Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sama Seperti PAPA
Setelah selesai membersihkan diri, Samudra langsung turun ke bawah. Baru menapaki beberapa anak tangga, ia sudah mendengar tawa Binar yang renyah dari ruang tengah. Suara mampu membuat dadanya ikut menghangat.
Ia berhenti sejenak di tengah tangga, memperhatikan dari kejauhan.
“Mama lihat dari tadi Bibi peluk boneka dari Papa. Bibi suka ya boneka dari Papa?” tanya Samira lembut.
Samira sendiri tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Melihat anaknya tersenyum cerah karena sesuatu yang diberikan Samudra membuat hatinya terasa penuh dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
“Bibi suka, Ma… bonekanya gemes,” jawab Binar polos sambil memeluk boneka kelinci itu lebih erat.
Samira tersenyum. Senyum Binar selalu berhasil meluruhkan lelahnya, seolah dunia menjadi lebih ringan hanya karena melihat anak kecil itu bahagia.
Di tangga, Samudra masih berdiri diam. Ia tidak langsung turun.
Matanya terpaku pada pemandangan itu Binar duduk bersila di karpet, memeluk boneka pemberiannya, sementara Samira duduk di sampingnya sambil sesekali mengusap rambut anak itu dengan penuh kasih.
Ada rasa asing yang perlahan memenuhi dada Samudra.
Hangat. Tapi juga menyesakkan. Ia merasa benar-benar ingin menjadi bagian dari momen itu. Bukan sekadar melihat dari jauh seperti orang luar.
Langkahnya akhirnya bergerak lagi. Pelan. Tidak ingin mengganggu suasana.
Namun tetap saja—
“Kamu udah selesai, Mas?” tanya Samira saat menyadari kehadirannya.
Samudra mengangguk singkat. “Hm.”
Binar langsung menoleh. Matanya berbinar melihat ayahnya.
“Papa! Lihat… Bibi kasih nama bonekanya!”
Samudra sedikit terkejut. “Oh ya? Namanya siapa?”
Binar mengangkat boneka itu tinggi-tinggi seolah memperkenalkan teman barunya.
“Namanya Upi!”
Samudra menahan senyum. “Upi?”
“Iya. Soalnya lucu. Kayak… upil kecil,” bisik Binar jujur.
Samira refleks menutup mulut menahan tawa. Samudra memijat pelipis, antara ingin tertawa dan ingin protes pada logika penamaan anaknya.
“Nama yang… kreatif,” katanya akhirnya.
Binar terkikik puas, lalu tanpa ragu merangkak mendekat ke arah Samudra dan memeluk kakinya.
“Papa duduk sini sama Bibi.”
Permintaan sederhana itu membuat Samudra diam sepersekian detik.
Dulu, ia mungkin akan menolak dengan alasan lelah.
Tapi sekarang…
Ia menuruti.
Samudra duduk di karpet, agak kaku. Binar langsung bersandar di lengannya, memeluk bonekanya sambil sesekali menunjukkannya pada Samudra seolah boneka itu makhluk hidup sungguhan.
Samira memperhatikan dari samping.
Dan tanpa ia sadari… sudut matanya terasa mengeluarkan air mata.
Ia tidak berkata apa-apa. Tidak ingin merusak momen kecil yang terasa begitu langka itu.
Ruangan itu tidak ramai. Tidak ada musik. Tidak ada televisi.
Hanya ada suara napas, tawa kecil Binar, dan keheningan nyaman yang perlahan tumbuh di antara mereka bertiga.
@@@
“Aku baru tahu ternyata Bibi anaknya cukup kreatif, Ra,” ujar Samudra tiba-tiba.
Samira yang mendengar itu tersenyum tipis. “Iya, Mas. Bibi memang kreatif, apalagi kalau sudah pegang mainan. Dia suka merakit sendiri, bongkar pasang, terus disusun lagi sesuka dia,” jelasnya lembut.
Samudra mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada Binar yang sedang asyik memainkan bonekanya di lantai.
“Tapi kalau boneka… nggak bakal dibongkar pasang juga, kan?” tanya Samudra lagi, nadanya terdengar setengah penasaran.
Samira menoleh sebentar, lalu tertawa kecil. “Sebenarnya, kalau boleh jujur, Bibi itu nggak terlalu suka boneka, Mas. Dia biasanya jauh lebih excited kalau dapat Lego atau mainan rakit. Tapi…” Ia berhenti sejenak, pandangannya kembali pada Binar. “Entah kenapa, karena ini dari kamu, dia malah senang banget.”
Ucapan itu membuat Samudra terdiam.
Tatapannya melembut tanpa ia sadari.
Di lantai, Binar sedang memeluk boneka kelinci itu sambil berbicara sendiri, seolah boneka itu benar-benar hidup. Sesekali ia tertawa kecil, lalu mencium kepala bonekanya dengan sayang.
Pemandangan sederhana itu terasa anehnya begitu menghangatkan dada Samudra.
