aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interlude
Interlude — Kaisar Hukum Langit
Di puncak langit tak berbatas, di antara cahaya bintang dan nebula yang membentang seperti lautan emas dan perak, berdirilah Kaisar Hukum Langit. Sosoknya agung, bersinar dengan aura biru dan putih yang menenangkan, namun setiap gerakan memancarkan ketegasan tak terbantahkan.
Ia menatap alam semesta dari tinggi, melihat ribuan dunia yang berbeda, masing-masing dengan kaisarnya sendiri. Ada yang damai, ada yang kacau, tetapi yang paling menarik perhatiannya malam itu adalah dunia Aethoria, tempat manusia kini mulai berperang melawan invasi Antares.
Aku seharusnya tidak ikut campur… Kaisar Hukum Langit berpikir, matanya menelusuri kekacauan di dunia yang jauh di bawahnya. “Tapi ada sesuatu… seseorang… yang berbeda.”
Daniel. Nama itu muncul di benaknya, disertai gema aura yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pemuda itu telah mati sekali, dihidupkan kembali oleh Kaisar Hukum Langit sendiri, dan kini mulai membuka potensi yang jauh melampaui batas normal manusia.
Segel pertama… sudah dibuka. Segel kedua… hampir mencapai puncak penguasaan. Ia akan menjadi sesuatu yang bahkan aku sendiri harus perhatikan.
Kaisar Hukum Langit menutup mata sejenak, merasakan aliran hukum dan energi yang membentang di seluruh alam semesta. Ia tahu bahwa keputusan untuk memberi Daniel kesempatan bukan sekadar eksperimen, tapi strategi untuk menyeimbangkan kekuatan dalam menghadapi Antares. Jika kaisar iblis itu dibiarkan bebas, seluruh alam semesta akan terancam.
“Anak ini… meskipun manusia, ia mampu menjadi penopang keseimbangan. Namun jalannya masih panjang. Ia harus belajar pengendalian, pengorbanan, dan… tanggung jawab.”
Dalam kesunyian abadi di puncak langit, Kaisar Hukum Langit tersenyum samar. Ia menatap dunia Aethoria, merasakan denyut kehidupan, perang, dan tekad manusia. Daniel hanyalah salah satu pion dalam permainan besar alam semesta, tapi pion itu memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekadar pion—ia bisa menjadi kunci keseimbangan antara cahaya dan kegelapan.
Aku akan terus mengamatinya. Aku akan memastikan ia siap menghadapi badai yang akan datang. Dan jika perlu… aku akan turun. Namun saat ini, ia harus menemukan jalannya sendiri.
Kilatan cahaya dari mata Kaisar Hukum Langit menyebar di langit, menyapu bintang-bintang, menyiratkan perhatian dan pengawasan yang lembut namun penuh kekuatan. Alam semesta bergerak dalam ritme hukum yang ia tetapkan, tetapi di tengahnya, Daniel adalah variabel baru yang akan menentukan arah keseimbangan.
Dan dengan itu, Kaisar Hukum Langit menarik kembali penglihatannya, membiarkan dunia berjalan sendiri, sambil tetap menunggu—menunggu saat di mana Daniel harus menghadapi ujian terbesarnya, bukan hanya sebagai manusia, tapi sebagai penopang langit itu sendiri.
Interlude — Kaisar Penopang Langit
Di balik cakrawala kosmik, di puncak dunia abadi yang tak terjamah oleh waktu, Kaisar Penopang Langit berdiri di atas pilar cahaya yang menembus dimensi. Aura emas dan perak menyelimuti tubuhnya, berdenyut mengikuti ritme alam semesta, setiap gerakan memancarkan energi yang mampu membangun atau menghancurkan dunia.
Berbeda dengan saudaranya, Kaisar Hukum Langit, ia tidak hanya mengamati. Kaisar Penopang Langit selalu aktif, selalu ikut campur dalam keseimbangan dunia, memandu dan menguji para penguasa dunia, dan kadang ikut campur dalam urusan manusia, terutama ketika kekacauan seperti invasi Antares muncul.
Ia menatap dunia Aethoria dari jauh, melihat reruntuhan kota, pasukan Hunter, dan sosok Daniel yang kini mulai menguasai Segel Kedua.
Anak manusia ini… menarik. Ia menunjukkan potensi yang luar biasa, bahkan untuk ukuran seorang Hunter yang dibimbing Kaisar Hukum Langit.
Kaisar Penopang Langit tersenyum samar, menyalurkan energi tipis ke arah dunia Aethoria. Ia bisa merasakan getaran segel, guntur, dan emosi yang mengalir melalui Daniel. Ia tahu bahwa anak ini adalah variabel kritis dalam konflik yang sedang berkembang—antara manusia, iblis, dan hukum kosmik.
“Segel Kedua hampir dikuasainya… Namun kekuatan hanyalah setengah dari jalan. Anak ini harus belajar strategi, pengorbanan, dan tanggung jawab. Jika tidak… ia akan hancur di tangan Antares.”
Berbeda dengan saudara kembarnya, Kaisar Penopang Langit tidak akan diam menunggu. Ia merencanakan untuk sesekali memberikan tanda, memperkuat atau menguji kemampuan Daniel dari jauh, menyiapkan manusia itu agar siap menghadapi badai yang akan datang. Ia menikmati proses ini—mengamati, membimbing, dan kadang mengintervensi ketika urusan alam semesta mengancam keharmonisan kosmik.
Di puncak cahaya, ia menatap bintang-bintang yang berputar, senyuman di wajahnya menandakan keyakinan.
Aku akan memastikan bahwa anak manusia itu menemukan jalannya. Tidak peduli berapa banyak badai yang harus ia hadapi… atau berapa banyak pengorbanan yang harus ia lakukan.
Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan percikan energi ke seluruh alam semesta, membiarkan dunia bergerak, namun tetap berada di jalur yang ia tentukan. Ia adalah Kaisar Penopang Langit—aktif, campur tangan, dan selalu siap mengarahkan keseimbangan agar tetap berjalan.
Interlude — Kaisar Iblis, Antares
Kegelapan itu tidak seperti malam biasa. Itu adalah kesadaran yang hidup, merayap di seluruh alam semesta, membisikkan janji kekuasaan dan kehancuran. Di tengah kegelapan itu berdiri Antares, Kaisar Iblis, aura merah pekat dan hitam membungkus tubuhnya seperti kabut darah dan bayangan. Matanya menyala, menembus dimensi, memandang dunia yang belum ia kuasai.
Manusia… lemah, namun berani. Mereka menantangku dengan cara yang tidak kuduga… terutama satu manusia kecil dari Aethoria.
Antares mengamati Daniel dari jauh, menyadari potensi yang lahir dari segel dan guntur. Ia tersenyum penuh kebencian dan kekaguman.
“Anak itu… terlahir untuk menjadi masalah,” bisiknya. “Ia telah dihidupkan kembali, dan kekuatan yang mengalir di tubuhnya… menarik. Tapi kekuatan hanyalah awal. Aku akan menghancurkan semua yang ia cintai, sehingga ia terpaksa berkembang—atau hancur.”
Aura iblisnya bergelora, gelombang energi gelap memantul ke berbagai dimensi, meracuni dunia-dunia yang lebih lemah dan menekan kaisar lain untuk menunggu. Ia tahu dua saudara kaisar—Hukum Langit yang pasif dan Penopang Langit yang aktif—sedang mengamati. Namun Antares tidak takut.
Mereka boleh mengamati. Tapi ketika waktunya tiba, aku akan menunjukkan bahwa kekacauan yang kutebarkan akan melampaui hukum mereka. Alam semesta ini… akan menjadi milikku.
Ia menatap langit Aethoria yang hancur, melihat Daniel dan timnya yang mulai bangkit dari reruntuhan. Antares tersenyum licik, menyadari bahwa ujian terbesar bagi manusia itu belum dimulai.
“Segel Kedua… kau boleh menjadi kekuatan yang hebat, Daniel. Tapi aku akan menyiapkan badai yang akan membuatmu menyesal pernah dibangkitkan. Aku akan memaksa manusia ini tumbuh… atau hancur.”
Dengan satu gerakan tangan, Antares menyebarkan gelombang energi hitam ke seluruh dimensi, merasuki bayangan dan menunggu. Ia sabar, licik, dan tahu bahwa setiap langkahnya akan memaksa Daniel menjadi ancaman yang lebih besar bagi dirinya sendiri.
Kegelapan itu menunggu, tapi Antares tahu, badai yang akan datang adalah miliknya untuk kendalikan. Dan saat itu tiba, alam semesta akan menanggung konsekuensi dari kemunculannya sebagai Kaisar Iblis.
Kaisar Bumi, Teramiel
Teramiel memandang dunia Aethoria dari kastil kristal di puncak gunung dunia Bumi. Dia adalah kaisar yang bijaksana tapi sangat pasif, lebih suka menjaga keseimbangan daripada ikut campur.
“Kekacauan Antares akan membahayakan dunia-dunia lain… tapi intervensi terlalu dini bisa merusak tatanan kosmik. Aku akan menunggu. Biarkan manusia belajar dari pertarungan mereka sendiri,” pikir Teramiel sambil menatap bintang-bintang yang berputar di langit.
Kaisar Api, Ignarion
Ignarion, kaisar dunia api, selalu mengamati pertempuran dengan panas mata yang membara. Ia percaya kekuatan harus ditempa melalui ujian, dan setiap kemajuan Daniel menarik perhatiannya.
“Jika manusia itu mampu menguasai guntur di sisinya, ia mungkin bisa menandingi beberapa kekuatan iblis. Menarik… aku harus mencatat ini untuk masa depan.”
Kaisar Air, Lyrisse
Di dunia lautan yang tak berujung, Lyrisse merasakan gelombang energi yang dikirim Daniel melalui segel. Ia lembut namun tegas, percaya bahwa kekuatan bukan hanya fisik, tetapi juga keseimbangan emosional dan mental.
“Anak itu… ia belajar lebih cepat daripada manusia kebanyakan. Tapi ia harus menjaga hati dan pikirannya. Gelombang emosionalnya bisa menjadi pedang atau perisai.”
Kaisar Angin, Zephyros
Zephyros duduk di langit yang selalu berputar, menyaksikan aliran udara dan energi di dunia Aethoria. Ia kaisar yang suka mengamati pergerakan, strategis, dan sabar.
“Setiap pertempuran Daniel memberi tanda bagi alam semesta. Ia mulai memahami ritme energi, tapi badai yang akan datang… akan menguji seluruh potensi segelnya.”
Kaisar Cahaya, Solarian
Solarian menatap dunia manusia dari istana emasnya yang menyinari galaksi. Ia percaya bahwa manusia memiliki potensi yang belum ditemukan sepenuhnya, dan Daniel adalah contoh yang langka.
“Jika manusia itu bisa menjaga ikatan emosional dengan sekutunya, ia bisa menjadi simbol harapan. Namun Antares akan memaksanya mengerti arti pengorbanan.”