di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Lautan Semut dan Api Biru
Matahari kembar di langit Gurun Tulang Merah akhirnya mulai tenggelam, menguraikan lautan pasir dengan warna ungu kemerahan yang memukau namun mencekam. Suhu udara yang tadinya cukup panas untuk melelehkan timah, kini terjun bebas menuju titik beku dalam memanggang selai.
Karavan Klan Jin bergerak lambat. Roda-roda kereta berderit memecah keheningan, ditarik oleh Unta Batu yang kelelahan.
Di atap kereta paling mewah, Ye Yuan duduk bersila, matanya terpejam. Angin malam yang menusuk tulang menerpa wajahnya, namun dia tidak bergeming. Bagi tubuh Pembentukan Fondasi miliknya, perubahan suhu ekstrem ini hanyalah angin lalu.
Pedang besar yang terbungkus kain perban hitam tergeletak di pangkuannya. Beratnya yang500 kilogram membuat atap kereta itu sedikit melengkung ke bawah, memaksa struktur kayu kereta bekerja keras menahannya.
"Tuan Pendekar..."
Sebuah suara lembut terdengar dari jendela kecil di bawah kaki Ye Yuan.
Ye Yuan membuka satu matanya. Itu Jin Ling, Nona Muda Klan Jin yang dia selamatkan kemarin.
"Ada apa?" tanya Ye Yuan datar.
"Malam sudah turun. Kami akan membangun kemah di belakang bukit pasir depan untuk berlindung dari angin. Apakah Tuan ingin turun makan bersama kami? Koki kami memasak sup daging kadal kering."
Ye Yuan menggeleng pelan. "Aku tidak lapar. Aku akan tetap di sini."
"T-tapi..." Jin Ling ragu sejenak. Dia penasaran dengan pemuda misterius ini. Wajah di balik caping itu terlihat masih sangat muda, mungkin seumuran dengannya, tapi memunculkan matanya setua gurun ini. "Setidaknya minumlah arak hangat ini. Kakek Gu bilang ini bagus untuk melancarkan darah."
Sebuah tangan putih menyodorkan botol kulit berisi arak.
Ye Yuan menatap botol itu sejenak, lalu mengambilnya. "Terima kasih."
Dia menenggak sedikit. Arak itu keras, membakar tenggorokan, tapi cukup nikmat.
"Siapa namamu?" tanya Jin Ling memberanikan diri. "Aku tidak bisa terus memanggilmu Tuan Pendekar, kan?"
Ye Yuan diam sejenak, menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan. Nama 'Ye Yuan' adalah buronan di kekaisaran Roh Azure. Tapi di sini, di perbatasan kekuasaan asing, nama itu mungkin belum dikenal.
Atau mungkin, dia tidak peduli lagi.
"Ye Yuan," jawabnya singkat.
"Tuan Ye," Jin Ling tersenyum manis. "Tujuanmu adalah Reruntuhan Kota Api Kuno, kan? Peta yang kau minta ada di tangan Kakek Gu. Dia sedang mempelajarinya untuk mencari rute teraman. Konon, di sana..."
Tiba-tiba, Ye Yuan mengangkat tangannya, memberi isyarat diam.
Senyum Jin Ling membeku. "Ada apa?"
Ye Yuan tidak menjawab. Dia meletakkan botol arak itu, lalu menempelkan telapak tangannya ke atap kereta kayu. Indra spiritualnya merambat turun melalui roda kereta, menembus ke dalam pasir.
Menggali... Menggali... Menggali...
Ada getaran halus. Sangat banyak. Dan sangat cepat.
Bukan langkah kaki kuda atau unta. Ini lebih seperti suara ribuan drum kecil yang dipukul di bawah tanah.
"Berhenti!" teriak Ye Yuan dengan keras.
Suaranya yang diperkuat Qi menggelegar, membuat seluruh karavan berhenti mendadak. Kakek Gu, kepala pengawal yang berada di depan, menoleh dengan wajah kesal.
"Apa lagi sekarang, Anak Muda? Kita harus mencapai bukit itu sebelum tengah malam!" seru Kakek Gu. Dia masih belum sepenuhnya percaya pada orang asing ini, meskipun Ye Yuan telah menyelamatkan mereka.
"Kalau kau maju sepuluh langkah lagi," kata Ye Yuan dingin sambil berdiri di atap kereta, "kalian semua akan tinggal tulang belulang."
Kakek Gu hendak memprotes, tapi tiba-tiba Unta Batu tunggangannya meringkik panik. Hewan itu enggan melangkah maju, kakinya menghentak-hentak pasir dengan gelisah.
KRESEK... KRESEK...
Suara itu kini terdengar oleh telinga manusia biasa. Suara menjual jutaan kaki kecil di atas pasir.
Permukaan gurun di depan mereka, sekitar lima puluh meter jauhnya, mulai "mendidih". Pasir merah itu bergelombang seolah ada udara yang mendidih di bawahnya.
"Itu..." wajah Kakek Gu langsung memucat. "Tidak mungkin... Bukan di musim ini..."
