Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2 – PETUNJUK BERMUNCULAN SATU PERSATU
Pagi itu, suasana pun mencekam saat sipir penjara menemukan mayat napi di kamar mandi dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Bau busuk sudah menyebar, mengundang lalat-lalat hijau yang berkerumun di sekitar tubuh. Wajah napi itu tak lagi berbentuk, hanya berupa pulp darah dan daging yang mengenaskan.
Kenzo yang melintasi kerumunan itu memandang ke arah mayat tersebut, lalu tiba-tiba emosinya kembali bergejolak. Aura pembunuh yang tak terkendali menyembur dari tubuhnya, membuat suasana lokasi tersebut semakin mencekam. Suhu sekitar seolah turun beberapa derajat.
"K-kenapa tubuhku tiba-tiba merinding?"
"B-benar sekali, a-aku juga merasakannya."
"Hii... J-jangan-jangan tempat ini berhantu..."
Para napi yang berkerumun itu pun merasakan ketakutan yang tiba-tiba. Beberapa dari mereka mundur perlahan, menciptakan jarak dengan Kenzo yang berdiri diam. Mereka tidak tahu dari mana datangnya rasa takut itu, tapi naluri mereka berteriak untuk lari.
Kenzo pun melangkah pergi, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku ketakutan.
......................
"Ada apa ini!!!"
"Bagaimana bisa dalam satu minggu dua kejadian pembunuhan?!!!!"
"Kalian makan gaji buta, hah?!!"
Prang!!!
Kepala penjara melempar gelas wiski-nya ke arah para kepala sipir yang berjejer di depannya dengan sangat marah. Gelas itu pecah berkeping-keping di lantai marmer, menciptakan suara tajam yang membuat semua orang di ruangan itu bergidik.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya, aku ingin kasus ini segera terselesaikan!!"
"Kalian paham!!!"
"S-siap!!!"
"Keluar, kalian!!!"
Mereka semua bergegas meninggalkan ruangan kepala penjara. Pintu ditutup dengan keras, meninggalkan kepala penjara sendirian dengan amarahnya yang meluap.
Kenzo dengan santainya duduk di bangku yang ada di lapangan penjara tersebut, sambil membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Sampul buku itu tertutupi tangan kirinya, sementara mata kanannya sesekali melirik ke sekeliling lapangan. Dia mencari. Mencari napi 3367 yang dikatakan oleh napi yang dibunuhnya.
Angin pagi yang dingin bertiup, mengusap wajah Kenzo yang tetap tenang. Di balik ketenangan itu, api dendam berkobar. Dia tahu, satu persatu mereka akan muncul. Dan dia akan menunggu.
Tak selang beberapa lama, muncullah orang yang dicarinya.
Kenzo melirik tajam ke arahnya, dan pandangannya mengikuti arah kemana dia pergi. Napi itu berjalan dengan santai, tak menyadari bahwa maut sedang mengintai dari kejauhan. Pria itu berpostur sedang, rambutnya panjang dan berantakan, tato naga meliuk di lehernya.
Lalu napi tersebut mengarah ke utara lapangan dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan penyimpanan peralatan tua yang jarang digunakan.
Dengan bergegas, Kenzo pun menuju ke arah kemana napi tersebut pergi. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Seperti bayangan yang menyatu dengan dinding-dinding penjara.
"Sial!!"
"Kemana aku menaruhnya..."
"Padahal aku menyimpannya di sini."
Pria itu membongkar seluruh barang yang ada di ruangan tersebut. Kotak-kotak besi dibuka, tumpukan karung diacak-acak. Debu beterbangan di udara, membuat ruangan itu terasa pengap.
Diam-diam, Kenzo memperhatikan napi tersebut dari balik bayangan gelap ruangan tersebut, tanpa disadarinya. Tubuhnya menyatu dengan kegelapan, napasnya teratur, detak jantungnya stabil. Dia adalah predator yang sempurna.
"Ahai... akhirnya kutemukan juga."
"Mmmuachhh..."
Napi tersebut meraih kalung berliontin Yin yang pernah dikenakan Lin Dong dan memiliki pasangan yang dikenakan Lin Xian Mei. Liontin itu berkilau redup di tangan kotor pria itu. Kenzo mengenali kalung itu. Dia pernah melihat Lin Dong memegangnya dengan sayang, mengatakan bahwa itu hadiah dari ibunya sebelum dia masuk penjara.
Melihat kalung tersebut, emosi Kenzo pun meluap lupa. Mata merahnya menatap tajam ke arah napi tersebut. Tangan kanannya terkepal erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga darah menetes.
"S-siapa di sana!!!!"
Napi itu menoleh ke belakang, lalu memperhatikan sekelilingnya.
"Aneh, aku merasakan ada orang lain di ruangan ini."
"J-jangan-jangan benar rumor bahwa penjara ini berhantu."
"Hiiiii..."
Saat napi tersebut ingin membuka pintu dan keluar dari dalam, tiba-tiba dari balik bayangan, Kenzo melepaskan pukulannya ke arah wajah napi tersebut dan membuatnya terpental. Tubuhnya jatuh di tumpukan besi yang ada di ruangan tersebut, menciptakan suara benturan yang keras.
"Akhhhhhh...!!!"
"S-siapa di sana?!!!"
Kenzo keluar dari bayang-bayang ruangan tersebut dengan tatapan tajam memandang ke arahnya. Cahaya dari celah jendela menerangi separuh wajah Kenzo, menciptakan siluet yang menakutkan.
"S-siapa kamu?!!"
"M-mau a-apa kau?!"
