Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SYUKURAN.
Matahari sore Jakarta mulai meredup saat Nayla melangkah keluar dari gedung fakultasnya. Di sana, tepat di depan lobi, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir dengan gagah. Adnan berdiri di samping pintu penumpang, nampak sangat berwibawa dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Senyum Nayla langsung merekah. Gadis itu berlari kecil menghampiri suaminya, mengabaikan tatapan iri dari mahasiswi lain yang lewat.
"Tepat waktu ya, By! Byby sudah kayak sopir taksi langganan yang paling setia," goda Nayla saat Adnan membukakan pintu untuknya.
Adnan terkekeh pelan sambil mengelus-elus kepala Nayla sebelum menutup pintu. "Saya tidak mau diprotes oleh bos kecil saya kalau sampai terlambat satu menit saja. Bagaimana kuliahmu? Ada yang mengganggu?"
"Aman, By! Otak saya encer banget hari ini. Mungkin karena asupan perhatian dari Byby yang berlebihan," jawab Nayla sambil menyengir lebar.
Begitu mobil melaju, Adnan menoleh ke arah istrinya. "Kamu mau makan di mana? Saya sudah lapar, dan saya rasa kamu juga butuh tambahan tenaga."
Nayla tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. "Saya mau makan, tapi makannya di Rumah Singgah Myma saja, By! Kita beli makanan yang banyak untuk anak-anak panti. Boleh ya?"
Adnan tersenyum tipis. Ia memang sudah merencanakan hal ini sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nayla. "Dion, singgah di restoran Padang langganan dan satu restoran ayam goreng. Pesan masing-masing seratus porsi untuk dibawa ke panti."
"Siap, Pak," sahut Dion dari balik kemudi.
Perjalanan menuju panti diwarnai dengan candaan tengil Nayla. Setelah makanan siap, mereka langsung meluncur ke Rumah Singgah Myma. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Nayla sempat terdiam. Ia turun dari mobil dan memandangi bangunan yang kini nampak jauh lebih rapi, catnya baru, dan halamannya terlihat lebih luas serta tertata.
"Loh? ByBy, ini beneran panti saya? Kok jadi keren begini? Byby pakai sihir apa?" tanya Nayla terheran-heran.
Adnan berjalan di sampingnya, sengaja tidak menceritakan detail serangan Arifin yang sempat merusak sebagian bangunan panti. "Saya hanya menyuruh orang untuk merapikannya sedikit. Saya pikir, siapa tahu nanti ada anak terlantar lagi yang butuh tempat luas. Lagipula, ini tempat kesayanganmu, kan?"
Nayla merasa hatinya menghangat. Tanpa memedulikan tatapan Dion dan para pengawal, Nayla langsung menghambur ke pelukan Adnan. Ia memeluk pinggang suaminya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada Adnan.
"Terima kasih banyak, By. Byby baik banget. Saya jadi makin susah mau marah-marah sama Byby," bisik Nayla tulus.
Adnan membalas pelukan itu dengan lembut, mengelus kepala Nayla yang tertutup hijab. Ia merasa sangat bahagia karena Nayla sudah tidak lagi membangun dinding di antara mereka. Pelukan ini terasa jauh lebih berharga daripada semua aset perusahaan yang ia miliki.
Anak-anak panti langsung berhamburan keluar menyambut mereka dengan sorak-sorai. Di aula panti yang kini sudah dipasangi pendingin ruangan, mereka berkumpul. Adnan berdiri di depan anak-anak dengan wajah yang lebih ramah dari biasanya.
"Terima kasih untuk adik-adik semua yang sudah mendoakan Kak Nayla. Berkat doa kalian, Kak Nayla bisa kembali sehat. Hari ini, kita makan enak bersama sebagai rasa syukur," ucap Adnan.
Suasana makan bersama itu sangat hangat. Nayla sibuk menyuapi anak-anak yang paling kecil, sementara Adnan duduk di sampingnya, nampak menikmati kesederhanaan yang jarang ia temukan di dunianya. Namun, ketika matahari sudah benar-benar tenggelam, Adnan mengajak Nayla untuk pulang.
"Ayo, Sayang kita pulang."
"Nanti dulu, By! Saya masih kangen sama mereka," rengek Nayla.
