Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mantan kembali
Bastian menceritakan apa yang terjadi selama beberapa waktu terakhir. Tidak ada yang ia tutupi dan tidak ada yang ia kurang-kurangi pula. Semuanya pas dan sesuai dengan porsi serta kenyataan yang ada.
"Tuh kan apa yang aku bilang itu bener! Calista itu memang gak beres! kamu aja yang bebal, dikasih tahu gak percaya!" pria yang bernama Romi malah tertawa puas. Karena sejak awal, ia memang tidak setuju Bastian menerima perjodohan dengan Calista .
"Ya kan itu dijodohkan bukan aku yang pilih sendiri!" Bastian beralibi. Tentu ia tidak mau disalahkan dalam hal ini.
Romi memutar bola matanya dengan malas. "Hmm iya deh yang paling dijodohkan. Jadi sekarang status tu cewek apa? Pacar? Calon istri? Simpanan? Atau sugar baby?" tebak Romi dengan segala spekulasinya.
Bastian mengangkat kedua bahunya. Karena ia sendiri juga tidak tahu. "Gak tahu!"
"WHAT! GAK TAU!" seru Romi terkejut. "Gila lu ndro! Udah lu kawinin anak orang tiap hari...malah lu gak tahu apa statusnya?"
Bastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Selama beberapa waktu belakangan ini, ia juga sedang mencari tahu dan mendalami tentang perasaannya sendiri. Jujur, awal dari semua ini hanya karena rasa kecewa dengan perselingkuhan yang selama ini selalu ia dapatkan. Tapi semakin hari, ia tidak bisa bohong jika perasaan itu muncul dengan sendirinya tanpa disengaja. Tapi ia masih ragu... atau lebih tepatnya takut untuk memulai hubungan yang baru. Karena setiap percintaan yang ia jalani, pasti selalu berakhir dengan pengkhianatan.
"Woi kok malah bengong!" serua Romi membuat Bastian terkejut.
"Ah iya. Jangan dibahas dulu lah! Aku sendiri juga bingung!"
Karena susah waktunya masuk makan siang. Romi mengajak Bastian keluar. Karena mereka sudah jarang bisa makan bersama. Maka, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Mereka memilih makan di sebuah cafe kecil yang memiliki banyak kenangan untuk mereka. Kenangan sejak masa kuliah, dimana mereka masih jadi mahasiswa dengan uang saku pas-pasan.
"Makanan disini masih sama rasanya!" komentar Romi, saat sedang mencicipi nasi ayam daun jeruk yang menjadi menu andalannya semasa kuliah.
"Iya kangen banget. Ternyata kita udah lama banget gak makan disini!" sahut Bastian, sedang makan menu favoritnya di restoran ini yaitu steak ayam.
Mereka makan sambil berbincang. Tapi masih sama seperti dahulu, yang paling antusias tentu Romi ya g pembawaan dirinya memang lebih ceria, ramai, dan humoris. Sedangkan Bastian... jangan ditanya. Pria itu masih seperti dulu ya g sedikit bicara tapi banyak bekerja.
"Kalian disini juga?" seruan suara lembut seorang wanita mengalihkan perhatian mereka.
"Susan!" Bastian membatu. Tangannya terkepal saat melihat mantan istrinya.
Susan, mantan istri Bastian yang menjalin hubungan pacaran selama satu tahun, lalu menikah juga selama satu tahun juga. Karena pada saat itu, Susan kembali bertanya dengan cinta pertamanya dan memutuskan untuk meninggalkan Bastian.
"Eh Susan! Ngapain disini?" Romi berusaha untuk terlihat lebih ramah. Meski sebenarnya ia juga tak kalah bencinya dengan Bastian.
Susan dengan senyum lebar malah duduk tepat disamping Bastian yang secara spontan menggeser kursinya.
"Kamu apa kabar Bas? Aku minta maaf ya atas kesalahanku yang dulu?"
Susan malah mengajak Bastian bicara. Tanpa menjawab pertanyaan yang Romi layangkan.
"By, kamu masih marah sama aku?" Susan berusaha memegang tangan Bastian. Wanita itu memanggil Bastian dengan panggilan romantis mereka saat masih bersama.
"Pergi! Jangan buat aku makin membenci kamu!" kata Bastian dingin. Karena baginya, tidak akan pernah ada kesempatan kedua untuk yang namanya perselingkuhan. Karena sekali selingkuh, maka... tidak menutup kemungkinan, jika kedepannya mereka tidak akan selingkuh lagi.
"Bastian aku benar-benar minta maaf? Tenyata dia tidak sebaik kamu! Aku menderita hidup bersamanya Bas?" Susan menunjukkan ekspresi penyesalan dan kesakitan yang dalam.
Tapi untungnya semua itu tidak lagi mempan untuk hati Bastian yang dingin.
"Bukan urusanku l! Ayo Rom kita pergi!" Bastian meninggalkan uang ratusan ribu diatas meja. Lalu, ia mengajak Romi pergi dari tempat itu, Tanpa mempedulikan Susan yang masih menatapnya.
"Sebenci itukah kamu padaku Bas!" satu titik air mata menetes dari sudutnya. Penyesalan terus menggerogoti jiwa Susan yang sadar, jika keputusannya untuk meninggalkan Bastian... adalah kepuasan yang sangat salah.
Di toilet sekolah...
Yuna masih menunggu. Detak jantungnya makin menggila, saat ia berharap hasil dari benda kecil itu sesuai dengan keinginannya.
Setelah menunggu selama beberapa menit... akhirnya alat tes kehamilan itu menunjukkan hasilnya.
"Alhamdulillah negatif!" Yuna sampai sujud syukur. Karena ternyata ia sama sekali tidak hamil.
Jantungnya mulai berdetak normal. Khawatir dan ketakutan yang tadi terus menghantuinya sekarang sudah menghilang.
"Kalau aku gak hamil! kenapa bisa telat ya?" pertanyaan lain kembali muncul dalam kepalanya. "Tapi bodo' amat lah, yang penting gak hamil.
Yuna menyimpan kembali alat tes kehamilannya ke dalam saku roknya. Ia harus menyembunyikan benda ini rapat-rapat, dan jangan sampai diketahui oleh orang lain.
Setelah hatinya tenang, Yuna kembali ke taman. Ia duduk nyaman, tenang, tanpa ada sedikitpun ketakutan lagi.
"Udah kamu tes?" setelah bel istirahat, kedua sahabatnya langsung menghampiri.
"Udah! hasilnya negatif!" jawab Yuna.
Mega dan Lily kompak menghela nafas lega. "Ah syukurlah. Berarti kamu telat karena stress aja!"
Yuna mengangguk. Karena hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Yuna mengajak kedua sahabatnya makan-makan sepuasnya di kantin.
"Coba akalu Hasya masih ada disini ya?" mereka yang tadinya masih makan dengan lahap. Tiba-tiba semangatnya menghilang.
"Iya. Aku kangen momen kita makan bersama di kantin begini!" sahut Lily.
Makana yang tadinya sangat menggoda selera dan membuat perut keroncongan. Sekarang tiba-tiba terlihat biasa saja dan tidak ada menarik-menariknya.
"Makan kok gak ngajak aku?" Edo yang muka temboknya mengambil posisi duduk tempat disamping Yuna.
"Ciih! muka tembok, gak tau diri! udah embat emaknya kasih mau anaknya!" soal sindir menyindir. Mega Memeng jagonya.
"Jangan ikut campur! Bukan urusan kamu!" balas Edo sengit. Ia tidak peduli apa yang dikatakan oleh kedua teman Yuna. karena yang paling penting untuknya, Yuna kembali ke pelukannya.
"Ayo dimakan? Jangan di aduk-aduk aja!" Edo mengambil alih sendok Yuna, bermaksud untuk menyuapi gadis itu.
"Gak usah sok akrab!" Yuna ingin pergi. Tapi cekalan dan ancaman Edo membuat Yuna tidak berkutik.
"Jangan galak-galak! Kamu mau Nenek tahu kelakuan bejat kamu sama pria itu!" bisik Edo. senyumnya tenang. Tapi dibalik ketenangan itu, ada ancaman yang teramat Yuna takutkan.
"Kamu ngancem aku?" Yuna berang, ia marah. Tapi harus menahan diri.
"Bukan mengancam! tapi hanya sekedar mengingatkan. Jangan sampai nenek tau kalau cucu kesayangannya jadi...!" Edo sengaja menjeda. Karana ia tahu Yuna pasti akan melunak.
"Oke fine! kamu menang kali ini!" Yuna kembali duduk dengan terpaksa.
Mega dan Lily ikut geram dan marah. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mereka tau, seberapa penting dan berartinya Nek Rasmi untuk Yuna.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya