NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: RAHASIA YANG TAK TERUCAPKAN

Surabaya sore itu terasa lebih gerah dari biasanya, seolah matahari enggan berpamitan meski jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Di salah satu sudut koridor sepi SMA Cakrawala Terpadu, Keyla Aluna berdiri mematung. Di tangannya, secarik *sticky note* berwarna kuning menyala itu terasa seperti bara api.

*"Bisa kita ketemu? Di rooftop..."*

Lima kata. Hanya lima kata, tapi efeknya mampu membuat sistem kerja otak Keyla mengalami *crash* total. Jantungnya berdegup dalam ritme yang tidak sehat, campuran antara euforia memabukkan dan teror yang mencekik.

"Heh, ngelamun ae! Kesambet setan koridor kapok kon!"

Tepukan keras di bahu membuat Keyla melonjak kaget. Dinda Pertiwi berdiri di sana, mengunyah permen karet dengan wajah tanpa dosa. Tas ranselnya disampirkan di satu bahu, rambut pendeknya sedikit lepek karena keringat pelajaran olahraga.

"Dinda!" Keyla mendesis, buru-buru menyembunyikan kertas kuning itu ke balik punggung. "Ngagetin aja!"

"Lha kamu berdiri kayak patung Pancoran di situ. Kenapa? Ada surat balasan dari Pangeran Basket?" mata Dinda menyipit curiga, lalu melebar saat melihat ujung kertas kuning menyembul dari tangan Keyla. "Waduh, kuning? Itu bukan kertas suratmu, kan?"

Keyla menghela napas pasrah. Ia menyodorkan kertas itu pada sahabatnya. Dinda membacanya cepat, lalu matanya membelalak sempurna.

"GUSTI NU AGUNG! Key! Ini kesempatan emas! *Golden ticket!* Dia ngajak ketemuan!" pekik Dinda, suaranya memantul di dinding koridor. "Ayo ke rooftop sekarang! Keburu dia lumutan nungguin kamu!"

"Aku nggak bisa, Din," lirih Keyla, menggeleng lemah. Kakinya terasa dipaku ke lantai marmer sekolah.

"Hah? Maksudmu opo?" Dinda berhenti menarik lengan Keyla. Wajahnya berubah bingung.

"Aku nggak bisa nemuin dia," suara Keyla bergetar. "Kamu nggak ngerti, Din. Bintang itu suka sama Cassiopeia. Dia suka sama kata-kata yang aku tulis, sama imajinasi tentang galaksi dan bintang. Dia nggak suka sama Keyla. Keyla itu cuma... cewek biasa yang duduk di pojok kelas, yang kacamata minusnya tebel, yang kalau ngomong suka gagap."

"Key..."

"Kalau aku naik ke sana sekarang," Keyla menunjuk langit-langit, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, "ilusi itu bakal hancur. Dia bakal kecewa. Dan aku... aku nggak siap lihat tatapan kecewa itu di mata Bintang."

Dinda terdiam. Ia menatap sahabatnya dengan sorot iba bercampur gemas. "Kamu itu terlalu *insecure*, ngerti nggak? Tapi ya wis, lek emang kamu belum siap mental, jangan dipaksa. Terus kamu mau ngapain sekarang? Nge-ghosting dia? Jahat lho, Key."

"Nggak," Keyla menghapus sudut matanya cepat-cepat. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya. "Aku bakal balas. Tapi lewat surat. Kayak biasa."

***

Malam itu di kamarnya, Keyla menulis surat ke-23 dengan perasaan campur aduk. Ia memilih kertas berwarna hitam pekat kali ini, menulis dengan tinta perak.

*Untuk Rigel,*

*Maafkan aku. Aku tidak bisa datang ke rooftop hari ini.*

*Dalam astrofisika, ada yang disebut Event Horizon atau Cakrawala Peristiwa di sekitar lubang hitam. Itu adalah batas di mana tidak ada satu pun—bahkan cahaya—yang bisa kembali jika sudah melewatinya. Saat ini, identitasku adalah Event Horizon itu. Jika aku melangkah keluar, jika aku menampakkan diri, segala misteri yang membuatmu nyaman membaca surat-surat ini akan tersedot hilang, musnah.*

*Biarkan aku tetap menjadi Cassiopeia yang ada di balik bayang-bayang. Karena sejujurnya, aku takut realita tidak seindah surat-surat ini.*

*P.S. Bagaimana latihanmu? Kuharap tekanan di pundakmu tidak seberat gravitasi Jupiter.*

*- Cassiopeia*

Keesokan harinya, Keyla menyelipkan surat itu di jam istirahat pertama, memanfaatkan momen ketika Bintang sedang dipanggil ke ruang guru. Hatinya perih membayangkan Bintang yang mungkin kemarin menunggu di rooftop sendirian.

