NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:591.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Satu

Begitu Mami Vania keluar dari apartemen sambil melemparkan kalimat-kalimat yang seharusnya dilampirkan biaya terapi, suasana tiba-tiba sunyi. Hening. Hanya terdengar suara AC yang mendengung pelan dan detak jantung dua orang dewasa yang baru mengalami kerusakan mental sementara.

Samudera dan Kirana sama-sama menatap pintu yang baru saja tertutup, seperti berharap kalau Mami akan kembali lalu berkata, “Tadi bercanda, kok.”

Tapi tidak. Kirana menghela napas panjang, wajahnya masih merah seperti habis sprint dari ujung tol ke ujung tol lagi. “Um … aku ambil air minum dulu ya.”

“Ah iya … iya. Minum, silakan … harus." Samudera gugup tak tahu harus bicara apa. Sam merasa otaknya error. Cache nya penuh.

Tak beberapa lama kemudian, mereka akhirnya beres-beres lagi atau lebih tepatnya, kabur dari suasana canggung yang diciptakan oleh ibunya. Sam menawarkan diri mengantar Kirana pulang untuk mengambil beberapa dokumen penting yang ia butuhkan.

Dan di sinilah mereka sekarang. Langit sore tampak cantik ketika mobil sport mewah milik Samudera berhenti perlahan di depan rumah keluarga Kirana. Mobil itu terlalu mencolok untuk lingkungan kompleks yang biasanya hanya dilewati sepeda motor, mobil keluarga, atau kadang pedagang cilok.

Mesin mobil mengaum lembut sebelum mati. Samudera menoleh, memastikan Kirana benar-benar baik-baik saja.

“Kamu yakin nggak apa-apa pulang sendiri? Mau aku temenin masuk?” tanya Sam, suaranya pelan, nada hati-hati seperti dia bicara sama kucing liar yang mudah kabur.

Kirana menggeleng cepat. “Nggak usah. Aku cuma ambil berkas kok.”

Samudera mengangguk. “Oke. Aku tunggu di sini. Ingat, biarkan aja baju-bajumu. Nanti kita beli pulang dari sini. Uang amplop yang Mami berikan banyak. Cukup buat beli bajumu hingga beberapa tahun ke depan."

"Aku tak butuh banyak baju. Simpan saja uangnya. Aku masuk dulu."

Kirana membuka pintu mobil dan turun. Angin sore membuat rambutnya sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat cantik. Samudera sempat terpana beberapa detik. Untung Kirana nggak lihat.

Begitu Kirana menutup pintu mobil, dua pasang mata langsung melebar kaget dari teras rumah. Irfan dan Tissa.

Dua manusia yang entah kenapa selalu tampak seperti sedang ikut kompetisi “Siapa yang paling ingin membuat hidup Kirana susah”.

Di teras, keduanya sedang duduk sambil minum teh. Begitu melihat Kirana keluar dari mobil sport yang bisa bikin tetangga ngomong tujuh RT, mereka langsung berdiri.

“Kak Kirana?” tanya Tissa pelan.

Irfan langsung mengintip mobilnya. “Itu … mobil siapa tuh?”

Kirana sama sekali tidak menoleh. Tidak menyapa. Tidak senyum. Tidak memberi salam pembuka. Ia berjalan lurus-lurus saja ke pintu rumah seperti robot yang sudah disetting hanya untuk tujuan tertentu.

Saking fokusnya, Tissa dan Irfan sampai harus minggir untuk menghindari tabrakan.

"Sombong banget, mentang-mentang dapat orang kaya. Awas aja nanti kalau ternyata hanya buat mainan. Aku akan tertawa paling keras," ucap Tissa.

"Kirana sepertinya sudah melupakan aku. Tak ada sedikitpun perasaan padaku lagi," ucap Irfan dalam hatinya.

Kirana membuka pintu rumah, masuk, dan menutupnya tanpa kata.

Di ruang tengah, Papa Kirana sedang duduk santai menonton acara TV dengan volume pelan. Saat melihat putrinya masuk, wajahnya langsung berubah, bukan lagi datar, bukan marah. Tapi hangat.

“Loh, Kirana?” Papa menurunkan remote. “Kamu pulang, Nak?”

Kirana tersenyum kecil. “Iya, Pa.”

Papa berdiri, mendekat. “Kamu mau menginap? Kamar tamu sudah Papa bersihkan. Ada selimut baru, bantalnya Papa jemur pagi tadi. Kamu pasti capek kan?”

Kirana menggeleng halus, langkahnya menuju kamarnya. “Pa, aku sudah bilang dari dulu. Kalau aku sudah menikah, aku nggak akan tinggal di sini lagi. Aku cuma ambil berkas-berkas penting. Habis itu pulang.”

Papa tertegun, tapi matanya lembut. “Nak … menginaplah. Sebentar saja. Kamu kan masih pengantin baru. Apa kata tetangga nanti?”

Kirana menghela napas. “Pa … bukankah selama ini Papa tak pernah peduli. Aku rasa tak ada pengaruhnya aku menginap atau tidak!"

“Kiran, jangan salah paham. Papa juga sayang kamu."

"Pa, aku mau cepat. Maaf ...."

"Baiklah, lain kali kamu harus menginap." Papa menatap ke arah pintu. “Mana suamimu?”

Kirana berhenti, memicing sedikit. “Suamiku ada di luar. Tunggu di mobil.”