"Nayla, dengar dulu. Malam ini Papa mengadakan syukuran besar di rumah utama. Keluarga besar dari luar negeri juga datang. Kita harus ada di sana sebagai tuan rumah," bujuk Adnan.
Nayla akhirnya mengalah. Ia berpamitan pada anak-anak panti dengan janji akan kembali lagi besok. Sesampainya di mansion, Adiva sudah menunggu dengan gaun merah jambu yang sangat cantik. Rambutnya dikuncir dua dengan pita senada.
"Myma! Kita mau ke rumah Opah!" seru Adiva sambil memeluk kaki Nayla.
"Iya sayang, Myma ganti baju dulu ya. Diva tunggu sebentar sama Papa," jawab Nayla lembut.
Satu jam kemudian, keluarga kecil itu sampai di rumah mewah milik Hendra Hasyim. Suasana di sana sangat ramai. Lampu kristal besar menyala terang, dan banyak orang dengan pakaian formal berlalu-lalang. Hendra dan istrinya menyambut mereka dengan pelukan hangat.
"Selamat datang, Nayla. Senang sekali melihatmu sudah pulih total," ujar Hendra tulus.
Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah ketika seorang gadis cantik dengan gaun merah yang sangat berani dan potongan terbuka di bagian bahu berlari menghampiri mereka. Gadis itu memiliki wajah campuran blasteran yang sangat menawan.
"Kak Adnan!" teriak gadis itu dengan suara manja. Tanpa ragu, ia langsung memeluk Adnan dengan sangat erat di depan semua orang. "I miss you so much, Kak! Sudah lama sekali kita tidak bertemu!"
Nayla yang berdiri di samping Adnan seketika mematung. Senyumnya hilang dalam sekejap. Matanya menatap tajam pada tangan gadis itu yang melingkar di leher suaminya.
"Clarissa? Kapan kamu sampai dari London?" tanya Adnan nampak sedikit terkejut namun tetap sopan. Ia perlahan melepaskan pelukan itu.
"Tadi pagi, Kak! Aku sengaja datang buat syukuran kepulangan kakak ipar, tapi sebenarnya aku kangen sama Kak Adnan," jawab Clarissa sambil melirik Nayla dengan tatapan menilai yang nampak meremehkan.
Ibu Clarissa, yang merupakan adik dari Hendra, mendekat sambil tertawa. "Aduh Adnan, lihat Clarissa sekarang sudah dewasa ya. Kalian ingat tidak? Waktu kecil dulu, kalian berdua ini hampir saja kami jodohkan secara resmi. Untung saja Adnan keburu sibuk dengan kuliah bisnisnya."
Hati Nayla mencelos mendengarnya. Kalimat "pernah dijodohkan" berdengung di telinganya seperti suara lebah yang sangat mengganggu. Nayla merasa dadanya sesak, rasa cemburu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini meledak-ledak.
Adnan yang menyadari perubahan raut wajah istrinya mencoba mendekat. Ia hendak merangkul pundak Nayla untuk menenangkannya. "Nayla, perkenalkan ini Clarissa, sepupu saya..."
Namun, sebelum tangan Adnan menyentuhnya, Nayla mundur satu langkah. Ia menatap Adnan dengan tatapan sinis yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Jangan sentuh-sentuh saya, By! Byby bau tahu! Bau parfum wanita itu!" ucap Nayla dengan suara yang cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
"Nayla, ada apa? Saya tidak..." Adnan berusaha membela diri.
"Bau! Pokoknya Byby bau! Sana dekat-dekat saja sama sepupu Mas yang seksi itu! Saya mau cari Adiva saja!" Nayla langsung berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Adnan yang terpaku di tengah kerumunan keluarga besarnya.
Clarissa hanya tersenyum simpul, nampak senang melihat keributan kecil itu. Sementara Adnan menatap punggung Nayla dengan rasa frustrasi sekaligus bingung. Ia tahu, malam syukuran ini tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan. Ternyata, menghadapi musuh bisnis jauh lebih mudah daripada menghadapi istri yang sedang terbakar api cemburu.
"Nayla, tunggu!" panggil Adnan, namun Nayla sudah menghilang di balik kerumunan tamu.
Tetapi Rendi
kayak nya
Farah
ank dari musuh bebuyutan Adnan...