Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Tawaran Menjadi Sopir Pribadi
#
Seminggu setelah pesanan gorengan besar itu, hidup Zidan dan Naura sedikit lebih ringan. Mereka punya tabungan satu juta lima ratus ribu buat cicilan bulan depan. Naura jualannya laris lagi karena banyak yang denger tentang pesanan besar kemarin. Beberapa ibu ibu mulai pesen gorengan buat acara acara kecil. Untung tambah lumayan.
Hari itu Zidan lagi nyetir angkot seperti biasa. Jam setengah empat sore. Jalanan lumayan sepi karena belum jam pulang kantor. Dia lagi ngelewatin jalan besar menuju terminal.
Tiba tiba dia lihat mobil mewah parkir di pinggir jalan. Mercedes hitam mengkilap. Kap mesinnya kebuka. Ada asap tipis keluar dari sana.
Di samping mobil itu ada bapak bapak berkacamata pake kemeja batik mahal sama celana kain rapi. Umurnya sekitar lima puluh tahunan. Wajahnya terlihat bingung sambil telpon seseorang.
Zidan ngerem angkot pelan. Dia ngeliatin mobil itu sebentar. Terus dia inget sesuatu.
Mobil itu kayak pernah dia liat. Dimana ya?
Tiba tiba ingatannya kembali. Ini mobil Pak Rahmat! Temen ayahnya dulu waktu ayahnya masih hidup! Pak Rahmat pernah dateng ke rumah mereka waktu Zidan masih SMP. Orangnya baik. Suka kasih uang jajan ke Zidan.
Zidan parkir angkot di pinggir jalan terus turun. Dia jalan mendekati bapak bapak itu dengan hati hati.
"Permisi Pak. Ada masalah?"
Bapak itu noleh. Wajahnya kesal. "Mobilku mogok. Aku udah telpon montir tapi nggak ada yang angkat. Sial banget hari ini."
Zidan lihat wajahnya lebih jelas. Bener. Ini Pak Rahmat. Meski udah tua dan tambah gemuk, tapi Zidan masih inget wajahnya.
"Pak Rahmat?"
Bapak itu melotot kaget. "Kamu kenal aku? Siapa kamu?"
"Saya Zidan Pak. Anak Pak Samsul. Bapak dulu temen ayah saya."
Pak Rahmat mikir sebentar. Terus matanya membulat. "Zidan? Anak Samsul yang dulu masih kecil itu? Astaga! Udah gede banget sekarang! Terakhir aku lihat kamu masih SMP!"
"Iya Pak. Udah lama."
Pak Rahmat peluk Zidan sebentar. "Ya ampun, nggak nyangka ketemu kamu di sini. Ayahmu gimana kabarnya?"
Zidan menunduk. "Ayah udah meninggal Pak. Tujuh tahun lalu. Kecelakaan kerja."
Wajah Pak Rahmat langsung sedih. "Innalillahi. Aku nggak tau. Maafin Bapak ya. Bapak udah lama nggak kontak sama ayahmu. Kerja sibuk kemana mana."
"Nggak apa apa Pak."
Hening sebentar. Pak Rahmat ngeliat angkot Zidan yang parkir di belakang. "Kamu sekarang jadi sopir angkot?"
"Iya Pak. Udah empat tahun lebih."
"Pantas pake baju kayak gini. Gimana kehidupanmu? Udah nikah?"
"Udah Pak. Udah punya anak juga. Masih bayi."
"Alhamdulillah. Bagus. Tapi kenapa jadi sopir angkot? Kamu kan pinter dulu. Ayahmu sering cerita kamu ranking di sekolah."
Zidan senyum pahit. "Nggak ada biaya buat kuliah Pak. Setelah ayah meninggal, ibu juga sakit sakit an. Akhirnya saya kerja aja buat hidupin keluarga."
Pak Rahmat mengangguk paham sambil menepuk pundak Zidan. "Kamu anak yang baik. Tapi sayang sekali nggak bisa lanjut sekolah."
"Sudahlah Pak. Udah takdir. Oh iya, mobilnya kenapa Pak? Saya lihat lihat sebentar boleh?"
"Boleh. Tadi tiba tiba mati aja di tengah jalan. Padahal bensin masih banyak."
Zidan jalan ke bagian depan mobil terus liat mesinnya. Dia emang nggak begitu ngerti mesin mobil mewah. Tapi dia pernah bantuin temen baiknya yang montir dulu. Jadi tau sedikit sedikit.
Dia cek kabel kabel di mesin. Terus nemu satu kabel yang kendor. Kayaknya kabel aki.
"Pak, ini kabelnya kendor. Saya benerin sebentar ya."
"Kamu bisa?"
"Coba aja dulu Pak."
Zidan cari obeng di mobil. Ketemu di bagasi. Dia kencengin kabel itu pake obeng. Lima menit kemudian selesai.
"Coba starter Pak."
Pak Rahmat masuk ke mobil terus putar kunci kontak. Mesinnya langsung hidup. Suara halus khas Mercedes.
"Wah jadi! Kamu hebat Zidan! Terima kasih ya!"