POOF!
Seekor makhluk seukuran anjing kampung melompat keluar dari pasir. Tubuhnya berwarna merah menyala, memiliki enam kaki tajam, dan memamerkan rahang besi yang mengeluarkan asap panas.
Semut Api Neraka.Binatang buas gurun yang hidup berkoloni. Satu ekor hanya setingkat Qi Level 2, tapi mereka tidak pernah sendirian. Mereka datang dalam jumlah ribuan.
"SEMUT API! SEMUANYA MEMBENTUK FORMASI LINGKARAN! LINDUNGI NONA MUDA!" teriak Kakek Gu histeris.
Detik berikutnya, gurun di depan mereka meledak.
Ribuan Semut Api Neraka membanjir keluar seperti gelombang darah merah. Mata mereka bersinar kuning buas, lapar akan daging segar. Suara rahang mereka lebarnya krak-krak-krak Mengerikan.
"Mundur! Mundur!"
Para pengawal karavan panik. Mereka menghunus senjata dan mulai dikurung.
CACAH!
Seekor semut terbelah, tapi cairan tubuhnya yang bersifat asam muncrat mengenai pelindung wajah itu.
"Arghhh!" Pengawal itu menjerit saat wajahnya meleleh.
Situasi langsung kacau balau. Jumlah semut itu terlalu banyak. Mereka meliputi kereta, menggigit kaki Unta Batu hingga hewan-hewan itu ambruk dan dimakan hidup-hidup dalam hitungan detik.
Jin Ling menjerit ketakutan di dalam kereta.
"Tuan Ye! Tolong!"
Ye Yuan berdiri tegak di atap kereta, memandangi lautan merah yang mendekat.
“Jumlahnya sekitar lima ribu,” analisis Ye Yuan tenang. "Jika aku lari sendiri, mudah. Tapi membawa beban ini..."
Dia melirik ke bawah. Jin Ling menatap dengan mata penuh air mata.
Ye Yuan menghela napas panjang.
"Pedangku butuh makan. Dan semut-semut ini punya inti api yang lumayan."
Ye Yuan meraih gagang pedang besar di punggungnya. Kali ini, dia tidak membuka perban kainnya. Kain itu sudah terisi debu dan darah kering, menjadi pelindung pisau pedang dari pasir.
Dia Ét turun.
LEDAKAN!
Ye Yuan mendarat tepat di depan kereta Jin Ling, menghalangi jalur semut-semut itu.
Gelombang semut menerjangnya. Rahang-rahang tajam menggigit kakinya.
Ting! Ting! Ting!
Suara logam beratu terdengar.Tubuh Pedang PerungguYe Yuan sekarang sekeras harta karun tingkat rendah. Gigi semut itu tidak bisa menembus kulitnya, bahkan patah saat mencoba menggigit otot betis Ye Yuan.
"Geli," gumam Ye Yuan.
Dia mengangkat pedang besarnya yang terbungkus kain. Berat 500 kilogram itu terasa pas di tangan.
"Enyahlah."
Ye Yuan mengayunkan pedang itu mendatar, menyapu tanah.
[Gaya Berat Asura: Sapuan Ekor Naga!]
BLAAAARRRR!
Sebuah gelombang kejut fisik bercampur Qi meledak dari ayunan pedang itu. Ratusan semut yang berada di barisan depan hancur lebur menjadi pasta merah. Tubuh mereka meledak karena tekanan udara yang dihasilkan ayunan Ye Yuan.
Darah dan potongan tubuh semut beterbangan ke segala arah, menciptakan hujan daging.
Para pengawal karavan yang sedang bertarung mati-matian ternganga melihat pemandangan itu. Satu ayunan membersihkan area seluas sepuluh meter di depan kereta!
Namun, Semut Api Neraka tidak memiliki rasa takut. Ribuan lainnya mengumpulkan mayat teman mereka, terus maju seperti air bah.
"Mereka tidak akan berhenti sampai Ratu mereka mati atau mereka habis," teriak Kakek Gu sambil mengurung dua semut. "Tuan Ye! Kita tidak bisa menang adu jumlah!"
Ye Yuan mengerutkan kening. "Merepotkan."
Jika dia terus menggunakan tenaga fisik, dia akan kelelahan sebelum semut ini habis. Dia membutuhkan area serangan yang lebih efektif.
Dia ingat sifat elemen semut ini:Api.
Dan elemen pedangnya:Api Bintang Dingin (Es/Api Biru).
"Api melawan api. Mari kita lihat mana yang lebih panas."
Ye Yuan menancapkan pedang besarnya ke tanah pasir.
Dia memejamkan mata, memusatkan Qi di Dantian-nya. Pusaran energi biru di dalam tubuhnya mulai berputar cepat, mengalir ke lengan, lalu ke gagang pedang.
Kain perban hitam yang membungkus pedang itu tiba-tiba terbakar oleh api biru transparan. Kain itu menjadi abu dalam kilatan, menampilkan wujud asliPedang Asura.