Siapa sangka…
Anak yang katanya tidak suka boneka justru memeluk boneka pemberiannya seolah itu harta paling berharga.
Di bagian terdalam hatinya, Samudra tahu kalau tadi Binar menolak hadiah itu, mungkin ia tidak akan menunjukkan apa-apa. Wajahnya akan tetap datar seperti biasa.
Tapi jauh di dalam sana…
Ia pasti akan merasa kecewa.
Namun kenyataannya, Binar tidak hanya menerima. Anak itu menghargainya. Bahkan menyayanginya.
Samudra merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—
Perasaan… dibutuhkan.
Ia menelan pelan, lalu tanpa sadar tangannya bergerak mengusap kepala Binar.
Gerakan sederhana. Hati-hati. Canggung.
Namun hangat.
Binar langsung mendongak. “Papa?”
“Hm?”
“Makasih ya, Papa… Upi temenin Bibi nanti tidur.”
Kalimat polos itu membuat dada Samudra terasa sesak sekaligus hangat.
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya mengangguk pelan.
Tapi dalam hatinya, ada satu kalimat yang terus bergema—
Kalau begini rasanya pulang… mungkin pulang tidak seburuk itu.
@@@
“Mas mau kopi?” tanya Samira lembut pada Samudra.
“Kalau nggak merepotkan,” jawab Samudra singkat.
Melihat ibunya hendak pergi ke dapur, Binar langsung memanggil, “Mama mau ke mana?”
“Mama mau bikin kopi buat Papa, sayang. Bibi mau minum susu juga?” tanya Samira sambil menoleh.
“Mau, Mama!” jawab Binar ceria, masih memeluk boneka kelincinya.
“Ya sudah, Mama bikinin susu dulu buat Bibi, ya. Bibi tunggu di sini sama Papa,” ujar Samira.
Binar mengangguk semangat. “Iya!”
Samira lalu menoleh pada Samudra. “Sebentar ya, Mas. Aku buatin kopi kamu sama susu buat Binar.”
Samudra hanya mengangguk pelan.
Begitu Samira pergi, Binar menatap ayahnya dengan mata bulat polos.
“Papa haus ya? Mau minum kopi?”
Samudra tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Iya. Papa haus. Makanya Papa mau minum kopi. Kalau Bibi haus juga, Bibi minum susu.”
Binar menggeleng kecil. “Bibi nggak haus, Papa… tapi Bibi mau samaan kayak Papa.”
Jawaban itu membuat sudut bibir Samudra terangkat sedikit lagi.
Tak lama kemudian Samira kembali membawa nampan kecil. Di atasnya ada secangkir kopi hangat dan sebotol susu.
“Nah, ini kopi Papa… dan susu Bibi,” ucapnya sambil menyerahkan.
Binar langsung memperhatikan dengan teliti. “Kok Bibi nggak pakai gelas kayak Papa?”
Samira tersenyum sabar. “Kan biasanya Bibi minumnya pakai botol, sayang.”
“Tapi Bibi mau kayak Papa sama Mama…” ucap Binar pelan, nadanya berubah sendu.
Samira langsung paham. “Ya sudah, tunggu sebentar. Mama gantiin ke gelas, ya.”
Ia kembali ke dapur, menuangkan susu ke gelas kecil bergambar kartun, lalu kembali lagi.
“Nah, ini sudah. Sekarang Bibi berdoa dulu sebelum minum.”
Binar langsung menaruh bonekanya di pangkuan, lalu menangkupkan kedua tangan kecilnya. “Bismillah…”
Setelah itu ia menyesap susu dari gelasnya dengan hati-hati, meniru cara Samudra meminum kopi.
Samudra memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Gerakan kecil itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa menampar pelan hatinya.
Anak itu bukan cuma ingin minum susu.
Dia ingin menjadi seperti Papanya.
Samudra menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi matanya yang mendadak berubah.
Di sampingnya, Samira juga melihat hal yang sama. Ia tidak berkata apa-apa, hanya diam sambil menatap interaksi ayah dan anak itu.
Beberapa detik hening.
Lalu tiba-tiba—
“Papa,” panggil Binar lagi.
“Hm?”
“Besok Papa kerja lagi?”
“Iya.”
Binar mengangguk pelan. Lalu bertanya lagi, suaranya lebih kecil.
“Papa… pulangnya jangan lama-lama ya.”
Kalimat itu sederhana. Polos. Tanpa tuntutan.
Tapi cukup membuat jari Samudra yang memegang cangkir berhenti bergerak.
Untuk sesaat… ia tidak bisa menjawab.
Dan di detik itu juga, Samira menyadari sesuatu—
Binar mungkin tidak pernah meminta apa-apa dari ayahnya.
Tapi sekalinya meminta…
Yang ia minta bukan mainan.
Bukan jalan-jalan.
Bukan hadiah.
Melainkan… waktu.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!