Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Sengaja di Malioboro
Sabtu malam di Malioboro selalu menjadi magnet bagi warga Jogja dan turis. Lampu-lampu warna-warni menghiasi sepanjang jalan, pedagang kaki lima berjejer menjajakan berbagai barang khas, dan wisatawan berjalan bergerombol menikmati suasana. Bau ayam goreng, sate, dan berbagai jajanan khas bercampur menjadi satu, menciptakan aroma khas malam Malioboro.
Kay berjalan perlahan di trotoar, ditemani Mika. Dua bulan lebih berlalu sejak kepergian Bima, dan ini pertama kalinya Kay setuju untuk keluar jalan-jalan. Ia memakai kaos oblong hitam longgar dan celana jeans, rambut panjangnya tergerai sebahu. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi setidaknya matanya tidak lagi sembab.
Mika di sampingnya tampil ceria dengan dress motif bunga dan jaket denim, rambut pendeknya ditata bergelombang. Ia sengaja mengajak Kay ke Malioboro untuk mengalihkan pikiran.
"Nikmatin, Kay. Lo udah hampir tiga bulan di kos terus. Udah waktunya lihat dunia luar," kata Mika sambil membeli dua tusuk sate buah dari pedagang.
Kay menerima sate buah itu tanpa semangat. "Iya, Mik."
Mika menghela napas. "Kay, lo harus lebih semangat. Lo udah balik kuliah, IPK naik, usaha cari Bima jalan terus. Jangan biarin kesedihan lo menguasai."
"Gue usahakan, Mik."
Mereka berjalan menyusuri keramaian. Keluarga-keluarga dengan anak kecil, pasangan muda bergandengan tangan, turis asing dengan kamera di leher—semua berlalu lalang tanpa peduli.
Tiba-tiba, Kay berhenti. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan di depan toko batik.
"Kay? Kenapa?" Mika bertanya bingung.
Kay tidak menjawab. Ia terus menatap ke satu titik. Jantungnya berdetak kencang.
Di antara kerumunan itu, sekilas ia melihat punggung seorang laki-laki dengan jaket jeans biru, rambut ikal sebahu, dan tas ransel hitam lusuh di punggung. Laki-laki itu sedang membeli sesuatu di pedagang asongan, lalu berbalik—dan Kay melihat setengah profil wajahnya.
BIMA.
"BIMA!" teriak Kay tanpa berpikir.
Ia langsung berlari mengejar, menerobos kerumunan. Beberapa orang terkejut dan menyingkir. Kay terus berlari, matanya fokus pada sosok itu yang sekarang mulai berjalan cepat menjauh.
"BIMA! TUNGGU!" teriaknya lagi.
Tapi semakin dikejar, sosok itu semakin cepat menghilang di antara lautan manusia. Kay terus berlari, napasnya tersengal, jantungnya mau meledak. Ia melewati toko-toko, melewati pedagang kaki lima, melewati turis-turis yang bingung.
Sampai akhirnya, di perempatan dekat pos polisi, sosok itu benar-benar hilang. Kay berhenti, terengah-engah, matanya liar mencari ke segala arah. Tidak ada. Yang ada hanya ribuan orang asing yang tidak peduli.
"BIMA!" teriaknya sekali lagi, suaranya pecah.
Tidak ada jawaban.
Mika tiba di belakangnya, juga terengah-engah. "Kay! Lo lari kenceng banget! Gue hampir kehilangan lo!"
Kay menangis. Ia berlutut di pinggir trotoar, tidak peduli orang-orang menatap aneh. "Dia ada di sini, Mik! Gue lihat dia! Bima ada di sini!"
Mika berlutut di sampingnya, memeluk. "Lo yakin itu dia? Atau mungkin cuma mirip?"
"Gue yakin, Mik! Punggungnya, rambutnya, jalannya—itu dia! Gue tahu itu dia!"
Mika mengusap punggung Kay. "Udah, tenang. Kalo memang dia, mungkin dia sengaja menghindar."
Kay terisak. "Kenapa dia lari dari gue? Kenapa?"
Mika menghela napas. "Kay, lo ingat kenapa dia pergi? Karena dia nggak mau nyusahin lo. Mungkin dia masih merasa belum layak. Jadi ketika lihat lo, dia kabur."
"Tapi gue nggak peduli dia layak atau nggak! Yang penting dia ada!"
"Dia belum tahu itu, Kay. Dia masih berkutat dengan harga dirinya."
Kay terdiam, menangis di bahu Mika. Beberapa orang berhenti, menawarkan bantuan, tapi Mika menolak lembut.
"Kita duduk dulu," kata Mika, menarik Kay ke bangku taman dekat pos polisi.
Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Kay masih terisak pelan.
Mika memegang tangannya. "Kay, denger. Lo lihat dia di sini, itu artinya dia masih di Jogja. Itu kabar baik. Berarti selama ini lo nggak salah cari. Dia ada di kota yang sama."
Kay mengangkat kepala. "Tapi gimana caranya nemuin dia? Jogja gede, Mik. Bisa aja dia di tempat lain besok."
