Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — Emosi Terpendam —
Ini gawat.
Aku tidak menyangka dia akan muncul. Napasku sesak begitu melihat sesosok gadis berambut hitam panjang menjuntai. Dadaku naik turun.
Ah, sial. Kenapa aku tidak menyadarinya?
Padahal gadis ini sekelas denganku, dan aku tidak pernah menggubrisnya sama sekali.
Penampilannya beda. Sangat berbeda. Penyamarannya begitu bagus sampai berhasil menipuku.
"Tenanglah, Takashi-kun. Aku ke sini hanya untuk menyapamu."
"Jadi kau... Umi Shiina?"
"Wah, hebat. Kau langsung mengenaliku. Bagaimana kabarmu, Super Kid satu? Sudah cukup lama, ya?"
Aku terdiam. Tubuhku gemetar, dan napasku semakin tidak teratur.
Aku tidak berani menatap gadis itu sepenuhnya. Dia tahu segalanya tentangku.
Perlahan tubuhku mulai kehilangan kendali. Rasanya begitu lemas, dan aku berani bilang bahwa dipukul sepuluh kali lebih baik daripada mengalami ini.
Kepalaku pusing. Pandanganku berputar dengan noda darah di tanganku.
"Tidak, jangan!"
Aku refleks memegangi kepalaku. Keringat dingin mengalir sedikit demi sedikit dari dahiku.
Tak lama, aku tidak merasakan apa-apa lagi.
***
"Hah? Di mana ini?"
Begitu mataku terbuka, yang pertama kali kulihat adalah dedaunan dan ranting pohon. Keduanya bergerak pelan karena tertiup angin.
Setelah apa yang terjadi sebelumnya, aku langsung mengerti. Tentu saja aku tak sadarkan diri.
Kepalaku kini terasa lebih ringan, lebih empuk juga... seperti ada sesuatu yang menjadi bantalannya.
"Naruse-kun, kau tidak apa-apa?!"
Kemudian suara seorang gadis yang sangat familiar terdengar.
Ketika aku memiringkan sedikit kepalaku, ternyata itu Elena. Wajahnya tak lagi datar. Ekspresinya lebih mirip saat di hari pertama dia menolongku.
Tunggu dulu. Kenapa dia ada di sini? Dan aku ada di mana sebenarnya?
"Maaf, Elena. Kakimu pasti kesemutan, kan?"
Aku refleks bangkit begitu sadar kepalaku sedang berbaring di paha Elena, tapi dia langsung menariknya kembali ke pangkuannya.
"Jangan banyak gerak, kau habis terluka!"
Dia lalu mengelus rambutku dengan lembut. Gerakannya teratur, sentuhannya halus... membuat sensasi yang menenangkan.
Mataku terpejam. Beban di kepalaku serasa hilang untuk sementara waktu.
Aku ingin menikmati momen ini lebih lama lagi, tapi sayangnya ada banyak hal yang harus kupastikan.
Secara terpaksa, aku kembali membuka mataku dan menatap wajah Elena. Karena dadanya tidak besar, aku jadi bisa melihatnya dengan jelas.
"Elena, bagaimana dengan duelnya?"
Dia menatapku balik.
"Duelnya besok pagi, kami akan bertanding main catur."
"Catur? Memangnya kau bisa main?"
"Kau meremehkanku? Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, kata Shiina-san kau pingsan. Aku jadi buru-buru ke sini."
"Benar sekali, Takashi-kun. Aku sampai repot-repot membeli peralatan medis."
Suara lain terdengar menengahi obrolanku dan Elena. Ternyata kami tidak berdua di sini.
Aku pun menolehkan kepalaku ke sumber suara yang baru saja terdengar. Ada dua sosok, seorang laki-laki dan seorang gadis... yang duduk bersebelahan di rerumputan dekat posisi kami.
"Kau... Umi Shiina? Kenapa masih di sini?"
"Kenapa katamu? Aku tidak bisa membawamu ke UKS karena beberapa alasan, dan harusnya kau sendiri tahu kenapa."
Tubuhku membeku sesaat, sebelum melihat gadis itu menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuknya.
Penampilannya beda lagi, dia kini mengenakan kacamata seperti saat di kelas tadi. Dan rambut panjangnya disanggul sampai terlihat pendek.
Sejak dulu, aku memang tidak bisa mengalahkannya kalau soal menyamar. Memang sulit untuk mengenalinya.
Rupanya dia berniat menunjukkan kode morse. Dia sadar kalau orang biasa tidak boleh tahu apa-apa.
T-E-N-A-N-G
Aku lalu menyimak apa yang ingin dia sampaikan melalui kode itu.
A-K-U T-I-D-A-K M-E-M-B-O-C-O-R-K-A-N A-P-A A-P-A
Baguslah jika dia berniat seperti itu, dan aku kemudian membalasnya dengan singkat. Jariku ikut menepuk pipi kananku.
