Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman tingkat nasional
Karena penasaran kenapa tempat ini sepi sekali padahal ada insiden, salah satu petugas damkar langsung mengajukan pertanyaan.
"Mohon maaf pak. Kenapa di sini tidak ada banyak orang, ya!?" Ia bertanya karena bingung dan mengharap jawaban.
Pak RT hanya bisa menghela nafas, sebelum akhirnya ia menceritakan kalau hubungan bertetangga di komplek ini agak buruk...
Tidak. Tepatnya benar-benar buruk hingga tidak ada yang peduli pada tetangga mereka sendiri.
"Walah... Ternyata ada yang seperti itu, ya!" Petugas itu hanya bisa melongo mendengarnya.
Baginya. Baru kali ini petugas itu melihat hubungan bertetangga yang benar-benar tidak baik-baik saja.
"Ngomong-ngomong!..."
"Penyebab kebakaran ini apa ya, pak? Apa karena tabung meledak!?" Tanya pak RT sambil menoleh ke sisa-sisa kebakaran.
"Kami belum tau. Sekarang kami masih menyelidikinya jadi mohon tunggu selama beberapa waktu!" Kata petugas itu sambil menggelengkan kepalanya.
Pak RT pun mengangguk dan menyerahkan tugas ini pada yang lebih ahli.
Kemudian, pak RT dan Wawan pulang ke rumah tapi tak lama mereka meninggal rumah lagi karena sudah waktunya berjamaah sholat Magrib.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya jam 9 malam ketika Wawan baru saja mau naik ke atas kasurnya untuk beristirahat.
Tiba-tiba saja teleponnya berdering dengan suara yang khas dan unik.
Wawan sampai tidak jadi naik ke atas kasur dan langsung mengambil hpnya kemudian memasang ekspresi sedikit terkejut.
"Haahh... Malam-malam begini ada panggilan darurat!"
"Aku yakin misinya pasti sangat berbahaya!" Nada bicaranya mengungkapkan perasaannya enggan dalam diri Wawan.
Ia takut mati dalam misi makanya dia tidak mau mengambil misi yang terlalu berbahaya.
Namun, karena Wawan masih butuh pekerjaan ini jadinya Wawan mau tak mau harus segera berangkat ke tempat kerjanya.
Menggunakan motor Supra legendnya Wawan otw ke markas dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.
Sesampainya di markas, di sana sudah ada Raisya yang menunggunya dengan ekspresi yang serius.
"Ayo cepat. Kita harus segera menemui komandan!" Dengan cepat Raisya menarik tangan Wawan hingga tibalah mereka di ruangan komandan.
Di sana, si komandan telah menunggu sambil memasang ekspresi yang begitu serius dan tegang.
Menandakan kalau misi ini akan sangat serius.
"Wawan. Kita saat ini sedang dalam masalah besar!"
"Saking besarnya, kalau tidak kita selesaikan secepat mungkin... Bisa-bisanya kedamaian nasional terancam dan kerusuhan akan terjadi di mana-mana!" Raisya seketika menelan ludah ketika melihat ekspresi si komandan.
Di sisi lain, Wawan masih tampak biasa.
Namun, meksipun dari luar ia kelihatan santai dan tenang tapi pada kenyataannya ia adalah yang paling panik.
Dalam hatinya Wawan bergumam. 'Kanur sekarang masih sempat gak, ya?... Kalau komandan sampai serius seperti itu maka misi ini akan luar biasa berbahaya.'
"Pak. Masalah macam apa yang bisa membuat kerusuhan di mana-mana?!" Tanya Raisya serius.
Komandan sejenak terdiam seakan ia merasa berat mengungkap masalah ini meskipun pada para agennya.
Namun, karena mereka yang akan mengambil tugas ini jadi si komandan tentu saja harus memberitahu kedua agennya itu. "Haah... Kalian dengar ini baik-baik!..."
Keduanya pun mendengarkan dengan sangat serius.
"Pada saat ini, ribuan atau mungkin jutaan tabung gas subsidi telah di curi dan di ganti dengan yang palsu!" Baik Wawan ataupun Raisya keduanya terkejut.
Cuma bedanya, Wawan tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali di sini.
"Hah?... Tabung gas subsidi?!"