"Katakan kepadaku, dari mana kau mendapatkan kalung tersebut."
"A-apa urusanmu?!!"
"K-kalung ini milikku!!"
Mendengar ucapannya, Kenzo semakin meluap emosinya, lalu mencengkram pakaian napi tersebut sambil mengarahkan pukulannya bertubi-tubi ke wajahnya. Hidungnya hancur, darah menyembur, beberapa giginya lepas berterbangan.
"A-aku akan bilang!"
"H-hentikan....!"
"A-aku menemukannya di pembuangan sampah di belakang block penjara C3."
Kenzo merampas kalung tersebut, lalu melangkah menjauhinya. Jari-jarinya menggenggam liontin Yin itu erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Tiba-tiba, Kenzo menghentikan langkahnya.
Lalu berbalik memandangi napi tersebut dengan tajam.
"M-mau a-apa kau?!!"
Kenzo melihat tiang penyangga bangunan ruangan yang berada tepat di belakang napi tersebut mulai miring. Tiang besi tua itu berkarat, tak lagi kuat menahan beban atap yang bobrok.
Dengan sekuat tenaga, Kenzo menendang tiang penyangga itu hingga terpental menusuk ke dinding ruangan. Suara retakan besar menggema. Debu dan puing-puing mulai berjatuhan.
Ruangan pun mulai bergetar. Dengan cepat, Kenzo berlari ke arah jendela yang tak berkaca, lalu melompat ke luar sebelum akhirnya ruangan tersebut rubuh dan menimpa napi tersebut. Suara ambruknya menggema di seluruh block C, membuat para napi di sekitar berlari ketakutan.
Kenzo segera menghilang dari tempat tersebut, menyusup ke dalam bayangan-bayangan penjara.
Saat malam hari, di mana kegiatan seperti biasa, semua napi berbaris di depan selnya masing-masing sebelum masuk ke dalam sel.
Salah satu sipir penjara berlari menuju kepala sipir.
"K-kapten... napi 3367 belum kembali ke selnya."
"A-apa?!!!"
Kekacauan pun mulai terlihat.
"Cepat cari dia ke seluruh ruangan!!"
"Kalian semua, masukkan para napi ke dalam sel mereka masing-masing."
"Cepat!!!"
Kenzo yang memperhatikan keributan tersebut hanya berbaring dengan santainya di ranjang selnya. Tangan kanannya menggenggam kalung Lin Dong, mengarahkannya ke langit-langit sel yang tinggi.
"Kalian akan kubuat menghilang dari dunia ini, satu persatu."
Pikirnya, dengan suara hati yang dingin dan penuh tekad.
"Kak Lin, dendammu akan aku tuntaskan. Semuanya."
Keesokan harinya, setelah mengerjakan tugasnya, Kenzo pergi ke area pembuangan milik block C. Bau sampah busuk menyengat hidung, tapi Kenzo tak peduli. Dia sudah kebal dengan bau kematian.
Kenzo mulai menyelusuri setiap jengkal area tersebut untuk mencari sebuah petunjuk. Tumpukan sampah dibongkar, karung-karung dibelah. Tikus-tikus besar berhamburan, tapi Kenzo tak gentar.
Setelah beberapa jam mencari, Kenzo menemukan sebuah kotak hitam yang berada di bawah lorong kotak sampah. Kotak itu terbuat dari plastik keras, tertutup rapat dengan lakban hitam.
Kenzo mencoba untuk membukanya dan menemukan lembaran surat-surat yang ternyata surat dari ibu Lin Dong untuk Lin Dong. Tulisan tangan yang rapuh, penuh dengan air mata dan doa.
"I-ini barang-barang Kak Lin Dong?!!!"
Dengan terkejut, Kenzo memeriksa satu-persatu isi kotak tersebut sambil menahan air matanya. Surat demi surat menceritakan kerinduan seorang ibu, harapan-harapan yang kini tak akan pernah terwujud.
Dia akhirnya menemukan buku catatan milik Lin Dong. Kenzo segera menutup kotak tersebut, lalu membawanya pergi. Langkahnya terburu-buru, takut ada yang melihat.
Dan malam itu, saat semua para napi kembali ke selnya, Kenzo membuka kotak tersebut dan membaca buku catatan Lin Dong lembar demi lembar. Cahaya lilin yang redup menerangi halaman-halaman yang penuh dengan tulisan tangan sahabatnya.
Dan akhirnya, semua misteri pun terkuak kebenarannya.
...(Malam itu aku merasa seperti sedang diawasi sejak tiga hari lalu.)...
...(Apakah mereka orang-orang yang ingin mencelakai Kenzo waktu itu?)...
...(Atau hanya perasaanku saja?)...
...(Semoga benar ini hanya perasaanku saja.)...
...(Esok hari Kenzo akan pergi ke penambangan dan aku mendapatkan jadwal di bengkel.)...
...(Semoga tidak terjadi apa-apa besok, agar aku dapat bertemu Kenzo setelah bekerja.)...
Dengan perasaan sedih dan marah, Kenzo menutup buku catatan tersebut dan memejamkan matanya. Air mata akhirnya mengalir deras, menetes di pipi dan janggutnya yang tak terawat.
"Kak Lin, seandainya kau mengatakannya sejak awal, mungkin ini tidak akan terjadi."
Kenzo mulai menitikkan air matanya. Tangan kirinya menggenggam erat kalung Yin, sementara tangan kanannya mengusap wajah yang basah.
Dia tahu sekarang. Lin Dong mati karena melindunginya. Dan dia akan membuat setiap orang yang terlibat membayar dengan darah.
...$ BERSAMBUNG $...