terasa sama saja. Toh cukup menutup mata saja kan." Jawaban Kakek ini menusuk hati Theo. Entah mengapa dia merasa bersalah.
***
Keesokan paginya, mereka bersiap. Ya mereka melakukan perjalanan dengan gerobak yang ditarik kuda yang tidak cukup besar itu. Tak banyak barang yang dibawa, kakek dan nenek hanya membawa beberapa pasang pakaian mereka yang terlihat masih cukup bagus menurut mereka.
"Nah kakek dan nenek silakan naik gerobak dengan nyaman. Maerin juga. Saya akan berjalan sambil mengobrol dengan Milo(Kuda yang menarik gerobak)." Kata Theo.
"Saya juga ingin berjalan kaki." Kata Maerin.
"Kita bisa menaikinya bersama, dan beristirahat sesering mungkin untuk memulihkan tenaga Milo." Kata kakek.
"Itu terlalu beresiko untuk Milo ataupun untuk kita. Sebab perjalanan ini cukup jauh, menurut saya bisa memakan waktu hingga 2 minggu atau lebih dikarenakan kondisi kita. Jadi sebaiknya seperti yang saya sebutkan saja. Semoga perjalanan kita tak mengalami hambatan." Jawab Theo
"Baiklah... aku mempercayaimu, nak." Jawab kakek.
Mereka pun mulai berangkat, Milo berjalan perlahan dan Theo berjalan di sebelahnya sambil sesekali mengelus Milo dan mengobrol ringan dengan Milo. Kakek hanya tersenyum melihat interaksi Theo dan Milo. Sementara Maerin berjalan di belakang Theo sambil bercanda ringan dengan nenek. Nenek pun sering sekali menanyakan pada Maerin atau Theo jika ingin minum atau beristirahat. Nenek terlihat begitu mengkhawatirkan mereka. Hari itu berawan jadi tak begitu terasa panas. Mereka berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Kadang Maerin ikut naik gerobak sebentar, namun kembali berjalan bersama Theo. Hari pun semakin gelap, Theo menyarankan mencari tempat untuk beristirahat yang menjauhi jalanan utama. Mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan sebab Theo menyadari pertahanan rombongannya sangat lemah.
Bersambung...