"Apa tabung gas memang bisa memicu kerusuhan sekala nasional seperti yang anda ucapkan tadi!?" Raisya bertanya karena merasa bingung.
Wawan kemudian menjawab dengan santai tanpa berekspresi. "Kamu orang kaya, makanya tidak akan paham dengan masalah ini!"
"Mayoritas masyarakat negara kita masih menggunakan tabung gas subsidi itu dan jika tiba-tiba tabung gasnya tidak bisa di dapatkan oleh rakyat, maka itu akan menimbulkan ketidakpuasan dan memicu kerusuhan!" Kata Wawan.
"Wawan benar!"
"Bahkan, meksipun tabung gas subsidi itu di tujukan untuk masyarakat kelas bawah tapi tidak sedikit orang dari kalangan atas yang menggunakannya!"
"Dan di beberapa tempat makan mereka masih menggunakan tabung itu!"
"Terdengar konyol memang, tapi masalah ini benar-benar serius!"
"Apalagi. Tabung gas subsidi palsu itu sangat berbahaya dan bahkan bisa meledak ketika di gunakan!"
"Di beberapa tempat kami telah mendapatkan laporan terkait hal tersebut dan sekarang... Masyarakat sudah mulai protes karena masalah tabung ini!" Kata komandan dengan penuh kekhawatiran.
Komandan kemudian pergi ke jendela untuk membuka jendela.
Beliau melakukan hal tersebut bukan karena ada perlu, tapi hanya untuk pamer pada anak buahnya dan keren-kerenan saja.
Namun bukannya jadi keren, malah terjadi hal yang tidak terduga ketika jendela itu di buka, yaitu...
Ada seorang yang sedang jongkok di balik tumpukan sampah sambil ngudud.
Orang itu sedang buang hajat sembarangan.
Bukannya estetik dan keren, si komandan malah terlihat aneh di mata kedua Jaka buahnya itu.
Tentu, hal itu juga di sadari oleh si komandan hingga ia langsung berteriak seketika. "Woi! Di sini ada WC umum, kenapa kau malah buang hajat di sana!?"
Teriakan si komandan tidak di hiraukan oleh pria yang sedang buang hajat itu.
Dia malah dengan santainya merokok dan memasang ekspresi tak peduli.
Si komandan makin marah.
Rasanya, ia mau melempar orang itu dengan sesuatu pada saat ini.
Namun, karena situasi sekarang sedang sangat gawat jadi komandan tidak melakukan hal tersebut dan lebih memilih menutup kembali jendela.
"Kurang asem itu orang. Mana Deket banget lagi dengan kantor kita!" Umpat komandan sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
Lanjut ia meneruskan pembicaraan yang sangat penting ini.
"Ahem!"
"Seperti yang saya bilang tadi. Masyarakat sekarang sudah mulai protes karena tabung mereka bermasalah hingga menimbulkan ledakan!"
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut, kita harus tangani masalah ini dalam waktu dua hari!" Ucapnya makin serius.
Raisya seketika mengangguk penuh serius.
Wawan sendiri masih diam sambil memasang wajah datarnya.
Dalam hati, Wawan benar-benar berencana untuk kabur dari masalah ini karena...
Jika target mereka bisa mencuri ribuan atau bahkan jutaan tabung gas begitu saja, maka orang ini bukan orang biasa.
Misi ini jelas sangat berbahaya.
Jadi Wawan benar-benar tidak mau ikut.
"Ayo, kita harus mulai bekerja sekarang juga!" Ucap Raisya langsung menarik Wawan pergi dari ruangan itu.
Wawan yang mana pada saat itu ingin mengajukan resign dari pekerjaan ini pun tidak jadi karena tidak di beri kesempatan oleh Raisya.
Alhasil, ia hanya bisa mengikuti misi ini dan hanya bisa berdoa agar ia bisa selamat dari misi ini.
Dalam pikirnya... Persetan dengan sekuat tabung gas itu.
Wawan hanya peduli pada keselamatannya pada saat ini.
Setelah kedua agennya pergi, si komandan kemudian menghela nafas lagi yang mana helaan itu terasa lebih panjang dan lebih melelahkan.
"Haaahhhhhhh!!..."
"Ini benar-benar konyol!"
"Bagiamana coba, ribuan tabung gas hilang dalam waktu yang sangat singkat!" Kata komandan sambil mengelus-elus pelipisnya.