NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PESTA TOPENG MAUT DI MANHATTAN

​Salju mulai turun di Times Square, namun panasnya dendam membakar di sebuah ruang bawah tanah kumuh di wilayah Bronx. Gwen Adiguna, yang biasanya tampil dengan gaun desainer seharga miliaran rupiah, kini mengenakan jaket kulit hitam belel dan sepatu bot tempur. Di depannya, duduk Don Lorenzo, pemimpin sindikat bawah tanah yang menguasai jalur logistik ilegal di New York.

​"Kau meminta bantuanku untuk menyerang pesta The Ancient Crown?" Lorenzo tertawa, asap cerutunya memenuhi ruangan. "Itu sama saja dengan bunuh diri, Nona Adiguna. Kakek buyutmu punya pasukan yang bisa menghapus satu negara kecil dari peta dalam semalam."

​Gwen meletakkan sebuah koin emas kuno di meja—satu-satunya benda yang ia sempat ambil dari penthouse. Koin itu memiliki ukiran khusus yang hanya dimiliki oleh pewaris utama.

​"Aku tidak meminta pasukanmu untuk bertempur, Lorenzo. Aku hanya butuh akses masuk melalui jalur pelayan," ucap Gwen dengan nada dingin yang tidak terbantahkan. "Jika aku berhasil mengambil alih kendali keuangan Adiguna malam ini, kau akan menjadi satu-satunya mitra eksklusif kami di Amerika Utara. Pikirkan keuntungannya."

​Lorenzo terdiam, matanya menatap koin itu dengan serakah. "Tawaran yang menarik. Tapi apa jaminannya kau bisa menang?"

​Gwen melirik ke arah Elang yang sedang melatih Bintang di sudut ruangan. Elang bergerak secepat kilat, menghancurkan samsak tinju dengan satu pukulan yang membuat rantai besinya putus. "Jaminannya? Jaminannya adalah pria itu. Dia adalah pemegang darah murni yang dicari Maximilian. Dan dia sangat, sangat marah."

​Malam Pesta Dansa Topeng, Hotel Waldorf Astoria.

​Lampu kristal raksasa berkilauan di ballroom utama. Para tamu undangan, yang terdiri dari politisi dunia dan konglomerat papan atas, mengenakan topeng emas bergaya Venesia. Di tengah kerumunan, Maximilian I duduk di singgasana perak, didampingi oleh Arthur yang tampak angkuh dengan setelan jas mewahnya.

​"Malam ini, kita akan mengumumkan penggabungan seluruh aset Adiguna di bawah satu komando pusat," suara Arthur menggema lewat mikrofon emas. "Dan kita akan memperkenalkan pewaris masa depan kita..."

​Tiba-tiba, lampu padam. Suasana hening seketika.

​Hanya ada satu lampu sorot yang menyala, mengarah ke balkon lantai dua. Di sana, berdiri tiga sosok yang mengenakan topeng lotus hitam. Gwen, Elang, dan Bintang.

​"Pengumuman yang bagus, Ayah," suara Gwen terdengar melalui pengeras suara gedung, dingin dan penuh otoritas. "Tapi sayang sekali, pemilik sah dari nama Adiguna baru saja datang untuk mengambil kembali haknya."

​Gwen melepas topengnya, menampakkan wajah kloningnya yang kini terlihat jauh lebih hidup dan berani daripada siapa pun di ruangan itu. Elang melompat dari balkon, mendarat dengan dentuman keras di tengah lantai dansa.

​"Pasukan keamanan! TANGKAP MEREKA!" teriak Arthur panik.

​Puluhan pengawal bertopeng emas merangsek maju. Namun, Elang tidak lagi menahan diri. Dengan kekuatan garis darah murni yang telah bangkit sepenuhnya, setiap gerakannya menciptakan gelombang kejut. Ia tidak butuh senjata api; tangannya adalah senjata paling mematikan.

​"Bintang, sekarang!" perintah Elang.

​Bintang memejamkan mata. Ia tidak melepas ledakan destruktif, melainkan sebuah denyut elektromagnetik halus yang telah ia pelajari. Tiba-tiba, seluruh sistem keamanan digital yang menempel di tubuh para pengawal—termasuk alat komunikasi dan pengunci senjata—mengalami gangguan total.

​"APA?!" Maximilian berdiri dengan gemetar. "Bagaimana bisa anak itu menguasai frekuensi kita?!"

​Gwen berjalan menuruni tangga dengan langkah pasti, memegang sebuah tablet yang sudah terhubung dengan server Lorenzo yang telah meretas jalur komunikasi hotel. "Karena kau terlalu fokus pada teknologi, Kakek Buyut. Kau lupa bahwa darah lebih kuat daripada biner."

