NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Majalah & Video Syuur part 2

"Boleh kok, malah mamah seneng banget papah jadi perhatian deh sama mamah," ucap Ny Lusi dengan nada yang semakin mesra, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Pak Hartawan dengan penuh rasa nyaman.

"Mamah senam dan ngegym pah, biar tubuhnya tetap sehat dan tidak cepat kendur," ucap mesra Lusi sambil sedikit menggerakkan tubuhnya agar lebih nyaman di bahu suaminya. "Habis itu ke salon agar mamah tetap fresh dan cantik buat papah," ucapnya lagi dengan suara lembut yang membuat Pak Hartawan merasa semakin cinta.

Tiba-tiba Narti datang membawa segelas air dingin yang sebelumnya sudah dia sediakan, dia mendekati meja di ruang tengah dengan langkah pelan dan menaruhnya dengan hati-hati.

"Maaf tuan besar, ini airnya Narti taruh di atas meja," ucap Narti dengan suara sopan, namun matanya tetap melihat Pak Hartawan dengan tatapan yang membuat Ny Lusi sedikit merasa tidak nyaman.

"Ya terima kasih Narti," jawab Pak Hartawan dengan senyum singkat, kemudian melihat ke arah Yati yang sedang berdiri di belakang Narti.

"Sama sama Tn. Besar," ucap Narti sebelum dia dan Yati berjalan kembali ke arah dapur untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

"Kami permisi Tn dan Ny besar," ucap Yati dan Narti secara bersamaan sebelum keluar dari ruangan tengah.

"Ya silahkan," ucap Hartawan dan Lusi secara bersamaan, kemudian kembali fokus pada diri mereka berdua.

Beberapa saat keheningan terjadi diantara keduanya. Lusi sepertinya merasa sangat lelah sehingga tertidur pulas sebentar di bahu Hartawan, tubuhnya sedikit menggeliat setiap beberapa detik. Setelah beberapa menit, dia perlahan menggeliat dan mengangkat kedua tangannya untuk merenggangkan ototnya yang sedikit kaku. Saat dia menggerakkan tubuhnya, semerbak aroma parfum lembut feminimnya menyeruak lembut di hidung pak Hartawan, membuatnya merasa semakin cinta kepada istrinya.

"Heem harum mewangi... Aroma parfum ini yang membuat aku tergila-gila kepada Lusi," ucap Hartawan dalam hati, matanya penuh dengan rasa kagum melihat kecantikan istrinya yang tetap terjaga meskipun sudah berusia cukup panjang. Kemudian pak Hartawan mendekatkan mulutnya ke telinga Ny Lusi dengan lembut dan berbisik.

"Mah Yuli minta di temani malam ini sama papah... Gimana menurut mamah?" tanya Pak Hartawan dengan suara pelan agar tidak mengganggu suasana yang tenang.

Ny Lusi sedikit mengangkat kepalanya dari bahu suaminya dan melihatnya dengan senyum manis. "Yuli kan sudah besar loh pah, sudah SMA bukan seperti dulu lagi yang masih kecil, imut dan selalu minta papah ajak main, dipangku, nemenin tidur, mendongengkan cerita dongeng dan...."

Pak Hartawan langsung memotong ucapan istrinya dengan sedikit tersenyum. "Panjang amat jawabannya sih mah, padahal mamah hanya cukup bilang ya atau tidak aja kan?" ucap pak Hartawan kepada Ny Lusi dengan nada yang penuh candaan.

"Terserah papah aja, tapi papah nanti mamah bersihkan dulu ya," ucap Ny Lusi dengan suara yang sedikit misterius, kemudian berdiri dan menarik tangan suaminya dengan lembut.

Pak Hartawan terbengong-bengong di tempat duduknya, wajahnya menunjukkan rasa kebingungan yang jelas. Dia tidak mengerti maksud ucapan dari istrinya—yang pasti dirinya belum mandi setelah pulang dari meeting, namun selama ini pak Hartawan selalu mandi sendiri tanpa pernah di bantu atau dibersihkan oleh istrinya, baik pagi, sore, maupun malam.

