Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Debu dari mobil Adrian Gavriel perlahan menghilang di ujung jalan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di depan kediaman Mahendra.
Petugas juru sita, sesuai instruksi instan dari konsorsium, mulai menghentikan aktivitas mereka. Sofa yang tadi sempat diusung ke teras, diletakkan kembali dengan kasar. Truk pengangkut barang mulai berputar balik.
Arlan masih berlutut di aspal. Tangannya mencengkeram draf pengembalian aset yang baru saja dilegalkan. Secara teknis, dia masih kaya.
Secara teknis, Mahendra Group kembali ke tangannya. Namun, rasa hampa yang menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada kebangkrutan mana pun.
"Mas! Mas Arlan, bangun!" Maura berlari mendekat, mencoba memapah Arlan. Wajahnya yang tadi sembap kini berubah cerah, seolah-olah drama pengusiran tadi hanyalah angin lalu. "Kita menang, Mas! Rumah ini milik kita lagi! Perusahaanmu kembali! Cepat bangun, Mas, malu dilihat tetangga!"
Arlan mendongak, menatap Maura dengan pandangan kosong. "Menang? Kau bilang kita menang, Maura?"
"Iya! Si jahat Hana itu sudah pergi. Sekarang tidak ada lagi penghalang di antara kita. Mas harus segera mandi, ganti baju. Kita harus tunjukkan pada dunia bahwa Mahendra Group tidak bisa dijatuhkan!" Maura berkicau riang, tangannya tak lepas mengelus perutnya yang di mata Arlan adalah satu-satunya alasan dia bertahan hidup.
Bu Mira bangkit dari kursi teras dengan sisa-sisa keanggunan yang ia miliki. Ia merapikan rambutnya yang sempat berantakan, lalu menatap petugas juru sita yang sedang bersiap pergi dengan tatapan penuh dendam.
"Kalian dengar itu? Cepat kembalikan barang-barang saya ke tempat semula! Dan bersihkan lantai ini, kalian mengotorinya dengan sepatu kasar kalian!" teriak Bu Mira, suaranya kembali melengking penuh otoritas.
Ia beralih menatap Arlan dan Maura. Dan kini kenyataan bahwa Hana, sang menantu pembangkang, telah resmi keluar dari silsilah keluarga, memberinya rasa puas yang aneh.
"Arlan, masuk ke dalam! Jangan mempermalukan Mama lebih lama lagi di depan umum," perintah Bu Mira. "Dan kamu, Maura... urus suamimu. Pastikan dia tidak memikirkan wanita itu lagi. Ingat, fokuslah pada kandunganmu. Mama tidak mau cucu Mama lahir dalam keadaan stres."
Maura mengangguk cepat. "Baik, Ma. Maura akan urus Mas Arlan."
Di dalam rumah, suasana masih berantakan. Namun bagi Maura, ini adalah awal dari kekuasaannya yang mutlak.
Tanpa Hana, tidak ada lagi standar moral yang tinggi di rumah ini. Tidak ada lagi istri sah yang membuatnya merasa seperti bayangan.
~~
Malam harinya, rumah Mahendra kembali terang benderang. Meskipun belum semua asisten rumah tangga kembali, Bu Mira bersikeras mengadakan makan malam formal.
Ia memesan katering mewah dari restoran bintang lima untuk merayakan kembalinya kejayaan mereka.
Arlan duduk di kepala meja, mengenakan kemeja sutra berwarna biru gelap. Wajahnya rapi, namun matanya mati. Di sampingnya, Maura duduk dengan gaun hamil longgar yang tetap terlihat mewah.
"Mari kita bersulang," ucap Bu Mira sambil mengangkat gelas kristal berisi jus anggur mahal. "Untuk kembalinya Mahendra Group, dan untuk berakhirnya gangguan dari pihak luar."
Maura mengangkat gelasnya dengan antusias. "Untuk masa depan kita, Mas."
Arlan hanya mengangkat gelasnya sedikit, lalu menyesap isinya tanpa selera. Pikirannya melayang pada bisikan Hana tadi siang.
Selagi kebohongannya belum terungkap. Apa maksud Hana? Apa ada hal yang tidak ia ketahui tentang Maura?
Ia melirik Maura yang sedang asyik memakan steak wagyu dengan lahap. "Maura," panggil Arlan pelan.
Maura mendongak, pipinya penuh. "Ya, Mas?"
"Besok, aku ingin mengantarmu kontrol ke dokter kandungan. Kita cari rumah sakit terbaik di Jakarta. Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja setelah kejadian tadi siang," ucap Arlan datar.
Gerakan tangan Maura yang memegang garpu terhenti sesaat. Jantungnya berdegup kencang, namun ia segera menutupi kepanikan itu dengan senyum manis.
"Aduh, Mas... bukannya aku tidak mau. Tapi dokter langgananku sedang ada seminar di luar negeri sampai minggu depan. Nanti kalau dia sudah balik, kita pergi ya?"
"Seminar? Dokter mana?" kejar Arlan.
