SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Para PRT Komplek BSD part 2
"Bang jangan lupa buatin yang aku pesan tadi dua mangkok," ucap pembantu muda itu yang sudah mulai tidak sabar, melihat Romi sedang sibuk dengan pesanan yang datang kemudian.
"Tentu, ini sudah aku buatkan," jawab Romi lalu memberikan dua mangkok kepadanya dengan hati-hati, memastikan kuahnya tidak tumpah saat diberikan.
Perempuan muda itu memberikan uang 50 RB an dengan jari yang tercatat kuku yang rapi. "Abang nanti kembaliannya tolong dititip sama ibu Yati aja ya," ucapnya dengan cepat sebelum berbalik berjalan masuk kembali kedalam rumah.
"Mbak Yati titip kembaliannya ya?" tanya Romi dengan suara sedikit keras agar terdengar, karena wanita muda itu sudah mulai menjauh. Kemudian perempuan muda itu hanya mengangguk tanpa berbalik dan masuk ke dalam rumah yang megah itu.
"Ya dik Narti, nanti akan aku kasih kembaliannya," ucap Mbak Yati kepada Narti sambil mendekat ke Romi, tangannya sudah siap menerima pesanannya.
"Maaf bu Yati, ini pesanannya 2 mangkuk," ucap Romi dengan suara sopan, memberikan dua mangkok bakso yang sudah siap dengan hati-hati. Yati memberikan uang 20 RB dengan telapak tangan yang sedikit kasar akibat kerja keras. "Ini uang pas ya abang," ucap Yati dengan senyum ramah.
"Ya bu Yati, terima kasih," ucap Romi lalu memberikan uang kembalian Mbak Narti tadi dan dititipkan kepada ibu Yati. Uang kembalian yang sudah dihitung dengan tepat diberikan dalam amplop kecil yang bersih.
Saat mereka berdua saling pandang, Ibu Yati terkejut melihat wajah Romi yang masih sangat muda. Matanya yang penuh pengalaman langsung mencermati tinggi badan dan sikap Romi yang rendah hati. "Kamu masih muda sekali abang?" tanya ibu Yati kepada Romi dengan suara penuh rasa ingin tahu.
"Ooh ya Bu Yati, aku memang masih muda, usiaku genap 16 tahun," ucap Romi dengan suara jelas, tidak sedikit pun malu dengan usianya yang masih belia untuk berjualan.
"Waaah usia kamu benar 16 tahun?" tanya Yati lagi dengan nada semakin terkejut, matanya membulat melihat sosok Romi yang sudah cukup tinggi namun wajahnya masih jelas menunjukkan anak muda.
"Benar ibu Yati, aku masih sekolah kelas 10 di SMA," ucap Romi dengan bangga, meskipun pekerjaannya sederhana namun dia tidak pernah menyembunyikan bahwa dia masih seorang pelajar.
"Di SMA mana nak.....???" tanya Yati dengan suara pelan, seolah ada sesuatu yang ingin dia pastikan.
"Perkenalkan nama aku Romi, dan aku sekolah di SMA Harapan Bangsa," ucap Romi lagi kepada ibu Yati dengan suara sopan, sambil sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan.
"Kok bisa kebetulan sih nak Romi, satu sekolah dengan anak saya," ucap ibu Yati dengan wajah yang semakin terkejut, bahkan ada sedikit kegembiraan di dalamnya.
"Emang anak ibu Yati siapa namanya?" tanya Romi dengan rasa penasaran yang besar, tidak menyangka bisa bertemu orang yang anaknya sekolah di tempat yang sama dengan dirinya di kawasan yang jauh dari sekolahnya.
"Yatiiii... tiii...Yatiiii!!!" panggil Ny.Lusi memanggil namanya dari dalam rumah dengan suara yang cukup keras agar terdengar di luar.
"Yaa Ny besar.. tunggu saya segera datang," teriak Yati dengan suara cepat, wajahnya menunjukkan bahwa dia harus segera kembali bekerja. "Oke besok-besok kita sambung lagi ya Nak Romi," lanjutnya sambil berjalan cepat masuk kembali kedalam rumah besar itu, tanpa sempat menjawab pertanyaan Romi tadi.
"Baik Ibu Yati, Insyaa Allah aku akan mampir kesini lagi," ucap Romi dengan suara sopan, melihat sosok Yati yang semakin jauh masuk ke dalam rumah.
Setelah punggung ibu Yati menghilang di balik rumah besar itu, Romi bermaksud untuk berjalan kembali sambil memikul dagangannya. Namun tiba-tiba seorang remaja memanggil manggil namanya dengan suara yang cukup keras.
"Bang...Abang tunggu!!! aku mau beli baaaang," teriak remaja putri tersebut sambil berlari mendekati Romi yang masih belum begitu jauh melangkah. Rambut panjangnya yang lurus terbentang karena berlari, mengenakan baju santai warna merah muda dengan celana jeans yang ketat.
Lalu Romi menurunkan lagi pikulan dagangannya dengan hati-hati ke tanah, siap melayani pembeli baru yang datang dengan tergesa-gesa.
"Si abaaang jangan buru-buru pergi aja dong!!! aku kan masih mau beli bakso Cuangkyi" ucap Yuli dengan napas sedikit terengah-engah setelah berlari, wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak terlalu senang namun tetap berdiri di depan Romi.