Siangnya, sepulang sekolah, Keyla memberanikan diri mengecek "kotak pos" rahasia mereka di bawah meja Bintang. Ada balasan. Bukan sticky note, tapi selembar kertas HVS yang dilipat rapi.

Keyla membacanya di perpustakaan, bersembunyi di balik rak buku Sejarah.

*Cassiopeia,*

*Aku nungguin kamu sampai matahari terbenam kemarin. Bohong kalau aku bilang nggak kecewa. Tapi pas baca suratmu soal Event Horizon... anehnya, aku paham. Mungkin kamu benar. Kadang jarak justru yang bikin kita merasa aman.*

*Kamu tanya soal tekanan? Hah, Jupiter mah lewat. Papaku semalam banting map gambar desainku. Dia bilang arsitek itu pekerjaan tukang, nggak selevel sama Dokter Spesialis Bedah kayak dia dan Kakek. Dia mau aku masuk Kedokteran UI atau Unair. Padahal, Cas, aku benci darah. Aku suka garis, struktur, bangunan yang kokoh. Di lapangan basket aku jadi kapten yang semua orang puja, tapi di rumah, aku cuma anak pembangkang yang mengecewakan.*

*Cuma di surat ini aku bisa ngomong gini. Makasih ya, udah jadi 'lubang hitam' yang mau nampung semua keluh kesahku tanpa menghakimi.*

*Rigel.*

Napas Keyla tercekat. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak. Bintang Rigel, pangeran sekolah yang tampak sempurna tanpa cela, ternyata menyimpan luka sedalam itu. Selama ini Keyla hanya mengaguminya dari jauh sebagai sosok yang bersinar, tanpa tahu bahwa bintang itu sedang berjuang keras agar tidak meledak karena tekanan internal.

Perasaan Keyla berubah. Bukan lagi sekadar kagum ala fans, tapi rasa sayang yang lebih dalam. Ia ingin memeluk Bintang, mengatakan bahwa mimpinya menjadi arsitek itu valid.

***

Keesokan harinya, interaksi di dunia nyata menjadi semakin canggung—setidaknya bagi Keyla.

Saat jam istirahat kedua, kantin SMA Cakrawala penuh sesak. Udara panas Surabaya bercampur dengan aroma soto ayam dan bakso. Keyla sedang membawa nampan berisi dua gelas es teh manis untuknya dan Dinda, ketika seseorang menabrak bahunya dari belakang.

"Ah!"

Keseimbangan Keyla goyah. Gelas es teh nyaris tumpah, tapi sepasang tangan kekar dengan refleks kilat menahan nampan itu.

"Hati-hati." Suara bariton yang sangat familiar.

Keyla mendongak. Bintang Rigel berdiri tepat di depannya, jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Bau parfum *citrus* dan *sandalwood* yang maskulin langsung menyerbu indra penciuman Keyla. Itu aroma yang sama dengan aroma kertas surat balasan Bintang.

"M-makasih, Kak," gagap Keyla. Lututnya lemas.

Bintang tersenyum tipis. Senyum yang sopan, tapi matanya terlihat lelah. Ada kantung mata samar di sana—mungkin efek pertengkaran dengan ayahnya semalam. "Lain kali liat jalan ya. Rame banget soalnya."

Bintang melepaskan tangannya dari nampan Keyla, lalu berjalan pergi menuju meja anak-anak basket. Keyla mematung, menatap punggung tegap itu dengan pandangan nanar. *Aku tahu rahasiamu, Bintang. Aku tahu kamu benci darah. Aku tahu kamu mau jadi arsitek. Tapi aku cuma bisa diem di sini.*

Tanpa Keyla sadari, sepasang mata tajam mengamatinya dari meja *The Royals*—tempat Vanya dan geng *cheerleader*-nya duduk.

Vanya Clarissa sedang memutar sedotan di gelas *smoothie*-nya dengan bosan, sampai ia melihat interaksi singkat itu. Bukan, bukan tabrakannya yang menarik perhatian Vanya. Tapi tatapan Keyla setelah Bintang pergi. Itu bukan tatapan siswi biasa yang kagum pada kakak kelas. Itu tatapan *merindu*. Tatapan seseorang yang *memiliki* koneksi emosional.