​Lili muncul dari balik tirai panggung, memegang dua pistol otomatis. "Maaf, Ayah. Aku lebih suka berada di sisi pemenang."

​Pertempuran pecah di tengah kemewahan. Para tamu undangan lari berhamburan saat Lili dan tim Lorenzo mulai melumpuhkan pasukan Maximilian satu per satu. Elang berhasil mencapai panggung utama, berdiri berhadapan dengan Arthur.

​"Kau mengkhianati putrimu sendiri demi pria tua yang akan mati esok hari?" Elang mencengkeram kerah jas Arthur.

​"Kau tidak mengerti, Elang! Ini tentang tatanan dunia baru!" Arthur mencoba memukul Elang, namun Elang menangkap tangannya dengan mudah dan mematahkannya dalam satu gerakan.

​"AAAAAGH!" Arthur tersungkur di lantai, mengerang kesakitan.

​Gwen sampai di depan Maximilian. Pria tua itu menatapnya dengan kebencian sekaligus kekaguman. "Kau memang luar biasa, Gwen. Kloning yang memiliki hati... itu adalah anomali yang paling indah."

​"Anomali ini yang akan mengirimmu ke neraka," jawab Gwen. Ia menekan satu tombol di tabletnya. "Aku baru saja menyebarkan seluruh data eksperimen manusia, kloning, dan manipulasi genetik Adiguna ke seluruh media massa di dunia. Dalam lima menit, asetmu akan dibekukan oleh FBI dan Interpol. Kau tidak punya tempat untuk lari."

​Wajah Maximilian memucat. "Kau... kau menghancurkan seluruh imperium ini? Kau akan jatuh miskin, Gwen!"

​"Aku lebih baik miskin daripada menjadi bagian dari monster sepertimu," ucap Gwen tegas.

​Tiba-tiba, gedung bergetar hebat. Sebuah suara mesin helikopter terdengar sangat dekat. Di langit-langit kaca ballroom yang pecah, turun sebuah tim elit dengan seragam yang belum pernah Gwen lihat—lambang mereka adalah Naga Merah.

​"Siapa lagi mereka?!" Lili bersiap menembak.

​Seorang pria paruh baya dengan bekas luka di mata kirinya turun dari tali helikopter. Maximilian yang tadinya ketakutan, tiba-tiba tertawa gila.

​"Ah... kalian terlambat! Gwen, Elang... perkenalkan musuh kalian yang sesungguhnya. The Dragon Syndicate dari Timur. Mereka adalah pemegang saham asli Adiguna yang sebenarnya. Aku hanyalah boneka mereka."

​Pria dengan bekas luka itu menatap Gwen, lalu beralih ke arah Bintang. "Anak itu... dia adalah kunci yang kami cari selama tiga generasi. Maximilian, kau gagal mengamankannya. Sekarang, biarkan para profesional yang bekerja."

​"Elang, bawa Bintang keluar dari sini!" teriak Gwen.

​Namun, pria dari Dragon Syndicate itu bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Bintang dan menghantam dada Elang hingga pria itu terlempar menabrak pilar kristal.

​"AYAH!" teriak Bintang.

​Gwen mencoba menembak, namun pria itu menangkap pelurunya dengan dua jari—sebuah kemampuan fisik yang mustahil.

​"Darah murni Adiguna memang kuat," ucap pria itu dingin. "Tapi darah Naga... adalah darah dewa."

​Suasana di ballroom Waldorf Astoria berubah dari drama keluarga menjadi perang antar organisasi global yang jauh lebih besar. Gwen menyadari bahwa selama ini mereka hanya berada di permukaan. Musuh yang sesungguhnya baru saja menunjukkan taringnya.

​"Gwen... lari..." Elang mencoba bangkit, darah mengalir dari mulutnya.

​"Tidak ada yang lari malam ini," pria itu mengangkat tangannya, dan puluhan titik merah laser dari sniper helikopter membidik tepat ke kepala Gwen, Elang, dan Bintang.

​Di tengah situasi yang mustahil ini, Bintang tiba-tiba berdiri tegak. Rambutnya mulai memutih secara perlahan, dan seluruh tubuhnya memancarkan cahaya biru yang menyilaukan.

​"Kalian... tidak boleh... menyakiti... keluargaku!"

​Ledakan energi murni meledak dari tubuh Bintang, menghancurkan seluruh kaca gedung dan membuat helikopter di atas mereka terombang-ambing. Ini bukan lagi sekadar listrik; ini adalah kekuatan purba yang selama ini tertidur di dalam gen Adiguna.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!