Zidan senyum sambil bersihin tangan pake lap yang ada di bagasi. "Sama sama Pak. Syukurlah kalau bisa."
Pak Rahmat turun dari mobil terus keluarin dompet. Dia ambil lima lembar seratus ribuan terus kasih ke Zidan.
"Ini buat kamu. Terima kasih udah bantuin."
Zidan geleng geleng. "Nggak usah Pak. Saya cuma bantuin aja. Lagian Bapak temen ayah saya. Nggak enak kalau terima uang."
"Ambil aja. Bapak tahu kamu pasti butuh."
"Beneran nggak usah Pak. Saya ikhlas."
Pak Rahmat menatap Zidan lama. Lalu dia masukin uangnya lagi ke dompet sambil senyum. "Kamu mirip ayahmu. Baik hati. Nggak mau terima uang dari temen."
Dia tutup kap mesin mobilnya terus berdiri di depan Zidan. Matanya menatap serius.
"Zidan, Bapak mau tanya sesuatu. Kamu masih mau kerja jadi sopir angkot terus?"
"Ya... mau gimana lagi Pak. Ini kerjaan yang saya bisa."
"Gimana kalau kamu jadi sopir pribadi Bapak?"
Zidan melotot. "Sopir pribadi Bapak?"
"Iya. Bapak lagi butuh sopir pribadi yang bisa dipercaya. Sopir Bapak yang lama baru aja resign minggu lalu. Kamu mau nggak?"
Zidan terdiam. Otaknya belum nyampe.
Sopir pribadi?
Pak Rahmat yang pengusaha kaya ini?
"Tapi Pak, saya nggak pernah nyetir mobil mewah. Saya cuma bisa nyetir angkot sama motor."
"Nggak masalah. Bapak akan ajarin. Yang penting kamu jujur dan bisa dipercaya. Bapak lihat kamu orangnya baik. Mirip ayahmu. Bapak percaya sama kamu."
"Gajinya berapa Pak?" Zidan nanya dengan hati hati. Takut kecewa kalau gajinya kecil.
"Lima juta per bulan. Belum termasuk bonus kalau ada kerjaan tambahan. Terus kamu dapat makan siang gratis di rumah Bapak. Kadang kadang dapat oleh oleh kalau Bapak ke luar kota. Gimana?"
Lima juta.
Lima juta per bulan.
Zidan ngerasa dunia berputar.
Lima juta itu hampir dua kali lipat dari penghasilan dia sekarang yang kerja tiga tempat!
"Pak... Pak serius?"
"Serius. Kenapa? Kurang?"
"Nggak Pak! Cukup! Sangat cukup! Saya... saya terima Pak! Terima kasih!"
Pak Rahmat senyum lebar sambil jabat tangan Zidan kuat. "Bagus! Mulai besok kamu kerja sama Bapak ya. Jam tujuh pagi kamu dateng ke rumah Bapak. Alamatnya di Komplek Permata Hijau blok C nomor lima. Tau kan?"
"Tau Pak! Itu komplek elit di seberang kota!"
"Iya. Jangan telat ya. Bapak nggak suka orang yang nggak disiplin."
"Siap Pak! Saya janji nggak akan telat!"
"Oke. Bapak duluan ya. Sampai ketemu besok."
Pak Rahmat masuk ke mobilnya terus jalan pergi. Zidan berdiri di situ sambil masih bengong.
Lima juta per bulan.
Dia baru aja dapat kerjaan dengan gaji lima juta per bulan.
Kakinya lemes. Dia duduk di pinggir jalan sambil megang dadanya yang masih berdebar keras.
"Ya Allah... ini beneran? Ini mimpi apa beneran?"
Dia cubit pipinya sendiri. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Dia langsung lari ke angkot terus ngebut pulang ke kontrakan. Nggak peduli lagi nyari penumpang. Dia harus kasih tau Naura sekarang juga!
Sampe di kontrakan, dia langsung masuk sambil teriak. "Naura! Naura!"
Naura lagi nyusuin Faris sambil duduk di kasur. Dia kaget dengerin suara suaminya yang keras. "Mas kenapa? Ada apa?"
Zidan duduk di sampingnya sambil napas ngos ngosan. Wajahnya berseri. Matanya berbinar.
"Naura, aku dapet kerjaan baru! Jadi sopir pribadi! Gajinya lima juta per bulan!"
Naura melotot. "HAH? Lima juta? Mas serius?"
"Serius! Tadi aku ketemu Pak Rahmat, temen ayah dulu. Mobilnya mogok. Aku bantuin benerin. Terus dia nawarin aku jadi sopir pribadinya! Mulai besok!"
"Pak Rahmat? Yang pengusaha kaya itu?"
"Iya! Dia yang punya pabrik garmen besar di kota sebelah! Kaya banget dia!"
Naura langsung nangis sambil peluk suaminya pake satu tangan. Tangan satunya masih gendong Faris yang lagi nyusu. "Alhamdulillah Mas! Alhamdulillah! Ini mukjizat lagi! Mukjizat kedua!"