Dan yang lebih mencurigakan lagi, lima menit sebelumnya, Vanya melihat Bintang duduk sendirian di pojok kantin, tersenyum simpul sambil membaca secarik kertas berwarna hitam dengan tinta perak. Bintang lalu melipat kertas itu hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku *hoodie*-nya, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.

Otak manipulatif Vanya mulai menyusun *puzzle*.

"Van, lo kenapa ngeliatin si *invisible girl* itu terus sih?" tanya Cindy, salah satu dayang-dayangnya.

"Kertas hitam," gumam Vanya pelan.

"Hah? Apaan?"

"Minggu lalu kertas biru. Sekarang kertas hitam tinta perak," Vanya menyeringai dingin. Ia menatap Keyla yang kini duduk bersama Dinda. "Gue liat Bintang baca kertas aneh itu lagi. Dan barusan, dia nolongin si Keyla itu. Gue rasa... tikus kecil kita ini tau sesuatu."

"Maksud lo, Keyla ada hubungannya sama Cassiopeia?" Cindy tertawa meremehkan. "*Please* deh, Van. Keyla? Dia ngomong aja gagap. Mana mungkin dia nulis surat puitis kayak gitu."

"Justru itu," mata Vanya berkilat licik. "Orang yang nggak bisa ngomong, biasanya nulisnya lancar. Gue harus pastiin. Gue butuh bukti fisik. Gue harus dapetin kertas itu dari tas Bintang, atau..." tatapannya beralih ke tas ransel Keyla yang tergeletak di bangku kantin, "...kita cari draft-nya langsung dari sumbernya."

***

Sore harinya, sepulang sekolah, Keyla kembali ke kelas XI IPA 1 untuk menyelipkan surat balasan. Sekolah sudah sepi. Ia merasa aman.

*Untuk Rigel,*

*Mimpi itu seperti fondasi bangunan. Kalau bukan kita yang tentukan seberapa dalam kita menggali, bangunannya akan roboh. Ayahmu mungkin arsitek hidupmu sekarang, tapi kamu yang akan tinggal di dalamnya selamanya. Jangan menyerah pada desainmu sendiri. Dunia butuh gedung indah buatanmu, bukan dokter yang gemetar melihat darah.*

*- Cassiopeia*

Keyla baru saja selesai menyelipkan surat itu ketika ia mendengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi mendekat. *Tak. Tak. Tak.*

Jantung Keyla berhenti. Itu bukan suara sepatu kets siswa biasa. Ia menoleh panik, tapi pintu kelas satu-satunya jalan keluar. Langkah itu semakin dekat. Keyla panik, ia melompat ke balik meja guru yang tertutup taplak panjang, meringkuk memeluk lututnya erat-erat.

Pintu terbuka. Aroma parfum mahal—mawar dan vanilla—mengisi ruangan. Vanya.

"Gue tau ada orang di sini," suara Vanya terdengar dingin dan bergema di ruang kelas kosong. "Aldi bilang dia liat ada cewek masuk."

Keyla menahan napasnya. Keringat dingin mengucur di pelipis. Dari celah taplak meja, ia bisa melihat sepatu Vanya berjalan perlahan menyusuri lorong meja.

Vanya berhenti tepat di depan meja Bintang. Ia meraba laci meja itu.

*Sret.*

Bunyi kertas ditarik. Keyla memejamkan mata rapat-rapat. *Mati aku. Mati aku.*

"Gotcha," bisik Vanya penuh kemenangan. "Kertas hitam... Tinta perak. Jadi bener dugaan gue. Bintang, Bintang... lo bego banget sih jatuh cinta sama kertas ginian."

Vanya tidak membaca isinya di tempat. Ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku blazernya. Lalu, ia berbalik. Namun, sebelum melangkah keluar, Vanya berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan, tatapannya tajam seolah menembus taplak meja tempat Keyla bersembunyi.

"Siapapun lo, Cassiopeia..." Vanya tersenyum miring, berbicara pada udara kosong, "Permainan petak umpet lo selesai. Sekarang giliran gue yang main."

Vanya melangkah keluar, bunyi hak sepatunya menjauh. Keyla merosot di lantai di balik meja guru, tubuhnya gemetar hebat. Vanya sudah mengambil surat itu. Vanya tahu. Dan yang lebih parah, Bintang tidak akan pernah menerima surat penyemangat tentang mimpinya itu. Bintang akan mengira Cassiopeia berhenti membalas.

Di luar jendela, langit Surabaya menggelap cepat, seolah ikut berduka atas bencana yang baru saja dimulai.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!