"Maka dari itu, lo harus sabar. Kalo Tuhan berencana mempertemukan kalian, pasti ada jalannya. Dan lo lihat tadi, lo hampir ketemu. Itu tanda, Kay. Tanda bahwa dia masih di sini, dan suatu hari lo akan ketemu lagi."
Kay mengusap air matanya. "Lo yakin?"
Mika tersenyum. "Gue yakin. Cinta kayak kalian nggak akan berakhir cuma karena jarak dan waktu. Percaya deh."
---
Sementara itu, di gang kecil di belakang toko batik, Bima bersandar di dinding, terengah-engah. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi kening. Ia baru saja berlari lebih cepat dari sebelumnya—bukan karena dikejar bahaya, tapi karena dikejar masa lalu.
"Kay," bisiknya, suaranya bergetar.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Ketika tadi mendengar suara itu—suara yang selalu ada di mimpinya—ia hampir berbalik. Tapi ingatan akan kata-kata ibu Kay, akan semua masalah yang pernah ia timbulkan, membuatnya memilih lari.
"Maaf, Kay. Maaf gue belum siap."
Ia mengeluarkan dompet, mengambil foto Kay yang lusuh. Foto itu basah oleh keringatnya.
"Gue masih harus bayar utang. Masih harus buktiin kalo gue bisa mandiri. Nanti, Kay. Nanti gue akan datang."
Ia menyimpan foto itu, lalu berjalan cepat meninggalkan keramaian. Malam itu, ia tidak jadi membeli apa pun.
---
Di kosnya, Bima duduk termenung. Ia membuka laptop, mencoba bekerja, tapi pikirannya tidak bisa fokus. Bayangan Kay terus menghantuinya—wajahnya yang kurus, suaranya yang pecah memanggil namanya.
Akhirnya, ia mengambil buku sketsa. Dengan pensil, ia mulai menggambar—Kay di Malioboro, di tengah keramaian, dengan mata mencari-cari. Wajahnya sendu, tapi ada secercah harapan.
Di bawah gambar, ia menulis:
"Hampir saja aku berbalik. Tapi aku belum pantas. Tunggu aku, Kay. Aku akan kembali."
Lalu ia menyimpan buku sketsa itu di laci, dikunci rapat.
---
Minggu pagi, Kay terbangun di kos Mika. Matahari masuk melalui jendela, menerangi wajahnya. Ia mengucek mata, lalu teringat kejadian semalam.
"Bima," bisiknya.
Ia meraih ponsel, melihat foto Bima. Lalu tersenyum tipis.
"Mik," panggilnya.
Mika yang sedang memasak mi di dapur kecil menjawab, "Apa?"
"Gue percaya kata lo. Dia masih di Jogja. Dan suatu hari nanti, gue akan ketemu lagi."
Mika muncul di pintu dengan sendok di tangan, tersenyum lebar. "Nah, gitu dong. Kay semangat!"
Kay bangkit, meregangkan tubuh. "Hari ini gue mau mulai cari lagi. Dengan cara yang lebih pintar."
"Lo mau ngapain?"
"Gue mau pasang iklan di kampus-kampus. Tanpa foto, cuma deskripsi. 'Dicari, Bima Wijaya. Hubungi nomor ini.' Mungkin ada yang lihat."
Mika mengangguk. "Boleh juga. Tapi jangan pasang di UGM aja. Sebar di semua kampus."
"Iya. Dan gue juga mau kontak Pak Yanto lagi. Suruh dia fokus cari di Sanata Dharma, UII, dan kampus-kampus yang agak kecil."
Mika tersenyum bangga. "Lo hebat, Kay. Nggak nyerah."
Kay tersenyum. "Karena gue sayang dia."
---
Dua minggu kemudian, iklan-iklan kecil mulai bertebaran di berbagai kampus Jogja. Di papan pengumuman, di kantin, di perpustakaan. Siapa pun yang melihat Bima diminta menghubungi nomor Kay.
Tapi belum ada yang menghubungi.
Pak Yanto juga belum menemukan jejak pasti. Beberapa kali ada informasi, tapi setelah dicek, salah orang.
Tapi Kay tidak menyerah. Ia terus berusaha.
Sambil tetap kuliah, tetap mengerjakan tugas, tetap memperbaiki IPK.
Karena ia percaya, di suatu tempat di Jogja, Bima juga sedang berjuang. Dan suatu hari nanti, perjuangan mereka akan bertemu.
---
Di kos Demak, Bima baru saja menyelesaikan website kesepuluhnya. Menghitung target tabungan untuk membayar lunas hutang Kay.
Ia menatap buku tabungannya dengan puas. "Bentar lagi, Kay. Bentar lagi bisa gue lunasin."
Ia membuka laci, mengeluarkan buku sketsa. Di halaman baru, ia menggambar Kay sedang tersenyum, dengan latar belakang Malioboro. Di bawahnya, ia menulis:
"Aku ingin datang sebagai laki-laki yang pantas. Sabar, Kay. Aku hampir sampai."
Di luar, hujan turun lagi. Tapi kali ini, Bima tersenyum. Karena di balik hujan, ia tahu ada pelangi yang menunggu.