Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"jika suatu hari kau bertanya mengapa Aku memilihmu jawabannya sederhana karena hatiku merasa pulang
DI PERJALANAN PULANG – MOBIL KELUARGA LUNA
Mobil mewah keluarga Luna melaju dengan tenang di jalan raya yang mulai ramai. Luna duduk di kursi belakang dengan wajah yang masih memerah dan penuh kemarahan, sementara Ibu Sherly mengemudi dengan ekspresi yang serius.
“Aku tidak bisa menerima apa yang terjadi hari ini, Bu,” ujar Luna dengan suara yang masih bergetar. “Biru bahkan berani membela dia di depan semua orang! Padahal aku sudah mencintainya selama bertahun-tahun!”
Ibu Sherly melihat ke arah Luna melalui cermin belakang dengan wajah yang penuh kesedihan. “Aku tahu kamu sangat sakit hati, sayang. Tapi kamu harus tahu bahwa tidak ada yang bisa dipaksakan dalam cinta, termasuk hati seorang lelaki.”
“Tapi Bu, apa dia benar-benar menyukai gadis itu?” tanya Luna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Apa kaku tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan cintanya?”
Ibu Sherly terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara yang lebih tegas. “Jika memang dia menyukainya, maka kita tidak bisa tinggal diam saja, Nak. Aku tidak akan pernah mengizinkan seorang gadis dari keluarga biasa seperti itu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu.”
Luna melihat ke arah ibunya dengan ekspresi yang penuh harapan. “Apakah Bu akan membantu aku, ?”
Ibu Sherly mengangguk dengan mantap. “Tidak perlu khawatir, sayang. Aku akan membereskan segala sesuatu agar gadis itu tidak akan pernah lagi mengganggumu atau mengambil Biru darimu. Kamu hanya perlu fokus pada pendidikanmu dan bersiap untuk masa depan yang lebih baik. Sisakan semuanya pada Ibu saja.”
Ekspresi kemarahan pada wajah Luna perlahan berubah menjadi senyum yang menyakitkan. Dia tahu bahwa ibunya selalu bisa melakukan apa saja untuk melindunginya dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Meskipun dia tahu bahwa cara yang akan dilakukan ibunya mungkin tidak benar, dia tidak bisa menghentikannya – karena dia sangat takut kehilangan Biru selamanya.
“Aku sangat mencintaimu, Bu,” ujar Luna dengan suara lembut.
“Ibu juga mencintaimu lebih dari segalanya, sayang,” jawab Ibu Sherly dengan senyum yang sedikit mengerikan. “Dan ibu akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia.”
DI RUANG UKS SEKOLAH
Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) terasa tenang dan nyaman dengan aroma obat yang khas. Elona duduk di ranjang kecil dengan wajah yang masih memerah di bagian pipi dan bibir yang sedikit memar. Rekai sedang membantu mengoleskan salep pada bekas luka di wajahnya, sementara Kalash sedang meminum air mineral dari gelas plastik.
“ sakit tidak ya?” tanya Rekai dengan suara penuh perhatian saat mengoleskan salep dengan lembut. “Kalau sakit bilang aja ya, aku akan lebih hati-hati.”
“Tidak apa-apa Kak Rekai,” jawab Elona dengan senyum lembut. “Terima kasih sudah membantu aku. Kalau tidak ada kamu dan Kak Kalash, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Kalash segera mendekat dengan membawa segelas air hangat. “Tidak usah merasa sungkan dong Elona! Kamu kan sepupu dari Rekai, yang artinya kamu juga seperti keluarga buat aku.”
Elona menerima gelas dengan rasa syukur yang mendalam. Setelah beberapa saat, dia melihat ke arah Rekai dengan ekspresi yang sedikit khawatir. “Kak Rekai, tolong jangan bilang apa-apa tentang kejadian hari ini pada nenekku ya,” ujarnya dengan suara lembut. “Aku tidak ingin dia khawatir atau bahkan sakit hati karena tahu aku terluka.”
