Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Malam di Kota Surabaya terasa gerah, namun di dalam ruang keluarga kediaman Adytama yang berpendingin udara sentral, suasana justru terasa mencekam dengan rengekan yang tak kunjung usai. Haris Adytama duduk di kursi kebesarannya sambil memijat kening, sementara Reva sibuk mengoleskan krim oles pada lengan dan kaki Bianca yang tampak kebiruan.
"Aduh! Pelan-pelan, Mama! Sakit tahu!" jerit Bianca manja, air matanya sudah mengalir merusak riasannya yang berantakan.
"Sabar, Sayang. Mama juga sedih melihat kulit mulusmu jadi lebam-lebam begini," ucap Mama Reva dengan nada prihatin yang berlebihan. Ia menoleh pada suaminya. "Ayah, lihat ini. Baru seminggu Bianca magang di Mahardika Group, badannya sudah hancur begini. Masa anak kita disuruh angkat-angkat boks di gudang? Ini keterlaluan!"
Bianca sesenggukan, memeluk bantal sofa dengan erat. "Ayah, Bianca nggak mau balik ke sana lagi. Biar Bianca magang di kantor Ayah saja, ya? Di sana Bianca diperlakukan seperti buruh kasar, Yah. Kakiku lecet, tanganku kasar, dan Mas Raditya... dia bahkan tidak menoleh padaku sama sekali!"
Ayah Haris mengembuskan napas panjang. "Bianca, itu pilihanmu sendiri. Kamu yang bersikeras mau masuk ke Mahardika Group untuk mendekati Raditya Mahardika. Kalau sekarang Ayah tarik kamu ke kantor Ayah, apa kata orang nanti? Kamu mau dianggap pecundang oleh Raditya?"
"Tapi Ayah, aku nggak kuat! Tadi ada kecoa besar sekali di atas arsip tahun 2010. Aku hampir pingsan!" rengek Bianca lagi.
Mama Reva mengelus rambut putrinya. "Sayang, ingat tujuan kita. Kamu harus mengambil hati Raditya. Kalau kamu menyerah sekarang, semua usaha kita sia-sia. Mungkin ini memang tes dari dia. Laki-laki seperti Raditya pasti mencari pendamping yang tangguh, bukan yang gampang menyerah."
Bianca terdiam, meski dadanya masih sesak oleh rasa tidak terima. Di kepalanya, bayangan kemewahan menjadi Nyonya Mahardika bertarung sengit dengan rasa lelahnya bekerja di gudang pengap.
Berbeda dengan keriuhan di ruang tengah, halaman belakang rumah Adytama terasa sunyi dan dingin. Hanya suara jangkrik dan gemericik air kolam yang menemani Kirana. Di atas meja kayu, laptopnya masih menyala, memancarkan cahaya biru yang menerangi wajahnya yang letih. Tumpukan berkas dari KiraPharma berserakan di sekelilingnya.
Kirana baru saja selesai menghitung proyeksi kerugian akibat sabotase supplier yang kemarin hampir terjadi. Meski masalah itu selesai secara misterius, ia tetap harus merapikan administrasinya. Rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang pertahanannya. Perlahan, kepalanya terkulai ke atas meja, berbantalkan lengannya sendiri. Kirana tertidur pulas dalam posisi duduk, terlalu lelah bahkan untuk sekadar berjalan ke kamarnya sendiri.
Di paviliun kecil tak jauh dari sana, Rio baru saja selesai membersihkan diri. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek, tampak lebih santai namun tetap memancarkan aura yang kuat. Saat ia hendak menutup jendela kamarnya, matanya menangkap sosok Kirana yang diam tak bergerak di halaman belakang.
Rio melangkah keluar. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak terdengar di atas rumput. Ia berdiri di samping Kirana, menatap wajah wanita itu yang tampak begitu damai sekaligus rapuh saat tidur. Ada sedikit sisa tinta di jarinya, membuktikan betapa kerasnya ia bekerja.
"Mbak Kirana... kenapa selalu memaksakan diri?" bisik Rio sangat pelan.
