aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 2 — Cracks in the Sky
Sirene itu tidak berhenti.
Bunyinya panjang, melengking, dan terasa seperti menembus tengkorak. Daniel berdiri terpaku di tengah ruang kelas yang berubah kacau, sementara suara kursi tergeser, teriakan mahasiswa, dan bentakan panik dosen bercampur menjadi satu.
“Semua tetap tenang!” teriak dosen itu lagi, meski wajahnya sendiri sudah kehilangan warna. “Ini mungkin hanya—”
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Ledakan keras mengguncang gedung.
Bukan getaran kecil seperti gempa ringan. Ini adalah hentakan brutal yang membuat lantai bergelombang, lampu di langit-langit pecah, dan beberapa mahasiswa terjatuh. Kaca jendela retak serempak, lalu pecah menjadi ribuan serpihan yang berhamburan seperti hujan es.
Jeritan memenuhi ruangan.
Daniel refleks mengangkat tangan menutupi wajahnya. Serpihan kaca melukai lengan dan bahunya, rasa perih langsung menyusup. Ia terhuyung, hampir jatuh, tapi berhasil berpegangan pada meja.
“Keluar! Semua keluar sekarang!” seseorang berteriak.
Tidak ada lagi keteraturan.
Pintu kelas didobrak terbuka, mahasiswa berdesakan keluar ke lorong. Daniel ikut terseret arus manusia yang panik. Di lorong, suasana jauh lebih buruk.
Asap tipis mulai memenuhi udara. Bau terbakar—logam dan sesuatu yang lebih busuk—menusuk hidung. Alarm kebakaran berbunyi bersahutan, bercampur dengan sirene utama kampus.
“Ini apa-apaan…?”
“Gempa? Serangan teroris?”
“Apa itu di luar?!”
Daniel mendengar potongan-potongan suara, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar ia pahami. Pikirannya terasa kosong, hanya diisi satu dorongan primitif: bergerak.
Ia menuruni tangga darurat bersama puluhan mahasiswa lain. Beberapa terpeleset, beberapa menangis, beberapa hanya menatap kosong ke depan dengan mata ketakutan.
Saat ia mencapai lantai dasar, udara panas menyambarnya.
Pintu utama gedung sudah hancur separuh. Dari celahnya, Daniel melihat halaman kampus—atau apa yang tersisa darinya.
Tanah retak seperti kaca pecah. Api menyala di beberapa titik. Sebuah mobil terbalik, terbakar, dan seseorang tergeletak tak bergerak di dekatnya.
Langit.
Daniel mendongak.
Retakan itu kini jelas terlihat.
Bukan lagi garis tipis.
Langit seolah terbelah, memperlihatkan kehampaan gelap di baliknya. Cahaya merah keunguan berdenyut di dalam retakan itu, seperti denyut jantung raksasa.
Dan dari sana… sesuatu jatuh.
Awalnya satu.
Lalu dua.
Lalu puluhan.
Makhluk-makhluk itu menghantam tanah dengan suara mengerikan. Tubuh mereka besar, bersisik, dengan cakar panjang dan sayap robek yang mengepak liar. Mata mereka menyala merah, penuh kegilaan dan lapar.
Iblis.
Kata itu muncul begitu saja di benak Daniel, meski ia tidak tahu dari mana.
Jeritan manusia berubah menjadi teriakan histeris.
Salah satu iblis mendarat tak jauh dari pintu gedung. Ia mengangkat kepalanya, menghirup udara, lalu mengeluarkan suara seperti tawa patah.
Detik berikutnya, ia menerjang.
Seorang mahasiswa di barisan depan bahkan tidak sempat berteriak. Cakar itu menembus dadanya, darah muncrat, tubuhnya terlempar seperti boneka rusak.
Daniel membeku.
Tubuhnya menolak bergerak.
Pemandangan itu terlalu nyata. Terlalu cepat. Terlalu kejam untuk diproses sebagai kenyataan.
Seseorang menarik lengannya keras-keras.
“Jangan bengong! Lari!”
Daniel tersentak dan berlari.
Ia tidak tahu ke mana. Ia hanya mengikuti arus manusia yang berhamburan ke segala arah. Sepatu menginjak pecahan kaca, darah, dan puing-puing. Nafasnya tersengal, dadanya terasa seperti terbakar.
Di belakangnya, raungan iblis terdengar semakin dekat.
Sebuah bayangan besar melintas di atas kepala mereka. Sayap mengepak, angin keras menerjang, dan seseorang terangkat ke udara sambil menjerit—jeritan yang terputus tiba-tiba.
Daniel hampir muntah.
Ini mimpi.
Ini pasti mimpi.
Namun rasa sakit di paru-parunya, panas api di kulitnya, dan bau darah yang menyengat mengatakan sebaliknya.
Ia berbelok ke sebuah jalan kecil di dalam area kampus, menjauh dari kerumunan. Nalurinya berkata bahwa berada di tengah massa hanya akan membuatnya jadi sasaran empuk.
Ia berlari sampai kakinya terasa mati rasa.
Di persimpangan kecil antara gedung lama dan taman kampus, Daniel berhenti sejenak untuk menarik napas.
Dan di situlah ia melihatnya.
Seseorang terjatuh di tanah.
Seorang wanita.
Rambutnya terurai, wajahnya pucat, satu kakinya tertekuk tidak wajar. Ia mencoba bangkit, tapi gagal. Air mata mengalir di wajahnya, dan napasnya terengah panik.
Di hadapannya… berdiri seekor iblis yang lebih kecil dari yang lain, tapi jauh lebih gesit. Cakarnya berlumuran darah, dan matanya terkunci pada wanita itu seperti predator yang menikmati mangsanya.
Daniel berdiri beberapa meter dari mereka.
Jarak yang cukup untuk pergi.
Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya dingin. Otaknya berteriak satu kata berulang kali.
Lari.
Lari.
Lari.
Ia bukan siapa-siapa.
Ia tidak punya senjata.
Ia tidak punya kekuatan.
Namun kakinya… tidak bergerak.
Wanita itu melihatnya.
Mata mereka bertemu.
Dalam tatapan itu tidak ada permohonan heroik. Tidak ada pidato. Hanya ketakutan murni—dan harapan kecil yang rapuh.
Daniel menelan ludah.
Di tanah, tak jauh darinya, ada batang besi patah—sisa pagar yang hancur.
Tangannya bergerak sebelum pikirannya menyusul.
Ia meraih batang besi itu.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia yakin iblis itu bisa mendengarnya.
“Hey…” suaranya keluar serak, hampir tidak terdengar.
Iblis itu menoleh.
Untuk sepersekian detik, dunia terasa diam.
Daniel tahu satu hal dengan pasti.
Sejak detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama.
Dan mungkin…
ia tidak akan hidup lebih lama lagi.