Rekai mengangguk dengan pemahaman. “Tenang aja Elona, aku tidak akan memberitahukan apa-apa pada nenekmu. Kita bisa bilang saja kalau kamu terluka karena jatuh saat berlatih pramuka atau sesuatu yang tidak membuatnya khawatir.”
“Terima kasih banyak Kak Rekai,” ujar Elona dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku sangat beruntung punya kakak seperti kamu.”
Setelah selesai mengobati bekas luka dan memberikan obat yang diperlukan, mereka berdua membantu Elona untuk berdiri. Kalash menawarkan untuk mengantar Elona pulang, tapi Rekai segera menyanggahnya.
“Aku yang mengantar aja Kalash,” ujar Rekai dengan senyum. “Kamu kan masih punya tugas OSIS yang harus diselesaikan kan? Selain itu, aku juga ingin berbicara dengan Elona tentang beberapa hal di jalan.”
Kalash mengangguk dengan mengerti. “Baiklah deh! Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku ya Elona! Jangan diam-diam sendiri dong!”
Setelah Kalash pergi, Rekai dan Elona berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Udara sore yang sejuk menyegarkan wajah Elona yang masih merasa sedikit sakit. Mereka naik ke dalam mobil Rekai yang sudah menunggu di sana, dan segera melaju menjauh dari sekolah.
Di jalan, Rekai mulai berbicara dengan suara yang tenang. “Elona, apa yang terjadi hari ini benar-benar tidak salah kamu ya,” ujarnya dengan tegas. “Jangan pernah merasa bersalah atau menyalahkan dirimu sendiri karena apa yang Luna lakukan padamu.”
Elona mengangguk perlahan sambil melihat ke luar jendela mobil. “Aku tahu itu Kak Rekai, tapi aku tidak bisa tidak berpikir bahwa semua masalah ini terjadi karena aku. Jika aku tidak pernah dekat dengan Pak Ketua atau tidak pernah menjadi bagian dari kegiatan sekolah yang dia ikuti, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.”
“Jangan berpikir seperti itu dong!” seru Rekai dengan sedikit meningkatkan suara. “Kamu punya hak untuk berada di sekolah dan menjalankan kegiatanmu seperti orang lain. Luna yang salah karena tidak bisa menerima kenyataan dan terus menerus menyalahkan orang lain atas kegagalannya sendiri.”
Setelah beberapa saat terdiam, Elona melihat ke arah Rekai dengan ekspresi yang penuh rasa syukur. “Terima kasih sudah selalu ada di sisiku, Kak Rekai. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku akan menjadi tanpa kamu dan keluarga kamu yang selalu memberikan dukungan padaku.”
Rekai memberikan senyum hangat dan menepuk tangan Elona dengan lembut. “Kamu adalah bagian dari keluarga kita juga Elona. Dan kita akan selalu melindungimu dari segala bahaya, termasuk dari orang yang ingin menyakitimu.”
Saat mereka sampai di rumah Elona, neneknya sudah menunggu di depan pintu dengan wajah yang penuh khawatir. “ Elona, wajahmu kok memar ?” tanya neneknya dengan suara khawatir.
“Tidak apa-apa Nenek,” jawab Elona dengan senyum ramah. “Aku hanya sedikit jatuh saat berlatih permainan bola dengan teman-teman saja. Sudah diobati di UKS sekolah jadi tidak masalah.”
Neneknya mengangguk dengan lega dan segera membawanya masuk ke dalam rumah. Rekai tetap sebentar untuk membantu neneknya menyiapkan makanan, sebelum akhirnya pulang dengan hati yang penuh kekhawatiran tentang apa yang mungkin akan terjadi pada Elona di masa depan. Dia tahu bahwa dengan sikap Ibu Sherly yang sudah jelas ingin menyakiti Elona, dia dan teman-temannya harus lebih berhati-hati dan selalu siap melindungi gadis tomboy yang satu ini.