Y-A
Aku baru sadar kalau pipiku sudah diperban.
Rasanya memang menyakitkan ketika dipukul dua kali oleh seseorang yang punya kekuatan besar. Tapi paling tidak, aku bisa merasa tenang sekarang.
Entah kenapa, setiap aku mengingat masa laluku... tubuhku langsung masuk ke mode hemat daya. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas, aku ingin mengubur itu dalam-dalam.
Mengetahui bahwa ada seseorang yang tahu tentang masa laluku, terlebih lagi aku mengenal orang itu... maka aku akan menganggapnya sebagai ancaman besar.
"Takashi-kun... kau dipukul oleh Akanji-kun, kan?"
Laki-laki yang menjadi pasangan gadis itu membuka mulut. Kalau tidak salah namanya Ayano Junta.
Aku hampir melupakan keberadaannya. Dia tipe laki-laki sederhana yang tidak menarik perhatian, dan aku langsung tahu kenapa gadis itu memilihnya sebagai pasangan.
Mereka sama-sama mengenakan kacamata. Bedanya yang satu bulat, yang satunya lagi oval.
"Ya, dia sangat kuat."
Aku merespons dengan nada malas. Lagipula aku tidak bisa bilang kalau itu adalah bagian dari rencanaku.
"Kau berkelahi dengannya?"
"Tidak, aku sengaja dipukul."
"Eh? Naruse-kun, kenapa kau membiarkan dirimu terpukul?"
Elena menyela, nadanya terdengar lirih.
Aku pun menatap wajahnya lagi. Dan aku senang ketika dia khawatir padaku.
"Tidak apa-apa, Elena. Pada akhirnya... tidak ada syarat harus bertukar pasangan lagi, kan?"
"Hah? Jangan bilang, itu karenamu?!"
Suaranya meninggi. Wajahnya kini semakin dekat denganku.
Aku bisa merasakan napas dan aroma bunga lavender dari rambutnya. Suhu tubuhku mulai naik.
"Baik. Baik. Silakan bermesraan, tapi jangan lupa waktu istirahat sisa sepuluh menit lagi. Ayo kembali, Ayano-kun."
Gadis itu ikut menyela di tengah momen kami, sampai Elena menarik kembali wajahnya menjauh.
Dia lalu berdiri sembari memegang peralatan medis, dan disusul oleh pasangannya sendiri.
Sebelum melangkah, mulutnya terbuka.
"Oh, iya... Takashi-kun. Saat waktu pulang nanti, aku ingin bicara berdua saja denganmu."
Mendengar kata-kata itu membuat napas Elena tertahan.
Tak lama, mereka menghilang dari pandanganku.
Sekarang hanya tersisa kami berdua. Keadaannya jadi canggung.
Aku tidak tahu harus bicara apa, dan mulai dari mana untuk menjelaskan semua ini. Dia pasti punya banyak pertanyaan di benaknya.
Namun, beberapa saat kemudian... wajahku mulai basah dengan sendirinya. Sensasi dingin langsung terasa menyentuh kulit.
"Hei... Na-naruse-kun..."
Aku bisa mendengar suara dan napas dari Elena yang tidak begitu lancar, seperti setengah tertahan.
"A-aku... aku... aku tidak sanggup menahannya lagi. Aku takut kehilanganmu, dan aku tidak ingin melihatmu terluka karena diriku."
Dia menangis terisak-isak. Air matanya mengalir jatuh membasahi wajahku.
Astaga, kenapa aku baru sadar?
Walau aku tidak tahu penyebabnya, aku tetap merasa bersalah karena membuatnya seperti ini.
Dadaku sesak. Rasa sesak ini jelas berbeda saat sebelum aku tak sadarkan diri. Perlahan tubuhku menghangat.
Perasaan ini. Aku tidak tahu harus menyebutnya seperti apa.
Melihat wajahnya yang kini berantakan, apalagi sisi defensifnya tampak tidak terlihat lagi... rasanya dia seperti sedang memercayakan hidupnya padaku.
Tanpa perlu banyak berpikir, aku mengangkat tangan kananku dan berniat untuk menyeka air matanya.
"Elena... maaf membuatmu khawatir."
Begitu tanganku berhasil meraih wajahnya, aku bisa merasakan sentuhan halus dari pipinya yang basah.
"Harusnya aku yang minta maaf, Naruse-kun. Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat kau terluka, bahkan Shiina-san bilang kalau melapor ke Sensei itu percuma. Payah sekali kan aku ini?"
"Itu tidak benar. Kau harus fokus pada duelmu besok, dan kau tidak perlu takut kehilanganku lagi."
"Ya, aku akan berusaha!"
Elena menahan telapak tanganku dan menempelkannya di pipinya. Dia lalu memejamkan matanya, seolah ingin merasakan sentuhan ini lebih lama.
Sementara itu, aku hanya bisa diam. Membiarkannya melampiaskan emosinya yang terpendam.