Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai menyerang markas Yanto
Setelah beberapa saat. Komandan terlihat baru saja kembali setelah menemui seseorang yang tidak di ketahui.
Setibanya ia di markas sementara, komandan langsung mengumpulkan semua orang dan berkata...
"Malam ini juga kita akan melakukan penyerangan!" Kata komandan dengan serius.
Wawan membalas. "Lah!? Bukannya memang malam ini kita akan bergerak? Kenapa anda seperti baru membuat perubahan pada rencana!?"
Tak hanya Wawan, tapi semua orang juga heran kenapa komandan bertingkah seakan ia baru saja merubah jadwal penyerangan.
"Oh, iya juga ya. Saya lupa!" Ternyata dia hanya lupa.
"Ngomong-ngomong. Siapa yang tadi anda temui hingga pergi tergesa-gesa!?" Raisya bertanya.
"Temanku. Saya menemuinya untuk meminta bantuan!" Jawab komandan.
"Lalu? Apa dia akan memberikan bantuan!?" Wawan bertanya.
"Tentu saja dia akan membantu, tapi... Bantuannya hanya akan datang kalau kita sudah berhasil menangkap si Yanto!"
Ekspresi Wawan seketika tenggelam.
"Kalau kita berhasil menangkap si Yanto artinya kita sudah menyelesaikan tugas dan tidak memerlukan bantuan lagi!"
"Sama aja boong kalau begitu mah!" Kata Wawan tak habis thinking.
"Ya, mau bagaimana?!..."
"Prosedurnya benar-benar rumit. Dia sudah mau banyu saja sudah untung meskipun sudah tidak di perlukan lagi!" Semua orang memandang komandan dengan tatapan tak puas.
Kalau sudah tidak di butuhkan untuk apa meminta bantuan lagi?.
Itulah apa yang semua orang pikirkan pada saat ini.
Malam pun.
Kini semua orang yang standby di markas mulai berangkat menuju tempat persembunyiannya Yanto.
Lebih tepatnya, tempat ia menyembunyikan tabung-tabung yang telah ia ambil.
Lokasinya ada di pinggiran ibukota.
Tempat yang jarang sekali di lirik bahkan oleh orang-orang ibukota itu sendiri.
Makanya, tempat ini di anggap sangat aman oleh Yanto untuk menyembunyikan barang-barang ilegalnya itu.
Di sekitar gudang terbengkalai, tampak kumuh dari luar. Di sana terlihat kelompok Wawan sudah berada di posisi pengintai.
Mereka memantau keadaan di gudang itu dengan seksama dan dengan hati-hati, mencoba untuk meminimalisir munculnya sesuatu yang tidak terduga ketika misi di jalankan.
"Bagaimana!?" Tanya komandan pada agen Rambut Panjang yang memantau menggunakan teropong malam.
Sejenak agen itu terdiam karena harus fokus...
"Ada sekitar 7 orang di area luar. Kebanyakan dari mereka bersembunyi dengan sangat rapih hingga sulit untuk di deteksi!"
"Yang benar-benar bisa kita lihat hanya ada tiga orang saja yang berjaga!" Kata agen Rambut Panjang.
"Bisakah orang-orang yang bersembunyi itu di tangani lebih dulu!?" Tanya komandan.
"Kalau saja penembak jitu di kelompok kita masih hidup, tentu saja itu bisa. Tapi sekarang ia telah gugur, jadinya akan sulit!"
"Satu-satunya yang bisa di andalkan cuma Wawan, tapi dia kurang pengalaman!" Keduanya seketika menoleh ke arah Wawan.
Di saat bersamaan, Wawan terlihat sedang mengamati di tempat yang berbeda.
"... Benar-benar tidak ada pilihan lain, ya...!" Komandan berpikir sejenak, memperhitungkan segala macam kemungkinan dan resikonya.
Setelah merenung selama beberapa saat, komandan akhirnya mengambil keputusan berani dengan cara menyerahkan tugas ini pada Wawan.
Wawan di panggil dan dia beri tugas untuk menembak orang-orang yang yang bersembunyi itu.
"Apa?!" Tentu Wawan terkejut.
Ia pandai menembak tapi itu hanya dalam keadaan normal saja.
Sedangkan keadaan mereka sekarang di penuhi kegelapan malam yang membuat jarak pandang Wawan terbatas.
"Gak salah nih?! Kok aku yang di beri tugas ini!?" Kata Wawan meragukan dirinya sendiri.
"Tidak ada yang bisa melakukan tugas ini selain kamu, Wawan!"
"Sekarang ambil sniper ini, cari tempat tinggi dan tembak semua musuh yang merepotkan dari sana!" Wawan tempat terdiam ketika sniper panjang itu di berikan padanya.
"Jangan khawatir. Kamu tidak akan sendirian karena mentormu akan ikut menemani dan memberikan arahan padamu!" Yang di maksud adalah agen Rambut Panjang.
Wawan yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menghela nafas dan kemudian pergi untuk mencari tempat tinggi.
Di atas sebuah reruntuhan bangunan, di sana Wawan tengkurap dan mulai memantau posisi musuh-musuhnya.
"Oke, sekarang kamu cari musuh yang tersembunyi itu ada di sebelah mana!" Kata agen Rambut Panjang yang ikut tengkurep di samping Wawan.
"Loh!? Katanya anda akan memberitahukan posisi para musuh dan saya hanya perlu menembak!" Kata Wawan.
"Ini latihan untuk kamu!"
"Cari saja posisi musuhnya dan beritahukan pada saya.... Tapi jangan dulu di tembak!" Wawan sekali lagi menghela nafas.
Perlahan-lahan Wawan mulai mencari-cari dimana saja musuh yang bersembunyi itu.
Setelah beberapa saat mencari dan mengamati, Wawan mengungkapkan berapa banyak yang ia temukan dan bersembunyi di mana saja.
"Ada enam!"
"Dua di dekat pintu, dua di antara ilalang, satu di samping batu dan puing-puing sedangkan yang satu lagi di antara papan kayu lapuk yang ada di samping gudang!" Kata Wawan.
"Ya, kamu benar... Tapi kamu melewati satu orang!"
"Satu orang lagi bersembunyi di antara botol-botol kaca!" Kata agen rahasia.
Seketika Wawan mencari orang yang ada di antara botol kaca. "Ternyata benar, ada orang di sana!"
"Sempat aku kira dia orang tadi, tapi aku ragu karena tempat persembunyian berbahaya seperti itu!"
"Dia mungkin saja akan tertusuk jika tiarap di atas pecahan botol kaca!" Kata Wawan.
"Itu tergolong aman. Mentormu dulu, si Penembak Jitu pernah bersembunyi di tempat yang jauh lebih berbahaya!"
"Berbaur dengan buaya lah, ular lah, dan masih banyak lagi tempat-tempat berbahaya yang ia gunakan untuk bersembunyi!" Wawan sampai terdiam melongo mendengar itu.
Dalam kepalanya Wawan berpikir... 'Aku takut dia akan mati duluan sebelum di temukan oleh musuh kalau sembunyinya saja di tempat seperti itu.'
"Kalau kamu sudah siap. Segera tangani orang-orang itu!" Sempat terdiam karena masih ragu.
"Jangan ragu seperti itu!"
"Kalau kamu tahu nanti misi tidak akan selesai-selesai dan kerusuhan busa saja menjadi lebih parah!"
"Korban yang jatuh bisa lebih banyak lagi kalau kita menunda-nunda misi ini!" Karena di sesat oleh tugas dan tanggungjawab, Wawan pun dengan terpaksa mulai menembak.
Pertama, Wawan mengincar orang yang keberadaannya paling jauh dulu yaitu orang yang bersembunyi di antara ilalang.
Kemudian di susul dengan orang yang sembunyikan di bebatuan dan puing-puing.
"Aku sudah mengalahkan tiga. Tinggal empat orang lagi!" Kata Wawan sambil membuang selongsong pelurunya.
"Teruskan!" Kata agen Rambut Panjang.
Target selanjutnya ialah orang yang sembunyi di antara botol kaca dan orang yang sembunyi di antara papan kayu yang lapuk.
"Tinggal dua lagi... Tapi karena posisi keduanya berdekatan jadi satu tembakan akan membuat yang satunya sadar akan adanya penyerangan!" Kata Wawan sambil membidik salah satu yang berjaga di pintu.
Di saat yang bersamaan, komandan dan agen lain ternyata sudah maju dan sudah siap untuk menembak salah satu orang yang ada di pintu.
"Tembak yang mana saja, sisanya akan di urus oleh orang yang ada di garis depan!" Kata agen Rambut Panjang pada Wawan.
Wawan mengambil keputusan untuk menembak orang yang ada di kiri.
Dorr!!
Orang yang Wawan bidik langsung tumbang sementara yang satunya lagi terkejut.
Belum sempat orang itu berteriak, ia sudah di tembak oleh komandan yang memang sudah siap menembak sejak tadi.
Dorr!
Orang-orang yang berjaga di luar akhirnya selesai di tangani.
Wawan dan agen Rambut Panjang kembali ke dalam kelompok sebelum mereka masuk ke bagian dalam gudang.