"Dokter... Dokter Sarah, Mas. Kamu kan tahu, dia pakar paling sibuk," sahut Maura cepat. "Kenapa tiba-tiba Mas ingin antar? Biasanya kan aku pergi sendiri atau sama Mama?"
"Aku hanya ingin melihat anakku, Maura. Apa itu salah?" suara Arlan mulai meninggi.
Bu Mira menengahi, "Sudahlah, Arlan. Jangan terlalu menekan Maura. Dia tadi hampir keguguran karena stres diusir petugas. Biarkan dia istirahat. Nanti Mama yang atur jadwalnya."
Arlan terdiam. Ia merasa ada dinding tak kasat mata di antara mereka. Rasa curiga itu mulai tumbuh seperti benih di tanah yang subur, dipupuk oleh kata-kata terakhir Hana.
~~
Sementara di kediaman Mahendra mereka makan dalam ketegangan, di sebuah restoran rooftop yang sudah di-booking secara privat, Hana dan Adrian sedang merayakan kebebasan yang sesungguhnya.
Pemandangan Jakarta dari ketinggian 60 lantai terlihat seperti taburan berlian. Angin malam berhembus lembut, namun Hana tidak merasa dingin karena Adrian menyampirkan jas mahalnya di bahu Hana.
"Kau terlihat sangat tenang malam ini," ucap Adrian sambil menyesap wine merahnya.
Hana tersenyum, menyandarkan tubuhnya di kursi. "Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak perlu memikirkan apakah aku cukup baik untuk orang lain. Aku merasa... penuh."
Adrian meraih tangan Hana, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Kau selalu lebih dari cukup, Hana. Hanya saja kau berada di tempat yang salah terlalu lama."
Hana menatap Adrian. Pria di depannya ini adalah orang yang membantunya menghancurkan Arlan, namun dengan cara yang sangat elegan.
"Adrian, soal aset Mahendra Group... apa kau benar-benar membiarkan dia memilikinya kembali?"
Adrian terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh rahasia. "Hana, sayangku... aku adalah pebisnis. Aku tidak memberikan sesuatu secara gratis. Aset itu kembali padanya, tapi dengan bunga pinjaman dan beban pajak yang sudah aku atur. Dia akan sibuk membenahi perusahaannya yang rapuh selama berbulan-bulan. Dan saat dia menyadari bahwa Maura telah membohonginya... saat itulah dia akan benar-benar hancur secara mental."
Hana mengangguk. Ia tahu Adrian tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja. "Lalu, soal Maura?"
"Dokter yang merawat Maura sudah berada di bawah kendaliku. Data medisnya sudah rapi tersimpan. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengirimkan hadiah itu pada Arlan. Tapi tidak malam ini," Adrian berdiri, mengulurkan tangannya pada Hana. "Malam ini hanya tentang kita. Aku ingin merayakan status barumu."
Hana menyambut tangan Adrian. Mereka berdansa pelan di bawah cahaya lampu temaram. Tidak ada musik keras, hanya suara angin dan detak jantung mereka yang selaras.
"Adrian, apa kau tidak takut?" tanya Hana pelan di sela dansa mereka.
"Takut apa?"
"Takut aku akan berubah menjadi sedingin ini padamu suatu saat nanti?"
Adrian menghentikan langkahnya. Ia menangkup wajah Hana, menatap langsung ke dalam matanya yang indah.
"Hana, aku bukan Arlan. Aku tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian hingga kau harus membangun dinding es untuk melindungimu. Aku akan menjadi api yang menghangatkanmu, bukan yang membakarmu."
Adrian mendekatkan wajahnya, dan bibir mereka bertemu dalam ciuman yang sangat dalam dan penuh janji. Bagi Hana, ini bukan sekadar gairah, tapi sebuah deklarasi bahwa masa lalunya telah benar-benar mati.
Keesokan paginya, suasana sarapan kembali formal. Arlan tampak jauh lebih tenang, bahkan ia tersenyum pada Maura, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.
"Maura, aku sudah membatalkan jadwal kontrol besok," ucap Arlan sambil menyesap kopinya.
Maura bernapas lega. "Oh, benarkah? Kenapa, Mas?"
"Karena aku ingin merayakannya dengan cara lain. Besok malam, aku akan mengadakan pesta kecil di rumah ini. Mengundang beberapa rekan bisnis yang masih setia, dan tentu saja keluarga besar. Aku ingin mengumumkan secara resmi tentang pewaris Mahendra Group yang kau kandung," ucap Arlan penuh penekanan pada kata pewaris.
Maura matanya berbinar. "Pesta? Oh, Mas Arlan, itu ide bagus! Aku akan beli gaun baru! Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa akulah nyonya di sini sekarang!"
"Ya, Maura. Tunjukkan pada mereka semuanya," sahut Arlan datar.
Arlan berdiri, mengecup kening Maura yang terasa sangat menjijikkan baginya, lalu pergi menuju kantor dengan rencana besar di kepalanya.
Pesta itu bukan untuk merayakan Maura, tapi untuk menghancurkan Maura di depan orang-orang yang paling ia hargai.
...----------------...
**Next Episode** ....