Tatapan Papa langsung berbinar seperti lampu jalan yang tiba-tiba nyala pas magrib.

“Oh? Dia ikut antar kamu?” Wajah papa seperti baru dapat voucher belanja. “Tunggu sebentar.”

Papa berjalan cepat ke luar rumah, meninggalkan Kirana yang memijat kening karena tahu apa yang akan terjadi.

Begitu Papa muncul di halaman depan, Irfan dan Tissa langsung bengong melihat beliau melewati mereka tanpa salam, tanpa komentar, tanpa ceramah. Fokusnya cuma satu, mobil sport di depan rumah.

Samudera yang sedang duduk dengan kaca jendela terbuka sedikit, kaget waktu melihat satu sosok tiba-tiba mendekat. Samudera buru-buru buka pintu dan turun.

“Pa! Eh ... Pak! Om!” Samudera gugup, bingung harus manggil apa. “Selamat sore!”

Papa tertawa pelan. “Panggil Papa saja, Sam.”

Dari dalam mobil, Sam bisa merasakan Kirana memutar bola mata walau tidak melihatnya langsung. Tapi Sam tidak berani protes.

Papa mendekat, senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Sam, ayo masuk. Mampir dulu. Kita makan malam bareng. Kamu sama Kirana belum makan. Papa sudah masak asem-asem daging.”

Samudera melirik pintu rumah lalu kembali kepada papa. “Wah, terima kasih banyak, Pa. Tapi, aku nggak bisa lama-lama. Ada kerjaan nanti malam.”

Papa menepuk bahu Samudera pelan, gesturnya penuh kehangatan. “Oh begitu. Kalau begitu lain kali ya. Tapi kamu boleh, kok, menginap kalau capek. Rumah ini rumah kamu juga.”

Di teras, Tissa hampir saling mencubit lengan sendiri, tidak percaya bahwa Papa mereka bisa sesopan dan selembut itu.

“Pa …,” panggil Tissa pelan, tapi Papa mengabaikan.

Samudera tersenyum simpul tapi sopan. “Terima kasih banyak, Pa. Lain kali aku mampir. Hari ini aku benar-benar harus pulang setelah Kiran selesai.”

Papa mengangguk. “Tidak apa. Yang penting kamu antar dia dan jaga dia baik-baik. Papa senang melihatnya datang denganmu.” Samudera hanya bisa mengangguk.

Papa lalu merentangkan tangan, memberi isyarat. " Kalau gitu masuk sebentar, Sam. Ngobrol di teras juga boleh. Papa buatkan teh.”

Sam kembali menggeleng pelan. “Nggak apa, Pa. Aku nunggu di mobil saja. Biar Kirana cepat selesai.”

Papa akhirnya mengiyakan walau terlihat sedikit kecewa. Papa menatap Irfan dan Tissa yang hanya berdiri di teras sambil menatap Sam seperti menatap hamba Allah yang tersesat tapi kaya.

“Tissa, kamu kenapa bengong? Ayo, bantu Kirana. Jangan bikin dia kerja sendiri,” ucap Papa keras, nada tegas namun penuh wibawa.

Tissa tampak cemberut. Dia lalu mengajak suaminya Irfan masuk dengan Papa yang berjalan di belakang mereka.

Sementara itu, Kirana berada di kamarnya. Ia merapikan map-map penting, ijazah, buku tabungan, dokumen kerja, dan beberapa hal lainnya. Tangannya berhenti sebentar saat ia melihat sebuah foto lama: dirinya dan papanya waktu ia masih kecil, di pesta ulang tahunnya yang ke-7.

Itu foto terakhir dia bahagia dengan sang papa sebelum akhirnya pria itu memilih menikahi Mama tirinya, ibu kandung Tissa.

Saat Kirana keluar dari kamar, Tissa berdiri di lorong dengan tangan disilangkan.

“Kak … kamu sekarang bawa mobil mewah ya?” tanyanya ketus.

“Itu mobil Sam,” jawab Kirana datar.

“Ya, sama aja,” gumam Tissa, bibir manyun.

"Jangan sombong Kak. Paling menikahi Kakak hanya sementara!" ucap Tissa. Kirana tak menjawab karena memang betul mereka hanya nikah sementara.

Papa sudah menunggu di sofa, wajah penuh harap. “Nak, yakin tidak mau menginap?”

Kirana mendekat, memeluk papanya sebentar. “Tidak, Pa." Ia cium tangan papa lalu berpamitan. Papa mengantarnya sampai teras.

Samudera membuka pintu mobil dari dalam ketika melihat Kirana keluar rumah sambil membawa beberapa map tebal. Wajah Kirana terlihat lebih tenang, tapi juga ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Samudera segera turun dan membukakan bagasi. “Sini, aku bawakan.”

Kirana meletakkan dokumen-dokumennya, lalu berdiri di samping mobil.

Papa mendekat, menepuk bahu Samudera sekali lagi. “Sam, terima kasih sudah antarkan Kirana.”

“Sama-sama, Pa. Sudah kewajiban saya,” ujar Sam sopan.

Papa tersenyum. “Hati-hati di jalan."

Papa melepas kepergian putrinya dengan tatapan tanpa kedip. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Sementara itu Tissa dan Irfan juga melakukan hal sama. Sepertinya mereka tak rela melihat Kirana bahagia.

**

Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

1
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!