Bersamaan dengan itu, Ny Lusi berjalan perlahan menuju kamarnya dengan tangan yang masih menggandeng tangan suaminya, dan Pak Hartawan hanya bisa mengikuti langkahnya dengan rasa penasaran yang semakin besar. Akhirnya keduanya masuk dalam kamar utama mereka yang luas dan penuh dengan dekorasi mewah.

"Pah mamah mau mandi dulu biar wangi," ucap Ny Lusi dengan senyum manis sebelum melepaskan tangan suaminya dan berjalan ke arah kamar mandi.

"Mamah gak mandi juga aromanya tetap harum semerbak lho," goda pak Hartawan kepada istrinya dengan suara penuh cinta, matanya tetap mengikuti gerakan tubuh Lusi yang anggun.

"Mulai geniit niiih si papah," goda balik Ny Lusi sambil sedikit memutar tubuhnya sebelum memasuki kamar mandi.

"Kita mandi bareng aja ya mah?" ajak pak Hartawan lagi dengan nada yang penuh harapan, ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.

"Ogaaaah aaah... Mamah maunya mandi sendiri aja di bathub, mandi madu dan kembang biar kulitnya tetap lembut dan harum," ucap Ny Lusi dengan suara lembut sebelum menutup pintu kamar mandi dengan perlahan.

Pak Hartawan hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dia mengambil handuk besar dari lemari dan berjalan menuju kamar mandi khusus buat dirinya yang terletak di sisi lain kamar tidur—lebih besar dari kamar mandi istrinya dan dilengkapi dengan pancuran besar serta bak mandi yang luas. Kedua kamar mandi berada dalam satu ruangan kamar tidur utama mereka, membuatnya sangat nyaman untuk digunakan.

15 menit kemudian, pak Hartawan terlihat lebih segar setelah selesai mandi dengan sabun aromaterapi yang membuat tubuhnya merasa rileks. Dia segera memakai pakaian dalam dan baju tidur kasual, kemudian duduk di meja kerjanya yang terletak di sudut kamar. Dia membuka salah satu buku favoritnya tentang Politik dan segera masuk kedalam dunia bacaan yang membuatnya bisa melupakan segala kekhawatiran sejenak.

Sementara itu, sang Istri Ny Lusi baru keluar dari kamar mandinya setelah hampir satu jam lamanya mandi. Dia berpakaian sangat seksi dengan gaun tidur renda yang tipis dan transparan, berdandan dengan rapi serta memakai parfum mahal yang dia tahu sangat disukai suaminya. Dengan langkah anggun, dia menghampiri dan mendekati Suaminya yang masih asik membaca buku.

"Ayoo pah... Mamah bersihkan papah ya," ucap Ny Lusi dengan suara mesra, kemudian menarik tangan suaminya dengan lembut agar berdiri dan mengikuti langkahnya.

"Mah kamu tuh mau bersihkan papah lagi??? Tapi papahkan sudah mandi bersih loh, mamah gak perlu repot-repot buat ngebersihin papah lagi," ucap Pak Hartawan dengan wajah yang kebingungan, tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh istrinya.

"Sssst... Jangan berisik sebentar lagi kita sampai ke kamar Yuli," ucap Ny Lusi dengan suara pelan namun tegas, tangan kanannya tetap menggandeng tangan suaminya dengan erat.

"Ya mah, papah udah tahu kok kita udah ada di depan pintu kamarnya," jawab Pak Hartawan dengan sedikit tersenyum, sudah bisa melihat pintu kamar Yuli yang terletak tidak jauh dari kamar utama mereka.

"Ya udah papah buka handle pintunya dan kita berdua bisa langsung masuk," ucap Ny Lusi dengan suara penuh perhatian, sudah tidak sabar untuk melihat kondisi putri mereka yang sudah dia dengar sedang tidak enak badan.

Akhirnya keduanya sudah berada di dalam kamar Yuli setelah Pak Hartawan membuka pintunya dengan perlahan.

"Ya Allah Yuliii!!!" Teriak Ny Lusi dengan suara tinggi yang membuat Pak Hartawan sedikit terkejut, matanya langsung melihat sekeliling kamar yang benar-benar berantakan. "Kamar tidur Kamu kok begini amat SIIIH, kayak kapal pecah!"

"Bukan Kapal pecah mah, tapi seperti rumah yang habis kebanjiran, banjir bandang acak-acakan," canda pak Hartawan mencoba melucu di hadapan ...istrinya, berharap bisa mimenenangkan suasana yang sedikit tegang.