Hitam legam, besar, kasar, dengan pola aliran sungai biru yang menyala di sepanjang bilahnya.
Suhu di sekitar Ye Yuan turun drastis hingga napasnya mengeluarkan uap putih, kontras dengan panasnya gurun.
"Membeku."
Ye Yuan memutar gagang pedangnya.
[Teknik Pedang Asura: Ladang Beku Bintang Dingin!]
WOUUSSH!
Lingkaran api biru meledak dari pedang yang tertancap itu, menyebar dengan cepat di atas permukaan pasir seperti ombak lautan.
Api biru itu tidak membakar semut-semut itu menjadi abu. Sebaliknya, saat api itu melewati tubuh semut merah yang panas itu...
Krek... Krek... Krek...
Ribuan semut itu membeku seketika menjadi patung es kristal berwarna biru! Api di dalam tubuh mereka padam total, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan.
Dalam radius lima puluh meter di sekeliling wilayah Jin Ling, dunia berubah menjadi padang es yang indah namun mengerikan.
Ribuan patung semut berdiri kaku dalam berbagai pose menyerang.
Ye Yuan memegang pedangnya.
MALA!
Getaran dari cabutan pedang itu membuat semua patung es semut itu hancur berkeping-keping menjadi serbuk es halus.
Hening.
Angin kembali malam mengisyaratkan, membawa butiran es yang berkilauan di bawah sinar bulan.
Para pengawal karavan menjatuhkan senjata mereka. Kakek Gu mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Api... Api yang membekukan?" bisik Kakek Gu gemetar. "Itu... Itu adalah Api Bumi Tingkat Tinggi! Siapa sebenarnya pemuda ini? Bahkan Tetua Sekte besar pun jarang memiliki api sekuat ini!"
Ye Yuan berdiri di tengah hamparan es itu. Dia sedikit terengah-engah. Teknik area luas ini memakan 30% cadangan Qi-nya.
Namun, dia merasa puas. Pedang Asura berdenyut senang. Esensi api dari ribuan semut itu telah diserap, memperkuat elemen Bintang Dingin di dalam pedang.
Ye Yuan mengambil kembali kain perban cadangan dari tas penyimpanannya, lalu melilit pedang itu kembali dengan tenang, seolah dia baru saja menyapu debu, bukan memusnahkan satu koloni monster.
Dia berbalik menatap Jin Ling yang mengintip dari jendela kereta dengan wajah pucat namun mata berbinar kagum.
"Aman," kata Ye Yuan singkat.
Lalu dia melompat kembali ke atap kereta, duduk bersila, dan memejamkan mata.
"Jalanlah. Jangan buang waktu. Bau darah ini akan memancing predator lain."
Kakek Gu tersentak sadar. "Y-ya! Semuanya! Cepat perbaiki formasi! Ganti unta yang mati! Kita bergerak sekarang juga!"
Sikap Kakek Gu berubah 180 derajat. Tidak ada lagi keraguan atau tatapan meremehkan. Yang ada hanya rasa hormat dan ketakutan yang mendalam terhadap pemuda di atap kereta itu.
Malam itu, tidak ada lagi binatang buas yang berani mendekati karavan Klan Jin. Aura sisa Api Bintang Dingin yang menempel pada kereta itu sudah cukup untuk membuat raja serigala gurun sekalipun lari ketakutan.
Dua hari kemudian, di cakrawala yang bergetar karena panas...
Sebuah pemandangan menakjubkan terlihat.
Di tengah gurun merah, menjulang sisa-sisa tembok raksasa yang terbuat dari batu obsidian hitam yang meleleh. Di tengahnya, terdapat kawah raksasa yang memuntahkan pilar api abadi ke langit.
Reruntuhan Kota Api Kuno.
Ye Yuan berdiri di atap kereta, menatap pilar api itu.
Pedang di punggungnya bergetar lebih kencang daripada sebelumnya. Kali ini, getarannya disertai rasa sakit di dada Ye Yuan.
"Ada sesuatu di sana," bisik Ye Yuan. "Sesuatu yang memanggil kita pulang."
Ye Yuan melompat turun dari kereta.
"Nona Jin Ling, kesepakatan kita selesai di sini," kata Ye Yuan tanpa menoleh. "Kalian pergilah ke kota perdagangan di barat. Jangan ikuti aku ke dalam reruntuhan."
"Tapi Tuan Ye! Tempat itu..." Jin Ling ingin memperingatkannya.
"Tempat itu adalah kuburan," potong Ye Yuan. Dia mulai berjalan menuju reruntuhan kota itu sendirian.
"Dan aku adalah penggali kuburnya."
Langkah kaki Ye Yuan membawanya menjauh dari dunia manusia, masuk ke dalam wilayah para dewa dan iblis kuno yang telah lama mati.
Di dalam reruntuhan itu, takdir Ye Yuan yang sebenarnya tentang asal-usul pedang patah itu akan mulai terkuak.
[Bersambung ke Bab 23]