Ia kembali ke kamarnya, mengambil sebuah selimut tebal yang harum. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut membangunkan kupu-kupu yang sedang hinggap, Rio menyelimuti bahu Kirana. Ia memastikan ujung selimut itu menutupi tubuh Kirana agar tidak kedinginan oleh angin malam Surabaya yang kadang menusuk.
Saat ia merapikan letak selimut, matanya tak sengaja melihat sebuah berkas yang menyembul dari tas kerja Kirana. Itu adalah laporan analisis pasar farmasi yang sangat detail, lengkap dengan coretan-coretan tangan Kirana yang cerdas. Raditya, di dalam benak Rio, merasa kagum.
Dia bukan hanya bekerja keras, dia memahami visinya sendiri, pikir Raditya.
Tanpa disadari oleh Rio, Bi Tuti yang hendak menutup pintu dapur menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan. Bi Tuti tertegun. Ia sudah puluhan tahun bekerja di keluarga ini dan sudah melihat banyak supir datang dan pergi. Namun, cara Rio menatap Kirana, cara pria itu memperlakukan Kirana dengan rasa hormat yang begitu dalam... itu bukan tatapan seorang supir kepada majikannya.
Rio ini... dia punya tatapan seperti seorang pelindung, bukan pelayan, batin Bi Tuti penuh tanya.
Namun, Bi Tuti bukan satu-satunya yang melihat. Bianca, yang merasa haus dan hendak mengambil air dingin di dapur, menghentikan langkahnya saat melihat bayangan orang di halaman belakang melalui pintu kaca. Ia mengintip dengan mata menyipit.
Di sana, ia melihat Rio—supir yang tadi ia maki-maki karena bau debu—sedang berdiri di samping Kirana. Bianca melihat bagaimana Rio menyelimuti Kirana dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Bianca melihat Rio sempat berhenti sejenak hanya untuk memandangi wajah Kirana sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi dengan tenang.
Dada Bianca bergemuruh. Bukan karena ia menyukai Rio, tapi karena rasa iri yang selalu menghantuinya setiap kali Kirana mendapatkan perhatian.
Kurang ajar, batin Bianca dengan tangan mengepal. Aku di sini menderita, lebam-lebam, dan tidak ada yang peduli. Sementara Mbak Kirana? Dia bahkan bisa membuat supir murahan seperti Rio memperlakukannya seperti putri raja!
Bianca teringat betapa sombongnya ia tadi pagi menyuruh Rio menunggu seperti anjing. Tapi sekarang? Rio justru tampak begitu memuja Kirana. Sebuah pemikiran licik mulai tumbuh di kepala Bianca yang penuh rencana busuk.
Tunggu saja, Mbak Kirana. Kamu selalu sok suci, sok mandiri, dan sok kuat. Ternyata di belakang Ayah, kamu bermain api dengan supir di rumah ini? Ini akan menjadi tiketku untuk menyingkirkanmu dari rumah ini selamanya, pikir Bianca dengan seringai kemenangan.
Bianca segera mengeluarkan ponselnya, mencoba memotret pemandangan itu, namun Rio sudah terlanjur masuk ke kamarnya. Meski begitu, niat jahat sudah tertanam kuat di hati Bianca. Ia merasa bahwa tekanan pekerjaannya di gudang Mahardika Group adalah kesalahan Kirana secara tidak langsung, dan ia butuh pelampiasan.
"Kalau Ayah tahu putri kesayangannya bermesraan dengan supir rendahan... Ayah pasti akan mengusirnya. Dan saat itu terjadi, semua aset Ayah akan jadi milikku sepenuhnya," gumam Bianca penuh kebencian.
Malam itu, di bawah langit Surabaya yang sama, tiga orang terjaga dengan pikiran yang berbeda. Kirana dalam tidurnya yang lelah, Rio dengan rahasia besarnya yang mulai sulit disembunyikan, dan Bianca dengan rencana jahat yang siap meledak kapan saja.
***
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
ak suka karakter kirana anggun, tegas, murah hati bersahaja. ak suka karakter raditya yg punya power, tp anak yg hormat orgtua, tegas, melindungi n sweet dgn perhatian n pengorbanannya pokoknya paket komplit versi ga lebaiii, semangat selalu dtunggu double up nya ya 😍