Zidan balas pelukan sambil ikut nangis. "Iya! Allah bener bener dengerin doa kita! Pertama pesanan gorengan besar. Sekarang kerjaan baru dengan gaji gede! Allah nggak ninggalin kita!"
Mereka berpelukan sambil nangis bahagia. Faris yang lagi nyusu berhenti sebentar terus noleh ke arah mereka dengan mata bulatnya yang polos. Kayak dia juga ikut seneng.
"Mas, tapi angkotnya gimana? Mas kan udah kerja di situ empat tahun lebih."
"Aku akan bilang ke Pak Joko besok. Minta izin berhenti. Sopir pribadi itu kerja dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore aja. Nggak usah lembur. Nggak usah kerja tiga tempat. Cukup satu tempat tapi gajinya gede."
"Terus uang lima juta itu..."
"Kita bisa bayar cicilan Pak Burhan dua juta per bulan. Sisanya tiga juta buat hidup kita. Kamu nggak usah jualan gorengan capek capek lagi kalau kamu nggak mau. Atau kalau mau tetep jualan, uangnya bisa kita tabung."
Naura menggeleng. "Aku tetep mau jualan Mas. Biar ada uang tambahan. Biar kita bisa cepet lunas hutang."
"Kamu yakin? Nanti capek."
"Aku kuat Mas. Lagian jualanku sekarang udah lancar. Banyak pelanggan tetap. Sayang kalau dihentiin."
Zidan senyum sambil cium kening istrinya. "Terserah kamu sayang. Yang penting jangan terlalu capek."
Malam itu mereka makan dengan lebih lahap dari biasanya. Zidan beli nasi bungkus dua bungkus yang isinya komplit. Nasi, ayam, sayur, kerupuk, sambal. Harganya sepuluh ribu per bungkus. Biasanya dia cuma beli yang lima ribuan. Tapi hari ini dia rela keluar uang lebih. Buat rayain kabar baik.
Setelah makan, mereka sholat Isya berjamaah. Terus sholat sunnah. Terus tahajud meski belum tengah malam.
Zidan sujud panjang sambil nangis.
"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih udah kasih hamba kerjaan yang lebih baik. Terima kasih udah kasih jalan keluar dari kesusahan. Ya Allah, hamba janji akan kerja dengan jujur. Akan jaga amanah. Akan tetep sholat lima waktu nggak bolong. Akan tetep sedekah meski cuma sedikit. Hamba janji ya Allah."
Naura yang sholat di sampingnya juga sujud sambil nangis.
"Ya Allah, terima kasih udah dengerin doa kami. Terima kasih udah kasih rezeki yang berkah. Ya Allah, jaga suamiku di tempat kerja barunya. Buat dia jadi karyawan yang baik. Yang dipercaya. Yang disayang atasannya. Aamiin ya Rabbal alamin."
Mereka tidur malam itu dengan hati yang damai. Untuk pertama kalinya dalam berbulan bulan, mereka tidur tanpa beban berat di pikiran.
Besoknya pagi, Zidan bangun jam lima. Mandi. Sholat subuh. Terus pake baju paling bagus yang dia punya. Kemeja putih yang biasa dipake buat acara nikahan orang. Celana bahan hitam yang udah agak pudar tapi masih rapi.
Naura bantuin rapiin kerah bajunya. "Mas ganteng banget. Cocok jadi sopir pribadi."
"Kamu juga cantik. Cocok jadi istri orang sukses." Zidan senyum sambil cium kening istrinya.
"Mas, jangan lupa sholat Dhuha ya kalau ada waktu. Jangan lupa dzikir. Jangan lupa..."
"Iya iya. Aku inget. Kamu juga jaga diri baik baik. Jaga Faris. Jangan terlalu capek jualan."
"Iya Mas."
Zidan cium Faris yang masih tidur pulas di boks. "Ayah pergi dulu ya Nak. Ayah kerja buat kamu."
Dia keluar dari kontrakan dengan hati yang penuh harap. Naik motor bebeknya yang udah tua menuju komplek Permata Hijau.
Sampe di sana jam setengah tujuh. Masih ada waktu setengah jam. Dia parkir motor di depan pagar rumah megah bernomor lima. Rumah dua lantai dengan pagar besi tinggi yang dicat putih bersih. Taman depan yang luas dengan rumput hijau terawat. Mobil mobil mewah parkir di garasi.
Zidan deg degan. Ini dunia yang beda dari dunianya. Dunia orang kaya.
Jam tujuh pas, dia tekan bel. Seorang pembantu perempuan buka pagar.
"Permisi, saya Zidan. Mau ketemu Pak Rahmat."
"Oh iya, Pak Rahmat udah bilang. Silakan masuk."
Zidan masuk dengan hati hati. Takut nginjek rumput yang rapi. Dia berdiri di teras depan yang luas sambil nunggu.
Pak Rahmat keluar dengan setelan jas abu abu rapi. Senyum lebar.
"Zidan! Tepat waktu! Bagus! Ayo masuk. Bapak jelasin tugas tugas kamu."
Dan hari pertama Zidan sebagai sopir pribadi dimulai.
Hari yang akan mengubah hidupnya.
Pelan.
Tapi pasti.
Menuju arah yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja