NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Terindah

Ta'Aruf Terindah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Masa Lalu

Hujan turun pelan di Ciwidey sore itu. Kabut tipis menyelimuti kebun teh, membuat segalanya tampak samar—seperti masa depan Yasmin yang kini terasa tak lagi seterang dulu.

Sejak pertemuan keluarga dua pekan lalu, suasana berubah. Tidak ada lagi obrolan ringan antara dirinya dan Ragnar lewat pesan singkat. Tidak ada lagi suara berat yang menenangkan di sela-sela nasihat agama yang ia berikan dengan sabar. Semuanya menjadi lebih formal. Lebih hati-hati. Lebih berjarak.

Yasmin tahu penyebabnya.

Ibunya Ragnar.

Tatapan perempuan berdarah Belanda itu masih terbayang jelas di benaknya. Sorot mata yang seolah mengukur, menilai, membandingkan. Bukan hanya latar belakang Yasmin yang dipertanyakan, tapi juga keluarganya, pendidikannya, bahkan cara bicaranya.

“Kamu terlalu sederhana untuk masuk keluarga kami,” begitu kurang lebih maknanya, meski tak diucapkan secara langsung.

Yasmin menarik napas panjang. Ia tak marah. Hanya… merasa kecil.

Di sisi lain kota, Ragnar duduk sendiri di ruang kerjanya. Hujan yang sama menempel di kaca jendela apartemennya di Jakarta. Ia memutar-mutar tasbih kayu di jemarinya.

Ibunya tak setuju.

Ayahnya memilih diam.

Pamannya terang-terangan menyarankan perempuan lain—seorang dokter muda keturunan Ambon-Belanda yang dianggap “lebih sepadan.”

Dan kini, mantannya kembali muncul.

Ragnar memejamkan mata ketika mengingat nama itu.

Clara.

Perempuan yang dulu menemaninya sebelum ia memeluk Islam. Perempuan yang meninggalkannya karena tak bisa menerima keputusannya menjadi mualaf. Perempuan yang kini tiba-tiba kembali, membawa alasan klise: penyesalan.

Teleponnya bergetar.

Pesan dari Clara.

“Aku cuma ingin bicara, Rag. Tentang kita yang belum selesai.”

Ragnar menghapus pesan itu tanpa membalas.

Baginya, sudah selesai.

Namun rupanya, tidak bagi Clara.

________________________________________

Di Ciwidey, Yasmin sedang membantu ibunya melipat pakaian ketika sebuah amplop datang diantar kurir.

“Atas nama Yasmin Azzahra,” kata kurir itu.

Yasmin mengernyit. Ia jarang menerima surat.

Amplop itu tak mencantumkan nama pengirim.

Ia membukanya perlahan.

Isinya hanya beberapa lembar foto.

Dan sebuah catatan singkat.

Foto pertama: Ragnar bersama seorang perempuan bule cantik. Mereka tertawa di sebuah restoran mewah.

Foto kedua: Ragnar memegang tangan perempuan itu.

Foto ketiga: pelukan.

Yasmin menelan ludah.

Catatan di dalamnya bertuliskan:

“Kamu yakin ingin menikah dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya?”

Tangannya gemetar.

Ia tahu foto itu pasti lama. Wajah Ragnar di sana masih dengan gaya rambut berbeda. Tanpa janggut. Tanpa sorot mata yang kini lebih teduh.

Itu Ragnar sebelum menjadi mualaf.

Namun hatinya tetap terasa ditusuk.

Masa lalu.

Ia tahu setiap orang punya masa lalu. Ia pun punya. Tapi melihatnya dalam bentuk nyata seperti ini… rasanya berbeda.

Ibunya memperhatikan perubahan wajah Yasmin.

“Ada apa, Neng?”

Yasmin cepat-cepat menyembunyikan foto itu.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Tapi malamnya, ia tak bisa tidur.

Ia membuka kembali foto-foto itu. Memperhatikan ekspresi Ragnar di sana. Bahagia. Lepas. Tanpa beban.

Apakah ia pernah sebahagia itu bersamanya?

Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.

________________________________________

Di Jakarta, Ragnar menerima telepon dari nomor tak dikenal.

“Rag, ini aku.”

Clara.

Suara itu masih sama. Lembut, percaya diri.

“Apa lagi yang kamu mau?” tanya Ragnar dingin.

“Aku cuma ingin bertemu. Aku dengar kamu mau menikah?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Dia tahu tentang kita?”

Ragnar terdiam.

“Dia tahu kamu hampir melamarku dulu? Dia tahu kamu dulu membenciku karena aku tak mau masuk Islam?”

“Cukup.”

“Aku cuma tidak ingin kamu membohongi perempuan itu.”

Ragnar menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi.

Ia bersandar di kursinya. Mengusap wajahnya kasar.

Ia tak pernah membohongi Yasmin. Tapi memang… ia belum menceritakan semuanya.

Tentang Clara.

Tentang luka yang membuatnya nyaris kehilangan arah sebelum akhirnya menemukan Islam.

Tentang rasa bersalah yang dulu membuatnya menjauh dari Tuhan.

Ia ingin menceritakannya pada waktu yang tepat.

Tapi mungkin… waktu itu sudah terlambat.

________________________________________

Keesokan harinya, Yasmin mengirim pesan.

“Boleh kita bicara, Kang?”

Ragnar membaca pesan itu dengan perasaan tak menentu.

“Tentu. Ada apa?”

“Tentang masa lalu Akang.”

Ragnar terdiam lama sebelum menjawab.

“Kamu tahu dari siapa?”

“Tidak penting.”

Mereka sepakat untuk berbicara lewat panggilan video malam itu.

Ketika layar menyala, wajah Yasmin tampak lebih pucat dari biasanya. Namun tetap lembut.

“Aku minta maaf,” kata Ragnar lebih dulu.

“Kenapa minta maaf?”

“Karena aku belum cerita semuanya.”

Yasmin menatapnya.

“Perempuan itu siapa?”

Ragnar menarik napas panjang.

“Namanya Clara. Kami bersama sebelum aku masuk Islam. Aku ingin menikahinya dulu. Tapi dia menolak ketika aku memutuskan menjadi mualaf.”

“Akang masih mencintainya?”

Pertanyaan itu meluncur pelan, tapi tajam.

Ragnar menggeleng tanpa ragu.

“Tidak. Aku mencintai perempuan yang mengingatkanku pada Allah. Bukan yang menjauhkanku dari-Nya.”

Air mata Yasmin menetes.

“Kenapa foto-foto itu sampai ke aku?”

Ragnar terkejut.

“Foto?”

Yasmin menunjukkan amplop dan isinya lewat kamera.

Wajah Ragnar mengeras.

“Aku tidak tahu siapa yang mengirim itu.”

Namun di dalam hatinya, ia mulai menduga.

Clara.

Atau mungkin… ada orang lain yang ingin menggagalkan ta’aruf ini.

“Yasmin, dengar aku. Masa laluku memang tak sempurna. Aku bukan pria yang lahir dalam keluarga islami. Aku belajar dari nol. Aku pernah salah. Tapi aku tidak ingin mengulangnya.”

Yasmin terdiam.

“Aku tidak masalah dengan masa lalu, Kang,” katanya pelan. “Yang aku takutkan… kalau ternyata masa lalu itu belum selesai.”

Ragnar menatapnya lurus.

“Sudah selesai. Sejak aku bersyahadat.”

Hening menyelimuti mereka.

Yasmin mengusap air matanya.

“Aku hanya butuh kejujuran.”

“Kamu akan mendapatkannya.”

________________________________________

Namun badai belum berhenti.

Di rumah Ragnar, ibunya menerima tamu.

Clara.

Dengan senyum manis dan bahasa Belanda yang fasih, ia berbicara panjang lebar tentang masa lalunya bersama Ragnar.

Ibunya Ragnar mendengarkan dengan serius.

“Ragnar pria yang emosional,” kata Clara lembut. “Dia butuh perempuan yang memahami dunianya. Dunia bisnisnya. Dunia internasionalnya.”

Ibunya mengangguk perlahan.

“Perempuan desa itu… terlalu jauh dari dunianya.”

Clara tersenyum tipis.

“Ragnar pernah bilang, dia sulit melupakan saya.”

Kebohongan itu meluncur mulus.

Di saat yang sama, di Ciwidey, seseorang berdiri di depan rumah Yasmin.

Seorang lelaki muda.

Rafi.

Sahabat masa kecil Yasmin yang diam-diam masih menyimpan rasa.

Ia melihat mobil mewah milik keluarga Ragnar yang sempat datang minggu lalu.

Ia mendengar kabar tentang calon suami Yasmin.

Dan ia tidak rela.

“Aku tidak akan membiarkan Yasmin terluka,” gumamnya.

Di tangannya, masih ada satu amplop lagi.

Amplop berisi rahasia lain.

Rahasia yang bahkan Ragnar sendiri belum berani ungkapkan.

Masa lalu yang lebih kelam dari sekadar Clara.

Sebuah kecelakaan.

Sebuah kematian.

Dan sebuah rasa bersalah yang belum pernah benar-benar hilang.

Kabut Ciwidey semakin tebal malam itu.

Dan di antara doa-doa yang dipanjatkan Yasmin, ada satu yang paling lirih:

“Ya Allah… jika dia baik untukku, dekatkanlah. Jika tidak… jauhkan sebelum aku semakin dalam.”

1
Alvaraby
namanya juga novel 🤣
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
bukannya kecelakaan motor????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kok mbulet y thor,,,,kan diawal sudah dijelaskan masa lalu yang hampir menikah namanya Clara,,,,awal awal ceritanya bagus pertengahan kok mbulet gini????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
Clara gak ada nyerah nyerahnya y
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
lanjut,,,,,😍😍😍😍😍😍
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
penasaran lanjut,,,
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
masa SMP udah gak ingat wajahnya Yasmin???
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kata katanya tertata rapi banget thor,,,, lanjut semangat berkarya 💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!