Lalu terlihat keduanya bertatapan dan saling memandang satu sama lainnya. Kedua mata mereka saling menyilang, dan suasana tiba-tiba menjadi hening sejenak sebelum keduanya bersamaan mengeluarkan suara.
"Yuliii!!!" Ucap Romi dengan wajah yang sangat terkejut, tidak menyangka bisa bertemu dengan teman satu sekolahnya di tempat seperti ini.
"Romiii!!!" Ucap Yuli dengan nada yang sama terkejut, matanya membulat melihat sosok Romi yang mengenakan baju kerja sederhana dengan pikulan bakso di sisinya.
"Hehehehe gue gak sangka ketemu loe di sini, loe jualan bakso Cuangki? Sekalian aja loe jualan di kantin sekolah, pasti loe malu kan???" ucap Yuli dengan suara yang mulai berubah menjadi sedikit merendahkan, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Aku gak mungkin malu, tapi klo aku jualan di kantin berarti aku harus bayar per bulannya 1,5 JT – uang segitu berat buat aku," ucap Romi dengan suara tegas namun tetap sopan, tidak sedikit pun terganggu oleh kata-kata Yuli. Dia menjelaskan dengan jelas alasannya tanpa perlu menyembunyikan kondisi ekonominya.
"Terserah kamu mau ngomong apa Rom, yang pasti gue udah tahu loe adalah tukang bakso Cuangki keliling, itu udah lebih dari cukup buat gue. Pergi jauh-jauh dari diri gue, gue terus terang jijik ngeliat loe jualan bakso Cuangki, lebih baik sekarang loe pergi dari hadapan gue," ucap Yuli dengan suara yang semakin dingin, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang tidak bisa disembunyikan.
"Kamu bukannya sedang ingin makan bakso Cuangki, dan aku sudah berhenti menurunkan pikulanku karena panggilan kamu Yuli," ucap Romi dengan suara yang tetap tenang, tidak terpengaruh oleh kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Yuli.
"Jadi gue harus tetep membeli Bakso Cuangki loe? Sungguh terlalu itu namanya Romi," ucap kesal Yuli, wajahnya memerah karena sedang menahan amarah. Tangan kanannya mengepal erat, seolah tidak menyukai kondisi yang membuatnya harus berurusan dengan Romi.
"Itu sudah menjadi resiko kamu Yuli, karena kamu sudah memanggil aku, dan aku sudah datang dan berhenti," jawab Romi dengan suara yang tegas namun tetap sopan. Dia tidak mau menyalahkan Yuli, tapi juga tidak ingin prinsipnya sebagai pedagang yang jujur terganggu.
"Konyol sekali prinsip kamu itu Romi, kamu memaksa orang lain untuk membeli Bakso cuangki kamu yang tidak enak itu," ucap Yuli dengan nada merendahkan, meskipun sebenarnya dia tidak tahu rasanya sama sekali.
"Emangnya kamu sudah pernah merasakan bakso Cuangki?" Tanya Romi kepada Yuli dengan tatapan yang jelas, ingin tahu apa alasan sebenarnya Yuli mengatakan bahwa baksonya tidak enak.
"Belum sih, aku belum pernah merasakan bakso cuankii milik kamu," ucap datar Yuli, sedikit terdiam setelah menyadari bahwa kata-katanya tadi tidak berdasar.
"Jadi sekarang gimana, agar kedua belah pihak aku dan kamu sama-sama enak?" timpal Romi dengan suara yang lebih lembut, tidak ingin situasi ini menjadi semakin buruk.
"Gue gak suka makan bakso Cuangki loe, titik gak pake koma-koma," ucap Yuli menegaskan dengan keras, memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat tatapan Romi yang membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Oke baiklah, sekarang kita ambil jalan tengah aja. Kamu Yuli tetap harus membeli Bakso cuangki yang aku punya, kamu langsung bayar dan bakso Cuangki tersebut kamu kasih kembali kepada para pembantu di rumah kamu yang besar itu, atau para pembantu di komplek ini," ucap Romi kepada Yuli dengan usulan yang masuk akal, dia tidak ingin memaksakan Yuli untuk makan baksonya jika memang dia tidak suka.
Yuli terlihat masih menimbang-nimbang solusi dari Romi. Sebenarnya bagus ide yang diusulkan Romi, namun gengsi telah membutakan hati Yuli yang membeku. Dia tidak ingin kalah atau terlihat lemah di depan Romi yang dia anggap lebih rendah darinya.
"Oke baiklah aku setuju ide kamu itu," ucap Yuli dengan enggan, wajahnya masih menunjukkan ketidaksenangan namun sudah tidak ada pilihan lain.
"Deal," ucap Romi dengan senyum ramah, tangan kanannya sudah siap untuk bersalaman.
"Deal," ucap YULI dengan suara rendah, lalu memberikan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Romi. Kedua tangan mereka bersentuhan sebentar, kemudian segera terpisah.
Dan keduanya terlihat bersalaman. Romi langsung membuatkan Bakso Cuangki 15 mangkok untuk para Pembantu Rumah Tangga di sekitar Komplek itu, dengan hati-hati memasak setiap mangkok agar rasanya tetap enak dan hangat.