"Gak lucu aah pah, mamah lagi serius malah papah becandain," ujar Ny Lusi dengan nada sedikit kesal namun tetap penuh kasih sayang. Dia melihat sekeliling kamar dengan ekspresi prihatin—buku pelajaran tergeletak sembarangan di lantai, pakaian bercampur dengan mainan kecil, dan seprai tempat tidur yang sudah kusut total.

"Lalu kita mau apa sama kamar putri kita ini mah???" tanya Pak Hartawan dengan suara lembut, melihat Yuli yang masih tertidur pulas di atas kasur. "Mamah mau besok Yati dan Narti membersihkan semuanya," ucap Ny Lusi dengan keputusan tegas, sudah mulai merapikan beberapa buku yang tergeletak di kursi.

"Ide cemerlang, papah setuju itu, sebaiknya emang begitu mah," jawab Pak Hartawan sambil mulai membantu merapikan benda-benda kecil di sekitar kamar.

"Klo papah mah seneng pasti ngeliat kamar Yuli acak-acakan kan?" ucap Ny Lusi dengan nada yang sedikit menyindir namun penuh perhatian.

"Kok mamah begitu ngomongnya sih!!!" balik Pak Hartawan dengan sedikit heran.

"Ya iyalah pah, karena pakaian Yuli semuanya acak-acakan kan pah? Coba papah lihat pakaian yang menempel di tubuhnya?" ucap Ny Lusi sambil mendekati tempat tidur Yuli. "Berantakan kan??? Yang terlihat hanya kulit putih yang mulus dan buah dada yang mengkel serta pakaian super ketatnya hingga lekuk-lekuk di tubuhnya terlihat jelas. Semua itu mengundang birahi kaum laki-laki tanpa terkecuali," tambahnya dengan suara pelan namun jelas.

Pak Hartawan melihat ke arah putri angkatnya yang sedang tertidur. Sesuai dengan apa yang dikatakan istrinya, pakaian Yuli memang terlihat sangat tidak rapi dan menutupi tubuhnya dengan tidak benar. Dia langsung beristigfar dengan cepat. "Astaghfirullah..." ucapnya dan terdiam sesaat karena apa yang di katakan istrinya semuanya benar adanya.

Terlihat Ny Lusi merapihkan rambut Yuli yang awut-awutan dengan lembut, kemudian dengan penuh kelembutan menyusun kembali pakaian atas dan pakaian bawah Yuli yang acak-acakan. Dia mengambil selimut tebal dari ujung tempat tidur dan menyelimuti Yuli dari leher sampai kaki dengan hati-hati, memastikan bahwa aurat putri mereka tertutupi dengan baik. Setiap gerakannya penuh dengan kasih sayang dan perhatian yang mendalam, menunjukkan betapa dia mencintai Yuli seperti anak kandungnya sendiri.

Setelah merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya, Ny Lusi duduk di tepi tempat tidur dan menepuk-nepuk pundak Yuli dengan lembut. "Sayang... Yuli sayang..." panggilnya pelan. Namun Yuli masih terlihat sedang tidur pulas, mungkin karena terlalu lelah setelah kejadian tadi malam.

"Sudah deh mah, biarkan dia saja tidur dulu. Besok paginya kita ajak dia bicara dengan tenang aja," ucap Pak Hartawan dengan suara lembut, menyentuh bahu istrinya untuk memberikan rasa tenang. "Kita juga harus berhati-hati dalam menangani masalah ini ya mah, jangan sampai kita salah menyalahkan orang sebelum tahu kebenaran yang sebenarnya."

Ny Lusi mengangguk perlahan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Ya pah kamu benar. Tapi kita juga harus melindungi Yuli kan? Jangan sampai ada yang menyakitinya lagi," ucapnya dengan suara penuh perhatian.

Keduanya kemudian keluar dari kamar Yuli dengan hati-hati, menutup pintunya dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur putri mereka. Di luar kamar, mereka berdiri sebentar sambil melihat satu sama lain, sudah sepakat bahwa besok paginya akan mencari tahu kebenaran tentang paket yang diberikan kepada Yuli, dan memastikan bahwa semuanya akan teratasi dengan baik tanpa menyakiti siapapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!